Rumah Tengah Hutan

1112 Words
Netra biru Alandra mengerjap beberapa kali, saat matahari menembus celah dedaunan dan menembak lurus ke arah wajahnya. “Akhirnya bangun juga, tidurmu seperti orang mati. Aku lelah mengguncang-guncang tubuhmu dari tadi,” ucap Dayan menggerutu. “Memangnya ada apa membangunkanku sepagi ini?” “Sedikit lagi, kita bisa keluar dari hutan ini. Sebaiknya, Tuan segera makan buah-buahan itu dan membersihkan diri, lalu mari kita lanjutkan perjalanan,” ucap Dayan seraya mundur teratur. Alandra termenung, menatap hamparan buah-buahan hasil hutan. Ia yakin, pasti Dayan telah bekerja keras mengambil aneka buah itu. ‘Pikiran Dayan susah ditebak. Kadang baik, kadang brutal. Membuatku bingung,' batinnya. “Terima kasih, Dayan. Kamu susah payah memetik semua ini untukku,” ujarnya dan mengambil sebuah pisang kuning yang matang alami. “Sama-sama, Tuan.” **** Kaki membawa keduanya terus melangkah di hutan itu, setelah matahari kian naik, Alandra memperkirakan jika mereka akan segera keluar dari hutan dan memasuki wilayah pemukiman penduduk. Namun, mereka kian jauh dan tak tahu di mana ujungnya. “Tuan, kita belum sampai juga. Ini aneh!” Mereka masih menyusuri jalan untuk dapat keluar dari hutan. Lagi-lagi, ujungnya tidak mereka temukan. “Jangan-jangan kita tersesat!” ujar Alandra. Pedangnya menebas batang dan dedaunan yang menghalangi jalan mereka. “Tidak mungkin, kecuali ada kekuatan magis yang mencoba menghalangi kita.” “Apa mungkin? Jika begitu, jangan khawatir aku memiliki liontin ajaib, kita lawan dengan kekuatan serupa.” Alandra mengeluarkan liontin dengan permata warna ungu yang melingkar di leher. Dayan mencebik, ia bahkan tidak yakin dengan ucapan sang pangeran. Kemudian mereka kembali melangkah tak tentu arah. Hingga .... Di depan keduanya, ada pagar besi besar yang di dalamnya terdapat rumah megah yang tak kalah besarnya. Alandra mulai ketakutan, ia benar-benar tidak menyangka jika hutan belantara di jalan yang ia susuri menuju ke sebuah bangunan yang tinggi menjulang. ‘Di hutan lebat ini ada rumah megah?’ Lelaki itu menyapu sekeliling yang banyak ditumbuhi pepohonan liar dan semak, tidak ada satu pun rumah kecuali yang ada di depannya kini. “Kita masuk,” ucap Dayan tanpa ragu, bahkan ia mendorong pagar besi itu hingga terdengar decitan di telinga. “Hei! Kau gila? Cepat kembali!” ujar Alandra. Namun, rubah putih itu tidak menggubris malah terus saja masuk. “Kita butuh bermalam, kau tidak sadar hari sudah sore?” Alandra menelan saliva. “Sudahlah, tadi pangeran mengatakan memiliki liontin ajaib kan? Jadi, tidak ada yang perlu ditakutkan. Kemari lah,” imbuh Dayan. Tidak ada pilihan lain bagi pangeran itu, selain menurutinya. Pikirannya berkecamuk, ia sangat tidak memahami karakter rubah betina itu. **** Bulu kuduk Alandra langsung meremang, saat keduanya sampai di depan pintu. Dengan salah satu kakinya, Dayan mengetuk pintu yang besar dan kokoh. Seorang wanita muda yang cantik membukakan pintu untuk mereka, lalu dengan sopan membawanya ke sebuah ruang yang besar dan mewah. Lagi-lagi, Alandra dibuat bingung karena penghuni rumah itu tidak menanyakan kedatangan mereka, malah terkesan biasa saja. Di ruangan luas itu, banyak laki-laki dan perempuan tengah berbincang. Alandra berjongkok di sisi Dayan dan membisikkan sesuatu, “Sepertinya, sedang ada pesta. Dan mereka mengira, kita adalah tamu undangan,” bisiknya. Dayan mengangguk. “Kalau begitu, kita tidak perlu sungkan lagi untuk menikmati hidangan mewah di meja sana. Lihatlah, daging merah itu, apa kau tidak tergoda!” ujar Dayan berseloroh. Alandra hanya bergidik saja, menatap di antara makanan enak yang berjejer itu, terdapat daging-daging mentah berwarna merah. “Hei! Kenapa kau diam saja? Dengan hanya melihat tidak membuat perutmu kenyang,” ujar Dayan. Ia mendorong tubuh Alandra dengan kepalanya. Sambil berjalan, ekor matanya terus menatap orang-orang yang berkerumun. Tanpa mempedulikan mereka, Alandra mulai mengambil makanan dan menyantapnya. Pandangannya teralihkan pada Dayan, yang sama-sama memakan hidangan manusia. “Kau makan roti gandum juga?” tanya Alandra heran. “Tentu saja. Lalu aku harus makan apa?” bisik Dayan, ia sengaja merendahkan suaranya agar tidak menjadi pusat perhatian orang-orang itu. “Tuuuh!” Alandra menunjuk dengan bibirnya ke arah daging mentah yang masih merah. “Enak saja! mana mungkin aku memakan makanan yang masih berdarah itu. Kau pikir aku binatang!” sungutnya kesal. Mendengar itu Alandra berjengit. “Haish! Bukankah kau memang binatang, hei rubah putih!” Alandra mulai kesal. Ia memalingkan wajah dan memasukkan makanan itu ke mulutnya sekaligus. Andai ia tak membutuhkan rubah betina itu, ia pasti telah meninggalkannya. Sementara Dayan, menunduk menatap makanannya. Tubuhnya seolah menciut karena malu. Sepanjang menyantap makanan, Dayan tiba-tiba jadi pendiam membuat Alandra merasa bersalah. Apakah ucapannya menyinggung perasaannya atau tidak. Lelaki itu mendekat ke arah si rubah putih lalu berdehem. “Dayan, kau tersinggung dengan ucapanku?” tanya nya. Rubah putih itu mendongakkan wajah ke arah Alandra. “Tidak Tuan, ucapanmu memang benar. Sudahlah lebih baik kau makan dan pasang telingamu baik-baik.” Alandra mengangkat kedua alisnya. “Apa maksudmu?” “Dengarkanlah obrolan mereka.” Walau Alandra tidak mengerti apa maksud rubah itu, namun ia mematuhi ucapan Dayan. Ia, benar-benar memasang telinganya baik-baik. Lalu, terdengarlah dengan jelas obrolan mereka. “Untuk itulah, kita sengaja membangun rumah menakutkan di tengah hutan. Tujuannya, kan sebagai tempat rahasia kita,” ujar lelaki berotot yang tepat di belakang Alandra. “Benar. Tak ada satu pun yang berani masuk ke sini, karena mereka mengira ini adalah rumah berhantu. Yang berani kesini hanya orang-orang yang berkawan dengan makhluk halus,” ucap seorang lainnya menimpali. "Ha, ha ha. Tidak hanya itu, rumah ini ... ah, kau tahu sendiri bukan?" Lalu, terdengar ledakan tawa dari mereka. Mata Alandra membulat, pantas saja ia yang berwajah buruk rupa dan menjijikan, dengan mudah masuk ke rumah itu tanpa mereka curiga sedikit pun. Karena, pasti orang-orang itu menyangka jika Alandra berteman dengan makhluk halus. Dayan mendekat ke arahnya. “Kau paham ucapan mereka?” bisik Dayan. Alandra menggeleng lemah. Bukan tak paham, ia hanya ingin mengetahui dari versi rubah itu. “Kau dianggap bersahabat dengan makhluk halus, dan aku dikira jelmaan iblis,” ucap Dayan masih dengan lantang. Alandra seketika menatapnya lekat-lekat, membuat Dayan risih hingga menjaga jarak. “Kenapa melihatku begitu? Belum pernah melihat rubah putih bersih yang cantik?” tanya Dayan, ia hanya mencoba menutupi rasa gugupnya. “Tidak. Aku hanya merasa ... ucapan mereka mungkin benar. Kalau kamu, rubah jadi-jadian alias jelmaan iblis, buktinya binatang tapi bisa bicara, kan aneh!” desis Alandra. Tak terima atas tuduhan itu, kembali Dayan menendang dadda Alandra hingga terjungkal. “Aduh!” Rintihan itu, membuat perhatian orang-orang teralihkan dan sontak menatapnya. Ia pun tersenyum dipaksakan, dan mencoba bangkit. Saat orang-orang itu, tak lagi menatapnya ia seketika memegang kuat leher Dayan, untuk mencekiknya. “Rubah tengik! Kenapa selalu mendorongku?” “Akkh! Ampun Tuan, uhuk! Uhuk!” Dayan terbatuk. “Hei, kalian berdua!” suara nyaring itu, menghentikan Alandra dan Dayan. Mereka kompak menoleh ke arah suara.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD