Semua kejadian tadi telah Noni laporkan pada Sashi ketika Sashi sedang dalam perjalanan menuju klub. Noni juga memberitahukan bahwa paketnya sudah dikirim diam-diam tanpa terlihat siapapun.
[Gue masih empet banget kalo inget gimana santainya si Renata waktu bilang kalo hubungan mereka cuman rumor yang disebar sama Wiggy. Untung aja ga ada si Wiggy di situ. Kalo sampe bokap lo malah marah sama si Wiggy gimana? Emang dasar anak dakjal tuh berdua!]
"Udahlah gapapa, toh gue juga masih hidup. Gue lagi belajar ga peduli, Non. Kalo emang Jio udah mulai oleng ke yang lain, its oke. Buat apa gue pertahanin."
[Yes, i know, Sashiiiiii.... but it's not about that. The thing is yang jadi selingkuhannya itu sahabat lo sendiri dan mereka sama sekali ga ngehargain lo, karena saat mereka tahu lo meninggal baru beberapa hari, tuh orang udah beduaan aja di studio.]
Sashi menghela napas, hatinya terasa tertusuk mendengar hal tersebut. Apakah mereka berdua memang sedang dimabuk cinta hingga kehilangan empati seperti itu?
[Sas? Lo masih di situ?]
"Eh iya... ya udahlah, jangan terlalu dipikirin. Yang penting gue baik-baik aja. Byw the way bentar lagi gue nyampe, nih. Udahan dulu, ya."
[Oke deh, kalo lu baik-baik aja, gue jadi tenang. Selamat kerja hari pertama, ya, semoga betah! Kabar-kabarin gue lagi nanti.]
"Oke, Non, bye."
[Bye!]
Sashi memang merasa patah hati dengan perlakuan Jio dan Renata. Tapi dia jauh lebih menyayangi dirinya sendiri. Ia tidak mau menderita hanya karena mereka. Sashi percaya hukum alam itu bekerja. Jika kita bersikap positif, maka alam akan memberikan hal positif, begitupun sebaliknya. Sashi juga bersyukur karena hari ini sudah mulai bekerja sehingga bisa mengalihkan pikirannya.
Menuruti perintah Robert kemarin, Sashi memasuki dapur lewat pintu belakang. Di sana sudah ada Made yang sudah lengkap memakai atribut seorang chef, juga beberapa koki lain di bagian belakang yang bertugas menyajikan makanan membantu Chef Made. Sashi sendiri mempunyai tempat di bagian sudut kanan dengan background kulkas super lebar yang menyediakan berbagai macam buah, cream cheese, syrup dan lainnya.
Tadi pagi Robert mengirim pesan supaya Sashi langsung membuat lima puluh kotak eclaire dan bisa meminta bantuan pada koki bernama Mora. Jadi Sashi pun menghampiri Made yang sedang menimbang daging.
"Bang, yang namanya Mora itu yang mana, ya?" tanya Sashi sopan.
"Oh, itu yang lagi bawa nampan," jawab Chef Made sambil menunjuk dengan pisaunya.
Sashi memandangi koki perempuan yang ditunjuk Made. Sepertinya ia berumur di bawah Sashi. Kulitnya hitam mannis dan berambut keriting. Sepertinya gadis itu memang menjadi asisten. Ia terlihat bingung setelah menaruh beberapa gelas di rak.
"Hai,. Mora. Kenalin aku Sashi," kata Sashi sambil mengulurkan tangan yang langsung disambut oleh Mora. "Ini hari pertama aku kerja di sini. Tadi kata Robert, kamu bisa bantuin aku bikin dessert, ya?"
"Oh iya, tadi Bang Robert juga udah bilang sama aku. Mau bikin apa, nih?"
"Aku mau bikin eclaire dulu. Yuk, kita siapin dulu bahan-bahannya."
Mora mengikuti Sashi ke konter yang berada di pojok. Ia senang karena ada koki yang umurnya tidak jauh darinya. Karena kebanyakan yang bekerja di situ sudah pada tua.
Sashi pun mulai mengambil beberapa bahan. Ia senang karena semuanya kumplit dan mempunyai kualitas terbaik. Ia berdoa dengan khusyu terlebih dahulu supaya semua pelanggan Robert menyukai dessert buatannya.
***
Suasana di rumah Sashi bagaikan tidak ada kehidupan beberapa hari terakhir, Dixie yang baru menyelesaikan makan, tampak bosan melihat ibu dan ayah tirinya hanya diam-diaman. Semenjak kepergian Sashi, ayah tirinya itu jadi lebih banyak diam, sehingga Dixie dan ibunya menjadi sungkan hanya untuk sekadar meminta uang. Ibunya selalu berusaha menghibur sang Suami namun hasilnya nihil. Puncaknya ketika malam tadi ketika sang Ibu memaksanya untuk menemani menonton, ayah tirinya malah membentak.
Kini pria paruh baya tersebut langsung pergi ketika sudah menyelesaikan sarapannya. Pergi entah kemana.
"Mam, minta duit, dong!" rengek Dixie yang beberapa hari ini kekurangan uang untuk hang out.
"Kamu gimana, sih, ga liat mama sama ayah kamu lagi perang dingin?!"
"Ya ngalah, kek, baikan. Mau sampe kapan kayak gitu? Lama-lama aku kere, karena imbasnya pasti kena ke aku juga jadi ga dapet uang jajan."
Sang Ibu berdecak. "Lagian ya kamu itu pikirannya uang, main, uang, main mulu! Kurang-kurangin lah."
Dixie memberengut. "Ya udah aku minta duit bensin aja. Itu mobil harus aku balikin ke kantornya Kak Sashi, tapi bensinnya udah sekarat."
"Loh kenapa harus dibalikin ke kantornya? Ini kan mobil Sashi, ya tinggal di sini dong!" kata ibunya Dixie sambil menyingkirkan piring yang ada di hadapannya setelah merasa sudah kenyang.
"Tapi mereka bilang kalo itu mobilnya Sashi sama pacarnya. Mereka beli dan nyicil berdua, jadi tu mobil otomatis jadi punya pacarnya."
"Halaaah!! Bohong itu! Pacarnya itu benalu. Kamu tahu, si Sashi itu udah dikasih duit sama ayahnya buat kuliah, tapi dia pake buat bikin kantor itu. Semua peralatan yang ada di sana udah pasti punya Sashi. Itulah kenapa ayah tiri kamu marah besar. Dia kepingin anaknya jadi dokter, tapi uang biayanya malah dihamburin buat kantor ga jelas itu."
"Aku liat konten mereka sekarang banyak yang nonton,. Temen-temen aku aja pada hapal sama kru di sana. Si Jio, Revo, Wiggy."
"Pokoknya itu mobil ga usah dibalikin. Biar mama yang ngadepin mereka. Tapi kalo sampe mereka ngotot, coba kamu masuk aja ke kantor situ. Jadi apa, kek. Karena kamu berhak buat gantiin Sashi."
Pipi Dixie memerah, karena memang itu yang ia inginkan supaya bisa dekat dengan Wiggy. Teman-temannya di kampus sangat megidolakan seorang Wiggy yang tampan dan tipe-tipe cowok icy. Mereka pasti iri jika tahu bahwa Dixie bisa satu kantor dengannya.
"Oya, mam, kapan asuransinya Sashi keluar? Katanya dari pihak maskapai juga dapet banyak, kan?"
"Ya mana mama tau! Liat sendiri ayah tiri kamu lagi ngebetein gitu. Makanya kamu pura pura lah berduka cita kek atau apa. Ini malah keluyuran maen mulu."
"Ih aku kan butuh hangout. Ya udah aku minta duit buat bensin, cepet. Kan nanti banyak tuh uang asuransinya Sashi, mama bisa kecipratan banyak juga."
"Ya udah iya, nanti mama transfer. Sana mandi dulu! Datengin lagi tuh kantornya, dan deketin satu-satu staff di sana. Cari tahu cara kerja mereka kayak gimana. Yang pasti itu kantor punya Sashi, peralatan segala macem juga punya dia. Jangan sampe orang-orang itu yang makan semua penghasilannya Sashi. Semua harus jatuh ke tangan kamu."