"Ngapa lu ?"
Raka yang sedari tadi rebahan disofa langsung mendatangiku untuk melihat sekujur tubuhku, ia menyangka kalau telah terjadi sesuatu padaku.
"Sakit Ka, d**a gue sesek banget sumpah"
"Lu ngapa ? Serius, lu digebukin ama siapa ? Sinj biar gue samperin"
Ia pun terlihat marah sekali melihatku seperti ini
"Enggak Ka" ungkapku sedih
"Terus kenapa lu kek gini sih ?"
"Lika Ka, Lika"
Tanpa kusadari air mataku menetes membasahi pipiku.
Memang terlihat aneh, aku yang biasanya tampak cuek kini berbalik 180 derajat
"Lika kenapa ? Lu mah bikin panik doang bangke" raut wajahnya pun terlihat panik mendengarku menyebut kata "Lika"
"Lika udah punga cowok Ka"
"Plaakkkkk"
"Aawwwhhhh"
Ia pun menepak kepalaku sedikit lebih keras dari biasanya
"Anjrit, gue kirain lu kenapa, bangke lu, mau ngerjain gue lu" terlihat kesal mendengar pernyataanku tadi.
"Tapi ga gitu Ka, okelah kalo emang seandainya gue baru kenal ama dia, tapi.... Lu ga ngerasain sih apa yang gue rasain"
"Yaudeh nih sebats dulu"
Sambil menyodorkan bungkusan rokok untukku yang isinya memang hanya 1 batang.
"Oh iya nih ada titipan pizza dari Maudy, tadi dia mampir tapi lu nya kan ga ada, gue bilang lu lagi maen futsal sih" candanya membuatku sedikit lupa akan rasa sakit yang sedari tadi kurasakan
"Apaan nih anjrit cuma kotaknya doang"
Ia pun terlihat tertawa ketika melihatku sedikit kesal.
Hari-hari seperti biasanya pun kulalui, memang masih tersisa rasa sakitnya tapi kutahan agar tidak terlihat oleh Maudy dan yang lainnya.
"Ini mau kemana lagi baby ?" tanyaku
"Ke Guramedia aja kak, gimana ?"
"Siap baby sayang"
Ia pun tersipu malu mendengar perkataanku.
Seperti biasa, Maudy menuju rak buku yang dipenuhi novel-novel romantis, dan aku membelikannya minuman untuknya.
Karena mungkin sekalian mencari buku untuk pelajaran sekolahnya, Maudy berpesan padaku akan sedikit lebih lama dari biasanya.
Dari kejauhan kulihat wanita yang memang tak asing lagi jika kupandangi wajahnya
"Rexa ?"
"Oh hai Lika"
Tanpa melihatnya aku hanya menundukan kepala dengan berpura-pura bermain ponselku
"Tumben kamu minum disini, bukannya biasanya dibawa pulang ya"
"Enggak, lagi pengen aja"
Aku masih fokus dengan gerakan seperti mengetik sesuatu
"Kamu pesan rasa strawberry ? Aneh bukannya kamu suka rasa vanilla ya"
"Iya, lagi pengen aja" sahutku yang sedari tadi mencoba menghibur diri, entah aku tidak hiraukan apa yang ku ketik di keyboard ponselku
"Aaaaaarrrrggggghhhhhhhhh"
Batinku seperti ingin berteriak kalau aku cemburu dengan Lika, tapi aku lupa, aku bukan siapa-siapa baginya. Mungkin selama ini ia hanya menganggap bahwa aku adalah temannya, tidak lebih dari itu
"Inget aja kata tukang parkir bego"
Terlintas aku mengingat kalimat yang pernah dikatakan Raka padaku
"Maju terus atau mundur"
Ahh kenapa disaat seperti ini hanya kata-kata dari si b******k itu yang kuingat, bodoh bodoh bodoh....
"Lika, bapak kamu tukang parkir ya" batinku
Oh s**t, rayuan macam apa itu
"Rexa kamu kenapa diem ?" tanyanya
"Lika, kamu jangan didepanku, pindah duduk disebelahku aja"
"Emang kenapa ?"
Ia pun langsung berpindah tempat tepat disebelahku
"Kamu jangan jauh-jauh dari aku, kamu itu sumber oksigenku"
"Apaan sih Rexa, ngerayu mulu"
Terlihat lagi pipinya yang mulai memerah seperti tomat.
Memang mungkin aku bukan siapa-siapa untuknya, tapi setidaknya aku bisa melihatnya senyumnya, melihat ia bahagia, aku pun turut merasakan hal yang sama dengannya.
Flashback On
Rexa usia 5 tahun
"Ma, memangnya Rexa salah ya kalo Rexa mau jagain mama" ucapki sembari mengusap air mata yang sedari tadi belum berhenti membasahi pipinya
"Kamu mau jadi apapun itu kemauan Rexa, Rexa yang menentukan hidup Rexa sendiri sayang, mama cuma minta 1 hal sama Rexa, jangan pernah bohongin kata hati Rexa sendiri ya sayang" sahutnya sambil memelukku lebih erat
Flashback Off
Persetan dengan orang lain, tidak ada salahnya aku menuntut kebahagiaan untukku sendiri, aku juga ingin merasakan apa itu cinta sebenarnya, biarkan kali ini ego yang merasuki pikiranku sekarang, karena pada dasaranya manusia adalah makhluk yang paling egois terhadap makhluk lainnya.
"Lika, aku cemburu sama kamu"
Ia pun terlihat kaget mendengarku menyatakan perasaanku kepadanya
"Aku suka sama kamu Lika"
Aku yang sedari tadi masih tetap menunduk tidak berani menatap wajahnya.
"Maju terus atau mundur"
Benar apa yang dikatakan Raka, sudah kepalang tanggung melihat situasi ini
"Rexa, kamu sakit ? Istirahat dulu sana"
"Rexa, kamu kan tau aku udah punya Aldi"
Lanjutnya
Mendengar nama si b******k itu membuatku benar-benar ingin muntah
"Rexa, maaf ya, aku pulang dulu, makasih ya kemarin udah nolongin aku pas kaki aku terkilir"
Dia langsung pergi meninggalkanku sendiri
"Likaa...."
Aku pun berlari sedikit cepat untuk menghentikan langkahnya
Kutarik lengannya hingga ia seperti posisi memelukku. Sungguh dia bagai bidadari yang turun dari surga, melihatnya saja aku sudah benar-benar yakin kalau dia akan menjadi milikku yang entah bagaimana caranya.
"Re........."
"Mmmpphhhhh"
Kucium bibir mungilnya, aku tak peduli walau harus ditempat umum sekalipun.
Ku dekatkan tubuhnya agar menyentuh tubuhku, kutarik tangannya melengkungkan pinggangku dan kupeluk dia lebih erat agar dia tau bahwa bukan hanya hatiku yang ingin memilikinya tapi juga ragaku.
"Mmmppphhhhhhh"
"Plaakkkkkkkk"
Tamparan yang keras tepat mengarah ke pipi kananku.
Seketika ia mendorong tubuhku menjauh agar terlepas dari pelukanku
"Kamu jangan kurang ajar Rexa"
"Kamu bukan siapa-siapa bagiku"
Sekali lagi ia pergi menjauh dariku
"Taksiiiiiiiiii......."
Ya, iya benar-benar pergi dariku, kali ini mungkin terakhir kali aku bertemu dengannya.
Krriiinnggggg kriinnggggg
"Kak, kakak dimana lagi ?"
"Iya baby, kakak ke parkiran ya"
"Kak....."
Akupun mematikan ponselku dan berjalan ke arah parkiran tepat dimana aku menaruh mobil disana.
"Baby, kamu mau aku anterin sampai depan rumah atau di persimpangan seperti biasanya ?" tanyaku
"Di persimpangan aja kak"
"Depan situ aja kak" lanjutnya
"Kak....."
"Iya baby"
"Mmmpphhhhhh"
Ia langsung mencium bibirku. Bibirnya yang imut mencoba melumat seluruh bagian bibirku, tanpa basa-basi lagi buka kancingnya satu-persatu
Kuremas dadanya seperti yang biasa kulakukan agar merespon dia kalau justinku sudah berdiri tegak hingga membuat celanaku kesempitan.
"Mmmpphhh ahhhhhhhh"
Desahnya yang terdengar serak-serak basah membuatku tak berpikir dua kali akan melakukannya didalam mobil.
Setelah ia membuka seluruh pakaianku, ia pun memakaikan justin pengaman yang tanpa kusadari ia juga sudah melepas semua bagian kain yang menempel di seluruh tubuhnya
"Kakkkk................"
"Baby sayannngggg........."
Sesaat setelah kami bersama-sama mengeluarkan semua hasrat kami, ia langsung mengeluarkan pengaman yang masih menempel dibagian intimku.
Iya yang kini masih berada dipangkuanku mencoba memakai kembali pakaiannya seperti semula.
"Kak......"
"Makasih ya kakak sayang, aku selalu puas main sama kakak"
"Iya baby, buat kamu kakak bakal naikin performa kakak biar kamu ga pindah ke yang lain" sedikit canda kulayangkan padanya
"Mmuuuaaccchhh"
Ia pun mengecup keningku
"Kak, aku ngeliat tadi pas kakak nyium perempuan deket tempat minuman yang biasa suka kita beli"
Brrreeaaakkkk hatiku seperti hancur mendengar apa yang ia bicarakan.
"Gapapa kak, aku tau kok, aku cuma sebagai penghibur buat kakak"
"Aku juga sadar diri aku kaya gimana" lanjutnya
"Aku tau kakak juga ga beneran suka sama aku kan"
"Babyyyyy......."
Telunjuknya diarahkan tepat menutupi bibirku seakan ia tidak ingin aku bicara.
"Kak, aku ga sekedar suka sama kakak, aku sayang, bahkan aku cinta kakak"
Aku pun menghela nafas
"Kak, aku mau putus aja"
"Tapi baby..."
"Sssstttttttt"
"Kapanpun kakak mau, kapanpun kakak pengen, aku siap kok"
"Aku lebih suka kita kaya dulu sebagai kakak adik, bukan sebagai pacar"
Ia pun mulai meneteskan air mata
"Makasih ya kak, tiap malem tapi kita harus selalu video call bareng ya, janji lho"
Lagi-lagi ia memaksa kelingkingku melingkari kelingkingnya
"Kakak janji baby"
Ia pun terlihat sebal
"Jangan panggil aku baby lagi, panggil aja adek sayang kaya dulu"
"Mmuuaacchhh" sekali lagi ia mengecup keningku sembari berpamitan pulang menuju rumahnya
"Love you kakak sayang"
"Love you too adek sayang" sahutku melepas perpisahan kita.
Dan sekarang aku merasa gagal menjadi seorang laki-laki. Bukan karna hanya kehilangan pacarku, tapi mungkin aku juga tidak akan bertemu dengan Lika lagi.
Lebih baik aku pulang dan tidur untuk saat ini
"Kalo jodoh ga bakal kemana juga"
Terlintas sebuah kalimat yang kuingat dari ucapan Raka.
Kadang sibangsat ini emang bener juga kalo ngomong.