Namun setelah euforia kemenangan disuarakan, Oenix dan para prajurit baru menyadari bahwa saat mereka berperang sengit, tak ada satu pun dari mereka yang melawan Luxone.
“Pasti dia kabur, saat kita sibuk melawan prajuritnya,” ucap Oenix.
“Dasar pengecut!”
“Tapi tidak mengapa, untuk saat ini kerajaan aman, karena Luxone takkan muncul dalam waktu dekat. Mari kita berkemas untuk pulang, dan menghadap raja,” ucap Oenix kemudian.
***
Kembali mereka melakukan perjalanan, lebih dari satu hari.
Hingga, jarak istana pun semakin dekat. Namun, kian dekat, Oenik dan para prajurit merasakan sesuatu yang tidak beres.
Mereka melalui jalanan yang sama, tapi kondisi jalan yang mereka lalui berbeda dengan saat mereka pergi menuju ke medan perang.
Tampak banyak sekali anak panah yang tertancap di tempat itu, banyak pohon dan beberapa bangunan yang rusak seolah telah terjadi sesuatu yang hebat.
Mereka bahkan tak sempat bertanya pada warga di sana, selain terburu-buru juga daerah itu begitu sangat sepi tak ada satu pun orang.
“Kita harus mempercepat langkah, aku merasakan sesuatu yang tidak enak,” cetus Oenix.
Lalu, mereka melanjutkan perjalanan walau tetap saja perasaan mereka sibuk bertanya-tanya dalam hati, apa yang telah terjadi di tempat ini.
Ketika Oenix dan pasukan sampai di istana, mata mereka semua terbelalak karena dari pintu gerbang yang rusak, mereka melihat istana kerajaan telah hancur terbakar.
Sepanjang tempat itu, banyak prajurit yang tewas. Mereka pun bergegas menyusuri setiap sudut istana hendak mencari prajurit yang masih hidup untuk diselamatkan, namun nihil!.
“Kita cari raja Alastor dan istrinya. Mari bergerak cepat!” titah Oenix.
“Tuan Oenix!!” teriak seseorang.
Oenix menghentikan langkah dan menoleh ke arah suara.
Ia melihat salah seorang prajuritnya memegang sesuatu. Lalu, lelaki paruh baya itu berlari mendekat.
Matanya kembali terbuka lebar, karena yang dilihatnya seperti jubah perang milik raja Alastor.
“Tu-Tuan ... bukankah, ini milik raja?”
Oenix seketika meremat baju itu, dan tubuhnya luruh.
“Sepertinya, telah terjadi sesuatu yang besar saat kita pergi. kita berperang di lapangan itu, hanya sebagai pancingan. Karena serangan utama sesungguhnya adalah di sini. Kita telah tertipu oleh tipu muslihat Luxone ....”
Semua yang mendengar menggeleng tak percaya.
“Tidak mungkin ....!”
Melihat istana yang hancur, semua prajurit mati, mereka pun yakin bahwa raja dan istrinya pun telah tiada.
***
(sebelum terjadi pertempuran di perbatasan)
Suara riuh, ditambah ratusan pedang beradu mengalihkan perhatian sang raja.
Terdengar suara ketukan pintu di ruangan pribadi Alastor. Pelayan membukanya, dan Zahn masuk dengan hormat.
“Maaf telah mengganggu pekerjaan Anda Tuan Raja.”
“Ada apa? Dan di luar kenapa tampak gaduh?” tanya sang raja.
“Ratusan musuh berkuda, merangsek masuk ke gerbang utama istana dan tiba-tiba menyerang kami. Jumlah kami yang sedikit, jadi tidak sepadan hingga kewalahan.”
Alastor membeku mendengarnya, untuk kedua kalinya ia tertipu oleh kelicikan Luxone. Ia tak menyangka, jika adiknya itu mempunyai rencana kedua.
“Apa yang harus kita lakukan?” Kembali Zahn bertanya.
“Ikut lah denganku!” Raja memerintahkan Zahn berjalan di sampingnya.
Mereka berdua bergegas menuju kamar, untuk menemui ratu Tathiana.
“Ada apa Kanda, wajahmu tampak cemas?” tanya Tathiana.
Ia pun diperintahkan untuk duduk tenang.
“Kerajaan kita diserang, aku sebagai raja tak mungkin diam saja. Terlebih, kita hanya memiliki pasukan yang sedikit karena telanjur ikut bersama Oenix melawan Luxone di tempat lain, maka ....”
Alastor beralih menatap Zahn yang seusia dengan anaknya.
“Zahn, aku sempat bicara padamu tentang tugas pentingmu.”
Zahn mengangguk hormat. “Betul, Raja.”
“Sekarang saatnya kamu melakukan apa yang telah aku perintahkan itu.”
Zahn menelisik netra rajanya, seolah ingin mengatakan sesuatu yang berlawanan dengan hatinya. Ia terus terdiam membuat ratu Tathiana tergerak untuk bertanya.
“Ada apa, Kanda?”
“Kau istriku yang selalu taat padaku kan?”
“Tentu saja.”
“Baguslah Sayang. Tinggalkan istana ini, Zahn akan menemanimu,” ujar Raja Alastor kepada sang ratu.
“Ta-tapi kenapa? Bagaimana denganmu?” Tathiana mulai gusar, matanya sudah berair.
Alastor menarik napas dengan berat.
“Aku harus membantu prajurit melawan mereka, di sini kau tidak aman, Dinda. Ikutlah bersama Zahn, jauh dari sini. Jika aku selamat, pasti akan menyusulmu, percayalah ....” ucap Alastor selembut mungkin, namun tetap saja itu tidak membuat Tathiana tenang, malah semakin berlinang air mata.
Zahn masih terdiam dengan perasaan berkecamuk, belasan tahun ia tinggal di istana. Menjadi pengawal pribadi pengganti ayahnya dan menjadi teman bermain Alandra. Ia tidak nyaman dengan situasi ini, maka alangkah lebih baiknya ia ikut berperang melawan musuh, dari pada menyaksikan orang yang terkasihnya terluka perasaannya.
“Tidak! Kanda ikut saja bersama kami?” Ratu Tathiana memegang erat jemarinya.
Alastor menggeleng kuat.
“Tidak pantas seorang Raja meninggalkan kerajaan dan rakyatnya. Pergilah, Sayang.” Raja Alastor perlahan melepas genggaman itu dan berisyarat dengan matanya pada Zahn agar segera membawa istrinya keluar dari istana.
Zahn bangkit mengulurkan tangannya.
“Mari, Ratu. Ikutlah denganku.”
Tathiana sangat paham dengan karakter suaminya, lagi pula mau tak mau apa yang dilakukan suaminya adalah yang terbaik.
Ia pun dengan berat hati mengangguk.
“Berhati-hatilah, Kanda. Semoga kau selamat,” ucapnya masih dengan bibir bergetar.
Alastor mengangguk dan meraih bahu istrinya dan ia dekap erat-erat.
Setelah itu, Alastor membuka pintu rahasia di kamar itu, menuju sebuah lorong bawah tanah, yang menuju ke sebuah tempat lain.
Tathiana dan Zahn masuk ke lorong itu, lalu sang raja kembali menutupnya.
Setelah tarikan napas panjang, Alastor meraih jubah besi khusus berperang, miliknya dan meninggalkan kamar untuk bergabung dengan pasukan, menghadapi musuh-musuhnya.
Jumlah pasukannya yang sedikit, ditambah pihak musuh yang tampak kuat membuatnya sangat kewalahan. Ia mengalami banyak luka di tubuhnya akibat tusukan pedang yang mengenai bagian tubuhnya.
“Raja!” pekik prajuritnya.
Beberapa dari mereka sebenarnya sudah menjadi tameng bagi sang raja, namun tetap saja mereka kewalahan.
Alastor pun terduduk karena luka di tubuhnya semakin sakit. Tanpa ia sadari, seseorang mendekat ke arahnya dengan tawa khasnya.
“Perlu bantuanku, Kakakku Sayang?”
Degh!
Alastor menoleh ke belakang, dan mendapati Luxone di sana.
“K-Kau!”
Tawa Luxone kembali meledak, ia sengaja menginjak darah yang mengalir dari tubuh sang raja, sambil mengelilinginya.
“Bukan hanya anakmu saja, yang pandai menyamar. Aku pun bisa, karena aku adalah didikanmu, kau ingat?” desis Luxone.
Mata Alastor terpejam, ia merasa bodoh dengan semua yang dilakukan, tak secuil pun memikirkan bahwa Luxone akan menyerang istananya.
“Jika aku berperan sebagai penjahat, artinya harus pandai berbohong, bukan begitu? Tidak mungkin, aku bodoh mengorbankan diriku dan banyaknya pasukan untuk melawan di medan perang sana! Jika kau kalah, maka habislah sudah. Jadi, otakku harus berjalan!” Luxone mengetuk-ngetuk kening dengan telunjuknya, seolah meledek ke arah kakaknya itu.
Alastor berusaha bangkit namun kembali jatuh. Matanya sudah mampu melihat prajuritnya tak ada lagi yang bisa melawan, karena semua telah tewas dengan mengenaskan.
“Lihatlah mayat-mayat itu! Kau telah kalah. Kerjaanmu telah hancur, dan akan jadi milikku!” imbuh ya dengan suara lantang.
“Cukup! Takkan kubiarkan!” ujar Alastor.
“Oya? Memangnya apa yang bisa kau lakukan lagi sendirian?”
Alastor terdiam. Saat itu juga, Luxone menghunuskan pedangnya dan menusukkan ke arah perut sang raja.
Rintihan itu, begitu memilukan. Sekian detik, tubuhnya roboh dan Alastor meninggal dunia.
Luxone dan para prajurit terpilihnya tertawa karena memenangkan peperangan.
“Bakar istana ini, karena akan kubangun istana yang jauh lebih bagus dan kokoh!” perintahnya.
“Bagaimana dengan orang-orang di dalam? Mungkin masih ada istrinya dan juga para pengawal?” tanya salah satu prajuritnya.
“Tentu saja dibakar semua, dasar bodohh!” bentak Luxone.
“Ba-baik, Tuan.”
Mereka pun langsung melakukan perintah Luxone.
***
Ratu Tathiana dan Zahn telah berhasil keluar dari lorong. Mereka menaiki sampan dan mengaliri sungai besar.
Sampan itu bergerak mengikuti arah aliran air. Sambil mengayuhnya, Zahn bisa menatap raut wajah ratunya yang begitu sedih.
Hingga jeritan ratu Tathiana membuatnya sangat terkejut.
“Ada apa Ratu?” Zahn nyaris terjatuh.
Tathiana menunjuk ke arah langit di ujung sana. Telunjuknya mengarah ke arah istana.
Zahn merapatkan bibir, menahan rasa sakit. Karena mereka berdua melihat kepulan asap tebal dan hitam di sana.
“Aku yakin, istana telah terbakar. Harusnya ... aku tak pergi, meninggalkan suamiku, dan lebih baik mati,” ucap Tathiana sambil terisak.
“Sabar ya Ratu, saya masih berharap raja masih hidup. Setelah aman, kita akan kembali ke istana. Sekarang, mari kita susul Alandra sesuai keinginan tuan Raja.”
“Menyusul Alandra?” tanya Tathiana tak percaya.
“Betul. Bukankah, Anda sudah merindukannya?”
Rasa sesak di rongga dadanya sedikit berkurang. Jika Tathiana bersedih karena berpisah dengan sang suami, maka setidaknya ia masih memiliki anak tercinta.
“Ya, mari kita menyusul Alandra.”