Hawa mulai terasa dingin menusuk, sesekali Alandra mengusap-usapkan kedua telapak tangannya.
“Mantelku tak mampu menghangatkan tubuhku,” gerutunya sambil menggigil.
Dayan tersenyum.
“Tentu, karena kita telah berada di area dekat pegunungan.”
Mata Alandra menatap lurus padanya. “Apa itu artinya, sebentar lagi kita akan sampai di pegunungan Zas?”
“Ya, Tuan.”
Senyum lelaki itu mengembang, ia tak menyangka semudah itu mereka hampir sampai tanpa hambatan berarti. Padahal, nyaris setiap saat, bahkan saat malam ia tetap siaga karena khawatir musuh-musuhnya menyerang saat lengah.
Mereka, telah melewati hutan kedua, dan sudah sangat jauh dari pemukiman penduduk.
Sebenarnya, Dayan sengaja membutakan pandangan Alandra pada rakyat ayahnya yang ia temui. Sebab ia khawatir, jika sang pangeran mengetahui tentang kesibukan rakyatnya yang tak biasa.
Tanpa Alandra tahu. Sepanjang menyusuri jalan dari hari ke hari, mereka kerap berpapasan dengan para lelaki beda usia yang tampak sibuk belajar berkuda, memanah, berkelahi bahkan bermain pedang untuk persiapan berperang.
Melihat Alandra tak curiga apa pun, Dayan merasa lega. Kini, tugasnya bagaimana caranya, agar Alandra tidak mengetahui soal peperangan, dan juga menghiburnya.
"Tuan, mari beristirahat dan berilah aku minum," ucap Dayan.
Alandra mengangguk, mereka duduk di bawah pohon rindang dengan semilir angin yang sejuk.
Ia menyodorkan minuman dan beberapa makanan pada Dayan. Lalu, tampak rubah itu makan dengan lahapnya.
Diam-diam, sang pangeran memperhatikan saat rubah itu makan.
"Kau banyak bergaul denganku. Lihat saja, kau begitu lahap memakan roti dan manisan itu," sorohnya.
Dayan mendelik ke arahnya, malas untuk berdebat. Alandra tidak tahu saja, jika jauh sebelum mengenalnya Dayan sudah menyukai jenis makanan untuk manusia.
Sekian menit berlalu, mereka tampak suntuk. Si rubah putih melirik Alandra yang tengah melamun.
dengan Ady.
“Tuan, main tebak-tebakan yuk?”
Alandra menegakkan tubuhnya.
“Tebakan apa?” Alandra balik bertanya.
“Buah-buahan.”
Biarpun lelaki bermata biru itu tidak paham, tapi ia mengangguk.
Dayan terkekeh.
“Baik, mulai ya. Buah apa yang di luarnya berwarna gelap tapi di dalamnya putih bersih?”
Alandra tampak berpikir.
“Em ... apa ya. Rambutan?” Ia mencoba menebak.
“Salah. Rambutan warnanya merah dan cerah, tebak lagi.”
“Salak?”
“Salak dalamnya tidak putih.”
Hening!
“Entahlah, kasih tahu aku saja,” ujar Alandra sambil menggaruk kepalanya.
“Ck, begitu saja tidak tahu. Jawabannya manggis.”
Lelaki itu hanya menyeringai.
“Oh, hehe. Baiklah, sekarang giliranku ya."
Dayan mengangguk dengan antusias.
"Buah apa yang membuat senang?" tanya Alandra.
Mata Dayan membola, ia yakin tak salah dengar dengan ucapan tuannya.
"Memangnya ada buah yang seperti itu?"
"Ada, sudah jawab saja," cetus Alandra di sela senyum.
Dayan sibuk berpikir, dan ia pun berusaha menjawab, namun tak ada jawaban yang dinyatakan benar oleh sang pangeran, Dayan pun menyerah.
"Yakin tak tahu jawabannya?"
"Yakin, sudah cepat katakan buah apa yang bisa membuat senang?"
Alandra mendekatkan wajah ke arahnya.
"Buahagiain kamu."
Blush!
****
Sementara di belahan tempat lain, Luxone telah mengirimkan surat untuk sang kakak terkait rencana penyerangannya.
Ia menginginkan sebuah peperangan di dataran yang luas, di sebuah padang pasir.
Tawa Luxone meledak, saat membaca surat balasan dari Alastor.
"Bukankah, aku masih berbaik hati tidak menyerang kerajaanmu wahai kakakku? Mari kita berperang secara adil," gumamnya bersenandika.
****
Waktu berperang telah ditentukan.
Setelah menyebarkan maklumat ke berbagai penjuru wilayah kerajaan Xaviorus, tentang akan adanya penyerangan dari pihak Luxone, banyak penduduk secara sukarela ingin bergabung menjadi bagian dari pasukan untuk membela dan mempertahankan negeri yang mereka cintai.
Mendengar kabar banyaknya penduduk yang telah tiba, Raja Alastor, Zahn dan Oenix bergegas pergi untuk melihat secara langsung ke lapangan.
“Lihatlah Raja, mereka datang dari berbagai penjuru daerah untuk membela negeri ini.” Oenix takjub melihat banyak nya jumlah mereka.
“Benar, mereka memiliki semangat yang kuat dan rela berkorban nyawa demi membela negeri ini.” Zahn menimpali.
Alastor tersenyum bangga dan bahagia, ia merasa yakin bahwa dengan jumlah pasukan yang ada saat ini, mereka akan mampu menghadapi para pasukan Luxone.
Melihat banyaknya jumlah orang yang ingin bergabung, Oenix akan ditunjuk sebagai panglima kerajaan memerintahkan kepada beberapa orang prajuritnya untuk memeriksa dan memilih siapa saja yang layak untuk bergabung ke dalam pasukan. Ia memerintahkan prajuritnya untuk memilih orang yang sehat, masih muda dan memiliki fisik yang kuat.
Senja pun tiba, saat itu telah berkumpul orang-orang yang terpilih untuk menjadi prajurit tambahan dan sebagian lainya pulang ke tempat mereka masing-masing karena tidak dapat bergabung ke dalam pasukan, di antara mereka ada yang sudah terlalu tua dan ada juga yang tidak memiliki fisik yang kuat.
***
Udara dingin di pagi hari seolah tidak bisa menembus kulit para prajurit yang sedang mempersiapkan diri maju ke medan laga, mereka tampak gagah dengan baju perang yang melekat di badan mereka, terdengar riuh suara para prajurit saling memberikan semangat satu sama lainnya serta ringkikan kuda perang mereka seolah menjadi alunan yang mengiringi persiapan yang mereka lakukan.
“Para ksatria, hari ini akan menjadi saksi kepahlawanan dan keberanian kalian, hari ini kita akan buktikan betapa kuatnya kerajaan kita, Teguhkanlah hati kalian dan kembalilah dengan membawa kemenangan.” Raja Alastor memberikan semangat kepada seluruh pasukan.
Mendengar ucapan itu, membuat semangat para prajurit bertambah. Mereka akan pergi ke medan perang.
****
Rencana itu, tentulah membuat hati ratu Tathiana khawatir dan takut. Ia tak ada hasrat sekedar keluar dari kamarnya dan lebih menghabiskan waktunya untuk bersedih.
Raja Alastor, tentu saja memahami keadaan istrinya. Ia menatap wanita itu dengan tatapan pilu.
Tangannya terulur menyentuh pundak.
“Dinda, sudahlah. Jangan terlalu khawatir, dengan segenap kekuatanku aku akan melindungimu dan para rakyat.”
Ratu Tathiana yang tengah terbaring memunggunginya bangkit, dan duduk dengan tegak. Sang suami mengusap air matanya.
“Bagaimana aku tidak sedih. Kepergian Alandra saja, sudah membuatku terpuruk. Membayangkan bagaimana nasibnya di luaran sana, terlebih sekarang kerajaan ini akan diserang. Aku benar-benar hancur, Kanda.”
Kedua mata Alastor terpejam, berusaha menguatkan diri. Karena sejatinya, ia pun memiliki perasaan sakit yang sama.
“Tenangkan dirimu, kita adalah pemimpin negeri ini, jangan sampai terlihat lemah karena aku khawatir akan memadamkan semangat para prajurit dan rakyat.”
Keduanya saling menatap dalam.
Tathiana pun berusaha tenang diiringi anggukan, ucapan suaminya ada benarnya. Maka, yang ia lakukan harus mengikuti ucapan Alastor.
Seperti tenang, padahal di hati keduanya begitu bergejolak. Masing-masing memikirkan, bagaimana, jika sesuatu yang buruk terjadi?
Dalam hati terdalam, Alastor menyimpan rahasia yang ia sesali.
Karena begitu menyayangi Luxone, ia selalu menganggapnya sebagai adik kandung. Padahal, lelaki itu hanyalah anak hamba sahaya yang dulu ayahnya beli dari pasar p********n, lalu diangkat anak.
Alastor sebagai anak tunggal, yang menginginkan saudara begitu bahagia, dan menjadikan Luxone sebagai saudara sekaligus sahabat yang paling tahu, semua rahasia dirinya.
Siapa sangka, jika Luxone tak tahu balas budi malah, ingin merebut semua yang bukan miliknya dan menghancurkan kepercayaan dan hati Alastor.