Dua Kabar

1029 Words
Hujan merintik tipis membasahi tanah merah di negeri Xaviorus. Raja Alastor berjalan kesana kemari dengan gelisah, menunggu kedatangan salah satu prajuritnya yang akan datang siang itu. Gerbang tinggi nan kokoh, dibuka oleh beberapa pengawal kerajaan. Seorang laki-laki yang menunggangi kuda masuk ke pelataran istana. Ia adalah prajurit yang ditunggu-tunggu oleh sang raja. Siang itu cukup gelap dan tanah sedikit basah, menciptakan tapak kaki kuda yang ditumpanginya. Ia turun dari kuda cokelat miliknya, dan berjalan menuju ruangan khusus raja Alastor. Zahn, pengawal pribadi raja, datang mendekati prajurit itu. “Zahn. Aku ingin bertemu dengan raja, hendak melaporkan berita baru,” ucap prajurit itu. “Baik. Tunggu sebentar.” Hanya selang beberapa menit, ia diizinkan untuk masuk. Prajurit itu membungkuk hormat. “Semoga Raja selalu sehat dan panjang umur.” “Terima kasih Oenix. Hujan-hujan, kau bersedia datang. Bagaimana, kau bertemu anakku?” tanya raja Alastor. Oenix sibuk menengok kanan dan kiri, dan sang raja terkekeh karena memahami kekhawatiran lelaki itu. “Kau takut Luxone mendengar percakapan ini? Tenang saja, ia telah kuusir dari istana ini,” imbuhnya. Oenix pun membungkuk dan bernapas lega. “Iya Raja, saya sangat takut mengingat posisi saya saat ini tengah menyamar menjadi bagian dari Menteri Luxone dan antek-anteknya.” Oenix menjeda ucapannya. “Sepertinya, ilmu tuan Argus telah berhasil menggerakkan Alandra untuk mendatangi rumah hutan. Dan kabar yang membahagiakan, sang pangeran tampak baik-baik saja.” Alastor mengangguk sambil mengusap janggutnya yang memutih. “Bawahanku pun telah berhasil memberikan sebuah peta, yang tanpa ia tahu bahwa peta itu merupakan benda ajaib yang akan memberi tahu kita, di mana posisi pangeran.” “Engkau telah menjalankan tugas dengan baik. Aku sangat bahagia mendengarnya.” “Tapi Raja, saya pun memberikan kabar buruk.” Alastor tak menduga, jika Oenix akan mengabarkan dua kabar yang berbeda. “A-apa itu?” “Penyamaran saya dengan anak buah di rumah itu ... mendapatkan kabar akurat, bahwa dalam waktu dekat, menteri Luxone dan ribuan prajuritnya akan menyerang kerajaan ini bahkan telah menciptakan panji, dengan lambang ular sebagai ciri khasnya.” Oenix menundukkan kepala sedalam-dalamnya. “Apa? Dia sudah sejauh itu?” Raja Alastor tampak mengepalkan tangannya kuat-kuat. “Betul, Raja.” “k*****t!!” umpat raja dengan wajah merah padam. Baru saja, ia mendapatkan kebahagiaan dengan kondisi Alandra yang baik-baik saja, malah mendapatkan kabar yang kurang menyakitkan, ia tak menyangka jika dalam kepemimpinannya, begitu banyak yang mengkhianatinya. Betapa rakus dan serakah adik kandungnya itu, demi tahta yang tidak abadi. “Zahn! Panggilkan panglima kerajaan beserta para petinggi untuk membicarakan soal berita ini, sekarang!” titah raja Adla dengan tegas. “Segera Raja.” “Dan kamu, tetaplah di sini sampai aku mendapatkan keputusan untuk masalah ini,” ucap raja pada Oenix. Lelaki paruh baya itu pun membungkuk. “Baik Raja.” Raja terduduk lesu. 'Bagaimana jika kerajaan ini benar-benar musnah?' batinnya. Sisi lainnya, ia tak bisa membayangkan bagaimana nasib para rakyat, istri dan juga Alandra jika kepemimpinan berhasil direbut Luxone. **** Semua para petinggi telah hadir. Mereka duduk melingkar di sebuah meja mengkilat berukuran besar. Terdapat cawan berisi air madu dan beberapa kudapan menemani pertemuan mendadak itu. “Seperti yang telah kujelaskan. kita mendapatkan kabar buruk, tentang rumor rencana penyerangan yang akan dilakukan Luxone. Adikku itu, akan membawa bala tentaranya untuk menyerang kita. Maka, aku panggil kalian ke sini, untuk kumintai pendapat,” ucap Alastor membuka percakapan. Mendengar penuturan sang raja, raut wajah para petinggi kerajaan terlihat khawatir, karena hal itu membuktikan bahwa Luxone dan antek-anteknya, telah mempersiapkan segala sesuatu dengan matang untuk menyerang dan menguasai wilayah kerajaan Xaviorus. “Bagaimana kalau kita lawan saja!” ujar salah satu dari mereka. Raja Alastor tampak menghela napas panjang. Ia memijat pangkal hidungnya. “Masalahnya. Jika kita lawan, kemungkinan besar banyak korban berjatuhan, dan aku tidak mau itu terjadi,” cetus sang raja. Mereka saling tatap satu sama lain. “Tapi raja, jika kita menyerah begitu saja. Artinya kita harus tunduk dan patuh atas segala aturan mereka. Sungguh, kami tidak sudi!” “Betul!” timpal yang lain. “Kalau begitu. Bagaimana?” tanya raja kemudian. “Pilihan terbaik, adalah lawan saja si Luxone, tak peduli jumlah mereka lebih banyak. Jika kita bersungguh-sungguh, pasti kemenangan akan di genggaman,” ujar salah satu dari mereka. Serentak orang-orang yang hadir itu mendadak riuh dengan suara lantang tanda setuju. Melihat semangat mereka, raja pun mengulas senyum. “Baiklah, jika kalian setuju maka kuputuskan bahwa kita semua akan melawan mereka!” Kobaran semangat itu kian kentara, dan rencana berikutnya mereka akan membuat strategi perang. **** Hari berikutnya, raja Alastor memerintahkan semua prajurit penjaga perbatasan untuk memindahkan rakyatnya menjauh dari perbatasan, dan memastikan mereka aman dari penyerangan. Selain itu, ia pun memerintahkan prajurit lainnya untuk mempersiapkan pasukan utama sebagai penguat dan juga tameng. Secara khusus, Zahn pengawal pribadi sang raja yang masih berusia sama dengan Alandra, ditugaskan untuk menyebarkan pengumuman kepada seluruh rakyatnya, bahwa kerajaan memerlukan prajurit tambahan untuk mempertahankan negeri Xaviorus- dari serangan musuh yang sudah bersiap di perbatasan **** Semua persiapan itu, membuat sang raja banyak berpikir. Di kejauhan, ia duduk termangu menatap halaman luas yang banyak ditumbuhi tanaman asri. Dahulu, halaman itu tempat kesukaan Alandra untuk bermain atau berlatih panah. Rasa rindu, pada anak semata wayangnya, menyeruak. Zahn datang menghampiri. “Permisi Raja.” Kalimat itu, membuyarkan lamunan, ia menoleh ke arah suara. “Maaf, jika saya mengagetkan Baginda. Tapi, apa yang sedang Anda pikirkan?” imbuh Zahn. “Oh, aku hanya tengah memikirkan nasib rakyat dan orang-orang yang kucintai.” Helaan napas itu terasa berat, Zahn bisa merasakannya. “Katakan, ada apa Zahn?” “Ratu Tathiana tengah berada di kamar, dan meminta saya untuk memanggil Anda. Beliau mengatakan ada hal yang ingin disampaikan.” Alis Alastor bertaut, kira-kira apa yang terlontar di bibir istri tercintanya itu. Sang raja mulai memahami, ia pun bangkit seraya merapikan jubahnya. Namun, tiba-tiba teringat sesuatu. “Saya memberikan amanah padamu, kira-kira kau akan menepatinya?” selidik Alastor. Zahn membungkuk hormat. “Tentu, tak ada alasan untuk saya langgar, karena seluruh hidup dan pengabdianku, hanya untuk Raja,” terang Zahn. Alastor kini dapat menarik napas lega. “Baguslah. Ini soal Alandra.” “Oh, apa itu?” Raja menatap lekat-lekat wajah Zahn, ia bisa merasakan kesungguhan ucapan pengawal pribadinya itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD