A_33

1673 Words
Ketiga lelaki beda usia, kembali melanjutkan perjalanan. Jalan yang mereka tapaki basah karena sisa air hujan semalam. Matahari pagi, bahkan masih malu-malu untuk muncul dan hendak menebarkan pesona kilaunya. Sekian jam berjalan, mereka memasuki sebuah wilayah asing. Banyak pasang mata, menatap dengan tatapan aneh, mungkin merasa asing dengan wajah Alandra dan dua lainnya. Zahn yang merasa kikuk terus-terusan dilihat mereka, langsung menoleh pada Alandra dan Oenix. “Aku tidak nyaman dengan pakaian ini, sepertinya terlalu mencolok,” ujarnya sambil memegang unjung lengan bajunya yang berwarna merah terang. Sesekali ia melirik pada orang-orang itu. Alandra tersenyum tipis melihatnya. “Kurasa, itu bagus untukmu. Wajah tampanmu bertambah.” “Aku tak yakin dengan ucapanmu.” “Percayalah ....” Alandra berusaha meyakinkan. “Ah, kenapa kedua orang tua itu memberiku baju ganti berwarna ini!” Zahn masih membahas. Selama ini, Zahn lebih menyukai baju atau jubah berwarna gelap. Ia terpaksa memakai baju pemberian kakek dan nenek itu, karena pakaian yang dikenakan sebelumnya basah terkena hujan. “Sudahlah, jangan banyak bicara. Pakai saja dari pada kulitmu kedinginan.” Alandra sedikit kesal karena pemuda itu terus mengeluh karena bajunya. Sementara Oenix diam mendengarkan ocehan kedua pemuda itu. “Oh, apa kau mau bertukar baju denganku?” imbuhnya terus saja berbicara. “Tidak, terima kasih,” jawab Alandra pendek. Bahkan ia memalingkan wajah, dan melenggang santai mengikuti Oenix yang berjalan lebih cepat. Mendengar penolakan itu, Zahn berdecak. “Tuh, kan! Kamu saja tidak mau memakainya. Ucapanmu tadi, hanya sekedar menghiburku saja kan?” Oenix menghentikan langkah, dan menempelkan telunjuk di bibirnya, mengisyaratkan pada kedua pemuda itu untuk diam. Tanpa Alandra dan Zahn tahu, telinga tajam Oenix mendengar derap langkah yang tampak terdengar berbeda, seperti suara sepatu seorang kasim atau mungkin prajurit. Benarlah, tak disangka keempat orang berbaju seragam dengan jubah emas dan kain biru, tiba-tiba mendekat. “Pasti kalian ketiga pelayan yang disewa Tuanku,” ucap salah satu dari mereka penuh keyakinan. Tatapan mereka terus menatap dari ujung kepala hingga kaki. “Eh?” Alandra, Zahn dan Oenix saling menatap karena bingung. “Maaf Tuan-tuan, kami bukan __” Keempat orang itu, langsung memegang lengan mereka kuat-kuat tanpa mengindahkan kalimat Alandra. “Sudahlah. Ayo cepat kita berangkat acara akan segera dimulai,” titah mereka. “Acara apa?” tanya Zahn bingung. “Tentu saja penyematan kepada putri mahkota, lah apa lagi. Kami adalah prajurit dari salah satu pemimpin daerah ini. Sudahlah, kalian datang, untuk bekerja dan diberi upah, sebaiknya cepat kerjakan dan jangan banyak bertanya!” tegas salah satu dari mereka. Ketujuh orang itu, berjalan memasuki sebuah aula di dalam bangunan besar yang bertingkat. ~~~ Seorang gadis berlenggak anggun, mendekati cermin dengan ukiran indah berwarna keemasan lalu duduk perlahan. Gadis lainnya, yang berpakaian lebih sederhana dengan cepat mendekat, tangannya terulur menyisir rambut panjang milik gadis cantik di depannya. Jemari lentik itu, meliuk-liuk. Menciptakan rambut cokelat panjang bergelombang yang dihias aneka perhiasan, jepit dan mahkota kecil. Wajah yang sudah cantik itu, bahkan dipoles sedemikian rupa hingga menambah pancaran kecantikan gadis itu. Namun, gadis itu berdiri dan memutar tubuh ke arah gadis yang mendandaninya. “Lin, aku tidak suka riasan ini. Terlalu banyak hiasan kepala!” gerutunya. Lin menggeleng. “Ibunda Tuan Puteri yang memintaku mendandani Anda seperti ini, Putri.” Mata putri itu melotot ke arahnya. “Tuanmu siapa? Aku atau ibu?” Lin langsung menundukkan kepala karena takut. “Te-tentu saja Anda, Tuan putri.” Gadis itu kembali memutar tubuhnya dan menatap dirinya di cermin. “Bagus. Kalau begitu, ubah riasan dan hilangkan aksesoris yang berat ini. Kepalaku rasanya pening,” ucapnya sambil memegang kepalanya. Lin bergeming. Sadar, pelayannya itu hanya diam kembali gadis itu menoleh. “Kenapa kamu masih terpaku? Cabut hiasan di kepalaku, atau besok kamu tidak lagi menjadi pelayan pribadiku!” tegasnya lagi. Dengan cepat, Lin melepas jepit dan hiasan di kepala. Kemudian, ia mengubah riasan itu sesuai kehendak putri itu. “Terima kasih. Satu lagi, pakaikan cadar di wajahku.” Pelayannya mengangguk Suara gong lamat terdengar dari kamarnya. Artinya, penyematan untuknya, akan segera dimulai. Lin mengangkat rok mengembang milik tuan putri, agar tidak terinjak kemudian membantu gadis itu berjalan perlahan, keluar dari kamar. Seorang pemimpin daerah itu, yakni ayah dari si gadis - beserta sang istri, duduk di singgasana nya. Di depannya, banyak puluhan orang-orang berkumpul di aula yang sangat luas, yang semuanya orang penting dari kalangan bangsawan dan para menteri. Sementara di ujung sana Alandra, Zahn dan Oenix duduk menyimak. Walau tampak bingung apa yang terjadi, mereka tidak ada pilihan lain selain memilih diam dan menatap lurus ke arah kursi singgasana. Suara seseorang menandakan sebuah panggilan. Tak lama, diapit oleh kedua pelayan. Putri itu berjalan perlahan untuk duduk di kursi tepat di samping sang ibu. Tak jauh darinya, seorang wakil pemimpin, duduk tegap menghadap dirinya yang tengah memegang mahkota. Acara itu, rupanya penyematan putri mahkota untuk menggantikan sang raja dalam memimpin. Barulah Alandra, Zahn dan Oenix memahami. Acara itu, begitu mewah dan semarak. Alandra dan kedua lainnya pun mulai berbaur, dan percaya diri. Saat acara telah selesai, Seseorang mencolek bahu Alandra. Pemuda itu berjengit kaget dan menoleh ke arahnya. “Kenapa kamu diam saja? Berikan kudapan ini pada tuan puteri,” titah lelaki itu. Ishan sontak menoleh ke sana ke mari. Ia baru sadar, jika Zahn dan Oenix tidak berada si sisinya. Lalu matanya melihat ke arah luar pada kedua lelaki itu, yang rupanya tengah bekerja mengangkut gandum yang diangkut kereta kuda. “Hei! Kau dengar aku? Kalau tetap diam, kami tak segan memecatmu?” bentaknya. Alandra langsung mengangguk cepat, dan meraih nampan berisi buah dan makanan manis. Pemuda itu berpenampilan sederhana, namun entah kenapa gaya berjalannya begitu berwibawa. Membuat altar seolah berguncang karena banyak pasang mata teralihkan perhatiannya pada Alandra. Bisik-bisik terdengar dari tetamu yang hadir. “Siapa pemuda yang berjalan itu? Walau pakaiannya lusuh, bukankah cara berjalannya seperti bangsawan?” tunjuknya pada Ishan di kejauhan. “Iya, wajahnya tampan, tubuhnya tegap, memiliki kedua bahu yang lebar serta dadda yang bidang. Dan, lihatlah tatapan elangnya. Semua pasti merasa terhipnotis.” Mereka mengangguk setuju. “Apa mungkin, dia sebenarnya seorang pangeran yang tengah menyamar?” “Atau ... dia mungkin keturunan raja, hanya saja sesuatu terjadi padanya?” Kalimat-kalimat mulai riuh, yang terdengar samar namun cukup berisik, membuat sang pemimpin memerintahkan mereka untuk diam. Alandra sampai di depan sang putri yang wajahnya tertutup, namun Alandra mampu menatap manik kuning di kedua mata indah si gadis. Kemudian, ia membungkuk lalu duduk dengan kedua lututnya. Tangannya menaruh nampan berisi makanan. “Silahkan dinikmati Putri,” ujar Alandra. Ia ingin segera beranjak dan menemui Oenix dan juga Zahn. Tidak ada jawaban dari sang puteri. Gadis itu malah terus menatap Alandra tanpa mengedip. “Maaf, Putri?” Gadis itu mengerjap dan sibuk memperbaiki tempat duduknya. “Terima kasih, tapi tolong pilihkan manisan kesemek yang banyak gulanya. Aku suka yang manis-manis,” ucap gadis itu. Alandra mengangguk hormat. “Tentu, Tuan Putri.” Saat Alandra tengah melayani. Telinganya, mendengar obrolan sang pemimpin pada istri dan anak laki-lakinya. “Seperti adat kebiasaan, acara penyematan ini pasti aku sebagai pemimpin akan keliling tempat untuk membagikan gandum dan beberapa pakaian untuk rakyat,” ucap lelaki paruh baya itu. “Tapi, kakanda tengah sakit, biar para prajurit dan beberapa kasim yang melakukannya,” ucap istrinya. Memang, sang raja terpaksa digantikan oleh anak gadisnya, karena sering sakit-sakitan “Iya, Ayah sebaiknya istirahat,” ucap gadis itu menimpali. Tak lama, seorang prajurit berlari ke arahnya dengan terengah-engah. “Maaf Raja Irlan. Setengah jumlah gandum di gudang telah hilang, bahkan pakaian-pakaian layak pakai pun ikut raib! Padahal, tadi pagi masih ada.” Mereka menatap tak percaya, termasuk Alandra yang ikut terkejut. “Benarkah? Oh, bagaimana ini ... kita harus menyelidiki dan mencari tahu siapa yang mencurinya. Saya yakin, pencuri itu belum jauh.” “Biar aku saja, Ayah!” ujar gadis itu tiba-tiba. “Kau tidak berubah Irish. Selalu bertindak sesuka hati!” ujar sang ibu kesal. Irish seketika terdiam, dengan ucapan ibunya. “Lihat penampilanmu yang biasa ini! Penyematan begitu berharga bagi kau dan ayahmu, terlebih dihadiri orang-orang penting. Tapi, kau malah berdandan alakadarnya. Sekarang, mau sok jadi pahlawan dengan mencari gandum yang hilang? Di mana akal sehatmu!” imbuh wanita itu membentak anak gadisnya. “Ibu ....” lirih Irish. Ia selalu bingung dengan sikap ketus ibundanya, sangat berbeda ketika wanita itu berbicara pada mendiang, kakaknya. Bukan tanpa alasan Irish menawarkan diri. Ia cukup pandai bela diri dan memakai pedang, terlebih dirinya telah menjadi pemimpin, namun sang ibu selalu meragukan kemampuannya. “Dinda, anak kita berniat baik. Percayakan padanya, untuk membantu mencari pencuri itu dan diberi hukuman setimpal. Lagi pula, memang seharusnya pemimpin seperti ini, terjun langsung demi rakyat,” ucap raja Irlan, mencoba menengahi. Alandra mundur teratur, walau masih ingin menyimak obrolan alot mereka. Istrinya tetap diam dan membuang muka. Irlan pun menyentuh lembut bahunya. “Sudahlah Dinda, biarkan Irish mencari bersama para parjurit yang membantunya. Sekalian kita akan mengukur sejauh mana, kemampuan anak kita,” ucap raja Irlan. Wanita paruh baya itu terdiam, lalu sang pemimpin itu tiba-tiba menatap lurus pada Alandra. “Hei kau, pemuda di sana!” Alandra menunjuk ragu ke hidung mancungnya. “Sa-saya, Raja?” Lelaki itu mengangguk. “Kemarilah!” Kemudian, pemuda itu melangkah mendekat. “Apakah kau bisa memegang senjata panah atau pedang?” “Bisa, Raja,” jawab Ishan. “Baguslah! Prajurit unggulanku tengah menjalankan tugas di tempat berbeda, jadi saya tidak memiliki yang lain. Maka, kuperintahkan kau, temani putriku untuk mencari keberadaan sang pencuri dan bawa kembali gandum-gandum yang jumlahnya banyak itu, kasihan rakyat pasti tengah menanti-nanti makanannya. Saya, bisa saja mengganti, namun bukan sifatku membiarkan sang pencuri bebas begitu saja.” Alandra menggigit bibir bawahnya. Pikirannya tentu saja pada tujuan utama mencari guru bela diri, bukan untuk membantu mencari pencuri. Namun, jika menolak ia merasa kasihan pada gadis itu, mengingat ibundanya begitu merendahkan kemampuannya. “Tapi Raja, saya tengah bersama kedua sahabat. Jika saya pergi, keduanya harus ikut.” Lelaki itu tampak mengusap janggutnya yang mulai memutih, para menteri yang hadir ikut memberi usulan. Setelah sekian lama berbincang, akhirnya keputusan pun bulat bahwa Alandra dan Zahn pergi menemani dan membantu gadis itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD