Ucapan Dayan membuatnya frustasi. Ia sendiri sebenarnya tidak tahu, bagaimana cara menggunakan liontin ajaib itu.
Sekelompok orang itu mulai menyerang. Tak ada pilihan lain bagi Alandra, selain membalas serangan mereka semampunya.
Ia berhasil menggores tubuh mereka dengan pedangnya, atau sesekali menggunakan kedua kakinya untuk menendang musuh-musuh itu.
Sama halnya, dengan Alandra. Dayan pun sibuk melawan mereka dengan cakaran dan gigitan. Tapi ia langsung tersungkur, lengannya terkena anak panah yang tiba-tiba menancap.
“Aaaakkkh!”
Fokus Alandra teralihkan, maka di saat itulah salah seorang dari mereka menyerangnya.
Blugh!
Alandra terlempar cukup jauh hingga ambruk. Sekujur tubuhnya terasa sakit, tapi ia masih berusaha membuka matanya. Seorang lelaki menghunuskan pedang ke arahnya, membuatnya terkesiap dan membeku.
“Ada kata-kata terakhir?” tanya lelaki jangkung padanya. Ujung pedang itu, hampir menyentuh lehernya.
“Sebenarnya, siapa kalian? Kenapa tiba-tiba menyerang kami?” tanya Alandra.
Sengaja, Alandra bertanya seperti itu untuk mengulur waktu, memikirkan cara untuk menghindar dari pedang.
“Kami ditugaskan untuk memusnahkan siapa saja, yang menghalangi jalan Tuanku untuk menjadi raja. Sudah, jika kau tidak punya kata-kata terakhir, aku segera menghabisimu!”
Dayan terkejut, “Awaas!!”
Alandra sigap mengapit pedang itu dengan kedua telapak tangannya. Namun dorongan itu kian kuat, membuat tangannya berdarah.
Dayan khawatir, karena Alandra mulai kehabisan tenaga. Ia pun harus melakukan sesuatu.
Saat orang-orang tengah lengah, kepalanya menoleh ke sana ke mari dan menemukan batu sekepalan tangan orang dewasa, yang tak jauh darinya. Tanpa ragu, ia melemparkannya tepat di kepala lelaki yang menghunus pedang, hingga lelaki jangkung itu terpelanting jatuh. Di saat itulah, Alandra memiliki kesempatan untuk bangun dan mengatur napasnya.
“Siapa yang melempar batu ke kepalaku?” bentak lelaki itu kesakitan seraya mengusap keningnya.
“Aku melihat, rubah itu yang melakukannya,” ucap temannya yang lain.
Satu masalah selesai, tapi tak berlangsung lama karena musuh-musuh itu, kini berbalik menatap dengan penuh amarah. Mereka terus maju dan memblokir Dayan.
Alandra memegang liontinnya, ia yakin ada cara untuk membuatnya mampu mengeluarkan kekuatan.
Entah dorongan dari mana, ia menggenggam kuat liontin itu, dengan mata terpejam. Sedetik kemudian, Alandra merasakan aliran yang besar di sekujur tubuhnya.
Angin yang berhembus tiba-tiba tertiup kencang, membuat rambut dan jubahnya berkibar-kibar. Hal itu, membuat orang-orang yang hendak menyerang Dayan, kembali menoleh pada Alandra.
Dibuat takjub, mata dan mulut mereka terbuka lebar, tatkala dari liontin itu muncul cahaya terang berwarna ungu yang kian membesar. Sama halnya dengan Dayan, hatinya bergetar hebat menyaksikan sesuatu yang terjadi pada tuannya.
Kemudian, Alandra maju ke arah mereka sambil terus menggenggam kalungnya. Pancaran sinar itu, kian membuat mereka silau hingga tak sadar jika jarak mereka dengan Alandra kian dekat.
“Ayo, lawan aku,” ucap Alandra dengan mimik dingin.
Mereka saling menatap satu sama lain.
Ketiga lelaki mulai maju untuk melawan. Alandra pun mengangkat liontin itu, lurus ke arah mereka hingga memancarkan sinar tak biasa yang menyedot sihir gelap dan kekuatan mereka.
Orang-orang itu mundur ketakutan, saat sadar jika kekuatan yang mereka miliki telah dihisap. Bahkan jelmaan makhluk halus ikut lenyap.
“Kita pergi! Kabuur!”
Mereka lari tunggang langgang meninggalkan Alandra dan Dayan.
Dayan meloncat dengan cepat ke arahnya.
“Tuan tidak apa-apa?”
“Harusnya aku yang bertanya, kau tidak apa-apa?” Alandra balik bertanya. Tangannya bergerak memeriksa makhluk berbulu itu. Dan merasakan ada cairan merah menyentuh kulitnya.
“Aku baik-baik saja.”
“Baik bagaimana? Kau berdarah, Dayan. Ayo kita pergi ke aliran sungai, lukamu harus dibersihkan.”
Alandra memasukkan liontin bermata ungu itu di balik kerah jubahnya dan membawa Dayan ke hulu sungai.
Sepanjang jalan, Dayan terus menatap biru Alandra. Jika lelaki itu pandai melawan musuh, menurutnya itu sangat memukau.
“Kamu hebat, musuh sebanyak itu bisa kau selesaikan dengan mudah,” ucap Dayan.
Alandra mengendikkan bahu dramatis.
“Ah, aku tidak melakukan apa-apa. Semua karena liontin milik ayahku.”
“Walaupun begitu, aku kagum. Karena kau, sedikit demi sedikit mulai berani,” ucap Dayan.
Kalimat itu, membuat Alandra tanpa sadar tersenyum.
***
Mereka menemukan aliran sungai yang jernih. Alandra membaringkan Dayan perlahan, dan diambillah mata panah yang tertancap di tangannya lalu mencuci semua luka itu.
“Sepertinya, mata panah ini yang membuatmu menggigil. Apa sekarang sudah lebih baik?” tanya Alandra.
Dayan hanya mengangguk lemah, ia menunjuk lurus ke arah hulu sungai.
“Kita tiba di tempat yang tepat. Karena ke pegunungan Zas, melewati jalan dekat sungai ini.”
“Syukurlah, tapi kita istirahat dulu sampai kamu pulih.”
Alandra bangkit, untuk membuat api dari kayu bakar dan membuatkan kemah untuk Dayan berbaring lalu kembali beranjak.
“Kau mau kemana Tuan? Tetaplah di sini,” ucap Dayan lemah.
“Aku hanya sebentar. Tunggu ya.”
Dayan hendak membuka suaranya, namun Alandra melesat cepat memasuki hutan dekat sungai itu.
Hari kian gelap. Alandra baru muncul, setelah sekian lama.
Ia bergegas masuk kemah dan mengecek keadaan Dayan. Suara langkah Alandra, membangunkan tidur rubah itu.
Perlahan, kelopak matanya terbuka dan mendapati Alandra entah sedang melakukan apa.
“Kau bohong, Tuan. Katanya tidak lama.”
Sang pangeran menoleh sambil terkekeh. “Ah, kau sudah bangun?”
Ia mendekat, membawa dua wadah dari batok kelapa, dan mendudukkan dirinya di samping Dayan. Alandra menatap sayup mata kemilau milik Dayan yang eksotis, sesaat ia terhipnotis.
“Tuan?”
Alandra mengerjap. “Oh, maaf. Ini, aku buatkan sup herbal agar kau cepat sehat.”
Dayan menerima makanan yang masih mengepul itu, dan menghirup aromanya.
“Tahan sakit ya ,aku tadi telah menumbuk daun cocor bebek ini, untuk dioles ke lukamu, agar tidak infeksi,” ucap Alandra.
Dayan mengangguk saja, sambil menikmati sup.
Sesekali, ia meringis menahan sakit dari olesan obat itu.
“Sup nya enak?” tanya Alandra.
“Enak, lumayanlah untuk pemula,” jawabnya sambil mengangkat kedua alis.
Alandra tertawa kecil mendengar pujian setengah-setengah dari rubah itu.
“Tapi, kau banyak berubah Tuan. Dari seorang pangeran manja, yang penakut dan tak bisa apa-apa. Menjadi, lelaki yang berani melawan musuh, juga memasak dan mengobatiku.” Kali ini, Dayan bersungguh-sungguh mengucapkannya, menghadirkan perasaan hangat di hati Alandra.
“Pujianmu berlebihan. Kita mendapat pelajaran dari petualangan, termasuk daun herbal ini, ilmu yang kudapat dari tabib seribu penyakit.”
“Tetap saja, bagiku kau hebat,” cetus Dayan.
Alandra menatapnya lekat-lekat. “Terima kasih. Tidurlah, sementara aku berjaga di luar.”
“Tapi Tuan juga butuh istirahat.”
“Ya, aku akan istirahat jika benar-benar lelah.”
“Tidak!”
Langkah kaki Alandra kembali terhalang. “Apa lagi, Dayan?”
“Kumohon, kau tidur si sini saja ya. Gak jijik kan, tidur bersebelahan dengan binatang sepertiku?”
Alandra cukup terkejut, karena Dayan sudah salah paham. Ia pun kembali duduk.
“Bukan begitu, tapi aku harus berjaga takutnya ada binatang buas yang menyerang. Aku takut kau kenapa-kenapa.”
Dayan benci, merasakan perasaan aneh yang tiba-tiba muncul gara-gara ucapan lelaki itu. Akibatnya, wajahnya memerah dan terasa panas.
Melihat, Dayan tak berkata apa-apa lagi. Alandra mulai beranjak.
“Selamat malam, cepat sembuh,” ujar Alandra.
Dayan terus menatap punggungnya, sampai lelaki itu keluar.