Noni menyeret koper kecilnya ke lantai bawah. Rencana kepulangannya hari ini belum diberitahukan kepada siapapun. Ia merasa sejak kepergian Sashi, orang-orang kantor tidak sehangat dulu. Kini mereka sibuk masing-masing, berkumpul hanya sewajarnya saja, jarang ada gelak tawa hingga tengah malam sambil memainkan sebuah challenge. Noni tahu, ini disebabkan oleh isu meninggalnya Sashi. Meski begitu, sepertinya moment itu juga tidak akan terulang lagi. Semua sudah tidak sama lagi.
"Non, mau ke mana?" tanya Emil yang tengah memakan sate. ayam.
"Balik dulu gue, mau rest. Udah lama juga ga balik ke rumah."|
"Loh kan kita mau shooting buat tribute-nya Sashi.Besok siang loh, udah gue umumin di groupchat."
Noni menghempaskan diri ke sofa sebelah Emil. "Harus besok banget, ya?"
"Iyalah soon! Kalo kelamaan keburu basi. Kita harus cepet-cepet shooting buat ngehormatin kepergian Sashi. Si Shaki semalem udah upload konten kita yang kemaren di Laut jawa dan viewersnya udah sejuta lebih sekarang. Pokoknya semua konten mengenai kepergian Sashi, duit profitnya kita pake buat amal. Tadinya gue mau minta tolong lo buat cariin panti asuhan atau cari tahu tentang warga yang butuh bantuan apa kek."
Mau tidak mau, Noni menurutinya. "Hmm.. oke deh."
"Tapi kalo lu mau balik duilu ke rumah hari ini ya gapapa. Besok dateng lagi tapi ke sini."
"Eh by the way, Mil, gue mau ngomong sesuatu sama lo, penting. Soal royalti atau profit di kantor ini. Ni kantor kan udah dikontrak lima tahun pake duitnya Sashi, terus barang buat keperluan kerja juga kebanyakan punya dia, Otomatis penghasilan kita, ada bagian Sashi juga, dong. Nah itu kita kirim kemana?"
"Ya ke babehnya lah, ke siapa lagi."
Noni memikirkan hal tersebut semalaman. Ia tidak mau uang itu jatuh ke tangan ayahnya Sashi, karena pasti akan dinikmati oleh ibu dan adik tirinya yang menyebalkan itu. Sementara Sashi sendiri masih hidup dan membutuhkan uang juga.
"Bisa ga kalo misalkan uang itu kita kasih ke pihak lain. Ponakannya, misalkan."
"Si Arin itu? Ya bisa aja, sih. Cuman kan yang lebih berhak ya bapak kandungnya yang masih hidup. Kita ga bisa seenaknya ngelangkahin beliau. Harus ada alasan kenapa yang dapetin harus si Arin ini."
"Gue punya alasannya," ujar Noni setengah berbisik.
"Apa tuh?"
"Rekaman telpon gue sama Sashi beberapa bulan lalu. Gue baru inget, dia pernah bilang pengen nyusul mendiang ibunya saking dia kangen. Terus dia iseng-iseng deh nyebutin harta warisannya bakalan jatoh ke siapa seandainya dia mati muda. Dan dia bilang, dia pengen kasihin sama ponakannya yang paling dia sayangin dan udah dianggep kayak adek sendiri. Si Arin itu kan dari balita udah deket sama Sashi, jauh lebih deket daripada si Dixie."
"Mana rekamannya?" tanya Emil penasaran.
"Nah itu dia, gue lupa naronya di mana. Nanti gue coba ubek-ubek dulu di galeri deh ya. Tapi kalo ketemu, bisa kan kalo royaltinya jatuh ke tangan Arin. Sahi ga mikirin bapaknya karena bapaknya kan punya banyak duit.
Emil mengangguk. "Ya bisa aja, sih. Yaudah cari aja dulu rekamannya, nanti biar gue tanya ke temen gue yang pengacara, itu hukumnya gimana."
"Oke, nanti gue kabarin kalo rekamannya udah ketemu."
***
Sashi baru saja sampai di klub ketika Noni menelepon. Temannya itu tiba-tiba menyuruh Sashi untuk merekam tentang harta warisan yang ia jatuhkan kepada Arin, keponakannya. Sashi yang sedang hectic memakai apron dan perlengkapan chef, masih tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Noni.
"Ini soal duit lo, Saaashi.iii. Lo kan di sana butuh duit juga, ga bisa ngandelin gaji dari kerja sebagai chef. Apalagi hidup di Bali mana enak megang duit segitu! Sementara royalti lo di sini masih ngalir. Jangan sampe itu royalti jatuh ke tangan adek tiri lo yang nyebelin. Emang lo mau?"
"Ya kagak lah. Terus caranya gimana? Gue pura-pura ngobrol sama lo di telepon, terus lo rekam gitu?"
"Iya, gue tadi bilang ke Emil kalo beberapa bulan lalu kita pernah telponan ngebahas soal warisan."
Noni menceritakan kepada Sashi tentang apa yang disampaikannya pada Emil siang tadi."Jadi sebaiknya besok sepulang lo kerja atau pas lo bangun tidur, kita telponan buat ngerekam."
"Bentar bentar... terus gimana sama si Arin. Otomatis nanti Emil atau bokap gue nanyain ke Arin dong kalo duit itu beneran dikasihin ke dia."
"Nah ini masalahnya. Jalan satu-satunya, kita harus kasih tahu Arin kalo lu masih hidup. Tuh anak bisa dipercaya, kan?"
Tentu saja Arin bisa dipercaya. Sashi mengenalnya lebih dari siapapun. Arin juga sering ia stalking akun instagramnya. Sashi tahu, bahwa keponakannya itu sempat drop paska kabar berita kematian dirinya. Empat hari berturut-turut, Arin juga menggugah foto Sashi dengannya di story dengan kata-kata yang menyentuh. Sejak saat itu juga sampai detik ini, Arin tidak pernah memperbarui feed Instagramnya.
"Iya, dia bisa dipercaya. Tapi gimana cara kasitaunya? Gue hubungin dia sama kayak ke lo waktu itu?"
"Jangan, nanti dia syok pulak kayak gue. Gini aja, mending gue yang ngajakin dia ketemuan dan kasih tahu pelan-pelan. Mungkin tar malem gue telpon dia deh. Nanti gue kabarin lagi perkembangannya, ya."
"Oke deh urus aja. Thanks ya, Non. Sampe mikirin sejauh itu."
"Anytime. Ya udah, sorry udah ganggu waktu kerja lo. Lanjut deh," ujar Noni.
"Okesip. Bye, Non."
Telepon pun terputus. Sashi langsung mengenakan hat cook. Sejak pertama kali bekerja, ia selalu menggunakan masker, karena tidak ingin orang lain mengenali wajahnya. Untungnya, kegiatan di sini cukup hectic, hingga sangat jarang ada waktu untuk bersantai atau sekadar mengobrol. Mora, asistennya, sempat meminta Sashi menurunkan masker karena penasaran dengan wajahnya. Namun Sashi berkilah bahwa dirinya sedang berjerawat dan tidak pede jika harus memperlihatkannya pada orang lain.
"Padahal kakak keliatannya cantik," kata Mora saat itu.
Sashi hanya bisa tertawa dan berterimakasih. Ia juga mulai menghindari pergi siang hari. Entah mengapa dulu Robert bisa mengenalinya padahal ketika itu Sashi mengenakan masker dan tudung hoodie. Apalagi mereka sudah tidak bertemu selama bertahun-tahun. Kemarin Robert mengatakan bahwa ia sangat mengenali gesturenya, cara berjalan atau yang paling kuat adalah mata dan alisnya yang tajam. Mendengar itu, Sashi jadi berencana untuk mengenakan kacamata juga jika pergi keluar seorang diri dan mengubah caranya berjalan.
"Kak Sashi, kok ngelamun?" tanya Mora yang tiba-tiba sudah berdiri di sampingnya.
"Eh, kamu udah dateng. Sorry pikiran aku lagi kemana-mana."
"Aku dari tadi manggil kakak sampe tiga kali."