Setelah mendapatkan list barang yang harus dikirim, Noni pun mulai menyiapkan semuanya. Ada baju, sepatu, juga beberapa perhiasan berlian yang Sashi simpan di lemari. Laptop juga ada di dalam list. Namun Noni takut orang-orang curiga jika benda itu menghilang dan ia dicurigai menjual barang tersebut. Akhirnya, ia pun meminta Sashi untuk memberitahu keadaannya kepada Arin, sang Keponakan. Jadi semua barang yang akan dikirim ke dia, bisa Noni katakan bahwa semuanya diserahkan pada Arin. Hanya saja, Sashi meminta waktu untuk menghubungi keponakannya itu.
Noni turun ke bawah di mana semua teman-temannya sedang menonton. Noni sendiri hendak mengambil sushi dari abang gojek yang tadi dipesannya. Ia memakannya sendirian di ruang makan hingga Emil tampak heran karena sejak kepergian Sashi, Noni kehilangan napsu makan.
"Dah berhenti diet-dietannya?"seru Emil.
"Lo duduk aja di situ, ga usah ke sini, gue ga mau sharing.]
Noni tidak bercanda. Setelah mendapat kabar dari Sashi, perutnya langsung keroncongan dan senyum tidak pernah lepas dari wajahnya, Satu kotak besar sushi habis dimakan Noni dalam sekejap tanpa jeda.
"Oya, Ki, gue udah periksa file-nya Sashi di laptop. Semua yang lu perluin udah dikirim ke email, ya."
Untung saja Noni bisa langsung bertanya pada Sashi, karena kalimat-kalimat di laptopnya kebanyakan rancu.
"Oke sip! Ga enak dari kemaren banyak data sama barang endorse dan udah numpuk, nih. Besok tugas kita mulai nyicil kerja. Kamu juga, Non."
"Gue juga siap!" seru Emil.
Noni ikut bergabung, duduk di tengah-tengah teman lelakinya yang tengah mengikuti seri Game of Thrones. Suasana hatinya sedang sangat baik, sehingga ia ingin membaginya dengan yang lain.
"By the way, kalian malam ini mau makan apa? Biar gue masakin," ujar Noni berbaik hati.
"Nah gitu dong, udah lama lo ga masakin kami-kami.," jawab Revo. "Gue mau cumi jeruk nipis yang paling legend itu lah! Pake pete."
"Oke gampang. Yang lainnya?"
Sebelum ada yang menjawab, seseorang datang entah dari mana. Orang itu adalah Renata yang sedang membawa tupperware berisi masakan, "Malem, maaf gue baru datang. Nih gue bawain makan malam untuk kalian," katanya sambil menyerahkan tupperware pada Shaki.
"Apa nih, Ren?"
"Semur ayam buatan aku sama sayur dan jamur crispy."
Shaki pun menerima kotak tersebut dan langsung membawanya ke meja makan. "Yuk makan Bro, Jio... makan ga nih?"
Pria itu menurut dan berbicara pelan pada Renata sebelum akhirnya ikut makan dengan Shaki. Mood Noni yang baru saja membaik, tiba-tiba kembali buruk setelah melihat pemandangan tersebut. Namun mengingat fakta bahwa Sashi masih hidup, sebaiknya Noni tidak usah mempermasalahkan lagi.
"Duduk, Ren," ajak Noni menepuk kursi di sampingnya.
Renata dengan senang hati menurut dan bergabung bersama Noni untuk menonton.
***
Club milik Robert ternyata cukup besar dan mewah. Sashi tidak menyangka Robert sekaya itu. Namun entah mengapa pria itu meminta Sashi untuk memakai pakaian tertutup dengan tudung hoodie yang menutupi kepala.
"Pokoknya, selama lo kerja di sini, harus datang dan pulang lewat pintu belakang. Jangan pernah nganterin makanan atau minuman apa pun ke ruangan ini, oke? Lo kerja aja di dapur jangan kemana-mana," ujar Robert dengan tegas.
Sashi mengerutkan kening. "Emangnya kenapa?"
"Ga usah banyak tanya, gue yakin lo ga bakal mau tahu. Ini demi kebaikan lo juga, kok."
"Oke deh, jadi kapan gue bisa mulai kerja?"
"Karena club ini baru buka jam lima sore, jadi jam 4 lo harus udah dateng. Pulang dianterin sama si Solihin, sopir gue yang bakalan udah standby jam 4 subuh di belakang. Jangan pernah pulang pake taksi online!"
"Oke."
"Lo bisa mulai kerja besok. Kebetulan besok tanggal satu. Sekarang boleh lihat-lihat dulu bahan sama peralatan di sini, apa aja yang lo butuhin. Kalo kurang tinggal bilang aja."
Sashi pun berkeliling. Merasa takjub dengan alat-alat dapur yang canggih. "Kayaknya udah lengkap semua, Rob."
"Oke, kita makan dulu, deh sambil nunggu Made datang buat ngarahin lo cara gunain alat-alat itu. Pokoknya gue minta lo bikin dessert yang kemaren tiap hari dalam boks yang lebih kecil sama minuman apa aja yang bisa lo bikin. Nanti sore setelah Made dateng lo bisa trial dan gue akan coba semua bikinan lo dan pilih mana aja yang jadi menu."
"Oke siap!" Sashi merasa bersemangat.
Hari itu, Sashi menghabiskan waktu bersama Robert dan Made. Ternyata Made adalah sosok pria yang ramah. Umurnya mungkin di atas Sashi tujuh tahun. Dia sangat cekatan dan bisa membuat makanan yang sangat enak. Salah satunya spagheti carbonara yang sangat lezat.
Sashi pulang diantar oleh Robert jam sembilan malam. Ia langsung ke dapur untuk membuat cokelat dingin. Rupanya di sana sudah ada Jeff yang sedang menikmati kopi.
"Hai, malem. Baru makan malem, Jeff?" tanya Sashi sambil membuka pintu kulkas.
"Udah makan dari tadi."
"Sorry aku ga sempet masak hari ini, soalnya tadi mampir ke tempat kerja. By the way aku mulai kerja besok," ujar Sashi dengan senyuman lebar. Namun respon Jeff sangat dingin.
"Congrats."
"Thanks. Tapi aku tetep bisa bikinin kamu sarapan dan makan malem. Jadi ga usah khawatir."
"Hmm.. no thanks. Kamu fokus kerjaan kamu aja, soal makan saya aman, ga perlu dipikirin. Saya juga beberapa hari ke depan banyak pekerjaan yang makan waktu lama, jadi kayaknya jarang di rumah."
Sashi mengerucutkan bibir sambil duduk di hadapan Jeff. "Hmm... cottage kamu udah hampir selesai, ya? Jauh ga sih dari sini?"
Jeff memandangi Sashi yang wajahnya tertimpa sinar lampu kuning keemasan. Ia membayangkan siapa saja yang akan mendapatkan Sashi untuk dilayani. Sashi pasti sangat disukai oleh banyak p****************g.
"Iya udah hampir selesai," jawab Jeff.
"Aku boleh ga kapan-kapan mampir? Penasaran pengen lihat cottage buatan kamu," tanya Sashi sebelum menyeruput cokelat dingin dari botolnya. Namun Jeff tidak segera menjawab, hingga Sashi langsung tidak enak hati
"Oh sorry.. aku lancang banget. Aduh, ngapain juga aku sok-sok-an pengen liat."
"Its oke. Kapan-kapan saya bawa kamu sama Wayan ke sana dan nginep sehari kalo memang mau lihat."
"Yay! Thank you. Kalo gitu aku pamit tidur dulu, ya. Besok kamu mau dibikinin sarapan ga?"
"Tidak usah, kamu tidur saja. Saya juga udah ngantuk."
"Oke deh kalo gitu. Bye, Jeff!"
Sashi pun pergi dan Jeff terus memandanginya hingga ia menghilang di balik pintu. Bertanya-tanya apa sebelumnya Sashi sudah bekerja seperti ini juga? Melayani para p****************g?