Goyah

1326 Words
Dayan membeku seketika, mendengar penuturan Alandra. “Itu baru dugaanmu saja Tuan, mungkin hanya sekedar memiliki tanpa bertujuan ingin menyerang.” “Kamu tidak tahu, paman Luxone bagaimana. Dia pengkhianat! Punya pasukan banyak, pasti untuk menyerang kerajaan ayahku.” Alandra menarik panjang. peperangan itu sudah hal yang lumrah, namun jika ayah dan ibunya yang jadi korban ia tak mungkin berdiam diri. “Andai benar dugaanmu. Kita kembali ke sana tidak ada yang bisa Anda lakukan,” cetus Dayan. Alandra seketika menoleh ke arahnya. “Apa maksudmu? Kau meremehkan kemampuanku?” “Jujur saja, aku bisa menebak sebesar apa kemampuanmu. Melawan tentara tadi saja, aku ragu kau bisa mengalahkannya. Apalagi melawan pamanmu, dan antek-anteknya.” Alandra mendengkus kesal dengan kejujuran Dayan, walau dalam hati ia membenarkan ucapan rubah itu. Kemampuannya masih standar, baru sebatas berburu atau melawan prajurit biasa. “Kau bicara banyak, memangnya punya ide?” tanya Alandra sedikit menantang. Dayan tersenyum. “Mari duduklah dulu.” Kemudian rubah putih itu membimbingnya duduk di tepi ranjang dan membiarkannya meminum air di dalam cawan agar pemuda itu lebih tenang. “Selain mencari obat untukmu tetapi juga kita punya misi lain ....” “Apa? Jangan menggantung kalimatmu,” ucap Alandra, ia mulai penasaran. “Sebenarnya aku punya rahasia yang belum sempat ku katakan padamu.” Rubah itu menjeda ucapannya. “Raja Alastor, memintaku menemanimu, untuk mencari guru bela diri bernama Zaara. Guru muda itu, seorang perempuan yang kemampuannya di atas rata-rata. Jika kau belajar darinya, selain mampu berkelahi, juga akan memiliki kekuatan magis yang nantinya bisa mengalahkan musuh-musuhmu,” terang Dayan. Alandra terdiam, ucapan itu cukup membuatnya terkejut. Tak menyangka jika ayahnya sudah sejauh ini memikirkan tentang dirinya. “Saranku, ikutilah keinginan ayahmu, tokh semua demi kebaikan bersama untuk orang tuamu, para tentara juga rakyat.” “Kudengar, Luxone akan melakukan sesuatu yang entah apa. Waktunya sekitar dua minggu. Apakah kita bisa menemukan Zaara, sebelum waktunya?” tanya Alandra. Ucapan itu tentu saja mengundang gelak tawa dari Dayan. “Kau bercanda! Kita akan melakukan perjalanan yang penuh lika-liku bukan perjalanan biasa seperti berburu yang mungkin sehari dua hari bisa selesai.” Mendengarnya Alandra tergugu, artinya perjalanan ini ia harus mempersiapkan mental karena mungkin akan berat baginya. “Tapi tenang saja, mungkin bisa lebih cepat dari perkiraan kita.” “Emm, sangat jauh ya? Lebih jauh mana dari pegunungan Zas?” kembali pemuda itu bertanya. “Adanya, di daerah Amorei. Lebih jauh dari pegunungan Zas, namun tujuan kita mencari obat untukmu terlebih dahulu,” ucap Dayan menerangkan. Alandra cukup paham dengan penjelasan itu. “Bagaimana Tuan apakah kau bersedia? Atau jangan-jangan merasa takut, karena di istana kerajaan Anda disayang dan dimanja,” ucap Dayan setengah meledek. “Mustahil aku takut! Lagi pula, pantang untukku menolak ucapan atau keinginan ayahku, jadi apa pun itu, aku pasti bersedia.” Dayan tersenyum mendengarnya. “Baguslah, sekarang mari kita beristirahat untuk melanjutkan perjalanan besok.” Perasaan lega menyeruak, Alandra merasa ini akan menjadi petualangan istimewa dalam hidupnya. **** Mentari, bahkan belum menampakkan cahayanya. Namun, Alandra sudah sibuk membangunkan rubah betina itu. “Hei, Tuan! Apa kau ingin kutendang lagi?” sungut Dayan kesal. Ia menggeliat, membuat bulu-bulu putih yang panjang itu merekah dengan eloknya. “Aku mendapatkan info penting. Mari kita lanjutkan perjalanan, akan kuceritakan sambil berjalan,” ucap sang pangeran. Selanjutnya, Alandra menggamit jubah putih ber-aksen keemasan di tiap sisinya lalu menyematkan pedang dan memakai caping serta penutup wajah. Dayan, menatap punggung bahu lebar itu lekat-lekat. “Aku merasa ... kau belum berubah, masih saja tampan seperti dulu,” ucap Dayan tanpa sadar. Ucapan itu, mengundang Alandra untuk menoleh ke arahnya. “Tunggu, kau pernah melihatku sebelumnya? Ucapanmu, seolah kita pernah bertemu sebelum aku terkena kutukan ini,” cetusnya. Ia merasa aneh saja dengan kalimat rubah itu. Dayan tiba-tiba saja meloncat-loncat, Alandra tidak tahu saja kalau ia tengah menahan malu, mulutnya terkadang tak terkendali. “Ah, lupakan saja pangeran. Kadang aku suka membual.” Alandra tersenyum sinis. “Syukurlah, jika kau menyadarinya. Memang seingatku, aku tidak pernah bertemu makhluk aneh sepertimu. Ayo, kita keluar dari rumah ini agar bisa keluar dari hutan. Lihatlah, kita memiliki peta, untuk bisa keluar.” Alandra membuka gulungan yang terbuat dari kulit binatang. Dayan menatap gulungan itu. “Dari mana kau dapat?” “Dari wanita tua yang semalam memarahi kita, rupanya dia baik.” Dayan menarik napas panjang. Menurutnya, Alandra terlalu naif dan polos. “Lain kali, kau jangan mudah percaya.” “Kita buktikan dengan peta ini. Jika bisa keluar, artinya wanita itu memang baik,” ucap Alandra. Tanpa kalimat lagi, keduanya keluar dari bangunan megah itu tanpa melihat lagi satu orang pun di ruangan itu. ‘Tak ada orang-orang, bahkan Oenix. Ke mana mereka?’ batin Alandra. Walau Alandra dan Dayan merasa aneh, namun mereka tak ingin banyak membahas, dan lebih memilih untuk melanjutkan perjalanan. Tanpa mereka tahu, di atas pintu besar dan tinggi itu bertuliskan kalimat dengan huruf yang kecil : “Berpikirlah dulu, sebelum masuk ke rumah ini, atau tidak sama sekali.” **** Sinar matahari masih berwarna putih dan hangat. Menurut peta, mereka akan keluar sebentar lagi. “Tuan, aku sabar menunggumu bicara soal tadi. Tentang hal apa?” tanya Dayan. Jika saja, ia tidak cerewet, sebenarnya rubah itu memiliki suara yang lembut. Alandra memutar bola matanya, tampak berpikir. “Yang mana?” “Soal yang penting kata si wanita besar itu!” tukas si rubah kesal. “Oooh ... Wanita tua yang tadi, selain memberiku peta, juga memberitahuku soal tabib ahli yang punya julukan tabib seribu penyakit. Ia memberiku saran, untuk berobat padanya,” terangnya. Dayan menghentikan langkah, jika saja ia berwajah manusia pasti akan kentara raut kecewanya. Namun, yang terlihat hanya seekor rubah yang menatap seperti biasanya. “Pangeran, perlu kuingatkan ... perjalanan ini, adalah untuk pergi ke gunung Zas, memetik bunga Chamomile biru untuk dijadikan teh sebagai obatmu. Semoga kau tak lupa,” ucap Dayan lalu memalingkan wajah. Alandra mengangguk. “Iya, tapi apa salahnya jika kita berusaha dengan cara lain? Jika ada yang lebih mudah, mengapa tidak!” Seketika Dayan mengentakkan kakinya, Alandra merasakan kaki mungil rubah itu sedikit mengguncang tanah. “Kau membuatku marah!” bentak Dayan. Alandra langsung mengingat pesan Argus, untuk tidak membuat Dayan marah dan kecewa. Jika tidak, maka rubah itu tak segan meninggalkannya. “Ada yang salah dengan ucapanku? Hanya sepenuhnya usaha, bukan?” tanya Alandra penuh dengan penekanan. Terdengar tawa hambar dari rubah betina itu. “Untuk apa, kita jauh-jauh melakukan perjalanan jika bukan untuk mengobati penyakitmu? Kutukan itu, bukan penyakit biasa yang akan sembuh oleh tabib satu atau tabib lainnya, melainkan hanya dengan bunga langka itu. Dan satu hal yang penting, tak sembarang orang mampu memetiknya, hanya aku dan beberapa orang terpilih!” bentaknya. Mata biru Alandra melotot tajam, kesabarannya habis sudah. Ia merasa, jika rubah itu bukan hanya cerewet melainkan juga sombong dan sok tahu. “Cukup! Jika kau sudah tidak ingin menemaniku, pergilah! Kembalilah pada tuan Argus, aku tak keberatan. Dan aku, tidak akan mengulangi kalimat ini,” tegas Alandra. Dayan bisa menatapnya, ia yakin jika ucapan sang pangeran itu sungguh-sungguh. Ini sangat aneh, semenjak keluarnya mereka dari rumah megah tengah hutan itu, sikap Alandra berubah. “Kau tidak percaya lagi ucapan tuan Argus mengenai obat di gunung Zas?” selidik Dayan. Alandra tampak menarik napas dengan kasar. “Jujur saja, aku mulai meragu. Terlalu tidak masuk akal.” Mata Dayan meredup. Kalimat itu, membuat ulu hatinya tergores. Andai saja, Alandra tahu untuk apa ia bersedia menemaninya, sebenarnya bukan sebatas untuk lelaki itu saja, melainkan ada hal lainnya. Ia tersenyum hambar. “Wahai calon raja. Awalnya, kukira kau hanya kekanak-kanakan, dan penakut. Namun lebih dari itu, kau juga lemah fisik dan hati. Kita belum setengah perjalanan, namun kamu sudah goyah. Baiklah, mungkin hanya sampai di sini aku menemanimu. Semoga Anda berhasil, Tuan,” cetus Dayan. Rubah putih itu berjalan mundur, kemudian melangkah meninggalkannya. Tampak berat tarikan napas Alandra, namun ia tak bisa berbuat banyak atas semua ucapan rubah itu. Sama halnya dengan Dayan, ia pun melangkah berlawanan arah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD