Pagi ini ku awali dengan sisa-sisa nyawa dalam tubuhku, kulangkahkan kakiku menuju jendela kamar. Terlihat jelas embun yang masih hinggap diantara rerumputan pagi ini.
"Enak nih buat jalan santai pagi-pagi"
Kulihat jam di dindingku masih menunjukan pukul 5.30
"Tumben Ka lu bisa bangun pagi, biasanya siang mulu"
Dengan raut wajah yang lemas dan lesu ia menjawab
"Bangun pagi ? Ini gue belum tidur bangke"
Tawaku pun menjadi-jadi mendengar jawaban dari sahabatku yang satu ini.
Setelah beberapa menit berlari santai, akupun mengistirahatkan tubuhku di salah satu bangku taman dekat kampus.
Sesaat sebelum melanjutkan lari, tiba-tiba seorang wanita cantik dengan pakaian yang ketat duduk disebelahku
"Aduh jatuh lagi"
Dia pun hanya melirik ke arahku
"Yah jatuh kan"
Dia tetap saja melirik ke arahku
"Tuh kan beneran jatuh" lanjutku sedikit lebih keras
"Jatuh kenapa kak ?" sahutnya
"Iya nih jatuh"
"Apanya yang jatuh" tanyanya
"Hatiku kak, hatiku jatuh cinta sama kamu" sambutku sembari melempar senyum padanya
"DASAR MODUS LO!" ia pun pergi berlari tanpa pamit meninggalkanku di taman.
"Heh!!"
Aku terkejut ketika ada yang menepuk pundakku
"Makanya jangan suka ngerayu kamu jadi orang" ucapnya menahan tawa
"Lho Lika, kamu"
Anjrit, aku merasa tubuhku bergetar seperti ingin klimaks saat diriku membalikan badan. Oh s**t dia cantik banget, bener-bener sexy, bahkan aku bisa membayangkan bagaimana postur tubuhnya walaupun ia tidak memakai pakaian yang ketat.
"Hey, Rexa ?"
"HAH ?!"
"Kamu melamun ya ?" tawa kecil keluar dari bibirnya yang mungil.
"Kamu suka lari pagi Rexa" ia pun duduk persis disebelahku
"Eh iya, kamu juga suka lari Lika" tanyaku
"Iya aku suka"
"Aku juga suka kamu"
"Hah ? Apa Rexa ?" tanyanya penasaran
"Eh enggak, aku juga suka lari kok hehe"
Pasti dia sedang tertawa melihat wajahku yang sedikit pucat karena obrolan tadi
"Kok diem aja ? Lari lagi yuk" suaranya memutuskan lamunanku tentangnya
"Hah yuk bareng" sahutku.
Entah mengapa staminaku tiba-tiba terasa penuh saat berada disampingnya
"Awaasssssss kakkkkk Gubrakkk....!!!"
"Maaf kak, aku ga sengaja, maaf kak, maaf"
Lanjut suara anak kecil itu pun seperti menahan tangis karena menabrak Lika dengan sepedanya saat kami sedang berlari
"Maaf kak, rem ku blong, maaf banget kak" sekarang ia pun sedikit mengeluarkan air mata, wajahnya terlihat pucat dan takut
"Kamu gapapa Lika ?"
"Gapapa kok"
Ia mencoba berdiri menggunakan tanganku
"Aduuhh"
"Kamu kenapa ?" aku pun merasa panik melihatnya menahan sakit di daerah pergelangan kakinya.
"Huuuuaaaahhhhhh"
Tangisan anak kecil itu memecah suasana diantara kami bertiga
"Gapapa kok dik, yaudah kamu jangan nangis lagi, kakak gapapa, kakak kan kuat"
"Kakak beneran gapapa kak ?"
Tanya anak kecil itu sembari air matanya diusap oleh Lika
"Gapapa kok dik, beneran, yaudah kamu lanjutin naik sepedanya aja"
"Makasih kak hiks, maaf kak hiks hiks"
Ia pun bergegas pergi meninggalkanku dan Lika.
"Sok- sok an kuat kamu" aku pun menggendong Lika pergi meninggalkan tempat dia terjatuh
"Hehe makasih Rexa, kamu tau aja hehe"
"Kaki kamu terkilir ya ?"
"Sepertinya hehe"
"Yaudah ketempatku dulu ya, ga jauh dari sini kok, nanti aku anterin pulangnya"
"Makasih ya Rexa, maaf ngerepotin kamu"
Kalau hati ini taman, mungkin akan dipenuhi dengan bunga-bunga indah yang bermekaran, hanya karena mendengar suaranya saja aku sudah berhalusinasi tinggi
"Rexa kamu kok senyum-senyum sendiri ?"
"Eh anu, gapapa kok, lagi seneng aja hehe"
"Ka, Raka, tolong bukain pintunya dong"
Cekrekkk.....
"Lah lu ngapa, kok bisa ngegendong Lika, lu kenapa Lika ? Lagi ngojek gendong apa gimana ?
"Ssssstttttttttt"
Aku dan Lika kompak memberi isyarat kepada Raka agar diam
"Eh aku mau dibawa kemana Rexa ?"
"Dibawa ke kamarku, emang kenapa ?"
"Eh jangan salah paham dulu, itu kan di sofa berantakan, lagian ada Raka nanti ganggu kita, eh maksudnya masih berantakan, iya berantakan, Raka kan orangnya berantakan" lanjutku menahan wajah yang terlihat pucat dan
Lagi-lagi aku gugup dibuatnya, aku benar-benar bingung harus berkata apa padanya.
"Hmm iyaaa-"
Terasa leherku dipeluknya lebih erat lagi.
"REXA, GUE BALIK YE, NGANTUK NIH!"
Teriaknya pamit dari rumahku, aku tau dia hanya tidak ingin mengangguku, benar-benar sahabat yang mengerti situasi dan kondisi.
"Ini kamar kamu ? Hebat ya cowok bisa ngerapiin kamarnya sendiri, kirain cowok suka berantakan gitu"
"Kan ga semua cowok berantakan" sahutku.
Kurebahkan perlahan tubuhnya ditempat tidurku lalu melepaskan sepatunya.
"Aku panggilin tukang urut langgananku mau ?" Aku pun merogoh ponsel dicelanaku
"Boleh, makasih ya"
"Yaudah, kamu mau minum apa makan ? Ga enak kan kalau ada tamu ga ditawari apa-apa"
Dia pun menggelengkan kepalanya memberi isyarat menolak secara halus.
Sekilas aku memperhatikan dia berbaring diatas kasur membuatku ingin sekali berhubungan badan dengannya, membuat justinku berdiri berontak dari dalam, entah fantasi apa yang merasuki otakku, tak salah juga aku memikirkan seperti itu, ia memiliki tubuh yang nyaris sempurna, aku tahu itu walaupun ia menutupi tubuhnya dengan pakaian yang tidak terlalu ketat, tapi memang itu yang kusuka darinya, bibirnya yang imut membuat semua pria pasti ingin melumatnya. Pipinya yang merah mero~
"Permisiiiiiiiiii....."
Wtf, lagi-lagi saat aku sedang bermain dengan imajinasiku selalu saja ada penganggu yang membuyarkan pikiran negatifku.
"Masuk aja mbak, yang terkilir ada didalam kamar" sahutku sedikit teriak
"Iya mas, permisi" lanjutnya
"Gimana Lika, udah mendingan ?" Tanyaku sambil menyodorkan orange juice padanya
"Makasih Rexa, gapapa kok tadi, cuma terkilir biasa doang kata mbaknya yang pijit aku" terlihat senyumnya menahan sakit
"Yaudah nanti agak siangan aja aku anterin kamu pulang, gimana ?
"Yaudah, makasih ya"
"Kamu istirahat dulu aja, kalo ada apa-apa panggil aja, aku diruang tamu, ada yang mau aku kerjain di laptop"
"Iya- makasih Rexa"
Krrriiinnnggg kkrrriiiinnngggggg
"Rexa, makasih ya udah anterin aku tadi"
"Iya, gapapa, kamu istirahat dulu aja nanti sakit lho"
"Aku kan cuma terkilir bukan koma" lanjutnya
"Oh iya lupa hehehe"
"Uhhh playboy pikun" sahutnya dengan nada mengejek
"Enak aja, mana bisa tampang aku jadi playboy, muka aku pas-pasan kok"
"Huhhh dasar cowok, ga pernah mau jujur"
Iya pun tertawa
"Yaudah Rexa, makasih lho, aku istirahat dulu ya, byeeeeee~"
Flashback On
Rexa saat berumur 5 tahun
"Rexa, kamu kalau sudah besar cita-citanya mau jadi apa sayang ?"
"Aku mau nikah sama mama, biar aku bisa jagain mama"
Seketika ibuku langsung memelukku dengan hangat, tak terasa seluruh pundakku telah basah karena air mata ibuku terus jatuh tanpa henti.
"Mama kenapa sedih ? Aku ga boleh nikahin mama ya ?"
"Enggak sayang, mama ga sedih kok, mama bahagia, saking bahagianya mama sampe ngeluarin air mata. Terima kasih ya Rexa"
Flashback Off
Beberapa hari telah berlalu, tak terasa waktunya semakin sedikit, akankah nanti.
"Mbak, maaf Likanya ada"
Tanyaku kepada penjaga kost tempat Lika tinggal
"Sebentar ya mas saya cek dulu"
Tempat kost Lika memang tidak bisa sembarangan orang masuk, apalagi laki-laki, jadi harus ada perantara antara tamu dan pemilik kost
"Ngapunten nggeh mas, mbak Likanya ga ada dikamarnya"
"Oh iya mbak, gapapa, makasih, maaf ngerepotin mbaknya"
Aku pun kembali menuju mobilku.
"Rexa, lho kok kamu disini"
"Eh Lika, gimana kaki kamu udah sembuh ?"
"Alhamdulillah, udah gapapa"
"Kamu udah bisa jalan emang ?"
Tanyaku lagi
"Udah dong, udah bisa jalan"
"Yaudah yuk, kapan ?" aku pun tersenyum menahan tawa padanya.
"Udah jalan kok, barusan habis dari tempat hiburan"
Jawab seorang cowok yang sedari tadi kulihat membuntuti Lika.
Oh s**t, b*****t, siapa dia ? Kenapa dia tiba-tiba menggandeng telapak tangan Lika ? Apa statusnya dengan Lika ? Banyak sekali pertanyaan yang ada dikepalaku saat ini.
"Oh iya Rexa, ini kenalin pacar aku Aldi" ia pun melempar senyum padaku
"Hai, gue Aldi. PACARNYA LIKA"
Tegasnya
Akupun langsung menjawab jabat tangannya lalu diam tanpa sepatah kata pun.
"Rexa ? Hey ?"
"Eh iya, aku cuma mau mastiin aja kok, yaudah aku pulang dulu ya, bye.
"Lho kamu ga mau mampir dulu ? Aku udah......."
"HATI-HATI BRO, AWAS BANYAK TIKUNGAN NANTI NABRAK" ucap Aldi mematahkan kata yang ingin diucapkan Lika.
Akua hanya mampu memberikan sebuah jempol keatas padanya. Entah kenapa dengan diriku, kali ini benar-benar sakit sekali dadaku, rasanya seperti ada yang meremas-remas jantungku, ingin sekali aku berteriak dalam mobil tapi apadanya, bahkan mulutku saja enggan untuk terbuka. Rasanya air mata ini ingin menetes membanjiri seluruh kemeja yang khusus kupersiapkan untuk bertemu Lika.
Tapi..........