Berita kematian sang pangeran telah tersebar ke penjuru Xaviorus. Semua bersorak gembira, karena mereka bahagia anak raja yang dikira jahat telah tiada.
Raja Alastor pun dilanda kebingungan. Liontinnya mendadak tidak mampu mengobati penyakit Alandra. Maka ia pun menemui seorang peramal sekaligus sahabatnya bernama Argus untuk menolong anaknya. Argus mengatakan, bahwa penyakit Alandra bisa disembuhkan. Caranya dengan menyeduh teh bunga Chamomile biru, lalu meminumnya. Niscaya, penyakit Alandra seketika sembuh. Namun, bunga itu hanya tumbuh di pegunungan Zas. Sebuah pegunungan es yang berada di dataran tinggi dimensi Xaviorus.
Konon, pegunungan itu antara ada dan tiada. Karena ada sesuatu beraroma magis, sehingga hanya makhluk tertentu yang beruntung menemukannya dengan cara berjalan kaki.
“Mendengarmu, tampaknya sangat sulit. Jika seperti itu, apakah anak saya bisa menemukan gunung Zas?” tanya raja Alastor pada sahabatnya.
Argus mengangguk penuh arti.
“Besok. Datanglah engkau dan Alandra pagi buta, ke rumahku. Anakmu, akan pergi ditemani rubah putih milikku bernama Dayan. Binatang itu akan menemani selama perjalanannya menuju gunung itu,” ucap Argus.
Alastor masih duduk termangu di kursi singgasananya. Ia masih menimbang dengan ucapan Argus seraya mengusap janggut panjangnya yang memutih.
Bukan ia tak percaya pada sahabatnya itu, namun medan yang dilalui nanti tentulah tidak mudah, terlebih harus berjalan kaki. Nalurinya sebagai orang tua sangat mengkhawatirkan anaknya.
“Tentukan pilihanmu, Tuan raja. Jika tidak ingin, maka saya tidak akan memaksa,” imbuh Argus.
“Saya percaya padamu, Argus. Tapi, ada yang mengganjal, saya begitu mengkhawatirkan Alandra, ia memang ahli pedang dan berkelahi, tapi jika ada segerombolan penjahat yang menghadang dan ia melawannya sendirian, tentu tidak seimbang. Terlebih, penyakitnya akan mengganggunya selama perjalanan.”
“Untuk itulah, Alandra akan ditemani Dayan selama perjalanan. Bukan sekedar itu, tetapi juga untuk melindungi sang pangeran. Anda percaya padaku?”
Alastor kembali terdiam. Selama mengenal sahabatnya, tidak pernah sekali pun Argus mengecewakannya. Kemudian, ia pun menarik napas dalam-dalam sebelum menjawab.
“Baiklah. Saya setuju, besok pagi buta saya akan membawa Alandra.”
“Tapi ... saya lupa mengatakan syarat,” ucap Argus tiba-tiba.
Alastor memasang wajah heran.
“Syarat?”
“Iya Tuan Raja. Dayan, adalah rubah putih yang unik, cerdas dan menyenangkan. Namun, ia sedikit sensitif. Jadi, ingatlah kata-kataku. Selama perjalanan, apa pun yang dilakukan Rubah itu, Alandra tidak boleh melarangnya. Jika sampai sang pangeran melanggar, maka Dayan bisa saja marah dan tidak ingin lagi mengantarnya.”
Alastor mengangguk paham. “Hanya itu? Sepertinya, tidak akan sulit dilakukan oleh anakku, Argus.”
“Baguslah, Raja.”
Obrolan berlanjut. Hingga Argus pun pamit pulang.
****
Sang raja merasa daddanya terasa lapang, setelah berbicara dengan Argus. Baginya, harapan itu terbuka di depannya.
Dengan wajah sumringah di temani beberapa prajurit di belakangnya, ia melangkah menuju kamarnya sambil menyunggingkan senyum.
Tanpa ia sadari, Luxone – adik kandungnya, diam-diam memperhatikan raut wajah sang raja.
‘Ini sangat aneh, bagi seorang ayah yang baru saja kehilangan anaknya. Rasanya, aku perlu menyelidikinya,' batin Luxone.
Sang raja, memasuki kamarnya yang begitu luas. Ia langsung disambut istrinya, Tathiana.
Permaisurinya itu, melepas jubah suteranya dan mengajaknya duduk.
“Kanda, kudengar Argus datang dari negeri seberang, jauh-jauh ingin menemuimu. Apakah benar?”
Alastor mengangguk.
“Ia mengetahui kesulitanku. Pertemuan dengannya tadi, bagai oase di padang pasir.”
“Apa maksudmu?”
“Sebuah harapan untuk kesembuhan Alandra. Di mana dia sekarang? Saya ingin bicara dengannya terkait ini,” tanya Alastor tidak sabar.
Tathiana mengangguk paham ia bangkit, dan memasuki ruangan rahasia di kamar itu. Tempat, di mana Alandra disembunyikan.
Tak lama, Ibu dan anak itu muncul saling bergandengan dan duduk tepat di depan sang raja.
“Alandra, anakku. Bagaimana keadaanmu?” tanya Alastor. Kedua mata birunya menatap sang anak dari atas hingga ujung kaki.
Semua kulit yang dahulunya putih, kini hitam dan melepuh bahkan menutupi sekujur tubuh dan wajah tampannya. Di tambah, di permukaan kulitnya selalu keluar nanah yang berbau busuk.
“Baik, Ayah. Lebih baik dari kemarin,” jawab Alandra. Sang raja tahu, jika anaknya hanya sekedar menghiburnya.
Maka, ia pun berusaha menguatkan dirinya untuk ikut tersenyum seperti anaknya.
“Syukurlah. Namun, Ayah ingin kamu sembuh, walau itu tidak mudah. Seperti yang kau ketahui, liontin milikku tidak mampu mengobatimu. Maka, ada satu jalan lagi, dan hanya satu-satunya,” ucap Alastor memasang wajah serius.
Alandra mengernyitkan kening. “Apa itu Ayah?”
“Kamu, harus berpetualang mencari obat untuk penyakitmu.”
Mendengarnya, wajah tampan yang kini tertutupi penyakit itu, berbinar.
“Maksud Ayah, ada obatnya?”
“Iya, anakku. Tapi sayang, Ayah tidak bisa menyuruh orang lain, karena harus kamu sendiri yang mencarinya dan itu sangat sulit.”
Alandra bertekuk lutut pada sang raja.
“Sesulit apa pun, akan kutempuh Ayah. Karena jika diriku sembuh, maka aku akan menjadi raja menggantikan dirimu. Kita sudah mencurigai seseorang yang akan merebut tahta bukan? Maka dari itu aku harus berusaha melakukannya,” terang Alandra penuh keyakinan.
Ayah dan anak itu, memang sudah mencurigai satu orang yang berkhianat, dan ternyata bagian dari keluarganya sendiri, yaitu Luxone.
Raja Alastor terharu mendengar penuturan anaknya, ia merengkuh kedua bahu Alandra agar berdiri, sejurus kemudian menepuknya berkali-kali.
“Anakku pasti bisa.”
“Tapi, di mana tempatnya?”
“Di dataran tinggi Xaviorus, namanya gunung Zas. Selama perjalanan, kamu harus berjalan kaki. Tapi jangan khawatir, kamu tidak sendirian ke tempat itu. Nanti, ada seekor rubah yang akan menemanimu.”
Walau teman perjalanannya, hanya seekor binatang. Namun, Alandra tidak terkejut atau pun menolak. Ia sepenuhnya percaya pada sang ayah bahwa apa pun itu, pasti yang terbaik untuknya.
“Baik, Ayah.”
“Sekarang istirahatlah, barulah pagi buta kita pergi diam-diam ke rumah Argus untuk menjemput rubah itu.”
Alandra mengangguk mantap.
****
Pagi buta menyingsing.
Alandra telah bersiap berangkat, memakai jubah serba hitam, mengalungkan di lehernya sebuah liontin ajaib pemberian Alastor, serta caping yang menutupi kepala dan sebagian wajah.
Atas bantuan prajurit kepercayaan. Raja Alastor dan Alandra secara diam-diam, keluar dari gerbang istana menunggangi kuda, menuju kediaman Argus.
Dengan kekuatan magis dari liontin miliknya, perjalanan jauh menjadi dekat.
Argus, telah menunggu di depan rumahnya. Dalam gelap, Alandra dapat melihat rubah di samping lelaki itu, dengan bulu warna putih yang bercahaya.
‘Apakah binatang itu, yang akan menemani petualanganku?’ batin Alandra bertanya-tanya.
Argus, membungkuk hormat pada sang raja. Kemudian, ia kembali menjelaskan pada Alandra apa yang telah dirinya ceritakan pada Alastor, termasuk syarat yang harus ditaati oleh sang pangeran itu.
“Alandra, bagaimana apakah kamu bisa menerima syaratnya?” tanya sang raja.
“Hanya membiarkan apa yang dilakukan Dayan kan? Gak boleh melarang? Itu gampang Ayah,” jawabnya.
Mereka terkekeh bersamaan.
“Bagus. Karena jika kamu tiba-tiba merongrong, ikut campur atau melarang apa yang dilakukan Dayan, maka rubah putih ini akan merajuk dan berhenti membantumu,” terang Argus.
Alandra sibuk menahan tawa sambil berjongkok, mengimbangi tinggi sang rubah.
“Hei, Dayan. Apakah kau ini betina? Biasanya, yang selalu merajuk itu, ya seekor betina,” ujar Alandra berseloroh.
“Kau benar, Alandra. Dia betina, jadi jagalah perasaannya,” ucap Argus di sela senyum.
Tanpa diduga, Dayan mengangkat kedua kaki depannya dan mendorong dadda Alandra, membuat pangeran itu terjatuh ke belakang.
“Aww!!”
Adegan itu, membuat kedua lelaki paruh baya, sontak terbahak.
“Bukankah tadi kau bilang itu mudah? Belum dimulai, kau sudah membuatnya kesal, anakku,” ucap Alastor.
Sang pangeran bangkit berdiri seraya mendengkus kesal.
“Ck! Rubah ini menguji kesabaranku!”
Alastor menepuk bahunya. “Tapi jangan lupa, dia lah yang tau di mana gunung Zas berada. Jadi, baik-baiklah padanya.”
Tidak ada pilihan lagi, selain mengiyakan semua kalimat itu.