Alandra seketika memegang kuat leher Dayan, untuk mencekiknya.
“Rubah tengik! Kenapa selalu mendorongku?”
“Akkh! Ampun Tuan, uhuk! Uhuk!” Dayan terbatuk.
“Hei kalian berdua!” suara nyaring itu, menghentikan Alandra dan Dayan. Mereka kompak menoleh ke arah suara.
Di samping mereka ada seorang perempuan bertubuh tinggi dan gempal tengah berkacak pinggang. Matanya melotot tajam dengan gigi bergemeletuk.
“Aku tidak tahu apa yang kalian bicarakan, tapi sungguh, suara kalian sangat mengganggu!” ujarnya dengan nada kesal.
Alandra pun, bangkit berdiri.
“Maafkan saya, saya memiliki rubah yang sangat berisik dan mengganggu,” kilah Alandra sambil mendelik ke arah Dayan.
Dalam diam tentu saja Dayan kesal padahal lelaki itu pun sama-sama berisik.
Wanita tinggi dan gempal itu pun mengibaskan tangannya. “Halah! Banyak alasan. jika kalian masih mau tetap di sini diam lah, atau aku usir dari sini.” Ucapan itu, tentu saja membuat mereka takut karena tidak mungkin malam hari begini harus keluar untuk melanjutkan perjalanan, sementara mereka butuh tempat istirahat walau semalam.
“Baik Nyonya, kami tidak akan berulah lagi,” ucap Alandra.
Semua yang hadir menyimak obrolan mereka, bahkan baru mengetahui kondisi kulit Alandra. Mungkin karena orang-orang itu, tidak terlalu memperhatikan karena Alandra selalu menutupi tubuhnya dengan jubah.
Wanita tinggi dan gempal itu berlalu meninggalkan keduanya. Seorang laki-laki tinggi mendekat.
Ia memindai tubuh Alandra. “Kau, seperti seseorang yang kukenal.”
Alandra menyipitkan mata, memperhatikan wajah lelaki itu mungkin saja ia mengenalnya. Namun, sepertinya dirinya tidak pernah bertemu lelaki itu.
"Siapa?” tanya Alandra.
Langsung saja, keduanya menjadi pusat perhatian. Mereka berkumpul mengelilingi Alandra dan lelaki tinggi itu.
“Alandra. Anak dari raja Alastor yang dikutuk!”
Deg!
Mata Alandra membola. Ia tak menyangka jika dirinya bisa dikenali.
Semua tampak riuh, dan saling berbisik. Mata mereka sibuk menelisik tiap sisi tubuhnya.
‘Ini gawat! Aku harus menyelamatkan tuanku,' batin Dayan.
“Ah, tapi tidak mungkin. Alandra sudah mati dipenggal akibat ulahnya, mungkin kau hanya mirip saja,” ucap lelaki itu kemudian.
Mendengarnya, Dayan merasa lega. Namun, Alandra justru tak sepenuhnya, karena tuduhan dan fitnahan itu membuat namanya tercemar.
Bahunya melemas.
“Aku Oenix, tentara kerajaan Xaviorus. Siapa namamu?” tanya lelaki itu.
Alandra terkesiap. Pantaslah lelaki itu sempat mencurigainya.
“Aku ....” Alandra menggantung ucapannya, ia tidak pernah memikirkan nama lain untuk penyamarannya. Karena tak terbersit akan bertemu dengan salah satu tentara di kerajaan ayahnya.
Pertanyaan yang tiba-tiba, membuatnya gugup mengakibatkan pikirannya buyar.
Oenix masih menunggu kalimat dari pemuda itu.
“Namanya, Luahararya Chaanavkyarachitik,” ujar Dayan menimpali. Membuat mata Alandra membulat hingga nyaris menggelinding.
‘Sialan rubah ini!’ batin Alandra kesal.
Tawa meledak memenuhi seisi ruangan itu.
“Namamu sangat unik. Lalu, aku harus memanggilmu apa?” ucap Oenix.
Sang pangeran sudah pucat hingga menelan salivanya. Ia sendiri tak tahu, harus memanggil dirinya apa.
“Panggil saja, Lu.” Kembali, Dayan yang menjawab.
Oenix yang diperkirakan seusia pamannya, tertawa sambil menepuk bahu Alandra. “Baiklah anak muda, sekarang kau istirahatlah di kamar yang sudah tersedia, bawa serta rubahmu itu.”
"Baik Tuan, terima kasih."
Kemudian, ia berjongkok dan menatap binatang itu dengan tatapan tajam.
"Awas kau, rubah menjengkelkan!" bisik Alandra pada Dayan. Rubah itu hanya terkekeh.
Oenix pun mengisyaratkan pada semua orang untuk diam menyimaknya.
“Perhatian semua! ini sudah larut, pesta sudah selesai. Mari kita istirahat di kamar masing-masing,” ujar Oenix.
Orang-orang membubarkan diri, begitu juga Alandra. Mereka menaiki tangga di rumah besar nan mewah itu, menuju kamar yang jumlahnya banyak.
Kakinya menapak satu persatu anak tangga, tangannya berpegang pada besi berornamen emas. Ia baru sadar jika motif lantai, tangga bahkan sekelilingnya bermotif gambar ular.
‘Aku ... seperti pernah melihat gambar ular ini, tapi di mana?’
****
Tak seindah khayalan, tidur dengan nyaman beralaskan sutera. Nyatanya, belum sedetik pun matanya terpejam.
“Tuan, kau tidak mengantuk?” ucap Dayan. Ia bahkan di posisi tengah meringkuk.
Alandra menggeleng, hatinya tengah hampa. Bayangan kelam mulai menyeruak mengukung benaknya.
Sungguh, kutukan itu benar-benar mampu membolak-balikkan hati dan perasaan yang menyiksanya.
“Hmm, aku tahu pasti kau sedih karena kulitmu yang mulus berubah menjijikkan, wajahmu pun tidak tampan lagi. Begitukan yang kau pikirkan?” tanya Dayan berseloroh.
Pemuda berusia 25 tahun itu, mulai beranjak. Malas meladeni rubah cerewet yang selalu membuatnya kesal.
“Eh! Tuan mau ke mana?” Dayan meloncat lalu memagari tubuhnya tepat di depan pintu.
“Minggirlah! Aku, butuh udara segar.”
Lelaki itu melewati Dayan begitu saja, namun saat pintu terbuka, netranya menatap lurus ke arah orang yang tadi menyapanya, tengah berbincang dengan dua lainnya.
‘Oenix?’
Ia urungkan dan hanya membuka sedikit saja untuk bisa mengintip. Entahlah, Alandra hanya penasaran apa yang ketiga lelaki itu obrolkan, terlebih salah satu dari mereka ternyata tentara kerajaan.
“Tenang saja, Tuan Luxone telah mengarahkan pasukan. Bukan sekedar ratusan tapi ribuan dan mereka adalah orang-orang yang terlatih,” ucap lawan bicara Oenix.
Tampak lelaki paruh baya itu mengusap janggutnya. “Baguslah.”
Sementara Alandra masih mencoba mendengarkan apa yang tengah mereka bicarakan. Melihat gelagat aneh dari tuannya, Dayan pun bertanya,
“Tuan sedang apa? Tidak jadi menghirup udara segar?”
“Ssst!” Pangeran itu, menaruh telunjuknya di bibir, mengisyaratkan pada rubah itu untuk diam.
“Kapan, itu terjadi?” tanya Oenix.
“Dua minggu dari sekarang.”
Kembali Oenix mengangguk puas. Tak ada obrolan berarti, membuat Alandra menutup pintunya.
Tubuhnya merosot ke bawah. Mendengar nama Luxone, membuat daddanya sesak.
“Tuan! Ada apa?” tanya Dayan khawatir.
“Aku curiga, orang-orang di sini tengah sekongkol dengan pamanku, Luxone.”
“Oh, ya? Rasanya tidak mungkin. Bukankah, tadi dia bilang jika dirinya adalah tentara kerajaan?”
Alandra menatapnya nyalang, rubah itu mungkin tak tahu persis apa yang dialaminya. Seketika, memorinya kembali mengingat kejadian pahit itu.
“Bisa saja, dia pengkhianat. Sama seperti pamanku!”
“Andai benar, lalu yang kini kita singgahi ini ... rumah apa? Mungkinkah, semacam tempat gerombolan penjahat?”
Mendengarnya, semakin berat saja tarikan napas Alandra.
“Entahlah. Hanya saja, pikiranku terngiang dengan ucapan Oenix tadi bahwa, pamanku Luxone telah menyiapkan ribuan pasukan.”
Keduanya saling menatap.
“Aku takut, jika yang dimaksud oleh Oenix adalah Luxone dan bala tentaranya, akan menghancurkan kerajaan ayahku,” imbuh Alandra.
Sebenarnya, itu juga yang dipikirkan Dayan.
“Dayan.”
“Ya, Tuan?”
“Kita ... kembali pulang saja. Tidak usah mencari obat untukku. Jujur, aku sudah tidak peduli lagi soal itu. Karena, keselamatan kedua orang tuaku jauh lebih penting,” ucap Alandra.
Dayan membeku seketika, mendengar penuturan Alandra.