"Ayo sekarang kita pulang",ujar Fivta sambil menuntun Rendy keluar dari UKS.Selama itu,mata Rendy tidak berhenti menatap Fivta.Ia berharap suatu saat nanti Fivta benar-benar membuktikan apa yang diucapkannya di taman itu.
Cukup lama mereka menunggu kendaraan untuk pulang,hingga akhirnya mereka memutuskan untuk jalan kaki karena tidak ada satupun kendaraan yang berhenti untuk mengantar mereka pulang.
Sesekali mereka beristirahat untuk meregangkan kaki mereka yang pegal.Sesampai di rumah,Fivta dan Rendy mendapat perlakuan berbeda.
*****
"SIALAN KAMU!!!"
"Kak,sebenarnya Kakak kenapa sih?Aku sayang sama Kakak!"
"Huh!Kakak?Kamu pikir aku senang melihat kamu?"
"Apa sih yang bikin Kakak kayaknya benci banget sama aku...?Aku tetap sayang padamu Kak,walaupun Kakak tidak peduli padaku..."
"Jangan mimpi kamu!!!Kamu sudah membuatku kehilangan kebahagiaan,untuk apa lagi aku harus peduli padamu???"
"Kak...sebenarnya apa salahku sampai Kakak tega bersikap begini padaku?"
"Sudah kubilang,AKU TIDAK SUDI PUNYA ADIK SEPERTI KAMU!!!"
Sebelum Reno melayangkan tangannya untuk menampar Rendy,Yulianti memanggilnya.
"Kenapa kamu berbuat begitu pada Rendy?Dia adikmu juga!"
Mata Reno membola mendengar ucapan Yulianti,tatapannya tajam dan dingin.
"Adik???Ck,untuk apa aku harus peduli sama dia?KAU PERUSAK HUBUNGAN AYAH DAN IBUKU!!!"maki Reno.
Tiba-tiba Erwin muncul,ia merasa harus menengahi perselisihan ini.
"Cukup Reno,Papa tahu kamu benci dengan semua ini.Tapi kamu salah dengan bilang mama baru kamu ini perusak hubungan,karena bukan itu sebabnya!"urai Erwin sambil mengatur emosinya.
"TERUS APA???"bentak Reno.
"Ibu kamu sudah meninggal setelah melahirkan kamu,dan sebelum meninggal dia berwasiat agar Papa menikah lagi agar kamu mendapat kasih sayang seorang ibu",sahut Erwin sambil menarik napas berat.
Di pojokan,Rendy hanya tertegun sambil mengatur emosinya.Ia tidak tahu,dan tidak menyangka sama sekali....
*****
"Fiv,dari mana kamu jam segini baru pulang?"tegur Doddy."Ya tadi Rendy pingsan Yah,dan akhirnya kita jalan kaki karena gak ada yang bisa antar kita",sahut Fivta pelan.
"Apa hari ini Ayah ada kerjaan?"tanya Fivta."Iya,sekarang sudah selesai.Sekarang mendingan kamu mandi,dan bantu Ayah memasak",sahut Doddy sambil tersenyum.
Fivta merasa sangat bahagia dengan perhatian ayahnya,ia semakin ingin menjadi penerus usaha ayahnya.Ia tidak menyadari,bahwa ada seseorang yang sangat terpuruk dengan apa yang dialaminya....
*****
Tak terasa,umur Fivta sudah menginjak 9 tahun.Ia sangat berharap ayahnya memberinya hadiah,seperti dulu.Rumah sudah didekorasi sedemikian rupa,kue pun sudah dibuat dengan begitu indah,dan Fivta pun sudah berdandan cantik.Tapi sampai lebih dari 3 jam ayahnya tidak muncul juga,membuat Tika dan Fivta merasa khawatir dan cemas.
Tepat pada jam 7 malam,Tika mendapat telepon dari kantor polisi.Tika bingung,ada apa ini?
"Halo?"
"Kami dari kepolisian memberitahukan bahwa Saudara Doddy Mahendra ditemukan tewas.Apakah Anda mengenalnya?"
Tika sangat kaget sampai-sampai ia tidak tahu harus menjawab apa.
"Dia suami saya Pak,dia kenapa?"
"Dia ditemukan tewas dengan luka tusuk dan luka lebam "
Setelah itu,Fivta muncul dengan rasa heran bercampur bingung.Seketika itu Tika memeluk anaknya sambil menangis.
*****
Siapa yang tega membunuh Ayah?Aku tidak akan memaafkannya!!!Aku harap itu bukan dari keluarga Rendy,karena kalau sampai itu benar,sungguh aku tidak akan memberi peluang bagi mereka untuk mengisi hatiku! batin Fivta geram.
Suasana pemakaman begitu sendu,Fivta dan Tika sama-sama menangis dalam guyuran hujan yang deras.Baju mereka yang berwarna hitam pun sampai basah karena hujan yang tidak juga berhenti.Fivta ingin mengadukan kesedihannya pada Rendy,tapi ketika ia menelepon Rendy,tidak ada jawaban sama sekali.
*****
"Uhuk uhuk...hhh..."Rendy mulai batuk-batuk sejak Reno memarahinya,napasnya terasa begitu sesak.Rasanya tubuhnya pun lemas,ia tidak tahu kenapa.Ia ingin menemui Fivta untuk menanyakan keadaannya,tapi ketika ia ingin turun dari ranjang keseimbangannya goyah hingga ia berjalan sambil memegangi dinding.Belum sampai pintu,ia sudah ambruk.
"RENDY!!!"teriak Yulianti ketika melihat anaknya tersayang itu ambruk tidak sadarkan diri.Ia mengompres kepala Rendy,dan mengukur suhu tubuhnya dengan termometer.
Merasa khawatir,ia membawa Rendy ke RS Vitalaya untuk diperiksa.Ia dibawa ke UGD untuk ditangani,sedangkan Yulianti berkonsultasi dengan dokter yang bernama Dokter Febri.