Kegelapan menaungi Desa Pertama. Awan kelam menggantung di atas sana, seperti pertanda datangnya hujan lebat. Namun, meski langit cerah pun, kegelapan selalu bercokol di hati penduduk desa.
Beberapa anggota Pemuda Nusantara berkerumun mengelilingi nenek tua tak berdaya. Salah seorang di antara mereka mengeluarkan sepotong daging, lalu melemparkan ke tanah. Ia menyuruh si nenek memakan daging itu seperti anjing. Si nenek melakukannya. Mereka pun tertawa menyaksikan pertunjukan tersebut.
Umumnya penduduk desa bertahan di bawah tirani karena berharap bisa pulang saat partai-partai besar berhasil menaklukan seluruh dungeon. Tapi kadang ada yang tak sanggup hingga memutuskan mengakhiri hidup. Namun, memangnya siapa yang peduli?
Dalam dunia tanpa hukum, mereka yang kuat menjadi hukum itu sendiri. Sehingga apapun yang mereka katakan adalah kebenaran, dan apapun yang mereka lakukan tak boleh dipertanyakan.
Kemudian seseorang berseru-seru.
“Kubah Hijau datang! Kubah Hijau datang!”
Jono pun keluar dari tendanya sembari membetulkan celana. Ia tampak kesal karena diganggu saat sedang tanggung. Tapi ia tetap pergi menuju gerbang desa.
Begitu pun dengan anggota-anggota lain. Mereka meninggalkan apapun yang saat itu sedang dikerjakannya untuk berkumpul.
Di depan gerbang, mereka membuat barisan rapi seperti panitia penyambutan.
Dari kejauhan tampak rombongan yang datang dengan mengibarkan panji-panji berwarna hijau.
Pemimpin rombongan tersebut adalah seorang wanita yang menunggangi kuda putih. Ia tampak tenang dan dewasa, dengan rambut berponi dan bagian belakangnya digulung cepol. Gaun hitam yang ia kenakan memiliki bagian depan berbentuk V sehingga menampakkan sebagian dari buah dadanya yang ranum. Jono menelan liur kala memperhatikannya. Namun, ia tahu dirinya tak punya kesempatan sebab wanita itu bukan orang sembarangan. Ia adalah Pevita, petinggi sekaligus istri pertama Furqon sang Pemimpin Agung Kubah Hijau.
Di samping Pevita adalah gadis berekspresi dingin yang mengenakan jaket bomber hijau dan celana pendek jeans hitam. Ia juga petinggi sekaligus istri kedua Furqon. Dari caranya menatap Jono, jelas tersiar ketidaksukaan. Tapi pria itu tidak peduli, sebab ia tahu mustahil membuat semua orang menyukainya.
Kedua wanita itu diikuti sederetan pengawal, lalu sebuah pedati yang ditumpangi oleh orang tua dan anak-anak. Komposisi yang sama seperti penghuni Desa Pertama.
“Selamat datang Nona Pevita dan Nona Chelsea! Juga para kader partai Kubah Hijau! Dan calon penghuni desa!” Jono memberikan salamnya. “Nona-nona pasti lelah, tenda saya terbuka untuk jamuan.”
“Nggak usah basa-basi, mending istirahat di hutan daripada istirahat di tendamu!” jawab Chelsea ketus.
“Aduh, aduh, Chelsea jangan kasar begitu,” ucap Pevita. Berbeda dengan Chelsea, ia memiliki nada bicara yang lembut. “Bang Jono, tolong dimaafkan, sifat Chelsea memang seperti itu.”
“Nggak apa-apa, udah biasa,” jawab Jono. Tapi walau sekilas Mira terlihat lebih sopan, jelas-jelas wanita itu juga memandang rendah dirinya. Ia terus berbicara dari atas kuda, seolah tak mau turun untuk menyamakan derajatnya dengan Jono. “Saya tahu tenda saya memang dekil.”
“Sadar diri juga, ya,” komentar Chelsea pedas. Tapi sebenarnya bukan dekil yang dipersoalkan gadis itu, melainkan karena ia tahu kelakuan binatang yang biasa Jono lakukan di tendanya.
“Seperti biasa, kami membawa orang-orang yang tersisih dari perekrutan untuk diurus Pemuda Nusantara. Kami juga membawa sedikit logistik sebagai bentuk dukungan atas kerja keras Pemuda Nusantara selama ini.”
“Terima kasih, Pemuda Nusantara akan menerimanya dengan lapang dada.”
Bawahan Jono segera bergerak membawa Peti Harta untuk memindahkan berbagai item dari Peti Harta milik Kubah Hijau. Beberapa yang lain membantu para penduduk baru turun dari pedati.
“Oh ya, ada yang mau saya sampaikan,” kata Jono. “Beberapa hari yang lalu ada orang yang ngaku-ngaku datang dari Pulau Weh, terus cari gara-gara di sini. Apa mungkin Nona Pevita dan Nona Chelsea tahu sesuatu?”
“Siapa?” Pevita mengingat-ingat sejenak. “Kalau nggak salah pas penjemputan bulan ini emang sempat ada obrolan soal orang yang naik rakit dari Pulau Weh. Tapi nggak jelas dia siapa, dan rasanya aneh juga mengingat semua penjelajah baru selalu kami jemput.”
Jono mengusap-usap kumisnya. Ia menerka jangan-jangan cerita pemuda itu benar.
“Ada masalah besar?” tanya Pevita.
“Hmm, nggak ada kok, dia udah saya beresin,” jawab Jono.
“Saya turut tenang mendengarnya.”
“Nona, ada satu hal lagi yang ingin saya sampaikan,” kata Jono, kali ini agak berbisik. Matanya mengawasi para pendatang baru seolah takut suaranya terdengar. “Penduduk desa ini makin lama makin banyak, sampai-sampai saya kerepotan ngurusnya. Saya kepikiran untuk mengurangi penduduk.”
“Aduh, hmm, gimana ya bilangnya…” Mira sedikit memanyunkan bibir. “Sejak awal penduduk desa ini memang orang-orang yang tidak diinginkan oleh Saleh dan Wati. Kami merekrut mereka karena kasihan, tapi kami juga nggak sanggup ngurus. Makanya kami ngirim mereka ke Bang Jono, karena Bang Jono ini berhati mulia. Siapa lagi selain Bang Jono yang peduli sama mereka? Toh selama ini juga nggak ada yang datang nengok mereka, kan? Jadi menurut saya, apapun keputusan Bang Jono, sepenuhnya hak Bang Jono. Bang Jono nggak perlu minta izin pada Kubah Hijau, dan Kubah Hijau juga nggak punya wewenang ngatur-ngatur Bang Jono.”
Atau dengan kata lain, Kubah Hijau tidak mau tahu dan lepas tanggung jawab atas apapun yang terjadi di Desa Pertama. Jono memahami itu. Ia cuma ingin memastikan saja.
“Baiklah kalau begitu, Nona Pevita.”
Chelsea tidak fokus pada pembicaraan. Ia sibuk mengawasi pertukaran penduduk dan logistik. Setelah semua selesai, ia segera berseru, “Beres?”
“Beres, Nona Chelsea!” jawab seorang pengawal.
“Oke, sepertinya gitu aja.” Pevita bicara pada orang-orang yang akan menjadi penduduk desa. “Kalian bisa tinggal dengan tenang di sini sampai para penjelajah di garis depan menaklukan dungeon. Sampai bertemu lagi di dunia nyata.”
Orang-orang itu melambaikan tangan, tak mengetahui bahwa neraka yang sebenarnya baru akan dimulai.
Pevita menarik tali kekang kudanya agar berbalik, “Sampai bulan depan, Bang Jono.”
“Iya! TiTiDiJe! Hati-hati di jalan!”
Chelsea berdecak mendengar candaan Jono yang dirasa menjijikkan. Ia memacu kudanya agar cepat-cepat menjauhi pria itu.
Rombongan Kubah Hijau pun pergi.
Anggota Pemuda Nusantara bergerak cepat mengantar pendatang baru ke tenda-tenda kosong.
Sementara Jono masih bergeming di gerbang desa ditemani Tahir dan Sukma.
“Kenapa, Jon?” tanya si tua Tahir.
“Beruntung banget si Furqon itu, dapet akik peringkat S.” Jono mengusap-usap akiknya sendiri. “Coba aja akik saya peringkat S, pasti cewek kayak Pevita juga bakal kelepek-kelepek.”
“Hahaha, nggak usah ngimpi, Jon. Kita harusnya udah bersyukur bisa kayak gini. Tadi sama si Ross udah beres belum? Sana lanjutin!”
“Oh iya, hahaha. Bisa aja Pak Tahir ini. Yaudah saya balik ke tenda dulu ya.”
“Sip.”
Pria itu berjalan riang, sambil kepalanya memikirkan beberapa skenario yang bisa dilakukan untuk operasi pengurangan penduduk.