Flashback

1004 Words
Jeff mempunyai alasan sendiri mengapa ia tidak menyukai wanita yang menjual diri. Ia sangat paham bahwa di luar sana banyak yang terpaksa melakukan pekerjaan tersebut, bukan atas dasar keinginannya. Tapi ia pernah mengalami hal buruk di masa lalu dan entah mengapa ketika mengetahui Sashi bergaul dengan seseorang seperti Robert membuat Jeff kehilangan respek lagi pada wanita tersebut. Bagaimanapun, Jeff tidak akan mempermasalahkannya, karena ia tidak berhak mengatur hidup Sashi. Hanya saja, ia harus membatasi diri. Ia jadi flashback hampir ke sepuluh tahun lalu, ketika pertama kali mencintai seseorang. Jeff memang sudah sering dekat dengan banyak wanita dan menjalin hubungan sejak SMA, namun dengan yang ini ia benar-benar jatuh cinta. Namanya adalah Seola, perempuan manis di kampusnya yang selalu menarik perhatian. Mereka dikenalkan oleh seorang teman dan mulai dekat ketika Jeff mengantarkannya pulang. Dua bulan setelah intens berkomunikasi via telepon, Jeff dan Seola berhubungan sebagai pacar. Hampir setiap weekend Jeff mengajak Seola kencan. Kala itu ia masih merupakan mahasiswa dan hanya mendapat pemasukan dari pekerjaan sebagai freelancer. Untuk hidup seorang diri di perantauan, penghasilan Jeff sudah lebih dari cukup. Ia bisa mengontrak rumah berdua dengan Soni, memiliki motor yang dibelinya dengan uang cash, membayar biaya kuliah sendiri tanpa mau dibantu oleh kedua orangtuanya. Menurut Jeff sikap tersebut membuatnya merasa sebagai gentleman. Hingga semakin lama, Seola semakin susah diajak pergi kencan. Pacarnya itu selalu beralasan sedang ada event bersama teman-temannya. Seola juga mulai memakai barang-barang mewah, sering menghabiskan waktu bersama teman-teman wanitanya dengan liburan di luar kota atau luar negeri. [Sorry sayang, aku lusa ada event wedding di Palembang. Next aja kita nontonnya, ya,] kata Seola via telepon kala itu. "Kemaren kamu bilang minggu ini bisa jalan. Padahal aku udah beli tiket bioskop buat lusa nanti." [Iya tapi ini event-nya dadakan. Aku ga enak kalo nolak. Minggu depan aku janji, deh.] Berkali-kali seperti itu, hingga akhirnya Jeff mendapat kiriman foto dari nomor tidak dikenal yang memperlihatkan Seola sedang bersama pria paruh baya di sebuah restoran. Lebih tepatnya restoran itu ada di dalam hotel. Awalnya Jeff manyangka bahwa pria paruh baya tersebut adalah partner atau klien dari Seola yang ingin membuat event. Namun beberapa minggu berikutnya, Jeff mendapat lagi kiriman foto lain. Kini Seola bersama pria paruh baya lainnya yang baru saja masuk ke dalam hotel saling bergandengan tangan. Kala itu Jeff tidak tahu harus berbuat apa, karena ia pun sedang sibuk mengerjakan tugas kuliah. Hingga pada akhirnya Seola menelepon dan mengaku merindukan Jeff. Mereka pun makan malam di sebuah kafe. "Kamu dari kemaren ngerjain project sama siapa?" tanya Jeff di sela-sela melahap steak-nya. "Kayak biasa, sama Marisya, Novi, Lili. Kenapa?" "Nggak ada, nanya aja. Kapan ada event lagi? Boleh nemenin kamu?" Jeff sempat melihat keterkejutan di wajah Seola meski wanita itu mampu dengan cepat menutupinya. "Ohh, nanti kukabarin deh ya. Soalnya kebanyakan aku event bareng temen-temen cewek, dan mereka pada jomblo juga, ga enak kalo aku bawa cowok." Jeff tidak banyak bertanya lagi. Suasana di antara mereka berdua pun tidak seperti biasanya. Keduanya banyak diam. Namun ketika Seola izin ke toilet, Jeff memandangi ponselnya yang tiba-tiba berbunyi dari notifikasi pesan. Jeff bukanlah tipe pria yang insecure atau posesif. Namun entah mengapa ada satu hal yang mengganjal dan nalurinya berkata ia harus memeriksa ponsel milik Seola. Benar saja, pesan tersebut sangat membuat Jeff terkejut. [La, gue udah dapet klinik buat gugurin kandungannya. Lusa aja kita ke sana gue temenin. Gue juga udah minta duit dari si Om Doddy 50jt. Banyak tuh lebihnya. Seperti biasa gue minta 40% ya.] Dada Jeff memanas, terlebih Seola dengan mudahnya ingin menggugurkan kandungan. Jeff pun pergi begitu saja dan meletakkan ponsel Seola yang memperlihatkan pesan tersebut dengan sengaja supaya Seola tahu mengapa ia pergi. Sejak saat itu Seola tidak menghubungi Jeff selama berhari-hari. Jeff pun tidak mempermasalahkan hal tersebut. Mungkin Seola sedang mencari cara untuk menjelaskan semuanya. Hingga suatu malam, pacarnya tersebut menelepon sambil menangis. Seola meminta maaf pada Jeff karena telah berbohong. Ia pun terpaksa melakukan pekerjaan tersebut karena diajak oleh teman-temannya. Seola butuh uang tambahan dan ketika sudah terjerumus, ia pun ketagihan. [Aku ada di circle yang harusin aku tetep up to date. Aku butuh liburan, butuh bergaul dengan teman-teman yang punya link bagus. Aku harus masuk ke circle orang-orang hebat. Dan ini adalah salah satu cara. Memangnya kamu bisa kasih itu semua ke aku? Selama ini aku ga pernah minta apa-apa sama kamu, Jeff. Tapi terserah, kalau kamu mau putus, aku terima. Toh aku juga ga bisa berhenti dari dunia ini.] Hubungan mereka pun putus. Sekarang setelah melihat Sashi bekerja seperti itu, kenangan tersebut muncul lagi dan entah mengapa membuat Jeff kesal. Setiap melihat Sashi, ia selalu mengingat Seola. Jadi satu-satunya cara, sebisa mungkin, Jeff harus banyak menghindari wanita yang menumpang di rumahnya itu. "Bro! Bawa dessert lagi, ga?" Soni muncul dari salah satu cottage, menghampiri Jeff yang sedang duduk di kursi santai, di bawah pohon rindang. "Nggak bawa apa-apa. Lo kan biasanya bawa bekal lengkap." "Ada tuh, kali ini dibekelin nasi goreng sama pudding. Tapi dessert yang dari lo kemaren enak banget, jadi pengen lagi. Bawa lagi, dong," ucap Soni sambil nyengir. Jeff menggeleng. "Udah ga ada lagi. Beli aja, pesen. Banyak kali di GoFood. Namanya eclaire." "Coba gue cari." Soni mulai menyalakan ponsel dan mencari menu tersebut di applikasi penyedia jasa online. "Tapi gue ga yakin bakal seenak buatan temen lo itu" "Cobain aja dulu." Sementara Soni mencari dessert, Jeff memperhatikan kembali cottage yang sudah hampir selesai. Ia menargetkan awal tahun depan semua sudah beres sehingga bisa mengajak kedua orangtuanya tahun baruan di sini. Apalagi tanggal tiga Januari adalah hari ulang tahun sang Ibu. Jeff ingin memberikan yang sangat special untuk wanita yang sangat dihormatinya itu. "Nah dapet! Semoga enak," seru Soni. "Lo dosa banget dibekelin istri sendiri malah nyari cuci mulut di luar," ucap Jeff yang membuat Soni mengikik. "Gue makan juga kok semua. Tapi ini beneran gue kayak orang ngidam. Lo sih kemaren tanggung banget cuman kasih sekotak. Mana puas! Sampe malem gue ngebayang-bayangin lagi. Plis lah minta temen lo buatin lagi yang banyak. Gue bayar gapapa dah" "Nanti lah, ga bisa kalo deket-deket ini."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD