A_41

1009 Words
Hujan malam itu, cukup deras. Para pelayan di dapur yang luas itu, mulai sibuk berbenah untuk istirahat. Area dapur itu, di kelilingi beberapa kamar pelayan, satu kamar diisi oleh dua atau tiga pelayan. Alandra masih melap meja, yang sering digunakan kelima pelayan untuk mengiris sayur sambil sibuk. berjumlah lima orang, semuanya wanita beda usia. Sementara ketua pelayan, di pimpin oleh sepasang suami istri berusia setengah abad, bernama Ayyin, dan Burloq. Di bagian cuci mencuci, ada tiga orang salah satunya Enni. Gadis pendiam yang berparas cukup cantik untuk ukuran pelayan kerajaan. Zahn mendekat. “Alandra, ayo istirahat. Aku sudah lelah,” ucapnya yang mulai menguap. Alandra mengangguk dan mengekor pemuda itu. Baru saja, pintu kamar dibuka .... Clep! “Aaakkh!!” pekik seseorang. Tak lama, terdengar jeritan suara yang Alandra kenal. Ia sontak menatap Zahn dengan mimik terkejut, diliputi pertanyaan, apa yang terjadi? Sedetik kemudian, penghuni kamar pelayan bersamaan keluar menuju dapur, termasuk Alandra dan berkerumun. Di sana, Ayyin yang merupakan istri dari Burloq, tampak memangku kepala suaminya yang mengerang kesakitan. “Suamikuuu!! Bangunlah” jeritnya menangis. Alandra terkesiap, menatap d**a Burloq yang tertancap sebuah anak panah. “Suamiku, jangan buatku khawatir ....” ucap Ayyin, sambil tersedu. Darah suaminya, mengalir deras. Oenix duduk di dekat mereka dan memperhatikan anak panah itu. Manik matanya berubah, entah apa yang dipikirkannya. “Tuan Oenix, tolong cabut anak anah di d**a suamiku,” pinta Ayyin. “Jika dicabut, darah akan semakin mengalir. Namun jika tidak dicabut, tetap tidak menjamin setelahnya Tuan Burloq akan selamat. Karena panah ini beracun,” ucap Oenix. Semua yang menyaksikan begitu terkejut, tak terkecuali Alandra dan Zahn. “Lalu bagaimana?” tanya Ayyin frustasi. “Pelayan, salah satu dari kalian panggilan tabib Ramsi ke sini. Segera!” tegas Oenix. “Baik, Tuan.” Salah satu pelayan lelaki bergegas menemui Ramsi di kamarnya. Ayyin terduduk pasrah, lalu mulai memejamkan mata. Di pangkuannya, Burloq terus mengerang kesakitan dengan wajah yang kian pucat. Tak lama, Ramsi mendekat dan memeriksa nadi serta sekujur tubuh Burloq. Namun ternyata racun itu telah menjalar ke seluruh tubuh. Benarlah, hanya selang lima menit, Burloq meninggal dunia. Kembali Ayyin histeris sambil memeluk jasad suaminya. “Suamiku! Bangunlah!” Alandra dan Zahn keluar, keduanya menyapu sekeliling bangunan besar itu. Mencari sosok, siapa yang memanah Burloq dengan begitu tepat. “Apa mungkin orang itu berdiri dari atap sana, lalu menembak lurus ke arah dapur?” tanya Alandra sambil menunjuk atap yang mengelilingi istana itu. Zahn menoleh ke arah dapur. “Di bagian bawah atap memang terdapat sirkulasi udara, tapi cukup sulit dijangkau anak panah dengan posisi setinggi itu, pangeran. Coba perbaiki analisamu.” Alandra mendelik tajam. “Jangan sok memerintah! Kamu pun harusnya ikut bantu menganalisa.” Zahn menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sambil tertawa renyah. “Begitu saja marah. Baiklah ....” Kedua pemuda itu kembali berkeliling. Tidak tampak hal yang mencurigakan, hanya sejumlah penjaga yang sibuk berjaga di area pagar. “Bagaimana, kalau yang memanah adalah penghuni dapur dan kamar pelayan?” “Maksudmu, pelakunya sesama pelayan?” tanya Alandra. Zahn mengendikkan bahu. “Mungkin ....” “Misalnya benar. Sepertinya, menggunakan panah akan mencolok. Lagi pula, bukankah menusuk Burloq dari belakang memakai pisau, lebih mudah? Untuk apa dari jarak sedekat itu pakai panah, ya kan? Dan saat kita masuk kamar tak ada sesiapa yang mencurigakan.” “Iya juga ya, ini begitu rumit.” Hening. Keduanya sibuk bergumul dengan pikiran masing-masing. “Anak muda ....” seseorang bersuara serak terdengar di belakang Alandra dan Zahn. Membuat pemuda itu terlompat dari tempatnya karena terkejut. “Si-siapa kau?” tanya Zahn Di tempat remang dengan pencahayaan yang mimin, sosok nenek tua muncul, mereka tidak jelas melihat wajahnya. “Apakah dia mayat hidup?” bisik Zahn pada Alandra. Sontak Alandra menyikut dengan lengannya, agar Zahn diam. “Maaf, Anda siapa?” tanya Alandra berusaha sopan walau hatinya sama takutnya dengan Zahn. “Panggil saya Min. Saya dulu adalah pengasuh putri Irish saat kecil.” Alandra dan Zahn bertanya-tanya untuk apa wanita tua itu datang ke istana. “Ah, kalian pasti bertanya-tanya mengapa saya berada di sini. Saya telah datang menjenguk raja Irlan yang sedang sakit.” Barulah kedua pemuda itu mengangguk lega. “Lalu, mengapa kalian malam hari masih di luar?” Nenek itu balik bertanya. Alandra dan Zahn saling memandang dengan wajah pucat. Walau mereka mulai lega, karena wanita tua itu seorang manusia. “Salah satu pelayan meninggal dipanah seseorang, Nek Min. Mungkin, besok saya harus melapor sang raja dengan kejadian ini,” ucap Alandra. Wanita yang ingin disebut Min, itu terkekeh membuat buku kuduk kedua pemuda itu meremang. “Untuk apa, Nak? Rajamu tengah sakit, lagi pula ini sudah biasa.” Mata kedua pemuda itu membulatkan mata. “Su-sudah biasa?” “Iya. Jika baru pertama kali, pasti penghuni bangunan ini akan keluar, dan riuh. Lalu, ada isak tangis dan acara pemakaman. Berhubung kerap terjadi, jadi akan biasa saja,” terang sang nenek. Ya, Alandra baru sadar, hanya istri Ayyin yang menangisi suaminya, sementara yang lain, mimik wajah para pelayan yang terlalu biasa, saat mereka melihat salah satu temannya terluka. Juga para pengawal dan penjaga seolah tidak terjadi apa-apa. Bahkan tak ada yang menghibur Ayyin untuk membesarkan hatinya, semuanya justru tampak acuh tak acuh “Harusnya aku curiga sejak awal,' batin Alandra. “Anak muda. Saranku, bekerjalah baik-baik. Jangan terlalu ikut campur atas rahasia apa yang ada di dalam sini, juga jangan mencurigai apa pun yang bisa menimbulkan rasa penasaran. Atau ... kreek!” telunjuk sang nenek menggores lehernya, membuat Alandra dan Zahn seketika menelan ludah susah payah. “Ba-baik, Nek Min.” Wanita tua itu, melangkah meninggalkan mereka dan menyimpan misteri baru. Alandra dan Zahn terduduk lemas. “Kau mampu menyimpulkan sesuatu?” selidik Alandra. “Ya, penghuni istana ini mencurigakan. Kita tidak tahu, mana lawan mana kawan,” ucap Zahn takut-takut. “Betul, makanya pantas jika nenek tadi berkata seperti itu. Namun, kita jangan lupa misi awal, untuk tetap menyelidikinya. Kau siap?” ucap Alandra. Zahn mengangguk ragu. “Si-siap, Pangeran.” Alandra tersenyum lega. "Bagus! itu baru lelaki sejati. Sekarang, mari kita kembali berkeliling istana."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD