“Sumpah lo beneran udah tua, party cuman beberapa hari aja langsung ngedrop,” ujar Franky sambil tertawa. Mereka baru saja sampai sepuluh menit yang lalu dan Bu Putu sudah menyediakan sirup juga beberapa camilan.
“Ya elu sih party doang, gue kerja juga udah tiga bulan ini bolak balik cottage, survey barang, ngawasin tukang. Kadang telat makan sama tidur.”
“Makanya, kali-kali ‘have fun’ dong kayak gue, bukan sekedar party minum sama makan doang. Tapi just fun, just f**k. Itu rahasia awet muda gue kalo mau tau, lebih dari multivitamin.”
Soni yang sedang memakan biskuit kacang langsung tertawa. “Jangan racunin anak orang, udah mau kawin diaa…”
Franky berdecak. “Lo serius mau nikahin si Alina? Kapan rencananya?”
“Baru rencana doang, mau kasih tahu bokap sama nyokap dulu pas nanti mereka dateng ke sini.”
“Ck ck ck… makin berkurang aja kawan bujang awak,” ujar Franky sebelum meminum sirupnya.
Jeff dan Soni sudah tahu bahwa Franky tidak tertarik masuk dalam dunia pernikahan. Temannya itu hanya ingin bersenang-sedang dari satu wanita ke wanita lainnya sampai tua nanti. Ia tidak percaya bahwa manusia bisa bertahan dengan satu orang saja di sepanjang hidupnya, khususnya bagi Franky sendiri yang gampang bosan dan sangat menyukai eksplorasi. .Soni juga sebelumnya mempunyai pemikiran yang begitu, hingga akhirnya ia menemukan seorang wanita yang benar-benar membuatnya jatuh cinta dan sekarang sudah resmi menjadi istrinya. Pernikahan mereka sudah berjalan tiga tahun dan sudah dikaruniai seorang anak perempuan yang makin mempererat ikatan mereka. Soni tidak bisa membayangkan bagaimana jika dia kehilangan anak dan istrinya. Dan itu bukan sekadar perasaan cinta, namun kasih sayang yang melebihi segalanya. Mungkin Franky hanya belum menemukan chemistry dari seorang perempuan.
"Ngomong-ngomong... mana si Cewek itu, Jeff?" tanya Franky setengah berbisik.
"Cewek mana?"
"Yang gue ketemu di klub itu. Tinggal di sini dia, kan?"
Jeff mengangguk enggan. "Iya, tapi gue minta lo jangan macem-macem sama dia. Jangan bikin interaksi gue sama dia jadi awkward. Dia ga tau kalo gue tau kerjaan dia apa."
"Aduuuh... ngeri. Padahal pengen kali aku ajak hang out nanti malam. Jarang-jarang nemu cewek yang begitu tapi mukanya sama sekali ga bitchy. Cantik kali, kau harus liat, Son." Franky menepuk pundak Soni.
"Mau ngapain?" tanya Soni ogah.
"Beri nilai, dong. Cuman emang agak familiar. ga tahu gue pernah ketemu di mana, ya."
Soni menimpali. "Ya lo kan udah maen sama banyak cewek, kali dia salah satunya."
"Ga mungkin, Son. Kalo gue pernah maen sama dia, psti gue inget. Sekarang dia ada di rumah belakang ga, Jeff?"
"Yeee... dibilangin ga usah ganggu. Ini gue serius loh, jangan sampe dia liat lo apalagi tau kalo lo itu temen gue. Kasian nanti dia malu."
"Ngintip doaaaang..." Franky memaksa.
"Nope."
"Okelah.. Emang udah keras keknya kawan kita satu ini," ujar Franky membuat Soni cekikikan.
Tidak lama kemudian, terdengar suara gerbang terbuka. Jeff, Franky dan Soni sontak menoleh. Di sana terlihat Sash sedang keluar menuju taksi online yang dipesannya. Ia memakai masker dan kepalanya ditutup hoodie. Franky pun langsung beranjak mendekati jendela.
"Nah itu dia, ya kan Jeff? Tuh tuh ketutup masker aja masih keliatan cakep. Alisnya cakep. Lihat, Son!"
***
Sashi pergi lebih awal karena ia ingin menghibur diri sendiri dengan berjalan-jalan. Meskipun dirinya sangat kesal karena tidak bisa bebas melepas masker ataupun hoodie dari kepalanya, ia berinisiatif mencari kesenangan dengan cara lain. Jadi ia memutuskan untuk menonton film di bioskop dan membeli sekantung popcorn caramel serta satu cup cokelat besar. Hanya di tempat itu ia bisa bebas melepas masker.
Sashi juga berencana untuk mnecari tempat kost lain, namun entah mengapa rasanya berat meninggalkan kamarnya yang sekarang. Meskipun tidak terlalu besar, namun Sashi menyukai tempat tersebut karena ada jendela yang menyuguhi pemandangan laut. Ia menyukai begitu terbangun dari tidur dan mendengarkan suara ombak. Sashi juga merasa keberatan untuk meninggalkan bunga-bunga yang ditanamnya. Mungkin ia akan membayar sejumlah uang untuk Jeff. Namun Sashi ragu Jeff mau menerimanya.Pria itu juga tidak mau lagi Sashi berada di dapurnya, jadi Sashi tidak bisa membalas budi dengan membuatkan masakan. Kecuali jika Jeff sakit, seperti malam tadi.
Sashi sudah sampai di bioskop. Wangi popcorn dan kopi memanjakan indera penciumannya. Ia berjalan perlahan sambil memerhatikan poster-poster film untuk memutuskan film mana yang akan ditonton. Setelah berhasil memilih film dan membeli tiketnya, Sashi mencari tempat duduk paling pojok untuk menunggu.
Semua orang di sekelilingnya datang bersama kekasih, keluarga atau teman-temannya. Sashi benar-benar merasa sendirian. Ia memang sering pergi makan atau menonton sendiri, tapi karena memang atas kemauannya. Namun sekarang ia pergi sendiri sebab tidak mempunyai teman satu pun. Sashi merindukan teman-temannya di House of Skills.
Seperti mempunyai telepati, ponsel Sashi berdering. Ada telepon dari Noni.
[Sas, udah pergi kerja?]
[Belum, nih, gue lagi di luar mau nonton.]
[Wah nonton sama siapa?]
[Sendiri kali, Non. Sama siapa lagi, gue ga ada temen di sini.]
[Ooww... so sorry. Kenapa ga lo ajak itu aja, siapa yang anaknya asisten di rumah itu?]
[Wayan? Dia lagi ada neneknya di rumah. By the way gimana keadaan kantor?]
Noni terdengar menghela napas. [Ya gitu deh... nothing special. Gue kangen juga sama lo. Apa gue ke sana aja gitu ya?]
Sashi melebarkan matanya. [Emang bisa? Please, kalo beneran bisa lo ke sini aja semingguan. Kerjanya mobile. Beneran gue udah di level suntuk banget akhir-akhir ini. Bawaannya bad mood dan ga tau mau ngobrol sama siapa.]
[Ya makanya gue rajin nelpon lo, supaya lo ga kesepian. Lo juga kalo emang lagi suntuk bnaget, telpon aja gue. Pasti gue langsung lari ke kamar, kunci pintu.]
[Gue takutnya ganggu lo lagi take vokal atau meeting.]
[ya chat aja dulu, kalo lagi nyantai pasti gue langsung telpon lo.]
[Okee, kalo sama lo sih gue ga akan sungkan juga,] jawab Sashi sambil memainkan kukunya. [ Eh udah dulu, ya. Studionya udah mau dibuka. Gue nonton dulu.]
[Oke deh, gue juga sekalian mau belanja sama si Wiggy. Dia udah jadi sopir gue sekarang. Sebenernya tadi gue telepon lo emang mau laporan kalo gue samaWiggy makin deket, sering jalan bareng. Untungnya si Dixei lagi sibuk tugas kuliah. Bebas rasanya ga ada pengganggu.]
Sashi tertawa. [Dasar! Ya udah, have fun, ya.]
[You too! Enjoy the movie!]