Seperti yang sudah diduga, Jio dan Revo menghabiskan banyak nasi dan masakan yang noni buat. Mereka baru tahu bahwa frittata itu makanan khas Italia, di mana telur dimasak dengan beberapa sayur yang bisa didapatkan di dalam kulkas. Tadi noni hanya menemukan kol, wortel, jamur dan ayam fillet. Semua ia campur ke dalam telur ditambah kaldu bubuk dan merica. Satu hal yang membuatnya enak dimakan dengan nasi, tentu aja sambal yang Noni buat, hingga jio dan Revo menambah nasi beberapa kali.
"Mantap! Kenyang banget gue!" ujar Revo sambil mengelus perutnya yang sudah penuh.
"Enak kan masakan gue?"
"Entah masakan lo yang enak, atau emang kita aja yang lagi kelaperan."
"Susah banget emang lo ya ngasih apresiasi buat gue!" noni ngedumel yang membuat Revo dan jio tertawa,
"Thank you, Noniiii... karena udah sering menyelamatkan perut-perut yang kelaparan di kantor ini."
Noni pun pura-pura tersenyum manis. "Sama-sama. Sekarang tugas gue udah selesai, giliran tugas kalian, cuci piring semuanya sampe bersih. Gue mau tidur. Take vokalnya diulang lagi nanti aja kalo udah bangun."
"Yah... ini enaknya sekarang tidur kalo abis makan, masa cuci piring? Lagian masih dingin begini, itu aer juga dingin banget kali, Non! Tega lo." Giliran Revo yang ngedumel.
"Ya gamau tahu gue. Lo pikir gue ga kedinginan waktu tadi nyuci sayur buat kalian? Itu sayur kalo ga dicuci, lo pada nanti sakit perut."
"Entar aja kita panggil si Bibi yang biasa. Sekarang semua tidur dulu," ujar Jio menengahi.
"Ah iya bener! Ide bagus!" seru Revo.
Noni pun sakingkesalnya menarik tangan kedua pria tersebut ke arah wastafel. "Jangan ngadi-ngadi! Kita udah sepakat buat irit biar bisa bayar kontrakan. Gue udah capek-capek masak, kalian juga harus cuci pirign, jangan mau enaknya aja!"
Mau tidak mau, Jio dan Revo menurut meski rada mengeluh. noni tidak peduli. Ia berdiri d belakang mereka sambil bersedekap. Noni memutuskan akan tidur setelah semuanya beres. "Abis itu pel lantai dapurnya dan lap semua yang kotor di deket kompor."
Hanya itu cara untuk membalas dendam karena Noni sering digojlok oleh Jio dan Revo. Dalam hal pekerjaan, Noni sering kena jajah. Tapi dalam hal tugas pekerjaan rumah, Noni lah bosnya.
Jio bekerja sama dengan Revo. Mereka melakukannya dengan cepat karena air wastafel memang sangat dingin. Noni menghibur mereka, jika mereka kedinginan, pasti tidurnya akan pulas. Semua pun selesai tidak sampai sepuluh menit. Noni menepuk-nepuk punggung kedua pria tersebut. "Good job, guys, good job! Ya udah selamat tidur. Nanti siang kita kerja lagi."
Revo lebih dulu pergi ke kamarnya, sementara Jio mengambil gelas untuk minum.
"Gue tidur duluan ya, Ji," kata Noni.
"Eh bentar, Non. Gue mau ngomong bentar."
Noni membalikan badan ke arah Jio. "Soal apaan?"
"Anuu... masalah Renata yang kemaren soal utangnya Sashi. Mending ga usah dibahas lagi daripada masalahnya ngerembet kemana-mana."
Noni kembali bersedekap. "Ya ga bisa dong, ji. Dia seenaknya ngomong di depan semua anak-anak. Ntar anak-anak ngiranya Sashi beneran ngutang. Eh meskipun dia udah ga ada, gabisa dong namanya kecoreng gitu. Kalo beneran Sashi ada utang sama dia, ya pasti harus dibayar sama kita dari royaltinya dia. Tapi kalo ternyata si Renata bohong, dia juga harus tanggung jawab."
"Tanggung jawab gimana?"
"Keluar dari HoS. Gue ga mau tahu, kita ga bisa bilang ini kasus yang remeh. Gilaaa... 24 juta loh itu, sama aja dia nipu. Sorry yaa.. kalo soal duit, gue ga bisa lagi percaya. Menurut lo sendiri gimana kalo si Renata beneran bohong soal itu?"
***
Sashi terbangun ketika sinar matahari menyoroti wajahnya. Ia tidak tahu sudah tidur berapa lama dan ia juga lupa bahwa dirinya menginap di rumah Jeff. Dengan nyawa yang masih setengah, Sashi terduduk dengan mata menyipit. Ia melihat arah kamar Jeff, sepertinya pria itu masih tertidur. Sashi berdiri untuk melihatnya, namun ternyata Jeff tidak ada di sana.Dengan reflek, ia pun memanggil.
"Heff... Jeff! Kamu di mana? katanya sambil berkeliling. Sashi takut Jeff pergi ke kamar mandi atau dapur dan tiba-tiba pingsan.
"Sashi, ini Pak Jeff ada di dapur," seru Bu Putu.
Sashi pun langsung menghela napas lega. Nyawanya langsung terkumpul dan ia pun pergi ke arah dapur. Jeff terlihat sedang menikmati sup yang ia buat semalam. "Morning," sapa pria itu. "Kenapa kamu teriak-teriak gitu manggil sayanya?"
Sashi pun tampak malu, sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Aku kira kamu pingsan di kamar mandi."
Bu Putu dan Jeff tertawa. "Pak Jeff katanya udah ngerasa mendingan. Berkat sup sama obat yang diminumnya semalam. Makasih loh udah gantiin tugas ibu buat jagain Pak Jeff."
"Ah, ga masalah kok, Bu. Gimanapun kan kita udah kayak family, aku sama sekali tidak keberatan."
Jeff terdiam ketika Sashi menyebutkan kata 'family'. Sementara bu Putu tersenyum lebar.
"Ayok, sekalian sarapan, atau mau cuci muka dulu?"
"Iya, aku mau ke kamar dulu cuci muka. Nanti balik lagi ke sini."
"Oh iya, Sas, nanti temen-temen saya mau datang, kayaknya sebentar lagi nyampe. Kamu ga keberatan kalo makan di belakang? Nanti biar Bu Putu yang anterin makanannya."
Sashi terdiam selama sesaat. "Ah, iya iya, gapapa. Tapi... kayaknya ga usah repot-repot deh, nanti aku bisa pesen online aja, kebetulan lagi pengen makan bubur ayam."
"Ah, maksud saya bukan mau larang kamu makan di sini. Cuman, Bu Putu tahu lah teman-teman saya berisik dan selengeannya kayak gimana. Takutnya kamu ga nyaman aja." Heff tiba-tiba merasa tidak enak dengan cara penyampaiannya.
"It's oke, Jeff. Aku ngerti. Tapi beneran, aku lagi pengen makan bubur. Ga usah dianterin makanannya. kata Sashi serius.
Jeff pun mengangguk. "Oke."
Bu Putu yang melihat ketegangan barusan, langsung berusaha mencairkan suasana. "Emang siapa yang mau dateng, Pak Jeff? Pak Soni sama Pak Franky ya?"
"Iya, mereka mau dateng berdua. Nanti tolongin belanja minuman sama makanan ya, Bu. Stock minuman kaleng udah abis juga kayaknya."
"Baik, Pak. Abis cucui piring nanti saya ke supermarket. PAk Soni kan suka biskuit kacang, nanti saya beli banyak-banyak. Mereka apa mau nginep?"
"Kurang tahu juga, Bu. Sedian aja banyak-banyak, gapapa. Tapi ga perlu masak, nanti itu biar saya pesan sendiri aja."
"Baik, Pak."
Bu Putu mulai mencuci piring. Jeff sendiri kembali ke kamarnya untuk merebahkan diri. Ia masih merasa tidak enak begitu melihat wajah Sashi yang agak tersinggung tadi.