Taking Care

1056 Words
Biasanya Bu Putu pulang jam lima sore, namun kali ini ia baru keluar rumah Jeff sekitar jam tujuh malam, setelah memastikan jika majikannya itu sudah tidak muntah-muntah lagi dan sudah bisa makan meskipun hanya beberapa suap. Kini Jeff sedang tertidur dan Sashi memutuskan untuk stand by di ruang tengah. Ia membawa bantal dan selimut. “Nanti jam Sembilan kalo bisa bangunin aja Pak Jeff-nya. Dia orangnya ga susah dibangunin, kok. Terus paksa minum obat, ya,” kata Bu Putu berpesan. “Oke, Bu, ga perlu khawatir. Aku stand by kok. Bu Putu pulang aja, nanti kemaleman. Kasian juga neneknya Wayan nungguin.” “Maaf loh jadi merepotkan kamu.” “It’s oke. Nanti kalo ada apa-apa aku WA ke Wayan, ya.” “Iya, tolong kabarin aja. Besok Ibu datang ke sini lebih pagi.” “Siap, Bu.” Sashi mengantar Bu Putu sampai ke depan gerbang. Di luar sedang sangat berangin dan udara cukup dingin. Sepertinya memang karena sedang perubahan cuaca, itu sebabnya Jeff jatuh sakit. Sashi kembali memasuki rumah dan memilih buku di lemari Jeff untuk dibaca. Di sana terdapat novel historical yang sepertinya bagus. Sashi pun memilih novel tersebut untuk menemani waktu malamnya. Ketika sedang asyik membaca, teleponnya berdering. Noni menelepon. [Halo, Sashi. Lo libur kan hari ini?] tanya Noni begitu teleonnya diangkat. [Kok lu hapal banget sih jadwal gue?] [Iya dong kan gue catet. Gue cuman mau lapor nih… tadi gue berantem sama si Renata.] Sashi berdecak. [Berantem kenapa lagi sih kalian?] [Soal utang lo itu lah! Tadi gue tanyain lagi sama dia mutase rekeningnya, terus dia kesel. Kali ga bisa buktiin, makanya bilang mau ikhlasin aja utang lo. Enak aja! Itu sama aja, dia udah bikin rumor, fitnah kalo lu punya utang, terus lepas tangan biar ga ketauan bohong, sementara nama lo juga ga bersih.] [Terus kalian berantem gimana? Jambak-jambakan?] [Nggak lah! Gue sempet berdiri di depan dia dan dorong bahunya. Dari situ si Shaki mulai misahin dan si Renata kabur ke kamarnya Jio. Sorry to say that, tapi gue beneran kesel banget sama dia, kayak yang ga punya malu.] [It’s oke. Kabar bagusnya, gue ga ngerasa sakit hati denger itu. Mau Renata masuk ke kamarnya Jio, mau Renata mesra-mesraan di ruang publik, atau mau mereka married pun, gue bener-bener ga masalah. Hati gue kayaknya udah bisa nerima dan itu artinya rasa gue buat Jio bener-bener udah ilang.] Noni mengangguk. [Bagus deh kalo gitu. Malah gue yang ga bisa nerima, secara mereka ngelakuin itu di depan mata gue. Artinya gue ngerasa ga dihargain sebagai sahabat lo, Sas. Beneran ga ada otak sih mereka.] [Karma is on the way, you don’t have to worry.] [Aamiin,] jawab Noni penuh pengkhayatan. [ya udah gue mau baca buku dulu. Nemu buku bagus nih di rumahnya Jeff.] [By the way lo keknya ga pernah cerita soal si Jeff ini deh. Gue cuman tahu namanya doang dan bahwa dia itu si pemilik rumah. Orangnya kayak gimana sih? Bapak-bapak? Anak muda? Udah beristri?] Sashi tertawa singkat. [Jeff kayaknya umur sekitar awal 30an, belum nikah tapi udah punya pacar. That’s all.] [Ganteng? Fotoin diem-diem dong.] [Husshh!! Ogah. Udah deh yaa… gue mau nyantai. Bye!] Sashi menutup telepon sebelum Noni menggali informasi lebih dalam darinya. Sashi takut tidak bisa menahan diri untuk menceritakan kejadian malam itu. Lagi pula itu suatu hal yang memalukan. Aib. Karena sama saja sikap Sashi persis seperti Renata. Sashi tidak mau menjadi orang ketiga. Ia tidak mau mengambil pacar orang. *** Meskipun AC sudah dimatikan, tetap saja seluruh badannya menggigil. Jeff menarik selimutnya hingga ke bawah dagu. Kadang ia merintih dan giginya bergemeletuk. Jeff memandangi jam dinding, yang menunjukan pukul 8.55 dan ia merasa kehausan. Setelah mengumpulkan niat untuk memaksakan diri pergi ke dapur, seseorang membuka pintu kamar. Sashi tampak membawa baki dan tersenyum padanya. “Hey, kamu udah bangun dari tadi? Aku bawain makan sekalian minum obat, ya.” [Bu Putu udah pulang?] [Iya, tadi dia pulang jam tujuh pas kamu tidur.] Sashi meletakkan bakinya di atas nakas. [Kamu bisa bangun, ga?] Jeff mengangguk. Sashi mengambil thermometer di atas nakas, lalu menyuruh jeff untuk membuka mulutnya. Seperti anak kecil, Jeff pun menurut. Ternyata demamnya kembali tinggi. 39 derajat celcius. “Ini tadi dokternya ga nyuruh kamu dirawat?” “Dia sempet nawarin, tapi aku pikir ga perlu.” “Kenapa? Kamu kan tinggal sendirian di rumah. Kalo di rumah sakit kana da dokter yang siaga 24 jam. Makan sama obat kamu juga diatur. Nah, sekarang karena kamu pilih untuk stay di rumah, mau gam au harus nurutnya sama aku. Ini kamu bisa makan sendiri atau mau aku suapin?” Jeff melihat sup itu. Ia bersyukur karena memang sedang menginginkan makanan berkuah. “Aku coba sendiri dulu. Ini kamu beli?” “Nggak, aku bikin sendiri pake jahe supaya badan kamu anget.” Dengan tangan gemetar, Jeff menyuapkan sup tersebut ke dalam mulutnya. Rasanya enak sekali. Sashi benar-benar jago memasak. “Kamu keberatan kalo aku suapin? Supnya tumpah-tumpah gitu.” “Nanti kamu repot,” jawab Jeff. “Aku udah repot dari tadi, kali. Sini.” Sashi mengambil alih mangkuknya dan mulai menyuapi Jeff dengan sabar sambil bertanya-tanya bagaimana Jeff bisa langsung drop seperti itu. Semua obrolan dan interaksi mereka tampak alami, tidak ada rasa awkward sedikitpun. Hingga Jeff tidak sadar bahwa supnya sudah habis. “Oke, sekarang kita minum obatnya.” Sashi membuka seluruh obat di dalam plastik. “Mau diminum satu-satu atau sekaligus semua?” “Semua aja,” jawab Jeff sambil mengulurkan tangan. Ia memasukkan obat berjumlah empat butir ke dalam mulutnya, lalu Sashi membantu ia untuk minum dalam gelas. “Oke, good. Sekarang kamu istirahat lagi. Aku ambil kain dulu buat kompres, ya. Tapi inget, kalo sampe kamu ngerasa lebih ga enak, panggil aku aja. Pintu kamar kamu aku buka, aku ada di ruang tengah, jadi pasti kedengaran kalau kamu manggil.” Lagi-lagi Jeff hanya mengangguk. Sashi pergi ke dapur, lalu kembali ke kamar dengan membawa baskom kecil berisi air, juga handuk. Ia memeras handuk tersebut, lalu ditempelkan ke keningnya Jeff. “Masih kedinginan banget?” “Iya, tapi lumayan setelah makan sup.” Sashi mengangguk. Ia lalu melangkah ke ujung tempat tidur, lalu membuka selimut yang menutupi kaki Jeff. Sashi mulai menggosokan kedua telapak tangannya hingga mengeluarkan panas, lalu menggenggam telapak kaki Jeff dengan lembut. Seketika Jeff menggeram saking enaknya. Tangan Sashi langsung memberi kehangatan dari ujung kaki ke seluruh tubuh.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD