Bu Putu

1001 Words
Jeff terbangun jam delapan pagi. Semalam ia pulang larut karena diundang salah satu temannya yang sedang berulang tahun di sebuah villa tepi pantai. Hari ini masih ada jadwal dengan orang furnitur, jadi ia pun beranjak ke kamar mandi untuk membasuh muka dan menggosok gigi. Dari arah dapur terdengar suara orang mengobrol. Sepertinya Ibu Putu, ibunya Wayan, sudah datang. Suara satu lagi tentu saja Sashi. Jeff menghampiri mereka sambil melap wajahnya dengan handuk. "Morning," sapa Jeff. "Pa kabar Bu Putu?" "Eh, Pak Jeff udah bangun. Kabar baik, udah seger lagi saya berkat Pak Jeff yang kirimin vitamin kemarin." "Syukur de kalo gitu. Udah pada sarapan?" tanya Jeff lagi sambil menyambar cangkir dan menghampiri mesin kopi seperti biasa. Untuk kopi, ia tidak suka dibuatkan orang lain karena hanya dia sendiri yang bisa membuatnya dengan pas. "Belum, nih. Bu Putu juga baru aja nyampe. Kamu mau sarapan apa, biar aku buatin." Sashi berdiri hendak menghampiri kulkas untuk melihat bahan. "Kayaknya Bu Putu aja yang buatin sarapan. Saya udah kangen nasi goreng buatan Bu Putu." Jeff bisa melihat kekecewaan dari wajah Sashi menskipun dengan cepat Sashi menyembunyikannya. "Oh oke, kalo gitu aku mau juga deh nyobain nasi gorengnya Bu Putu." Dengan semangat, Bu Putu berdiri dari kursinya. ":Tentu boleh, dong! Ayok kalian duduk aja di sini biar ibu yang bikinin sarapannya." Jeff pun duduk di hadapan Sashi sambil menyeruput kopinya. Sinar matahari menembus kaca memenuhi ruangan. Sinar tersebut membuat mata Sashi tampak berwarna cokelat terang. Jeff menyukai warnanya, dipadu dengan kulit Sashi yang putih mulus dengan rambutnya yang sedikit kusut. Mungkin Sashi juga tidak sadar bahwa kancing piyama yang terbuka dua itu membuat Jeff tidak fokus. Sashi terlihat seksi dan menarik. "Kamu hari ini ke cottage lagi?" tanya Sashi sambil menatap tajam wajah Jeff. "Yaps, jam sebelas ada janji temu sama orang furnitur." "Udah berapa persen penyelesaian cottage-nya?" "Dikit lagi, 90%. Kolam renang juga hampir beres." "Whoaaa... ada kolam renang? Udah lama banget kayaknya aku ga renang. Jadi ga sabar mau ke sana," ujar Sashi, lalu menengok Bu Putu yang sedang fokus memasak. "Bu Putu nanti ikut nginep di cottage-nya Pak Jeff, ya. Aku sama Wayan diajakin ke sana kalau udah selesai pembangunannya." "Boleh banget dong. Ibu juga jarang liburan. Pak Jeff, Mami sama Papi mau ke sini juga, kan?" "Iya, saya nargetin sebelum valentine semuanya udah siap. Jadi Papi Mami bisa ke sini pas cottage-nya udah selesai. Kita rayain valkentine sama-sama di sana." "Romantis amat rayain valentine," ucap Sashi sambil tersenyum. Mendengar itu, Bu Putu yang menjawab. "Soalnya Mami Papinya Pak Jeff kan nikah pas valentine. Terus Pak Jeff juga lahirnya pas valentine." Mulut Sashi membentuk huruf O. "Whoaaa... bisa kebetulan gitu, ya? Kalo gitu aku mesti nyiapin banyak kado, dong." Jeff menggelengkan kepala. "Ga usah repot-repot. Kita cuman rayain kecil-kecilan. Bisa kumpul bareng aja udah bersyukur." "Mbak Alina dateng juga ga, pak?" tanya Bu Putu. "Yep. Kayaknya dia dateng. Bilangnya emang bulan depan mau ke sini." "Bagus tuh kalo ngumpul semua. Pasti seru." Bu Putu menuangkan nasi gorengnya ke dalam tiga piring. Nasi goreng tersebut sangat disukali oleh Jeff karena digoreng dengan mentega, memakai jagung, wortel dan kacang polong. Bu Putu juga suka menambahkan beef, namun kali ini diganti dengan ayam fillet. Mereka makan dengan nikmat sambil mengobrol ringan. *** Berita pagi mengumumkan bahwa tim sar sudah memberhentikan pencarian korban kecelakaan pesawat. Seluruh kelurga pun sudah pasrah dan ikhlas. Lagi pula keadaan jenazah yang terllau lama di laut pasti sudah hancur, mereka tidak akan kuat melihat keluarganya dalam ekadaan seperti itu. Shaki lagi-lagi mengajukan ide untuk menyewa kapal supaya bisa menabur bunga di Laut Jawa. kalau bisa ia juga akan mengajak keluarga korban lainnya. "Kalo kayak gitu, biar dari pihak maskapai aja yang keluarin biaya buat sewa kapal," kata Emil. "Bener juga. Mereka yang mestinya tanggung jawab. Ya udah, biar gue nanti yang dateng ke mereka buat ngajuin ini. Lu ikut ya, Non!" ajak Shaki. "Hah? Oh... iya iya bebas." Tentu saja Noni keberatan karena dia bisa mabuk kapal. LAgi pula sebenarnya Sashi masih hidup, jadi acara tabur bunga itu tidak perlu. Tapi bagaimana lagi, Noni tidak bisa mengatakan hal tersebut. Suara mobil besar terdengar sedang memarkir di halaman. Shaki mengintip dari jendela dan ia berbisik pada teman-temannya."Bokapnya Sashi." Semuanya langsung salah tingkah. Noni beranjak untuk mengetuk pintu kamar Jio untuk emmberitahukan kedatangan ayahnya Sashi. Jio yang masih tidur, terpaksa bangun dengan mata yang masih setengah terbuka. "Pagi, Om," sapa Shaki dan Emil. "Mana Jio? Dia ada di sini?" Emil melirik ke arah kamar Jio. "Masih tidur kayaknya, Om. Itu lagi dibangunin Noni." Berbarengan dengan itu, Jio muncul dengan mengenakan kaus hijau serta celana pendek. "Pagi, Om," sapanya dengan suara serak. Ayahnya Sashi membuka kacamata hitam, lalu merentangkan tangan di punggung sofa. "Kamu masih punya hutang penjelasan sama saya. Ada yang kamu sampein kenapa Sashi bisa pulang sendirian ke Bandung dan kecelakaan kayak gitu?" Suasana di ruangan itu pun seketika tegang. Tidak ada yang mengeluarkan suara sedikitpun. Hingga akhirnya Renata datang, lalu duduk di sebelah Jio. "Sashi marah karena anggap Jio sama aku ada affair, Om. Padahal kita ga ngapa-ngapain. Waktu itu Jio cuman bantu aku ngeluarin isi perut di kamar mandi." Seperti Noni, Renata juga sering menginap di rumah Sashi, jadi ayahnya juga mengenal Renata. "Sashi ga mungkin bisa nuduh sembarangan kalau ga ada bukti." "Karena dia dikomporin sama salah satu temen kami, Wiggy." Semua yang ada di situ merasa muak dengan jawaban Renata yang berbohong dan tidak mau mengakui kesalahannya. Renata tampak ingin menyelamatkan Jio. "Saya tidak menuntut apa-apa, karena itu memang kecelakaan. Tapi jika sampai anak saya pergi dengan cara seperti itu, dengan cara tersakiti oleh salah satu dari kalian, saya tidak akan pernah memaafkan." "Saya minta maaf, Om, karena ga bisa cegah Sashi pergi. Saya ga nyangka dia mau pulang lagsung ke Bandung karena cuman bawa tas kecil. Semua kopernya masih di villa," jawab Jio. "Sudahlah. Saya ke sini sekalian mau tanya apa aja barang Sashi yang ada di sini. Kemarin Dixie bilang dia ke sini tapi dihalang-halangi waktu nanyain soal barang kakaknya." Mendengar itu, kepala Noni seketika mendidih.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD