Attention, Please!

1008 Words
Sashi harus menunggu selama lima menit sampai Arin meredakan tangisnya. Ia tidak tahu bagaimana cara Noni menyampaikan tentang dirinya pada keponakan kesayangannya tersebut. Padahal, Sashi sudah memberitahu agar Noni memberitahunya pelan-pelan supaya Arin tidak syok. Namun untunglah, Arin bisa segera menstabilkan emosinya. Ia juga berjanji akan merahasiakan tentang keberadaan Sashi saat ini. Selain itu, Arin menyetujui jika dia menjadi perantara untuk menerima royalti Sashi dari House of Skills. [Terus kakak kapan pulang ke Bandung?] "Belum tahu, untuk saat ini kakak masih pengen sendiri dulu. Kalo kamu udah selesai ngerjain tugas kuliah, dateng aja ke sini." [Kakak sama Bang Jio putus?] tanya Arin. Noni beum memberitahu masalah hubungan Sashi dan Jio. "Emang ga ada omongan putus, tapi kakak udah anggap hubungan kami berakhir. Ceritanya panjang, minta Noni jelasin sama kamu aja, ya. Kakak lagi ga mau bahas soal mereka, soalnya." [Oke, Kak. Ya udah kalo gitu. Kakak mau istirahat? Aku boleh save nomor kakak?] "Iya nih mumpung hari ini libur pengen tidur lama. Biasanya jam segini kerja sampe subuh. Save aja nomor kakak, tapi pake nama lain." "Oh okee... ya udah kakak istirahat, deh. Nanti kita lanjut ngobrol lagi. Love you, Kak, jaga kesehatan di sana, ya.] Telepon pun terputus. Arin meraih kotak tissue dan mencabutnya beberapa lembar untuk menghapus jejak air mata. Ia sama seklai tidak menduga bahwa Sashi masih hidup. Seakan semuanya mimpi. Namun di sisi lain, ia sangat beryuskur, karena Sashi merupakan sosok panutannya. Ia perempuan hebat yang mandiri dan kuat, serta mampu membuat orang lain merasa nyaman jika bercerita padanya, terkhusus bagi Arin. Arin juga tahu masalah di rumah Sashi yang banyak drama. Ia sendiri sangat membenci Dixie yang seumuran dengannya juga ibunya yang terlalu banyak gaya. "Kak Non, maaf ya kalo tadi awalnya aku ngira Kak Non bohong. Aku kira Kak Non lagi delusi saking sedihnya kehilangan kak Sashi," kata Arin benar-benar merasa tidak enak hati. Namun Noni hanya tertawa karena ia juga sudah menduganya sedari awal. "Its oke... aku tau kok reaksi kamu bakalan kayak gimana. Malah waktu aku pertama kali dapet inbox dari Sashi, aku malah marahin dia karena nganggap dia orang gila atau orang jahil." "Hehehe... by the way makasih banget udah kasih tahu aku." Tadi Sashi menceritakan bahwa Noni yang mengusulkan untuk memberitahu Arin. "Nanti kalo ada urusan soal kantor kabarin aku aja ya, Kak." "Iya siaap... makasiih juga udah mau bantuin Sashi." "As i should. Pokoknya kalo ada apa-apa hubungin aku aja, ga perlu sungkan. Oh by the way kayaknya au ga bisa lama-lama karena masih ada tugas yang harus dikerjain. nanti tolongin kirimin kontak Kak Sashi aja lewat chat ya, Kak." "Oh boleh.. kamu balik ke mana? Biar aku aja yang anter." "Ga usah, Kak, temen aku yang tadi mau jemput lagi kok. Nih kayaknya dia udah ada di bawah juga. Aku pergi sekarang ya, Kak" Arin berdiri dan melakukan cipika cipiki dengan Noni. "Oke, Rin, hati-hati yaa... kabarin kalo udah nyampe rumah." Kini Noni sudah sangat lega. Rencananya berhasil dengan mulus. Ia tidak akan membiarkan Dixie mengambil barang-barang milik Sashi *** Noni kembali ke kantor House of Skills untuk menyerahkan rekaman suara Sashi tentang harta warisan. Kebetulan, ternyata di sana sudah ada Dixie yang masih saja tidak kapok berada di samping Wiggy. Noni mengesampingkan rasa cemburunya dan langsung duduk dekat Emil, berhadapan dengan Wiggy dan Dixie. "Malem semuanya,"sapa Noni begitu emmasuki ruangan. "Hai, Kak Non!" jawab Dixie SKSD "By the way aku tadi nyimpen barang di kamarnya Kak Sashi. Malem ini aku mau nginep di sini, soalnya besok mau ikut Syuting sama kak Wiggy." "Oh," jawab Noni singkat. "Oya, mumpung lagi pada ngumpul, aku mau kasih liat rekaman aku waktu ngobrol sama Sashi di telepon beberapa minggu lalu. Jio mana, ya? Dia juga harus denger." Emil pun memanggil Jio di kamarnya. Setelah semua orang yang berkepentingan hadir, begitupun dengan Wiggy dan Emil sebagai saksi, Noni memperdengarkan suara Sashi dan dirinya yang sebenarnya baru direkam tadi pagi. Terdengar suara Sashi dan Noni sedang mengobrol membahas project beberapa bulan lalu dan mendapat fee yang lumayan banyak hingga tercetus soal warisan. "Lo mau kasih ke siapa kalo lu mati muda?" tanya Noni di rekaman itu. "Aduh sama siapa, ya? Bingung gue. Hahahah menyedihkan, literally gue ga punya siapa-siapa banget. Sodara yang paling deket sama gue itu cumanArin, kita udah kayak temenan, malah sering dibilang adek kaakk kandung kalo jalan bareng. Jadi berhubung bokap gue hartanya udah banyak, tanah dimana-mana, tabungan punya, investasi ada, mungkin gue dengan senang hati kasih warisan gue buat Arin. Dia juga lagi butuh biaya kuliah dan papanya lagi stroke, udah lama ga bisa kerja." "Semuanya?" "Yaps, semuanya. Kecuali barang-barang gue di House of Skills yaa bisa dipake sama kalian selama HoS masih aktif. Kalo udah ga aktif, baru deh itu haknya Arin lagi." Rekaman berakhir dan semua di ruangan itu mengangguk perlahan, kecuali Dixie yang tampak tidak nyaman. "Itu rekaman kapan?" tanya Dixie. "Beberapa bulan lalu, abis nyelesein project yang kerjasama sama BUMN, denger kan tadi kita bahas project itu? Yang pasti, ini bisa jadi bukti kuat kalo Sashi pengen semua apa yang dia punya dikasihin ke Arin termasuk royalti dari House of Skills. Itu permintaan terakhir dia dan kita harus bantu ngerealisasiin." "Ya ga bisa semua dong, aku kan adiknya yang satu rumah sama dia. Kalo bisa nanti aku bawa papa sama mamaku ke sini deh buat clearin semuanya. Jangan dulu kasih tahu Arin, papaku kan lebih berhak." "Tapi Sashi maunya Arin yang terima semuanya, gimana dong?" "Lagian kita gatau kalo itu obrolan serius atau nggakAku ga masalah Arin dapet bagian warisan dari Kak Sashi, tapi ga semuanya juga. Bahkan mamaku lebih berhak karena dia punya andil ngurusin Kak Sashi waktu sekolah dulu. Yang bikin saraspan, bangunin tidur, segala macem. Mama pasti sedih kalo Sashi lupa gitu aja sama jasanya. Ini bukan soal duit, ya, tapi harusnya Sashi bisa menghargai apa yang udah mama lakukan buat dia." Noni sangat geli mendengar itu semua sehingga dia tidak bisa berkata-kata lagi. "Ya udah bawa aja mama papa kamu ke sini, aku juga mau bawa pengacara buat jadi mediatornya. Yang jelas aku pengen memenuhi keinginan Sashi yang terakhir."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD