Sudah hampir enam jam Noni, Revo dan Jio berada di studio untuk take vokal lagi yang mereka kerjakan dari jam satu dini hari. Aransemen sudah diisi dengan semua alat musik, hanya tinggal mengganti vokal yang kemarin dengan lebih serius. Beberapa lagu ciptaan Revo dan Jio sudah mulai banyak digandrungi karena mempunyai lirik yang unik dan relate dengan anak-anak muda zaman sekarang, musik yang easy listening juga suara Noni yang enak didengar. Lagu yang mendapat viewers terbanyak adalah ciptaan Jio berjudul 'Cinta Rock n Roll' yang sudah ditonton sebanyak dua juta kali. Jio berharap, lagu terbaru ini bisa menghasilkan viewers yang lebih banyak.
Ketika Noni menyelesaikan bagian setelah interlude, Jio mendengarkan hasilnya sambil memejamkan mata. Noni tahu, temannya itu sangat perfectionist dalam hal musik. Waktu pertama kali ia bergabung di House of Skills, Jio benar-benar menggojloknya. Selama dua hari berturut-turut, Noni take vokal satu lagu selama berulang-ulang karena Jio tidak puas dengan tarikan nada yang ia buat. Pria itu sampai membangunkan Noni pada jam dini hari supaya menghasilkan suara yang serak. Noni sempat menangis saat mengadu pada Sashi. Sashi memarahi Jio dan akhirnya Jio meminta maaf, namun diakhiri dengan kata, 'Kalo kamu ga kuat, sebaiknya ga usah. Konten kita memang belum rame dan terkenal, tapi aku pengen totalitas, jadi aku juga butuh partner yang juga mau totalitas'.
Noni sempat memikirkan perkataan itu selama satu minggu saat ia pulang ke rumahnya untuk memikirkan ulang keputusannya. Ia pun melihat cara bekerja semua orang di House of Skills. Jio dan Revo kadang hanya tidur dua jam sehari jika sedang mengerjakan lagu yang baru mereka ciptakan, lalu Sashi yang mati-matian mencari sponsor dan mengorbankan pendidikan demi menyeriusi pekrjaann impiannya, Shaki yang selalu bergadang dengan mata yang tertuju pada layar laptop demi mengedit konten supaya lebih menarik, Emil yang memaintain waktu mereka, atau Wiggy yang membantu dana dengan menerima endorse berbagai barang branded.
Akhirnya setelah meditasi selama berhari-hari, Noni memutuskan untuk menjadi bagian dari House of Skills. Mereka benar-benar memulainya dari nol. Sementara Renata datang ketika nama House of Skills sudah lumayan dikenal.
"Non, yang sesudah interlude ini, bisa take ulang lagi, ga? Suara lo kurang rendah, kurang mengawang-awang gitu. Atau mau break dulu?" tanya Jio.
"Gue makan dulu bentar deh, ya."
"Oke, ya udah kita makan dulu semua. Rev, lo juga makan dulu."
Revo mengangguk sambil meletakkan gitarnya di stand. "Makan apa kitaa?"
"Bentar gue cek dulu di kulkas ada apaan," kata Noni. "Kalo isinya mengkhawatirkan, kita pesen GoFood aja."
Noni membuka kulkas dan hanya mendapati beberapa butir telur dan sayuran sisa kemarin. Beberapa hari lalu, seluruh staff House of Skills sempat meeting membahas kontrak kantor yang akan berakhir bulan depan. Tentu saja mereka akan memperpanjang kontraknya dan berencana membayar untuk tiga tahun. Maka dari itu, Noni meminta mereka untuk lebih giat bekerja dan menbaung sebagian hasilnya. Salah satu berhemat menurut Noni adalah soal makanan. Ia dan Emil akan bergantian memasak daripada memesan online yang jatuhnya berkali-kali lipat mahal.
“Guys, cuman ada telur sama sayur. Gue bikin frittata aja, ya. Pake sambel mercon buatan gue pasti enak, deh.”
“Fritata apaan?” tanya Revo.
“Liat aja nanti.”
***
Suara gerbang yang dibuka membangunkan Jeff dari tidurnya. Ia merasa sudah tidak meriang lagi dan rasa mualnya sudah hilang. Namun ia merasa kehausan. Di meja sebelahnya ada gelas berisi air putih yang ditutup. Ia menduga Sashi yang menyediakannya. Sementara pintu kamarnya masih terbuka. Karena merasa sudah kuat, Jeff bangkit dari tempat tidur dan berjalan keluar.
Hal pertama yang ia lihat adalah Sashi yang tertidur di sofa dengan badan yang ditutupi selimut dan sebuah buku terbuka di atas tubuhnya. Jeff mengambil buku tersebut yang merupakan novel milik sang Ibu. Ibunya memang hobi membaca novel romance, terutama historical. Setelah menyimpannya di meja, ia menarik selimut untuk menutupi kaki Sashi, karena udara masih dingin.
Dari arah belakang, terdengar suara pintu yang dibuka. Bu Putu sudah tiba. Padahal waktu masih menunjukkan pukul tujuh pagi. Jeff pun pergi ke arah dapur untuk menemui asisten rumah tangganya tersebut.
“Loh, Pak Jeff sudah bangun? Gimana keadaannya?” tanya Bu Putu sambil melepas sandal.
“Saya udah enakan, Bu. Ini baru aja bangun.”
“Oh syukurlah kalau gitu. Semalam masih muntah-muntah lagi? Apa amsih demam?”
“Udah ga muntah. Semalam saya tidur nyenyak setelah makan sup buatan Sashi. Bangunnya jadi segeran, mungkin berkat obat juga,” jawab Jeff tanpa memberitahu bahwa ia bisa tidur karena pijatan Sashi di telapak kakinya. Dengan kehangatan dan kelembutan tangan wanita itu, Jeff akhirnya terlelap.
“Berarti obatnya manjur! Ga sia-sia Pak Jeff bayar doketnya mahal buaanget. Kalau gitu saya bikini sarapan dulu, terus bapak minum obat lagi, supaya lekas pulih.”
“Uhmm.. coba liat Sashi semalam bikin sup. Kalo masih ada, panasin itu aja, Bu,” kata Jeff sambil mengambil gelas dan mengisinya dengan air putih.
Bu Putu pun berjalan kea rah kompor dan membuka panic yang ada di atasnya. “Oh masih ada nih, Pak Jeff. Mau dipanasin aja?”
“Iya panasin, sekalian gorengin saya emping dong, Bu.”
“Oh siap!” jawab Bu Putu penuh semangat. “Ngomong-ngomong, Sashi udah balik ke kamarnya? Apa semalam dia jagain Pak Jeff?”
“Ada tuh masih tidur di ruang tengah. Ga usah dibangunin, kasia masih nyenyak.”
“Ya nggak dong, Pak. Kan saya yang nyuruh Sashi nemenin Pak Jeff. Kalau saja ibu saya ga dateng ke rumah, tentu saya yang jagain.”
“It’s oke.”
Jeff meminum air putihnya. Ia belum mau meminum kopi karena takut lambungnya masih belum begitu kuat. Sambil menunggu Bu Putu menghangatkan sup, Jeff membuka ponsel untuk memberitahu Franky bahwa ia belum bisa pergi ke cottage lagi. Tidak lama setelah pesan tersebut terkirim, Franky langsung meneleponnya.
[Woy, Bro! Saki tapa kau?]
[Sakit cuaca doang. Tapi udah agak mendingan dari kemaren. Cuman kayaknya dua atau tiga hari ini gue ga bisa kemana-mana dulu. Mau rest. Lo ga apa-apa kan di sana sendirian?]
[Ya ga apa-apa sih, gue masih banyak yang nemenin, kawan-kawan bule. Tapi… gimana kalo gue aja yang ke sana? Mau dibawain apa lo? Nanti kalo si Soni udah datang, kami ke rumah lo aja.]
Jeff tiba-tiba merasa ragu, mengingat Franky pernah bertemu Sashi di klub milik Robert. Namun ia juga tidak bisa menolak kedatangan teman-temannya itu.