Prepared

1017 Words
Semua barang yang diminta Sashi sudah dipacking oleh Noni, kecuali macbook, karena orang-orang kantor pasti curiga jika macbook milik Sashi menghilang atau bahkan mereka akan menuduh Noni yang mengambilnya. Jadi cara terbaik adalah Noni mengirim semua file penting yang ada di sana, lagi pula Sashi sudah membeli laptop baru. Yang paling penting adalah sistem forex yang ada di satu folderyang Sashi beli dengan harga mahal dan selalu akurat. Ia sudah muak karena beberapa hari terakhir selalu lost. "Kak Sashi mau pergi?" tanya Wayan ketika melihat Sashi menyiapkan beberapa baju. "Besok kan aku udah mulai kerja, jadi kayaknya harus punya banyak baju buat dipake pergi. Kemaren malah beli baju rumahan doang," jawab Sashi sambil memerhatikan satu-satunya blouse yang paling sopan untuk dipakai kerja. "Kerja di mana emangnya, Kak? Di kafe temen kakak kemarin itu?" "Iya. Kemaren udah liat tempatnya. Enak, sih. Kayaknya aku bakalan betah. Kerjanya juga malem sampe subuh, kebetulan aku kan night owl, udah kebiasa begadang, kerja malem sampe subuh." Wayan mengangguk. "Besok juga ibu mulai kerja lagi di sini. Aku bakalan jarang datang." "Yaaaah... main dong sekali-sekali ke sini, temen aku kan cuman kamu doang di sini." Sashi serius, ia sudah menganggap Wayan sebagai teman sekaligus adik baginya. Sashi akan sangat kehilangan jika Wayan tidak datang ke tempatnya lagi. "Kakak kan kerja malam, siangnya pasti tidur. Ntar aku ganggu kalo ke sini." "Pokoknya kalo kamu mau datang, chat aku aja dulu. Nanti abis gajian pertama kita jalan, ya. Aku traktir kamu makan enak lagi, gimana?" "Oke, Kak," jawab Wayan dengan senang hati. Kini Sashi mengeluarkan boks berisi masker wajah dan kutek. Tadi ia mengajak Wayan untuk memakai kedua produk tersebut setelah gadis itu selesai bekerja. Biasanya di kantor dulu, Sashi melakukannya dengan Noni dan Renata. Jika sudah jenuh bekerja, mereka akan melakukan quality time di kamar atas. Menghabiskan waktu dengan menonton Netflix, order makanan enak di applikasi jasa online sambil maskeran dan kutekan. "Oya, Kak Sashi ga masak buat Pak Jeff lagi hari ini?" tanya Wayan sambil mengoleskan kutek berwarna nude ke kuku jarinya. Wajah Sashi tiba-tiba merengut. Ia terlalu malu untuk mengatakan bahwa sudah dua kali makanan yang dibuatnya sama sekali tidak dilirik. "Jeff kemaren bilang bakalan lebih banyak ngabisin waktu di cottage. Jadi daripada masakan aku mubazir, dia nyuruh aku ga masak aja. Karena dia pasti makan di luar." "Wah, sayang banget. Padahal masakan Kak Sashi enak." "Kamu laper? Kalo kamumau makan masakan aku, ayok kita masak abis ini. Kan ini hari terakhir kamu kerja gantiin ibu juga." Dengan malu-malu Wayan mengatakan. "Aku suka dessert yang kemarin kakak buat. Kalo boleh, mau minta resepnya juga." "Oh eclaire? Boleh boleh, abis ini kita bikin, ya. Tapi paling bisa dimakan besok karena harus ditaro di kulkas dulu. Besok aku titipin ke ibu kamu supaya dibawa pulang aja." Wayan kembali mengangguk dengan senang hati. Setelah aktivitas mereka selesai, keduanya pun langsung memasuki dapur untuk membuat eclaire dan memasak sederhana untuk makan malam. *** "Kenapa sih itu mobilnya belom dibalikin juga! Ada yang punya nomor teleponnya, ga?" Noni mencak-mencak begitu mengingat bahwa mobil Sashi yang dipinjam Dixie belum juga dikembalikan. Padahal kemarin dia bilang hanya meminjam tiga hari saja. Shaki menggelengkan kepala. "Gue gak tahu. Si Jio tahu, kali." Noni pun langsung menghampiri Jio di studionya dengan langkah cepat. Namun setelah membuka pintunya, ia memergoki Jio sedang berduaan dengan Renata. Wajah mereka berdekatan dan telapak tangan Jio diletakkan di atas paha wanita tersebut. Sialan! Jio dan Renata tampak terkejut. Ada raut kekesalan di wajah Jio karena Noni masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Namun Noni tidak peduli, karena ini bukan kamar, melainkan studio recording! Renata sendiri mengalihkan pandangannya seolah tidak tahu apa-apa. membuat Noni semakin muak. "Lo tahu nomor teleponnya si Dixie, ga? Udah lewat tiga hari mobilnya Sashi masih belom dibalikin," ujar Noni. "Mana gue tahu, inbox di Instagramnya aja lah," sahut Jio tidak kalah ketus. Noni pun melengos pergi, namun setelah beberapa langkah, ia kembali lagi karena darah di kepalanya benar-benar mendidih. "Ji, Ren, kalo kalian emang masih ada affair, gue ga akan larang. Itu hak kalian. Tapi please cari tempat lain buat berduaan kayak gitu, jangan di sini, ga enak sama yang lain. Ini kantor, punya Sashi pulak! Sashi aja baru pergi berapa hari, hargain dikit, kek!" Renata dan Jio hanya terdiam. Meski Jio tampak tidak terima karena terus-terusan menggertakan rahang. Jio selalu tersinggung jika orang-orang menyebutkan bahwa ini kantor milik Sashi, padahal ia pun mempunyai andil dalam pembuatan kantor ini. Ia berhak mengklaim bahwa kantor ini miliknya juga. Namun melihat Noni semarah itu, ia tidak melakukan pembelaan diri, karena percuma. Noni akan semakin meledak. Setelah menumpahkan kekesalannya, Noni pun pergi ke kamar dan mengunci pintunya. Ia menghubungi Sashi untuk mencari tahu nomor telepon Dixie. [Gue ga hapal kali, Non. Kan ponsel gue ilang dan ga mungkin juga gue hapal nomor dia di luar kepala. Coba inbox aja di Instagramnya. Atau tunggu aja agak dua harian lagi. Dia mulutnya nyinyir, tar dikira lo yang mau ambil mobil gue. Udah ketahuan sih watak dia.] kata Sashi sewaktu ditelepon Noni. "Ya coba aja dia berani ngomong kayak gitu. Duh, sorry ya tapi gue beneran kesel sama adik tiri lo. Sewaktu lo masih ada mana pernah dia nginjek kantor. Sekarang tiba-tiba aja dateng dengan ga sopannya." Sashi tertawa. [Jangankan elu yang baru liat dia kemaren. Ga bisa bayangin, kan, jadi gue yang hampir tiap hari ketemu tu orang. Dia numpang di rumah gue tapi udah serasa punya dia aja. KAdang bawa temen-temennya banyakan, berisik banget.] "Ya udah jadi gue hubungin dia nanti aja, nih?" [Iya gapapa nanti aja. By the way paket gue bisa dikirim hari ini aja? Kayaknya gue butuh cepet, soalnya besok udah mulai kerja. Ga punya baju lagi gue.] "Oke bisa, nanti gue hubungin kurir buat pick up. Lo butuh duit ga? Gue transfer kalo lu ga megang." [Ada kok, aman.] "Serius, Sas! Jangan segan kalo lu lagi ga megang, ya. Gue pasti bantuin lo." [Aman, Noni sayaaaang... lagian sekarang gue ga punya rekening, gue ga punya apa pun. Tapi beneran, di sini gue aman. Yang punya rumah baik banget, gue juga punya temen namanya Wayan.] "Oke deh kalo gitu. Sering-sering kabarin gue pokoknya."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD