A_32

1340 Words
Alandra sibuk menelan saliva dengan kasar, dan mencoba memberanikan diri untuk melangkah. Kedua tangannya memegang pegangan dan tali jembatan, sementara matanya terpejam kuat. Baru selangkah berjalan, lututnya terasa lemas dan bergetar. Oenix dan Zahn menyadari itu, mereka pun sibuk menahan tawa. Zahn mendekat dan berjongkok di belakangnya. “Naiklah, Pangeran. Jangan takut dan malu, tidak ada sesiapa di sini. Martabatmu aman,” selorohnya. Sebenarnya, ia tersinggung dengan kalimat Zahn, namun Alandra tidak punya pilihan lain, karena tidak mungkin terus berada di sana dalam ketakutan lalu ditinggalkan kedua sahabatnya. “Ba-baiklah, aku bersedia.” Dengan ragu, tangannya terulur dan menempelkannya di tubuh Zahn kemudian sahabatnya itu pun berdiri dan mulai berjalan mengikuti Oenix. Hingga akhirnya mereka pun sampai di ujung jembatan. Zahn menurunkan Alandra. “Terima kasih, Zahn.” “Sama-sama.” Saat langit mulai sore, mereka terus melakukan perjalanan menuju dusun Amorei. Alandra, Oenix dan Zahn terus pergi ke arah timur, mereka mempercepat perjalanan supaya segera sampai, setelah melewati daerah cukup lama mereka menemukan area perkebunan yang cukup luas, perkebunan itu di tanami berbagai macam jenis sayur mayur segar dan siap di panen beberapa saat lagi. “Bagaimana kalau kita istirahat dulu di sana?” tanya Oenix menunjuk sebuah gubuk kecil yang biasa dipakai para petani beristirahat yang berada di pinggir salah satu kebun. “Boleh, tempat itu sepertinya nyaman.” ucap Alandra. Sambil duduk bersandat, mereka memakan bekal dan istirahat di tempat itu cukup lama, sejauh mata memandang mereka dapat menikmati pemandangan perkebunan yang sangat indah, hampir semua sayuran ada di tempat itu mulai dari tomat, kubis, sawi dan berbagai macam sayuran lainnya. Angin yang berhembus lembut membuat mereka semakin betah berlama-lama menikmati tempat itu. “Sepertinya kita sudah cukup lama di sini.” Zahn bangkit, setelah membersihkan tempat itu dari sisa-sisa makanan. “Kalau bukan karena kita harus segera menemukan guru, tentu aku masih ingin lebih lama lagi menikmati tempat ini.” Alandra menatap lurus ke arah tanaman hijau. Awan tiba-tiba bergumul, menciptakan warna abu kehitaman. “Sepertinya kita memang harus di sini dulu beberapa saat, lihatlah di ujung.” Oenix menunjuk ke arah langit sebelah timur. “Di sana pasti sedang hujan deras sekali, tampak dari awan yang begitu hitam.” Alandra dan Zajn melihat gumpalan awan hitam yang ada langit. “Kalau begitu aku akan tidur sejenak, bangunkan aku kalau sudah mau jalan lagi.” Dengan santai Zahn menyimpan kembali barang bawaannya dan mulai berbaring. Benar saja apa yang di khawatirkan Oenix, tak lama setelah itu hujan mulai turun, menambah kesejukan tempat itu. Namun kali ini bukanlah hujan biasa, awan gelap yang tadi mereka lihat di sebelah timur menjadi meluas ke arah mereka, ikut membawa hujan yang sangat lebat di sertai petir yang menggelegar. Tidak hanya sekali, tetapi berkali-kali sehingga membuat ketiganya yang mulai terlelap kembali bangun. Suara petir yang paling keras, membuat Zahn sontak terkejut, ia beringsut dan memeluk Alandra erat-erat “Yaaakh! Lepaskan, jangan peluk aku!” pekik Alandra kesal. Namun Zahn seolah tak peduli, ia makin mengeratkan pelukannya. “Hei, Tuan-Tuan kemarilah!” terdengar sayup-sayup suara di tengah hujan deras dan petir. Ketiganya saling memandang. “Kalian dengar suara?” tanya Alandra. “Ya, suara lelaki,” seru Zahn. “Tolong, kemarilah!” Kembali suara itu terdengar. Alandra dan yang lainnya mencari asal suara itu ke berbagai arah. Tak menyerah, Oenix turun dari gubuk menajamkan telinga dan pandangannya. Setelah menemukan apa yang dicarinya, Oenix memanggil Alandra dan Zahn untuk mendekatinya kedua pemuda itupun mengekor dalam kondisi basah kuyup. “Ada apa Paman?” tanya Alandra. “Di sana ada seseorang. Mari kita dekati.” Alandra meraih, lengan Oenix. Membuat lelaki paruh baya itu menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah sang pangeran. “Ada apa?” Alandra sibuk membasahi bibir bawahnya, ia hanya merasa trauma takut saja orang itu adalah orang jahat. Melihat raut wajah dan tatapan Alandra yang tidak biasa, Oenix tersenyum tipis dan menepuk bahunya. “Anda tenang saja, tidak usah khawatir. Aku yakin dia orang baik-baik dan manusia biasa seperti kita.” Mendengar penjelasan itu Alandra pun merasa tenang diiringi anggukkan. Kemudian kembali kedua pemuda itu mengikuti langkah Oenix. Setelah sampai, rupanya seorang kakek basah kuyup tengah terduduk. Melihat hal itu ketiganya lekas menghampiri orang itu dengan berlari kecil. “Apa yang Kakek lakukan di sini?” tanya Oenix sambil memperhatikan keadaan lelaki tua itu. Hujan, masih turun dengan deras. “Tolong saya Tuan, saya tiba-tiba tidak bisa berjalan, tadi sempat jatuh terpleset.” ucap lelaki tua itu. Tanpa banyak bertanya lagi, mereka langsung menggendong dan membawanya ke gubuk tempat mereka berteduh. “Terima kasih Nak, saya kesakitan dan kedinginan tadi.” Kakek itu berusaha membetulkan posisi duduknya supaya dapat bersandar ke dinding gubuk. “Apa yang Kakek lakukan di sana saat hujan deras seperti ini?” Oenix mengulang kembali pertanyaannya. “Saya tadi selesai menanam bibit. Tapi saat hendak pulang, hujan tiba-tiba turun dengan deras. Lalu terpeleset dan jatuh terduduk, saat saya mencoba untuk bangkit tiba-tiba kakiku tidak bisa di gerakan sama sekali dan sudah pasrah. Namun saat melihat ke gubuk ini ada orang, saya pun berusaha memanggil kalian untuk meminta pertolongan,” jawab lelaki tua itu, meringis saat hendak bergeser tempat duduknya. Di lututnya terdapat luka berdarah. “Kalau Kakek mau, kami bersedia mengantarkan Anda ke rumah,” ucap Oenix menawarkan diri. “Benar Kek, biar bisa diobati dan Anda segera istirahat.” Alandra menimpali. “Saya sangat berterima kasih, tapi rumahku cukup jauh.” “Tidak masalah, kami akan tetap mengantarkan Kakek,” ujar Oenix kemudian. ~~~ Akhirnya mereka mengantarkan lelaki itu saat hujan sudah reda. Jarak rumah lelaki itu memang cukup jauh dari tempat itu namun dengan sabar ketiganya menggendongnya sampai ke rumah bergiliran. Hari sudah gelap. Mereka sampai di sebuah gubuk. Keempatnya, disambit wanita tua berambut putih seluruhnya. Dengan sigap ia mengganti baju suaminya yang basah kuyup dan lekas memberinya minum. “Aku mencarimu tadi. Bukankah sedang sakit pinggang? Kenapa malah tetap ke kebun, merepotkan orang kan jadinya!” sungut nenek itu. Sang kakek hanya bisa meminta maaf seraya menunduk. Tak lama, nenek tersebut menyuguhkan teh hangat untuk mereka dan kudapan. Lalu, tangannya terulur mengoleskan obat yang di tempel di lutut si kakek. Pemandangan itu, membuat Alandra tersenyum walau nenek itu cerewet, hatinya baik. “Terima kasih jamuannya, Nek,” ucap Alandra. “Sama-sama. Terima kasih juga telah menolong suami saya. Ini sudah gelap, bermalamlah di sini, jangan ditolak.” Setelah ketiganya bersepakat. Maka mereka memutuskan untuk bermalam. Wanita tua itu ke kamar dan memilihkan baju yang dapat di pakai oleh ketiganya. “Pakailah ini, meskipun tidak bagus tapi lebih baik dari pakaian yang basah.” Wanita tua itu memberikan beberapa potong baju. “Silakan pilih mana yang lebih kalian sukai,” imbuhnya lalu meninggalkan mereka di kamar. Mereka berebut memilih baju yang akan dikenakan dan mengganti baju yang basah kuyup. Tak lama, nenek kembali memanggil ketiganya untuk makan malam bersama. Wanita tua itu menyediakan makanan dan minuman yang hangat untuk mereka. Soal mmereka, itu bukanlah sekedar minuman yang panas tetapi juga mengandung rempah-rempah yang membuat tubuh terasa semakin hangat. “Bagaimana kalian bisa menemukan suamiku?” tanya sang nenek. Alandra meletakan mangkuk kecil yang berisi makanan itu di meja. “Kami sedang melakukan perjalanan ke timur dan kebetulan sedang beristirahat di gubuk yang ada di perkebunan itu, tanpa sengaja saat hujan deras kami menemukan kakek ini, yang sudah terpeleset,” terang Alandra. Oenix dan Zahn mengangguk anggukkan kepala. “Lelaki tua itu memang susah di kasih tahu, nenek sudah bilang jangan pergi karena takut hujan, eh… malah pergi juga.” Sindir sang nenek. Wajahnya tampak masih kesal karena ulah suaminya. Alandra dan dua lainnya terkekeh. “Kakek ke sana kan ingin memastikan kebun kita sudah siap panen atau belum.” Lelaki tua itu memberi alasan. Obrolan terus berlanjut. “Kalian ke timur hendak ke mana?” wanita tua itu kembali bertanya kepada mereka. Ishan menatap Oeniz. “Kami hendak menemui sanak keluarga,” jawab Oenix. “Oh begitu. Semoga dilancarkan ya.” “Terima kasih Nek.” Malam itu mereka bisa kembali tidur di tempat yang nyaman, tidak harus bermalam di dalam hutan yang dingin.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD