Perjalanan dimulai. Alandra pergi berjalan kaki bersama Dayan menyusuri jalan, melewati hujan dan panas, untuk sampai ke gunung Zas.
Tidak mudah dilalui, karena Alandra harus kerap berhenti karena penyakit yang dideritanya sungguh mengganggu.
Keduanya beristirahat di bebatuan, dan meminum air dari aliran sungai yang kecil. Saat ini, mereka tengah beristirahat.
“Dayan, bagaimana aku bisa berbicara denganmu, sementara kamu hanya seekor binatang?” tanya Alandra mulai kehabisan rasa sabar.
Walau tidak ada rintangan berarti, namun ia cukup kesulitan berinteraksi dengan rubah putih itu.
“Ya, tinggal bicara saja, Tuan. Apa susahnya?”
Alandra nyaris terjatuh saking terkejutnya. Dirinya yakin, tidak salah mendengar saat rubah itu mengucapkan kalimat dengan suara perempuan. “Ka-kamu bisa bicara?”
“Tentu saja.”
Plak!!
Alandra memukul kepalanya, membuat Dayan mundur beberapa langkah.
“Kenapa Tuan memukulku?” tanya Dayan, mata dengan manik berwarna kuning itu mengintimidasi.
“Kamu pantas aku pukul. Kalau kamu bisa bicara, kenapa tidak dari awal? Aku seperti orang gila berbicara sendirian selama perjalanan denganmu!” gerutu Alandra.
“Itu, karena selama perjalanan. Tuan hanya bergumam dan mengeluh sendiri, tanpa mengajakku berbicara atau sekedar bertanya.”
Alandra menggelengkan kepala karena kesal, walau sisi hatinya merasa lega karena benar-benar memiliki teman berbicara sekarang.
“Tuan harus minta maaf!” ujar Dayan.
“Apa? Aku?” Alandra menunjuk hidungnya sambil bangkit berdiri.
“ ... Kaulah harus minta maaf, karena telah membuatku menyangka dirimu tidak bisa bicara, menjengkelkan!,” imbuhnya.
“Tapi Tuan telah memukul kepalaku tadi!”
Keduanya terdiam sejenak.
“Tidak! Aku pangeran, kamulah yang harus lebih dulu meminta maaf.”
“Sombong sekali, mentang-mentang kau calon pemimpin negeri Xaviorus, sampai gengsi meminta maaf. Kalau begitu, aku pergi saja. Silahkan kamu cari obatmu sendirian!”
Dayan mulai melangkah menjauh, seketika Alandra panik dan bergegas berlari mendekatinya.
“Hei! Hei! Kau benar-benar akan pergi?”
“Tentu saja, aku tidak mau menemani pangeran sombong sepertimu!”
“Aaah! Baiklah, baiklah. Begitu saja marah ....” Alandra menghela napas panjang.
Tanpa ia tahu, Dayan menahan dirinya untuk tertawa.
“Aku minta maaf!” ucap Alandra kemudian.
“Baik, aku maafkan. Sekarang, mari kita lanjutkan perjalanan, Tuan.”
Craakk!!
Bruggh!!
Alandra langsung menoleh ke kanan dan kiri, mencari suara. Dirinya yakin, ada batang pohon yang patah atau semacamnya.
“Dayan, suara apa itu?” Ia bangkit dan menyiapkan pedangnya.
Walau terkejut, ia harus tetap tampak tenang.
Sementara Dayan, berlari-lari kecil mengecek keadaan.
Srett!
Manik matanya menatap sesuatu yang berbulu di belakang pohon. Dayan melangkah cepat mendekati Alandra.
“Tuan, ada sesuatu di pohon itu,” bisiknya.
“Ayo kita dekati.”
Dengan mengendap-endap, keduanya perlahan melangkah.
Alandra sudah bersiap memegang gagang pedang.
“Kera! Itu seekor kera!” Dayan memekik.
Sadar persembunyiannya diketahui, kera itu meloncat berusaha menghindar. Namun, Dayan tidak membiarkan binatang itu pergi.
Alandra yang menyaksikannya berusaha melarang.
“Dayan! Jangan dikejar, biarkan kera itu pergi!”
Rubah putih itu tidak menghiraukan kalimat sang pangeran. Bahkan, ketika kera itu berhasil ia cegah, dengan tanpa ampun Dayan menerkam dan mencabik-cabik tubuh binatang yang lebih kecil darinya itu hingga terluka.
Alandra berusaha berlari menyusul mereka, dan saat menemukan keduanya. Dayan, secara brutal mengoyak tubuh kera hingga hancur, entah sejak kapan kera itu telah mati di tangannya.
“Dayan! Kau keterlaluan! Hentikan!” Alandra menarik tubuh rusa putih itu menjauh.
Ia terus menggusur Dayan.
“Dia Cuma salah satu binatang penghuni hutan ini. Kenapa kau membunuhhnya?” tanya Alandra.
“Kera itu mengintip kita, Tuan.”
“Hanya mengintip saja, tapi sikapmu sungguh berlebihan!”
“Tapi__”
“Tidak ada tapi! Tuan Argus, pasti kecewa dengan kelakuan aslimu ini.”
Alandra melangkah pergi, diikuti Dayan di belakangnya.
Sepanjang jalan itu, keduanya diam membisu.
****
Malam telah larut.
Mereka belum sampai di ujung hutan. Membuat keduanya memutuskan untuk tidur sampai esok pagi.
Namun, Alandra tak mampu memejamkan mata. Ia duduk dengan posisi memeluk kedua lututnya. Embusan angin dingin, benar-benar menusuk tulangnya.
Tak jauh darinya, Dayan tidur dengan pulasnya.
Alandra sungguh heran, bagaimana bisa rubah putih itu tidur dengan tenang, atas apa yang telah dilakukan olehnya pada kera tak bersalah itu.
Ia teringat ucapan Argus, bahwa Dayan memiliki sifat yang sensitif. Alandra tidak boleh mencampuri urusan Dayan, dan harus membiarkan rubah itu melakukan apa pun semaunya.
‘Kenapa harus dilarang! Pantas saja dia berlaku seenaknya. Huh! Awas saja, kalau sampai perbuatannya menghalangi langkahku ke pegunungan Zas, dia takkan kuampuni,' batinnya bersenandika.
Terdengar suara gemuruh, tak jauh darinya. Membuatnya sigap memegang gagang pedang. Ia bangkit mengecek keadaan, namun suara itu kiat santer terdengar.
Hingga ....
“Aarrrrrr!!”
Suara auman itu membuat Alandra meloncat hingga terjatuh.
Saat meringis, langkah kaki samar terdengar mendekatinya.
Ia menatap kaki yang sangat besar, dan tatapannya terus ke atas.
Matanya membulat menatap makhluk berukuran raksasa. Tubuhnya hitam dan berbentuk seperti singa bergigi tajam.
Alandra menelan saliva sambil menggusur tubuhnya. Kakinya melemas seketika, dan suaranya terasa tercekat di tenggorokan.
Sementara Dayan, masih berada dalam buaian mimpi.
“Aaaaarrr!!” makhluk besar itu mulai menyerangnya.
Membuat Alandra sigap menghunus pedang. Ia berharap pedangnya mampu melibas wajah mengerikan itu.
Namun, sia-sia. Pedangnya terlempar membuat ia kembali mundur. Lalu ....
“Arrggg!!”
“Aakkhh!” rintihnya.
Alandra terpejam begitu pasrah, saat ia yakin jika gigi-gigi tajam itu, telah menerkamnya.
Blugh!
Suara keras membuat kedua matanya terbuka. Ia melihat, makhluk itu tumbang seketika. Pangeran langsung sibuk mengecek tubuhnya, kalau-kalau ada luka yang mengenainya.
'Eh, aku tidak apa-apa?'
Lalu matanya menoleh pada Dayan yang tengah berdiri tepat di depannya.
Makhluk besar itu bangkit, dan melakukan serangan.
“Dayan, awas!!”
Dayan meloncat ke arah wajah makhluk berwujud singa hitam itu dan menusuk kedua matanya dengan kuku tajam miliknya.
Kembali tubuh raksasa itu tumbang, mengerang kesakitan. Di celah itulah, Dayan kembali maju dan melayangkan pukulan dan cakaran bertubi-tubi. Detik berikutnya, makhluk itu tidak bergerak lagi. Barulah Dayan turun dari tubuh itu, dan mendekati Alandra.
Sang pangeran yang terkagum dan langsung mengusap tengkuk rubah itu.
“Kau hebat Dayan.”
“Cih! Tadi, siapa yang memaki-makiku heh!”
Alandra menyeringai. “Maaf, jika itu membuatmu tersinggung. Terima kasih, telah menolongku.”
“Kumaafkan. Asal, jangan sekali-kali, kamu melarang perbuatanku, atau menyalahkan seperti tadi.”
Alandra terdiam sesaat, sebenarnya perlakukan Dayan pada kera tadi siang, tetap tidak dibenarkan. Namun, ia tidak ingin memperpanjang masalah itu.
“Baiklah. Aku berjanji tidak akan seperti itu lagi.”