Date

1001 Words
Bu Putu masih sibuk di dapur membuatkan sup untuk Jeff sebelum ia pulang. Jeff mengatakan bahwa ia hanya bisa makan sup untuk sementara, karena tmasih merasa mual untuk menikmati makanan lainnya. Sementara untuk Soni dan Franky, Bu Putu membuatkan pudding kebanggaannya yang ia ambil resepnya dari YouTube. Kedua teman Jeff tersebut sudah memesan makanan berat untuk makan malam dan sepertinya mereka akan menginap. [Pak Jeff, supnya udah saya bikinin. Mau dimakan sekarang?] tanya Bu Putu pada Jeff yang sedang berkumpul dengan teman-temannya di ruang tengah sambil bermain kartu. [Nanti aja, Bu. Ibu pulang aja, ini udah gelap. Nanti saya biar diambilin sama Soni atau Franky kalau mau makan.] [Oh ya udah kalau gitu Ibu pamit pulang, ya. Anuu... mas Soni sama Mas Franky, kalo udah makan, itu ada pudding mangga di kulkas, ibu buatin barusan dijamin uenaak. Dimakan, ya. Pak Jeff juga kalau mau makan aja biar seger. [Siap, bu, makasih,] jawab Soni dan Franky. Sepeninggal Bu putu, Franky langsung berbisik. [Itu... Bu Putu udah ada peningkatan ga sih masaknya?] Jeff tertawa. [Lumayan lah, udah gue suruh nonton YouTube. Sejak itu kerjaannya masak mulu. Trial and error.] Bu Putu sudah terkenal payah dalam hal masak memasak. Franky pernah dibuatkan nasi goreng ketika dulu menginap di rumah Jeff. Dari penampakannya, nasi goreng tersebut kurang sedap dipandang karena terlalu berminyak. Rasanya pun membuat Franky bersin-bersin karena terlalu banyak merica. [Mana sini gue cobain dulu supnya.] Franky beranjak ke dapur untuk mengambil semangkuk sup. Ia membawa mangkuk tersebut ke ruang tengah sambil mencicipinya. [Bau jahe. Kebanyakan jahenya.] Franky mengikik, lalu menyuapi Soni, memaksa supaya temannya itu ikut mencobanya, [Mau ngikutin Sashi, kali, supnya pake jahe. Tapi kebanyakan jahenya,] jawab Jeff. [Whoa whoaaa... nah nah, ga cerita-cerita nih... sampe tahu masakannya Sashi. Lo dimasakin dia emang?] [Ya itu sih pas gue sakit kemaren kan dia yang masakin supnya.] [Waaah parah, pantesan gue ga dibolehin deketin tuh cewek. Ternyata dilobi juga sama dia. [Apaan sih? Ngga lah... itu kan kepaksa karena di sini ga ada siapa-siapa lagi selain dia dan kemaren Bu Putu yang nitipin gue, karena asisten gue itu emaknya lagi dateng ke rumah.] [Dia jago masak ya, Jeff? Dessert box buatannya aja enak. Masih ada ga sih? Gue mau lah minta dibuatin.] Franky yang menjawab. [Oh ga boleh, jangan ada yang ganggu Olla. Ya kan Jeff?] katanya sarkastik. [Yee... gue kan belom pernah ketemu sama dia. Kalo lo udah dicap cowok idung belang karena ketemu dia di klub. Bisa kan ya Jeff? Bini gue aja suka, mau gue bawain lagi.] [Ya ga tahu sih, dia kan gawe. Balik gawe langsung tidur. Ntar aja kalo pas dia libur, gue minta bikinin.] [beneran yaa... gue pesen yang boksnya agak gedean, sepuluh bijik juga ayok buat stock.] [Oke.] Jeff sebenarnya tidak mau lagi menyuruh Sashi membuatkan sesuatu. Apa lagi Alina kembali menanyakan, kapan Sashi akan pindah tempat. Jeff kurang menyukai gagasan tersebut, karena ia bukan tipe orang yang tega mengusir orang lain. Biar saja Sashi di luar sana bekerja seperti apa, yang penting ia pulang sebagai orang yang tidak merugikan siapapun. *** Kali ini Noni yang lebih dulu menyerahkan kartu debitnya pada kasir. Bagaimanapun ia tidak mau merepotkan Wiggy terus-menerus. Sudah dimintai tolong mengantar, menyetir, membawakan barang belanjaan, masa iya harus membayar belanjaan juga. Lagi pula Noni sudah membajak teman-teman lainnya untuk patungan. Ketika Noni melihat Wiggy sudah hampir membuka dompet, ia menggodanya. "Udah deh, kita itu ga lagi kencan, ini udah dibayarin sama anak-anak. Semuanya buat mereka. Kalo lo mau bayarin, ajakin gue makan lagi aja di luar." Wiggy tampak bingung menjawab hingga membuat Noni tertawa. "Becanda, Gy." "Totalnya dua ratus delapan belas ribu, Mbak," kata si Kasir. "Pembayaran pake kartu debit, ya,] Noni mengangguk. Begitu selesai, seperti biasa Wiggy mengangkat plasti-plastik tersebut dan tidak membiarkan Noni membawa satu pun. Mereka memutuskan untuk menaiki lift, daripada eskalator, karena Wiggy memarkir mobilnya di basement. "Aku mau nyobain bikin kalio ayam sama tauco. Itu makanan favorit aku kalo mama yang masak. Semalem aku mintain resepnya dan ini buatan perdana aku. Semoga enak," ujar Noni ketika lift mereka mulai turun. "Buatan kamu selalu enak, kok." "Iya, tapi itu kan emang udah bisa aja bikinnya. Kalo ini masih nyoba-nyoba." Keduanya sudah sampai di parkiran dan langsung menaiki mobil. Noni diam-diam tersenyum karena Wiggy sudah mulai berani memujinya. Sedari dulu, pujian dalam hal apa pun selalu jarang dilontarkan dari mulutnya. Itu sebabnya ia selalu dijuluki raja es. Kadang Sashi mengomel jika Wiggy sudah terlalu banyak diam layaknya orang misterius. "Kita ke mana dulu?" tanya Wiggy ketika sedang mengenakan sabuk pengaman dan mulai menggas mobilnya. "Ga ke mana-mana. Langsung balik aja ke kantor," jawab Noni. "Ga usah pake acara keliling-keliling dulu, gue ga ngantuk kali ini." "Tadi katanya mau makan dulu. Biar gue yang traktir," ujar Wiggy lagi polos. Noni tertawa. "Becanda, kalii..." "Ya gue serius, ayok kita makan. Lo mau apa?" Noni anggap ini sebagai pengganti dating yang gagal kemarin hanya gara-gara Dixie yang membuntuti mereka. "Makan steak salmon. Boleh?" Wiggy pun mengangguk. "Iya boleh, kok." Noni bersorak dalam hati. Apakah ini pertanda semakin dekat untuk berpacaran dengan crush-nya itu? Ia harus melaporkan semuanya kepada Sashi. Paling temannya itu akan menyarankan untuk pepet terus Wiggy supaya tidak ditikung lagi oleh Dixie. [Kalo bisa, pas Dixei dateng lagi ke kantor, kalian berdua udah pacaran. Supaya semakin panas.] Membaca itu, Noni sontak tertawa. "Kenapa? Lagi chat-an sama siapa?" "Ini si Sash- eh, maksud gue Sasa! Talent gue yang baru. Hehee... lagi ngomongin film Korea yang dibintangi sama oppa-oppa ganteng.] "Sejak kapan lo suka Korea?" "Eh, udah lama juga, kali. Kok baru tahu? Makanya sering-sering nontonsama gue." "Mau nonton di mana?" tanya Wiggy ragu. "Di Netflix aja, di laptop. Gue tiap malem nonton. Kalo mau, nanti gue rekomendasiin film korea apa aja yang bagus banget. Tapiii... kalo lu emang maunya nonton film di bioskop, ya ayok aja gue temenin. hehee..." Wiggy mengangguk. "Oke, nanti kita cari jadwal buat nonton." Wiggy tidak tahu bahwa pembicaraan mereka direkam oleh Noni untuk dikirim pada Sashi. Setidaknya, Noni bisa membuktikan bahwa secara tidak langsung, Wiggy sedang mengajaknya berkencan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD