“Tidaak!!”
Gelas berbahan kayu tiba-tiba terjatuh, tersenggol oleh tubuh si rubah. Ia tanpa izin segera memasuki kemah milik Alandra.
Tampak pemuda itu terbangun sambil melap peluhnya, dengan napas terengah-engah.
“Ada apa Tuan, kenapa kau berteriak?”
“Dayan, aku ... bermimpi buruk.”
Dayan keluar dari kemah untuk mengambil minuman untuknya, lalu menyodorkannya pada lelaki itu. Alandra meneguknya hingga tandas.
“Jika berkenan, aku ingin tahu Anda bermimpi apa?” kembali Dayan bertanya.
“Istana kerajaan ayahku, tersambar petir hingga terbakar, bahkan angin kencang datang menyapu hingga kepulan asap itu begitu hitam pekat. Setelahnya, istana dan seisinya hancur porak poranda.”
Alandra menjeda ucapannya, ia menatap nanar kedua mata kuning milik Dayan.
“Dayan, bagaimana kalau mimpiku sebuah pertanda, telah terjadi sesuatu semacam petaka, yang membuat kerajaan ayahku benar-benar hancur?”
Dayan menggeleng. “Tuan, jangan berpikir terlalu jauh. Mimpi itu bunganya tidur, pasti ini karena kau kelelahan berjalan seharian tadi, sehingga menjadi tidak tenang.”
Dayan memahami kegalauan sang pangeran, ia pun tak menyangka jika Alandra memiliki firasat yang kuat.
Kejadian itu, memang benar adanya, ia mendapat wangsit dari Argus, jika sang raja telah tiada dan kerajaan telah hancur, namun dirinya tidak mampu mengatakannya pada pangeran, khawatir akan membuatnya sangat terluka.
“Mimpi itu terasa begitu nyata ....” lirih Alandra.
“Aku yakin, kau tengah merindukan mereka. Tenanglah Tuan, kita akan segera sampai di gunung Zas. Kembalilah tidur, agar esok pagi kita lanjutkan perjalanan.”
Alandra hanya mengangguk lemah, dan mencoba kembali berbaring. Dayan pun meninggikan jubah hangat yang dijadikan selimut, untuk menutupi tubuh lelaki itu.
Dayan telah keluar dari kemah, namun tetap saja masih menyisakan rasa gelisah di hati Alandra. Ia berharap semoga semua tetap baik-baik saja.
Pikirannya teringat, akan ucapan Oenix tentang persiapan Luxone dan tentaranya. Entahlah, pikiran buruk selalu menari-nari di kepala, bahwa ia merasa khawatir, jika pamannya akan menyerang kerajaan.
***
Lentera rembulan telah redup, berganti cahaya mentari yang menyinari tanah negeri Xaviorus.
Dayan mengguncang tubuh Alandra perlahan.
“Tuan, bangunlah. Bersihkan dirimu, agar kita segera melanjutkan perjalanan.”
Alandra menyipitkan mata dan berusaha bangun. Malam tadi, terasa berat ia lalui hingga tubuhnya terasa sakit.
“Terima kasih, Dayan.”
Ia menyingkap jubahnya dan membereskan kemah, sementara Dayan membakar ikan yang ia dapat dari sungai semalam.
Diam-diam, Alandra memperhatikan gerak gerik Dayan. Mereka, awalnya tak saling mengenal namun ia berpikir, mengapa Dayan rela menjadi teman perjalanannya? Bahkan rela berkorban apa pun untuknya, padahal baik ayahnya atau pun dirinya, tak menjanjikan hadiah apa pun. Andai diberi, seekor binatang sepertinya, pasti hanya butuh sebatas makanan, bukan emas atau perhiasan.
‘Apa yang telah Dayan lakukan untukku, aku tak pantas menyakitinya.’
“Tuan, sampai kapan Anda berdiri di sana sambil terus menatapku. Apakah baru menyadari, jika aku rubah yang cantik?” seloroh Dayan.
Alandra seketika mengerjap, ia tak menyangka jika Dayan tahu apa yang dilakukannya.
“A-apa? Kau jangan berlebihan, aku hanya memperhatikan caramu membakar ikan, takut saja jika salah atau terlalu gosong,” kilahnya.
Dayan langsung mencibir.
“Cih! Tak mau mengaku,” gumamnya.
‘Secantik apa pun tubuh dan bulu rubah itu, aku tidak mungkin menyukai binatang,' batin Alandra kesal sendiri.
***
Hutan ketiga, adalah hutan bambu. Itu adalah hutan terakhir yang harus dilewati untuk menuju pegunungan Zas. Dayan yakin, saat keluar nanti mereka tak lagi melewati pemukiman penduduk. Maka, ia pun telah mempersiapkan bekal makanan yang cukup.
Namun, ia salah. Mereka, langsung memasuki sebuah pasar yang begitu banyak orang lalu-lalang.
“Tidak mungkin salah jalan!” gumamnya.
“Kau bicara apa?” tanya Alandra.
“Aku merasa, tidak salah jalan tapi ....”
Manik matanya menangkap sesuatu yang tak beres. Ia pun menarik napas dengan kasar.
“Kesabaranmu, akan diuji Tuan. Sepertinya, di sini akan halangan,” cetus Dayan.
“Apa maksudmu? Itu hanya sebuah pasar biasa, dan kita akan segera sampai.”
Dayan kini sadar, bahwa Alandra tak mengenal orang-orang itu. Ia pun tak menggubris kalimat pangeran, dan langsung melangkah menyusuri jalanan sempit, di mana para penjual dan pembeli saling berinteraksi tawar menawar. Alandra pun mengekor di belakangnya.
“Dayan, perlukah kita membeli beberapa manisan kesemek itu?” bisiknya. Ia begitu tergiur dengan makanan yang manis-manis.
“Tidak! Teruslah melangkah, jangan banyak bicara dan jangan menengok ke sana dan kemari,” titah Dayan tegas.
“Hmm, baiklah ....”
Pemuda itu memilih menuruti ucapan Dayan, karena tak ingin merepotkan lagi.
Tapi, sikap rubah itu membuatnya justru penasaran. Ia terus memperhatikan ke arah mana kepala Dayan bergerak. Hingga ....
Gigi taring Dayan, secara perlahan dan diam-diam mencabut sesuatu dari belakang seorang lelaki. Rupanya sebuah pedang, tak hanya satu tapi tiga pedang dari tiga lelaki yang berjejer.
Ketiga lelaki itu tampak lengah, karena sibuk menawar barang dagangan seorang penjual.
Kemudian, ketiga pedang itu ia gigit bersamaan dan lari sejauh mungkin. Tentu saja, Alandra ikut mengimbangi kecepatan rubah itu di kerumuman.
Saat keluar dari area pasar, Dayan menggali tanah dan mengubur pedang itu. Kini, Alandra tak bisa diam saja dengan kelakuan aneh rubah putih itu.
“Hei! Kali ini, hal aneh apa lagi yang kau lakukan?” ujar Alandra dengan nada tinggi.
Dayan masih merapikan tanah dengan menginjak-nginjaknya berkali-kali.
“Kau dengar ucapanku? Kenapa mencuri pedang orang lain, lalu menguburnya, itu sikap yang buruk,” tanya Alandra mulai kesal.
“Tolong, bongkar tanah itu dan kembalikan pada pemiliknya,” imbuh Alandra.
“Tidak, Tuan!” tegas Dayan.
“Mengapa?”
“Apa kau tidak kenal pada orang-orang itu?” Dayan balik bertanya.
Alandra mengerutkan dahi, tampak berpikir.
“Tidak, memangnya siapa mereka?”
Dayan menyuruhnya untuk mendekat dan berjongkok. Ia membisikkan sesuatu di telinga pangeran itu.
“Mereka, adalah tamu-tamu di rumah hutan itu. Sepertinya, orang-orang itu membuntuti kita.”
“Sebanyak itu?”
“A-anu ... saya memiliki indera keenam. Sebagian besarnya, adalah jelmaan makhluk halus, mungkin agar kita tidak terkecoh oleh penyamaran mereka.”
Glek!
Alandra menelan saliva dengan kasar. Ia bukan hanya takjub dengan kejelian Dayan, namun juga takut bersamaan karena orang sebanyak itu, tengah menyamar sebagai penjual dan pembeli, sebagian besarnya adalah jelmaan makhluk halus.
“La-lalu, apa yang harus kita lakukan?” tanya Alandra.
“Kita lanjutkan perjalanan saja pura-pura tidak tahu, tetap berhati-hati dan siaga. Ayo!”
Alandra mengikuti langkah rubah itu dengan tangan bersiap memegang gagang pedang.
“Soal pedang tadi, kenapa kau menguburnya?” bisik Alandra.
“Mereka bertiga termasuk musuhmu, pasti ada seseorang yang menyuruh ketiganya. Mereka menabur racun di bagian pedang, jika sampai kita tertusuk maka akan mati!”
Cleb!
Dayan dan Alandra seketika berhenti melangkah, karena di depan mereka menancap sebuah belati pada tanah, yang dilempar seseorang dari belakang.
Keduanya menoleh ke belakang, dan terkejut karena mendapati tiga orang lelaki yang pedangnya diambil oleh Dayan. Di belakang ketiganya, ada banyak orang-orang termasuk jelmaan makhluk halus.
“Ki-kita tidak mungkin melawan mereka. Bagaimana kalau kabur saja?” ujar Alandra dengan wajah pucat, ia kembali ketakutan.
“Sia-sia saja, Tuan. Tetap akan tertangkap, lihat saja jumlahnya. Kita lawan saja.”
Alandra seketika menoleh padanya dengan mata membulat.
“Apa? Kau cari mati?”
“Kau punya liontin ajaib bukan? Gunakan untuk melawan mereka,” ucap Dayan santai.
Sungguh, ucapan Dayan membuatnya frustasi. Ia sendiri sebenarnya tidak tahu, bagaimana cara menggunakannya.