The Secret

1008 Words
Sejak dahulu kala, kawasan Dago menjadi salah satu tempat favorit bagi muda mudi Bandung untuk hangout atau sekadar nongkrong di kafe-kafe pinggir jalan. Tidak terkecuali bagi para staff House of Skills yang selalu meluangkan waktu untuk makan malam di kawasan Dago setiap malam minggu dan mencari tempat outdoor. Biasanya mereka akan nongkrong di situ selama berjam-jam sambil memandangi keramaian jalan atau menonton live band. Malam ini, Noni duduk sendirian di salah satu kafe langganannya. Hari biasa kawasan ini tidak seramai di kala weekend, namun lebih bagus begitu karena ia hendak berbicara serius dengan Arin, keponakannya Sashi, yang diundangnya untuk datang. Sambil menunggu, Noni lebih dahulu memesan nasi goreng dengan topping beef yang pedas dan segelas iced cappuccino karena sedari siang belum makan. Ia memilih duduk di lantai dua outdoor paling pojok sambil menikmati music jazz. Ketika nasi gorengnya sudah hamper habis separuh, Arin terlihat datang mengenakan cardigan berwarna cokelat dengan ripped jeans hitam, rambutnya yang berwarna cokelat tua dicepol. Jika dilihat sekilas, perawakan Arin memang mirip Sashi. Mereka benar-benar bagaikan adik kakak kandung. “Hai, Kak Noni. Apa kabar?” sapa Arin sambil mengulurkan tangannya. “Hey, baik! Kamu pake apa ke sini?” “Dianterin temen barusan, tapi dianya udah balik lagi.” “Oh iya… mau pesen apa, by the way?” Nih pilih aja,” kata Noni sambil menyerahkan buku menu. “Aku mau minum cokelat panas aja deh, Kak. Tadi udah makan juga soalnya.” “Oh okee.” Noni menjentikkan jari untuk emmanggail pelayan dan segera memesan cokelat panas untuk Arin. Di sekitar mereka hanya ada dua meja yang terisi dan jaraknya juga lumayan jauh, sehingga Noni bisa berbicara dengan leluasa. Sambil menghabiskan nasi gorengnya, ia memikirkan harus mulai dari mana. Otaknya tiba-tiba blank, padahal sedari tadi ia sudah merangkai kalimat untuk disampaikan kepada Arini. “By the way, kemaren kenapa kamu ga ikut tabur bunga?” tanya Noni basa basi. “Pengennya sih, Kak. Tapi ga diajakin sama Om. Lagian aku juga lagi banyak banget tugas kuliah yang ga bisa ditinggalin. Dulu kak Sashi sering wanti-wanti aku untuk selesein kuliah dengan cepet, jangan sampe tugas terabaikan, jangan bolos. Jadi aku mau nurutin apa kata Kak Sashi aja. Kalo soal tabur bunga, kapan aja bisa aku lakuin, yang penting doa buat dia terus aku panjatkan.” Noni tersenyum. “Dia passti seneng kalo denger kamu kayak gitu.” “Paling dia godain aku, ‘tumben kuliahnya bener!’” Mereka pun tertawa, tepat saat seorang waiters mengantarkan cokelat panasnya. Arin menyeruput minuman tersebut sedikit demi sedikit untuk menghangatkan badan, sementara Noni berusaha membersihkan tenggorokan sebelum mulai menyampaikan apa yang akan ia beritahu pada Arin. “Uhm… Rin, menurut kamu… bisa ga sih orang pergi-pergian pake pesawat, tapi dia pake identitas orang lain? Misal nih yaa, akum au pergi keluar kota, tapi karena identitas aku ilang, sementara aku lagi urgent banget harus pergi, bisa ga aku pake identitas kamu?” “Emangnya Kak Noni mau pergi kemana?” “Oh nggak, ini misalkan aja. Menurut kamu bisa, ga?” Arin tampak berpikir sebentar. "Ya bisa ajaa kalo foto KTP orang yang kita pinjem lumayan mirip sama kita." Noni mengangguk lalu memberi jeda sebentar. "Hmm... kamu pernah kepikiran ga kalo ternyata ada yang pake identitasnya Sashi buat terbang pake pesawat?" Mulut Arin tiba-tiba membentuk huruf O. "Wahh... ya bisa aja, hahahaha... seandainya begitu." "Kalo emang kayak gitu?" Arin tersenyum, menganggap Noni belum ikhlas menerima kepergian Sashi. "Kalo emang kayak gitu, Kak Sashi pasti ngehubungin kita buat kasih tahu kalo dia masih hidup, dia pasti ga mau bikin orang-orang terdekatnya khawatir," jelas Arin. "Sebaiknya kita ga usah berandai-andai, Kak. Kak Sashi sekarang udah tenang, mending kita doain aja supaya arwahnya tenang. Meskipun ga ditemukan jenazahnya, dia pasti akan merasa hangat kalau kita terus berdoa buat dia." Noni tertawa singkat. "Masalahnya,aku ngomong kayak gini, karena aku emang dihubungi Sashi kalo dia masih hidup," kata Noni setengah berbisik. Kini Arin hanya mematung sebentar. Ia takut Noni sebegitu depresinya hingga mengalami delusional. "Dia hubungin kakak dimana? "Di telepon. Sekarang dia masih di Bali. Kenapa dia ga kasih tahu orang lain selain aku, karena dia kemaren ada masalah yang lumayan besar. Nah, sekarang kami mutusin untuk kasih tahu kamu, karena kamu lagi butuh bantuan kamu banget." "Bantuan apa?" Meski sama seklai tidak percaya, Arin tetap mengikuti alur Noni. Sebelum melanjutkan pembicaraannya, Noni memandangi Arin dengan saksama. "Kamu ga percaya, kan, apa yang aku omongin barusan? Kamu pasti anggep aku gila." Arin tiba-tiba menggoyangkan kedua tangannya. "Ohh.. nggak, nggak.. lanjutin aja, aku dengerin, kok." "Okey, asal kamu tahu aja, ini aku ga bohong, ga ngada-ngada dan aku ga gila. Aku serius, Sashi masih hidup dan dia dalam keadaan baik-baik aja. Kenapa dia ga ngabarin semua orang, karena dia pengen sendiri dulu setelah ada masalah sama Jio waktu liburan kemarin. Dia juga lagi dalam suasana hati ga bagus buat berhadapan sama keluarganya di rumah. So, dia memutuskan untuk healing di tempat baru, sebagai orang asing." "Terus yang pake identitas Kak Sashi siapa?" Arin mencoba untuk mempercayai Noni, karena dari sorot matanya, Noni tampak serius dan ingin membuat Arin mempercayainya. "Orang yang nyuri tasnya dia. Tas Sashi dicuri sama cewek asing. Semua ponsel, identitas, ATM dan kartu kredit semuanya ilang." Noni menceritakan semua yang dialami Sashi beberapa minggu lalu dan bagaimana ia sendiri syok ketika tiba-tiba Sashi menghubunginya. "Reaksi aku sama persis kayak kamu tadi. Ga percaya dan syok. Nah, sekarang kami mutusin buat kasih tahu kamu, karena Sashi ga mau barang-barang dia atau royalti dari House of Skills jatuh ke tangan Dixie. Sementara dia sendiri lagi butuh uang tambahan, karen sekarang Sashi numpang di rumah orang asing dan baru mulai kerja sebagai chef di sebuah klub." "Bentar bentar... kakak bisa hubungin aku sama Kak Sashi sekarang juga?" tanya Arin ingin secepatnya melihat bukti. "Kamu mau video call sama dia?" tanya Noni serius. Kini Arin merasa bulu kuduknya merinding ketika Noni mulai mengambil ponsel dan menghubungi seseorang. Setelah terdengar video call tersebut diterima, Noni menyerahkan ponselnya pada Arin. Di situlah Arin melihat Sashi sedang bersandar di tempat tidur mengenakan piyama. Seketika Arin pun menangis.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD