Pertarungan Dua Kubu

1049 Words
Alastor keluar dari kamar, dan memanggil Zahn, pengawal pribadinya. “Oenix datang hari ini?” Zahn membungkuk. “Tidak Raja, ia kembali dengan penyamarannya sampai waktunya tiba,” jawab Zahn. Raja mengusap janggutnya yang memutih sambil mengangguk Di salah satu ruangan istana, Alastor hendak membicarakan sesuatu hal yang sangat penting. “Saya, memiliki keinginan,” ucap Alastor. “Katakan saja, Tuan raja.” “Engkau tidak perlu ikut berperang nanti.” “Apa? Mengapa Raja? Saya siap mengorbankan nyawa saya demi melawan pengkhianat itu!” ujar Zahn dengan penuh penegasan. “Maka dari itulah, kau kutugaskan untuk hal lain.” Zahn tertegun, ini di luar dugaannya. Namun, apa pun yang dikatakan sang raja, ia akan mematuhinya. “Baik, saya akan melaksanakan dengan sebaik-baiknya dan katakan saja, apa tugasnya, saya selalu siap,” ucap Zahn seraya menaruh telapak tangannya di dadda. Alastor bangkit dan merengkuh kedua bahu Zahn untuk berdiri. “Terima kasih Zahn, atas Kesediaan kamu menerima tugas ini, karena kamu termasuk orang yang aku percaya dan memiliki kemampuan untuk menjalankan tugas ini. Maka, dengarkanlah.” Setelah itu, Alastor mengucapkan maksudnya. *** Hari yang ditunggu, akhirnya datang. Pasukan kerajaan Xaviorus mulai bergerak. Sesuai kesepakatan kedua belah pihak, mereka akan bertarung di lapangan padang pasir. Rakyat bahu membahu, memberikan perbekalan yang cukup untuk para prajurit. Kerajaan Xaviorus merupakan kerajaan yang memiliki wilayah yang subur dan memiliki hasil yang melimpah, tidak heran jika Luxone tergoda, dan ingin menguasai wilayah ini dan menikmati kekayaan alam nya. Sejak meninggalkan istana, pasukan Xaviorus telah menempuh perjalanan selama beberapa hari, mereka akan berhenti istirahat bila hari sudah menjelang petang, sebelum beristirahat mereka harus menemukan tempat yang aman dan dekat dengan sumber air. Lalu, seperti biasa pasukan tengah bersiap melanjutkan kembali perjalanan namun, tiba-tiba ada dua orang anak laki-laki yang masih berumur sekitar belasan tahun mendekati pasukan Xaviorus, beberapa orang prajurit melihat dan menghampiri mereka. “Anak muda, sedang apa di kelompok kami?” tanya salah seorang prajurit. “Kami ingin bergabung dengan kalian untuk berperang melawan penjahat itu!” “Perang bukanlah sebuah permainan maupun perlombaan, melainkan adalah sesuatu yang lebih berat, bahkan nyawa adalah taruhannya, kalian belum siap usia ikut dalam peperangan, kembalilah ke rumah kalian.” prajurit itu berusaha memberikan penjelasan. “Apakah tuan mengizinkan kami jika kami tunjukan kemampuan kami?” ujar anak muda itu. Prajurit itu terdiam. Lalu, teman kelompoknya mendekat. “Tak ada salahnya dicoba. Biarkan kedua anak itu menunjukkan keahliannya.” “Baiklah, tunjukkan!” Mereka berdua pun menunjukkan keahlian mereka dalam bermain panah. Tak sangka, di usia mereka yang masih sangat muda keahliannya luar biasa, kemampuan yang setara dengan seorang prajurit terlatih. Melihat kemampuan mereka yang luar biasa prajurit itu takjub. “Kalian memiliki keahlian yang luar biasa dalam memanah.” prajurit itu memuji mereka. “Terima kasih, Tuan. Jadi bagaimana, apakah kami diizinkan?” “Tapi, kalian sudah meminta izin pada kedua orang tua?” “Tentu sudah, Tuan.” Setelah melihat keahlian mereka menggunakan panah dan teknik berkelahi, juga mengetahui tekad mereka yang sangat besar untuk mengikuti peperangan, akhirnya prajurit itu membawa mereka kepada panglima pasukan, Oenix. Pasukan Xaviorus pun melanjutkan perjalanan untuk menghadapi Luxone dan pasukannya. Hingga, akhirnya mereka sampai di sebuah dataran yang sangat luas dekat wilayah perbatasan, sehingga pandangan mereka dapat menjangkau lebih jauh ke depan. Tak lama setelah mereka tiba di tempat itu, terlihat dari kejauhan pasukan yang besar. Masing-masing mereka membawa jenis-jenis senjata, panah, pedang, tombak, dan bebatuan. Tak hanya itu, tampak jelas panji bergambar ular berkibar kencang tertiup angin. “Tak kusangka, pasukan Luxone begitu banyak,” gumam Oenix. Kedua pasukan pun akhirnya bertemu yang membuat suasana di tempat itu menjadi sangat serius dan terkesan dingin. Prajurit Xaviorus berusaha mengumpulkan seluruh keberanian yang sempat goyah karena, banyaknya pasukan milik Luxone. Bahkan, seolah mereka merasakan ketakutan, jika hari itu, adalah hari terakhir mereka melihat mentari. *** Oenix mendekatkan kuda coklatnya ke arah Luxone yang lebih dulu mendekat. Lelaki yang usianya seumuran itu, berhadapan dan saling menatap penuh kebencian. “Dasar pengkhianat! Kukira, kau berada di posisiku, bajingann!” bentak Luxone. Mendengarnya, Oenix tertawa meledek. “Pengkhianat teriak pengkhianat, lucu sekali Anda ini. Tapi, bagaimana rasanya dikhianati, hm?” tanya Oenix menyindir. Luxone meludah ke tanah dengan geram. "Cukup! Mari kita selesaikan urusan ini, dengan bertarung. "Baiklah, siapa takut!" Matahari mulai meninggi, cahayanya tampak terpantul pada baju besi, pedang dan tameng-tameng para pasukan. Hawa yang terasa sejuk kini berubah menjadi semakin panas. Perang antara kedua pasukan pun dimulai dengan adu tanding satu lawan satu, tampak tiga prajurit dari pasukan Luxone yang bertubuh kekar dan besar, menenteng dan mengayun-ayunkan pedang sebagai bentuk tantangan kepada pasukan Xaviorus. Melihat tantangan dari musuh, Oenix memberikan isyarat kepada tiga prajuritnya untuk maju ke depan menghadapi mereka. Saling serang pun tak terhindarkan, pasukan anak buah Luxone menyerang dengan senjata, lalu menerjang secepat kilat seperti hendak menerkam buruan mereka. Ketika melihat kondisi tersebut prajurit Xaviorus pun langsung menghindari serangan sambil mencabut pedang yang ada pada pinggang mereka. Setiap prajurit berkelahi, satu lawan satu. Masing-masing, mereka semua sibuk menangkis serangan dan melakukan balasan ketika ada kesempatan. Di antara debu beterbangan, makin sengitnya pertempuran yang terjadi, suara senjata yang saling beradu pun semakin terdengar nyaring, darah yang mengalir akibat dari luka sayatan pun tak dapat di bendung, mereka semua mengalami luka akibat dari duel itu. Setelah duel, kemudian pertempuran sebenarnya dimulai. Panglima pasukan, Oenix, memacu kudanya ke arah Luxone, diikuti para pasukan lain dan mulai saling menyerang setelah mendapat komando dari Panglima perang masing-masing. Ratusan anak panah melesat dari busurnya sehingga banyak prajurit yang terluka akibat serangan panah tersebut. Kilatan pedang meliuk ganas untuk siapa saja yang mendekat, menciptakan riuh suara teriakan dan benturan. Prajurit berkuda mengayunkan senjatanya kepada semua musuh yang menghadang ke semua arah dengan cepat. Setelah sekian lama bertarung, banyak korban yang telah berjatuhan dari kedua belah pihak. Ada yang tewas karena tusukan tombak, serangan pedang dan panah. Luxone tak menyangka, jika jumlah pasukannya yang lebih besar tidak membuat mereka mudah melawan kubu Xaviorus. Hingga mereka mengalami kekalahan. Pasukan Xaviorus bersorak gembira, karena bisa memukul mundur pasukan Luxone, dan akhirnya meraih kemenangan dalam peperangan ini. Walau kemenangan ini harus dibayar mahal, setengah dari pasukan Xaviorus gugur di medan pertempuran dan tidak sedikit dari pasukan yang masih hidup mengalami banyak luka. Meskipun begitu, para prajurit Xaviorus merasa bangga karena mereka akan membawa kemenangan bagi negeri mereka pada sang raja.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD