Siangnya, raja Irlan menyampaikan maklumat, untuk memperketat penjagaan. Ia pun menyuruh pihak keamanan untuk mencari siapa pelakunya yang telah membunuh Burloq.
Pikir Alandra nenek yang semalam itu tidak sepenuhnya benar, buktinya Raja Irlan peduli pada bawahannya.
Bahkan Ayyin mendapatkan tunjangan yang sangat banyak untuk menghidupi dirinya dan anak-anaknya.
Setelah itu. Semua penghuni menghadiri pemakaman Burloq, masih diiringi isak tangis istrinya.
“Pangeran. sepertinya nenek Min yang semalam asal bicara. Jika tidak peduli, sang raja tidak mungkin memperketat istana dan menyelidikinya, bahkan memberikan santunan pada Ayyin,” bisik Zahn.
“Itu juga yang kupikirkan,” balas Alandra.
Setelahnya, semua pelayan baru saja pulang dari pemakaman.
Alandra duduk bergeming, ia memikirkan ucapan Zahn. Tanpa sadar Oenix telah duduk di sampingnya.
“Pangeran. Aku pernah bicara kemarin, kita mulai melakukan penyelidikan secara diam-diam,” ujar Oenix.
“Baik, Paman. Akan kusampaikan pada Zahn.”
Setelah Oenix pergi. Tak lama Zahn berlari ke arahnya.
“Pangeran, jika kau sudah tidak lelah ikut aku,” seru Zahn bersemangat.
“Ke mana?”
“Ada sesuatu yang mencurigakan, di peternakan. Mari kita ke sana berpura-pura membersihkan kandang kuda.”
“Baiklah. Ayo kita pergi.”
Tanpa kalimat lagi, keduanya beringsut dan mulai berjalan menuju peternakan kuda. Tak lupa mengambil pedang milik mereka.
~~~
Mereka sampai di peternakan. Alandra menunggu apa yang akan dikatakan Zahn selanjutnya.
“Ayo Pangeran kita masuk ke salah satu kandang itu,” ujar Zahn.
Alandra menunggu dan keduanya masuk ke kandang ketiga.
“Mengapa masuk ke sini?” akhirnya Alandra pun tak tahan untuk bertanya.
“Lihatlah di dinding sana ada yang berbeda, bentuknya.”
“Ya, lalu?”
“Coba Pangeran sentuh di bagian dinding yang tidak rata itu.”
Alandra mengangguk. Dan tiba-tiba saja dinding itu terbuka seperti sebuah pintu. Betapa terkejutnya pemuda itu tentang apa yang dia lihat.
“A-apa ini??”
Semacam pintu rahasia. Lihatlah, di sana seperti sebuah lorong mari kita masuk,” ujar Zahn.
Alandra sigap untuk menahan lengannya.
“Mau apa? Tidak usah, ayo kita kembali.”
Bagi Alandra, mereka tidak mungkin memasuki lorong gelap itu.
“Jika kita memasuki lorong itu. Pangeran akan tahu ada sesuatu di sana. percayalah!” bujuk Zahn kekeh.
Akhirnya, Alandra bersedia. Ia dan Zahn berjalan cepat ke lorong yang panjang itu. Saat sampai ternyata sebuah kamar seseorang.
“Punya siapa?”
“Kita akan tahu,” cetus Zahn.
Alandra mengerutkan dahi. Rasanya sulit, jika seseorang memiliki tempat rahasia. Jelas-jelas, bangunan itu, bentengnya cukup tinggi dan kuat, sesuatu hal yang sulit dibuat sebuah lorong sendirian.
Tidak ada yang mencurigakan, Alandra terus menyusuri tempat itu dari sudut ke sudut. Hingga ... matanya tertuju pada gaun wanita berwarna merah yang berbalut jubah keemasan. Bukan baju putihnya yang menarik perhatian, melainkan motif dari syal merah yang melingkar di leher.
Alandra pun mendekat, dan mengecek motif itu. Seketika matanya melotot, karena teringat saat berkelahi di hutan bersama Irish, untuk mengejar pencuri gandum. Di mana waktu itu, di leher lelaki berjubah dan bertopeng, bernama Vic, melingkar syal di lehernya bermotif kepala singa. Dan itu sama persis dengan apa yang dilihatnya sekarang.
“Ada apa? Kenapa kau diam?” tanya Zahn memecah keheningan.
“Ada sesuatu. Lebih baik kita bawa bukti-bukti ini.”
“Baiklah kita harus cepat sebelum ketahuan.”
Setelah selesai, tanpa menunggu lagi, keduanya keluar dari kamar itu dengan langkah panjang, hatinya merasa lega karena berhasil.
Mereka kembali ke dapur, menuju kamarnya. Tak sangka, berpapasan dengan dua pelayan yang merupakan teman dekat Enny.
“Hei! kamu kan pelayan di area dapur sedang apa di kamar kami?” tanya Zahn, mereka menatap dengan penuh kecurigaan.
Kedua gadis itu, menelan ludahnya yang terasa susah.
“Saya diperintahkan oleh sang ratu untuk mencari Anda di kamar. Katanya ingin bicara serius.”
Para pelayan itu saling menatap satu sama lain namun justru itu membuat Alandra semakin curiga jika mereka menyembunyikan sesuatu.
“Hal serius apa?”
“Ka-kami ....”
Alandra terkekeh hambar. “Apakah kalian sedang bercanda? Rasanya tidak mungkin jika ratu dingin itu, ingin berbincang denganku.”
Keduanya saling menatap.
“kami juga tidak tahu Tuan. Tapi sebaiknya, datanglah menghadapnya.”
“Baik, terima kasih.”
Mereka tampak salah tingkah keduanya saling menyikut satu sama lain.
“Jawablah di mana kamarnya?” Kembali Alandra bertanya.
“Mari kami antar.”
Akhirnya, Alandra pun mengekor pelayan itu.
Sesaat pelayan itu memasuki kamar Ratu mereka kembali keluar.
“Maaf, Tuan kami hanya pelayan. Ternyata, Ratu sedang tidak bisa diganggu ia tengah berada di alam mimpi,” ucapnya terkesan menyepelekan.
Rahang Alandra seketika mengeras menahan emosi, ia merasa tengah dipermainkan.
“Buang-buang waktu! Kalian menguji kesabaranku,” desis Alandra.
Dengan langkah cepat, Alandra menghunuskan pedang ke Salah satu dari mereka, dan satu lainnya Ia tangkap di bagian lehernya sehingga orang itu tidak bisa berkutik.
“Jawab dengan jujur, apa yang terjadi, atau leher temanmu ini akan putus!” ancam Alandra dengan tatapan tajam.
Mereka semakin ketakutan dan mereka sibuk mencegah perbuatan Alandra.
“Jangan Tuan, tolong jangan! baiklah akan kami katakan. Bahwa Ratu ingin kalian bekerja sama dan berada di pihaknya,” ujar salah seorang yang disandera oleh Alandra.
“Maksudnya?” tanya Alandra.
“Akan ada yang datang sebentar lagi, untuk menuntut keadilan. Kita akan tahu, siapa yang benar dan salah.”
Setelah terdiam beberapa saat, Alandra pun berusaha tenang kemudian mengucapkan, “Katakan pada ratumu. Aku tidak ingin memihak siapa-siapa, aku hanya memihak yang benar. Kita lihat nanti kenyataannya.”
Brukk!!
Brukk!!
Tiba-tiba terdengar suara gaduh di luar membuat mereka menghentikan pembicaraan.
“Ada apa di luar?” tanya Alandra.
“Kita harus mencari tahu!”
Keduanya bersiap membawa senjatanya.
~~~
Setelah obrolan alot itu akhirnya, Alandra dan Zahn menarik kesimpulan.
Ada fakta mengejutkan, rupanya Enny berpihak pada sang ratu dan memberontak pada pemerintah kerajaan.
Brukk!!
Brukk!!
Tiba-tiba terdengar suara gaduh di luar membuat mereka menghentikan pembicaraan.
“Ada apa di luar?” tanya Alandra.
“Kita harus mencari tahu!”
Keduanya bersiap membawa senjatanya.
Enny rupanya, ada di antara pasukan berjubah hitam yang ber topeng itu. Namun, karena jumlahnya yang banyak mereka tidak terlalu jelas menatap wajahnya.
Mendengar itu, Alandra mengepalkan cengkeramannya kuat-kuat dia tidak menyangka jika Enny si pendiam itu ternyata pemberontak.
Gadis yang selama ini dianggap baik, tidak bisa berkelahi bermain panah atau bermain kuda bahkan berpedang. Namun, justru Enny ada di antara barisan pasukan yang pandai berkelahi itu.
‘Enny mengkhianati raja Irlan. Tapi untuk apa?’ batin Alandra bertanya-tanya.
Setelah terdiam beberapa saat mereka pun berusaha tenang kemudian mengucapkan, “Enny, ada di antara pasukan berjubah hitam yang ber topeng itu. Namun, karena jumlahnya yang banyak mereka tidak jelas menatap wajahnya.
~~~
Ternyata di luar sana sudah banyak pasukan berjubah hitam, dan bertopeng bahkan Ishan tidak mengenali mereka laki-laki atau perempuan, mungkin saja campuran.
Pasukan yang jumlahnya mungkin puluhan memblokir mereka tak lama para penjaga pun datang.
“Ada apa ini siapa kalian?” tanya Alandra.
“Di mana raja Irlan, aku ingin bertemu dengannya., ketua daerah ini?” tanya salah satu dari mereka yang berada paling depan bertubuh tegap dan tinggi.
“Untuk apa menanyakan Tuan kami?”
“Jangan banyak bicara! Katakan cepat atau kami serang tempat ini!”
Mendengarnya para pelayan mundur ketakutan masing-masing Mereka sibuk melindungi diri. Kegaduhan itu sampai di telinga, Tak lama datanglah sang ratu beserta Irish.
“Ayahku sedang sakit, jadi tidak bisa menemui kalian. Memangnya kenapa, kalian membawa banyak pasukan,” cetus Irish.
Alandra, Zahn dan Oenix pun bersiap memegang pedang mereka masing-masing dan membentengi para pelayan.
“Jawab. Ada apa kalian gaduh-gaduh sepagi ini? Bahkan langit masih menurunkan hujan,” ucap Ownix. Lelaki berjanggut yang mulai memutih itu, tampak tenang.
“Kami adalah anak-anak dari warga yang di bantai 15 tahun yang lalu. sekarang kami sudah besar dan bersiap untuk melawan kalian!”
Deg!
Mata Irish membola karena terkejut apa yang telah Ia dengar.
“Ba-bantai? Apa maksud kalian?” tanya Irish..
Para pasukan berjubah hitam itu saling menatap satu sama lain.
“Pura-pura lupa, saking sering melakukan kejahatan di masa lalu sehingga lupa. baiklah akan saya ingatkan Kembali, Kau ingat kan daerah bernama Sengkaw? Demi tempat yang ingin di kuasai dengan teganya ayahmu membantai semua warga-warga. Seseorang menolong kami kita bisa selamat sampai sekarang beliaulah yang menjadi guru kami sekarang. Saat itu kami terpaksa pergi meninggalkan orang tua kami yang meninggal akibat. Namun kini kami bersiap untuk membalaskan dendam.”
Irish, tiba-tiba maju ke hadapan.
“Apa kalian tidak salah sebut nama?” tanya Irish di antara derasnya hujan.
“Tentu kau tidak tuli tuan putri! Pelakunya ayahmu ini, si raja bijak.” Tawa meledek membahana, dan terdengar sarkas.
Tubuh Irish luluh, tangisnya pecah seketika. Alandra merangkul kedua bahu gadis itu dan membantunya bangkit.
Irish lalu menoleh ke arah ayahnya dengan tatapan tajam. Tampak lelaki paruh baya itu, berjalan ringkih ke arahnya.
“Nak ....”
“Pergi!” bentak Irish.
Raja Irlan merengkuh kedua jemarinya.
“lepaskan! Aku tidak sudi disentuh oleh pembunuh ibuku. Ternyata mimpiku benar kaulah pelakunya selama ini!” bentak Irish pada sang raja.
Irlan mundur, ia menggeleng kuat.
“Apa? Tidak Nak. Kau tahu, justru aku lah yang menolongmu.”
“Bohong! Kau membunuh ibuku, lalu menolongku apa maksudnya?”
“Sekali lagi Ayah Katakan tidak pernah membunuh ibumu mu dan juga warga Senkaw, seperti yang mereka tuduhkan itu salah ini tidak benar!” ujar Irlan.
Irish kembali menangis tersedu, ia tidak habis pikir mengapa ayahnya begitu tega menutupi ini semua dan tidak mengakui kesalahannya.
“Tempat ini sudah dipagari mereka masih tidak mau mengaku?” tanya Irish mendesak.
Kembali orang-orang itu maju.
Belum sempat berbicara salah satu dari mereka mencoba menyeret tubuh Irlan, namun para pengawal langsung menolong. Hingga terjadilah perkelahian.
“Bawa raja ke tempat yang aman!” titah pengawal.
Pengawal lainnya, menggiring keduanya untuk menjauh.
Zahn dan Oenix tidak bisa berdiam diri begitu saja, mereka pun mengangkat senjata dan mulai melawan mereka.
Sementara Alandra menarik lengan Irish untuk menjauh
Mereka berlari. Bahkan Irish, terus saja menangis menyusuri jalan menuju kamar Enny. Iya pikir gadis itu mencurigakan.
Brakk!
Pintu dibuka dengan paksa ia bergegas berlari ke arah ranjang, namun Enny tidak ada di situ.
“Nona, Enny sepertinya tak ada sini. Ia pasti telah bersama kelompok berjubah itu.”
Irish panik luar biasa Karena ia tidak menyangka pasti salah satu pasukan berjubah hitam itu adalah Enny.
Kembali Ia berlari menuju area di mana semua orang tengah berkelahi, menyapu pandangan lagi-lagi kakaknya tidak ditemukan.
Saat berkelahi, manik mata Ishan sempat menatap Irish yang begitu galau.
Ia mendorong penjahatnya, lalu berlari mendekati Irish.
“Ada apa?” tanya Alandra..
Wajah Irish begitu pucat.
“Ibu tirimu ... tidak ada di kamarnya. Aku yakin, seseorang di antara mereka telah menculiknya. Tolong aku, Alandra !”
“Aku coba cari. Sekarang, kamu ikutlah ke tempat persembunyian, ayahmu.”
Irish menurut, ia menjauh dari perkelahian itu menuju tempat yang aman.
Sementara Alandra, terus berjalan cepat ke lorong menuju kamar . Namun, ia mengerutkan dahi. Rasanya sulit, jika pemuda itu diculik. Jelas-jelas, bangunan itu, bentengnya cukup tinggi untuk menembus ruangan khusus Irish dan anak-anaknya. Jika bisa, akan cukup memakan waktu, dan pasti semua orang akan melihat jika anakku diculik.”
“Ke mana Enny dan ratu sebenarnya? Apakah dia pergi begitu saja sebagai seorang pengecut saat tempatnya diserang?” gumam Alandra.
~~~
“Saya diperintahkan oleh Tuan Putri untuk mencari ibunya di sini, Namun ternyata tidak ada ke mana kakaknya?” Alandra sengaja, balik bertanya agar mereka tidak terus mencurigainya.
Para pelayan itu saling menatap satu sama lain namun justru itu membuat Alandra semakin curiga jika mereka menyembunyikan sesuatu.
“Ratu tengah istirahat, tuan.X
Alandra terkekeh hambar. “apakah kalian sedang bercanda? Rasanya tidak mungkin jika ratu kalian tengah asyik berjalan-jalan dengan santai sementara di depan gerbang utama terjadi perkelahian.”
Ini Mereka tampak salah tingkah keduanya saling menyikut satu sama lain.
“Jawablah di mana ratu?” Kembali Alandra bertanya.
“Maaf, kami hanya pelayan. Enny sedang tidak bisa diganggu ia tengah berada di tempat yang rahasia,” alibi mereka.
“Jawab dengan jujur, di mana Enny, atau leher temanmu ini akan putus!” ancam Alandra dengan tatapan tajam.
Mereka semakin ketakutan dan mereka sibuk mencegah perbuatan Alandra
Jangan Tuan, tolong jangan! baiklah akan kami katakan di mana Enny berada,” ujar salah seorang anaknya yang pinter.
Alandra tersenyum senang.
“Cepat katakan!”
Setelah terdiam beberapa saat mereka pun berusaha tenang kemudian mengucapkan, “Enny, ada di antara pasukan berjubah hitam yang ber topeng itu. Namun, karena jumlahnya yang banyak kami tidak tahu pasti yang mana Enny.
Mendengarnya Alandra mengepalkan cengkeramannya kuat-kuat. ia tidak menyangka jika Enny yang selama ini dianggap baik dan pendiam.
‘Enny mengkhianati sang raja? Tapi untuk apa?’ batin Alandra bertanya-tanya.