Kutukan

1006 Words
Masa hukuman selama dua bulan akan berakhir. Awalnya Alandra bahagia, karena sebentar lagi akan bebas, namun suatu malam. Tiba-tiba ia merasa gatal yang luar biasa. Gatal itu semakin hebat, membuat wajah dan seluruh tubuhnya menghitam serta melepuh. Ditambah nanah yang selalu keluar dari permukaan kulitnya menimbulkan bau yang menyengat. Hal itu membuat seisi penjara menjadi heboh dan membuat raja Alastor bergegas menemui Alandra. “Menjauhlah Ayah! Kutukan itu benar-benar terjadi padaku,” ujar Alandra di balik jeruji besi. “Tidak, Nak. Kamu anakku, tak mungkin Ayah menjauh.” “Pergilah. Aku menjijikkan!” Alandra membalikkan badan tak berani menatap wajah ayahnya. “Maafkan aku Ayah. Tapi sungguh, aku tidak membunuh, sangat heran kenapa kutukan ini menimpaku,’” imbuhnya. “Tenanglah, Ayah percaya. Dan Ayah akan menolongmu bagaimana pun caranya.” Alastor menatap para penjaga. “Penjaga! Bawa anakku ke luar penjara, tuntun dia secara manusiawi, jangan diseret!” titah Alastor. “Baik, raja.” Alastor kembali ke istana, namun para petinggi kerajaan dan seluruh rakyatnya telah berkumpul di luar istana. Mereka menekan sang raja, agar Alandra dihukum mati, karena takut penyakitnya akan menular pada mereka. “Hukum mati saja!” “Setuju?!” “Dia pembunuh! Dan sudah terkena kutukan. Hukum saja seberat-beratnya!” “Ayo, seret tubuhnya sekarang, penggal kepalanya!” “Beri hukuman mati!” “Beri hukuman mati!” Semua teriakan itu memekikkan telinga Alastor, bahkan sang ratu tak henti menangis, membayangkan nasib anak semata wayangnya. **** Matahari kian naik. Alastor membawa Alandra ke hadapan orang-orang. Kejauhan mereka melempar dengan kerikil bahkan meludahi ke arah pangeran. Umpatan kalimat pembunuh sebagai hinaan terus mereka lontarkan. Luxone datang menyambut keduanya dengan senyum sumringah. “Sini Kak, biar saya bantu bawa Alandra ke sana.” Ia menunjuk tempat eksekusi, Algojo sudah siap berdiri. Alastor menelan saliva berkali-kali. Lalu mereka bertiga berjalan beriringan. “Pangeran, saya senang bisa mengasuhmu sejak kecil. Suka duka telah kita lewati. Kita pun sering bermain dan berburu bersama, itu akan jadi kenangan yang sangat indah. Maaf kalau paman ada salah-salah, ya,” cetus Luxone basa basi. Alastor mendecih pelan mendengar kalimat adiknya, sementara itu, tak ada reaksi dari Alandra. Dia terus menatap ke depan dengan tatapan kosong tanpa perlawanan sedikit pun. Sang pangeran di baringkan dengan posisi tengkurap pada alat bernama guillotine, kedua kaki tangannya diikat kuat. “Hitungan ketiga, eksekusi dilakukan!” ujar Luxone. Banyak dari mereka yang memejamkan mata ada pula yang tetap menatap dengan rasa penasaran. Saat hitungan ketiga selesai, kepala sang pangeran terputus darah mengalir dengan deras. Tak ada tangis dari siapa pun, hanya sorak gembira dari orang-orang yang menyaksikan. Mereka berbahagia, bahwa orang yang dikira jahat telah meninggal. Setelah selesai, Alastor memerintah kepada para pembantu istana, untuk menguburkan jasad itu tanpa perlu acara penghormatan atau apa pun. Orang-orang sempat heran dengan sikap rajanya, mereka mengira bahwa sang raja telah sangat membenci anaknya karena perbuatan buruknya. Kemudian, Alastor kembali masuk ke ruangannya. Di dalam ruangan, tampak Tathiana menyambut suaminya dengan penuh penasaran. “Bagaimana Kanda, apakah semuanya berjalan lancar?” Alastor hanya mengangguk sambil mengulas senyum. “Di mana Alandra?” Raja balik bertanya. “Kemarilah.” Mereka berjalan menuju kamar khusus. “Dia tengah tidur dengan nyenyak. Kasihan, dua bulan tidur di penjara beralaskan tanah tanpa balutan selimut yang hangat,” cetus Tathiana, menatap teduh anaknya yang tengah tenang beristirahat. “Hm, syukurlah.” “Kanda, tadi itu sangat menegangkan,” ujar Tathiana. Alastor kembali tersenyum. Mereka pun membayangkan kejadian beberapa saat sebelum eksekusi pemenggalan dilakukan. **** _Flashback on_ “Dinda, kamu tunggu di sini. Aku akan mengambil liontin ajaib milik leluhur kita, semoga saja benda itu bisa membantu,” bisik Alastor pada sang ratu. “Ah, benar juga. Hati-hati Kanda, jangan sampai orang-orang mengetahuinya.” Alastor mengangguk, ia lalu masuk ke ruangan pribadinya mengambil sebuah kotak di balik dinding rahasia. Di dalamnya, terdapat sebuah liontin putih yang memiliki kekuatan magis. Sang raja menatapnya lekat-lekat lalu mengalungkan kalung itu di lehernya. Suara ketukan pintu terdengar keras. “Kanda! Kanda! Bukalah pintunya?” ujar Tathiana. Alastor membukanya dan tampak sang ratu tengah memapah Alandra. “Kalian masuklah” ujar Alastor. Namun Luxone menahan pintu dengan tangannya. “Kakak, mau dibawa ke mana Alandra?” tanyanya dengan tatapan tajam. “Biarkan anakku masuk. Kami ingin bersamanya sejenak sebelum dia dihukum mati,” ujar Alastor. “Tapi rakyat sudah sangat mendesak kita.” “Tidak lama, hanya sebentar. Tolong beri waktu.” Untuk pertama kalinya, sang raja memohon bahkan pada bawahannya yang merupakan adiknya sendiri. Luxone menarik napas dengan kasar. “Baiklah. Jika melewati dari batas waktu, maaf-maaf saja saya akan mendobraknya.” “Percayalah. Sekarang keluar, biarkan kami bertiga di sini.” Luxone mundur beberapa langkah, kemudian pintu ruangan itu ditutup. **** “Ayah dan ibu jangan bersedih. Aku baik-baik saja,” ucap Alandra. Tathiana hanya terisak tanpa mampu berucap sepatah kata pun. “Maaf, aku belum bisa membanggakan kalian,” imbuhnya. “Salah Nak. Kamu itu anak baik, kebanggaan kami. Dan kelak, engkaulah penerus kerajaan ini,” ucap Alastor. “Sekarang berbaringlah. Ayah akan menolongmu.” Alastor membuka tirai hitam yang di dalamnya ternyata ada seekor rusa jantan. Sebelumnya, Alastor telah memerintahkan salah satu prajuritnya untuk mencari rusa di sebuah hutan. “Untuk apa rusa itu Ayah?” tanya Alastor tak mengerti. “Hendak diubah menjadi dirimu, yang akan menggantikan posisimu saat dihukum nanti.” Alandra terkejut, tak menyangka jika ayahnya akan berbuat sejauh itu. “A-Ayah ....” “Sudah kukatakan, akan kulakukan apa pun untukmu, Nak. Sebaiknya kamu istirahat, biar selebihnya Ayah yang melakukan.” Mendengar itu ia pun patuh pada sang raja. Sebuah sinar muncul di liontin berwarna putih itu, lalu mengubah seekor rusa yang menjelma menjadi wujud Alandra. Tathiana dan Alandra begitu takjub melihatnya. “Kalian diamlah di sini. Dan jangan pernah keluar tanpa perintahku,” ujar Alastor sambil memegang pergelangan tangan Alandra yang palsu. “Baik Kanda, semoga berhasil,” ucap Tathiana. Tanpa membuang waktu, Alastor keluar membawa Alandra palsu untuk dieksekusi. Sehingga pada saat hukuman dilakukan, yang mereka tahu, Alandra lah yang meninggal – padahal hanya seekor rusa. _Flash back off_  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD