The Reason

1001 Words
Semalam Sashi menenggak obat sakit kepala karena subuh tadi hujan deras ketika pulang kerja dan ia terlalu lelah dalam pikiran maupun tenaga. Sisi positifnya, ia bisa tidur nyenyak dan lama, hingga bangun jam dua siang. Hal yang ia pertama kali ingat adalah omongan Alina, ketika Sashi baru saja membuka pintu kamar. Alina memanggilnya dari rumah Jeff dengan pakaian yang sudah rapi. "Baru pulang, Sas?" tanya Alina kala itu sambil bersedekap. "Hey, iya nih. Kamu baru pulang atau mau pergi jam segini?" "Aku mau balik ke Singapore." Alina berjalan pelan menghampiri Sashi. "Loh cuman bentar? Aku kira mau sampai Valentine pas papa ammanya Jeff dateng." "Nope. Kerjaanku banyak. Kamuu... tiap hari pulang jam segini?" "Iya, dari sore sampe subuh. Hehee... capek juga sih, tapi namanya butuh kerjaan." "Kamu kerja di klubnya Robert, bener?" Sashi mengangguk. "Ho-oh, kok tau? Kamu kenal sama Robert?" "Cuman tahu aja. Lagian siapa sih yang ga tau dia. Temen-temennya Jeff banyak tuh pake jasanya dia. Cuman kami ga nyangka aja kalo kamu kerja di sana. Cuman heran aja, kok mau tinggal di sini? Maksudnya, kamu pasti bisa stay di apartemen atau kost yang lebih bagus." Sashi mengerjap. "Whoaa... aku ga-" "Alina!" seru Jeff memanggil. "Kopi kamu udah siap." Alina pun pergi setelah memandangi Sashi dengan penuh arti yang sama sekali Sashi tidak tahu apa maksudnya. Ia hanya heran, mengapa Alina menganggap gaji seorang waiters bisa cukup untuk mneyewa apartemen? Dan tentu saja Sashi betah tinggal di sini karena selain homey, ada jendela yang menyuguhkan pemandangan pantai. Di sini juga sepi, suasananya sesuai dengan yang Sashi butuhkan. Bila pun harus membayar sewa, Sashi sama sekali tidak akan keberatan. Sekarang waktu sudah menunjukkan pukul dua siang, dan perut Sashi sangat keroncongan. Namun ia sedang malas pergi keluar. Jadi applikasi online hanya satu-satunya jalan untuk mencari makan. Pokoknya hari ini ia hanya ingin rebahan sebelum kembali bekerja nanti sore. Ketika Sashi membuka ponsel, ada beberapa pesan dari Noni dan juga Robert. Ia membuka yang Robert terlebih dahulu. [Di mana lo? Dah bangun?] Kadang Sashi bertanya-tanya, jam berapa waktu tidur Robert, karena temannya itu seperti tidak pernah tidur, tapi selalu tampak segar. [Baru aja bangun nih.. kenrapa, Rob?] [Order taksi gih, gue traktir makan di lua sambil mau ngobrol. Nanti gue isi saldonya.] Sashi menghela napas. Hancur sudah impian untuk rebahan seharian. Namun ia juga tidak bisa menolak tawaran Robert karena temannya itu selalu mentraktir dengan makanan enak dan mahal. [Oke, gue mandi dulu. Nanti gue kabarin lagi.] Sebelum turun dari tempat tidur, Sashi membaca chat dari Noni terlebih dahulu. Seperti biasa, temannya itu selalu melaporkan apa yang terjadi di kantor. Noni juga masih menumpahkan kekesalan pada Renata dengan meminta bukti rekening koran untuk memeriksa bahwa di sana ada tidak ada transferan dari Sashi sebanyak dua puluh empat juta atau tidak. [Sumpah, lo harus liat ekspresi dia, kayak mau bunuh w. pas gue minta bukti transferan. Yang lain juga cuman diem aja termasuk si Jio. Gue jadi penasaran, si Jio masih mau ga ya sama dia kalo nanti dia ketahuan bohong soal ini." *** Kali ini Robert memilih restoran korean yang terletak di dalem mall. Sashi memesan nasi bulgogi dengan sebotol air meneral dan semangkuk besar patbingsu yang mirip dengan es campur. Sementara Robert tampak memesan nasi campur dengan ayam roasted yang dibaluri mozzarella. Menurutnya, restoran korea ini paling enak di Bali dan Sashi menyetujuinya, karena seluruh makanannya tidak asal dibuat. Banyak restoran Korea yang membuat menu asal-asalan, tidak ada yang istimewa dari bumbunya. Malah seringnya rasa yang mereka buat jadi aneh atau hambar. "Oya, tadi katanya sambil ada yang mau diomongin? Apa tuh?" tanya Sashi sambil menyumpit dagingnya. Robert terus mengunyah tanpa menoleh pada Sashi. Namun setelah mengembuskan napas dan tangannya bersedekap di atas meja, ia pun berkata, "Lo inget ga sih waktu pertama gue bawa lo ke klub siang-siang pas lagi sepi? Di situ gue ada bilang, jangan masuk ke daerah situ. Tugas lo cuman di dapur." Sashi ikut bersedekap. "Emangnya kenapa? Gue ga pantes ya masuk ke klub karena penampilan gue kucel? Kemaren malem gue keluar dapur itu karena ga ada waiters yang ambil pesanan, sementara pancake ga akan enak kalo dimakan dingin-dingin." "Bukan gitu, Sash. Justru karena penampilan lo oke, meskipun ga pake makeup, gue larang lo keluar dapur. No hard feeling, maksudnya bukan ke arah negatif, tapi gue ga mau lo diganggu kayak kemaren sama cowok." "Ya gapapa, wajar kali namanya juga klub. Pasti banyak cowok baok. Lagian di situ kan banyak orang, gue bisa aja teriak kalo dia macem-macem." Robert menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Masalahnya bukan gitu, Neng! Lebih rumit dari itu. Jadi demi keselamatan lo dan juga keselamatan gue, jangan pernah lo njongol lagi di klub, oke?" Wajah Robert tampak serius dan Sashi tidak mau jika diberitahu setengah-setengah. Ia pun menaruh sumpitnya dan meneguk air mineral banyak-banyak. "Mau kasih tahu gue lebih jelas, ga? Biar gue ngerti kenapa gue ga boleh ada di situ." "Gue buka tempat itu dibantu sama investor dari Amerika.. Ada orang yang lebih berkuasa lagi dari gue. Tugas gue cuman jalanin apa yang mereka mau sampe semua duit yang gue pinjem buat ngebangun klub itu lunas. Setiap dia dan genknya dateng ke sini, mereka selalu minta cewek, dengan alasan supaya gue cepet bisa ngelarin utang. Sejak gue turutin kemauan mereka, nih investor jadi makin banyak ngerekomendasiin klub gue ke temen-temennya dan bilang kalo gue bisa sediain cewek. Sekarang bukan hanya dia dan temen-temennya yang yang tau atau request macem-macem, tapi juga orang lokal dan tamu dari luar kota suka ngehubungin gue. Gue ga bisa nolak. Karena di sisi lain, gue memperkerjakan cewek yang memang butuh kerjaan, udah desperate atau cewek yang butuh balik ke negara asal tapi duitnya udah abis dan terpaksa jadi 'freelancer' gitu." Sashi melongo. "Dengan kata lain, lo jadi mucikari?" "Gue ga suka disebut kayak gitu, but, thats true. Itu makanya kenapa gue ngelarang banget lo ke masuk ke klub, karena gue takut salah satu genknya si investor liat lo dan minta lo ke gue. Mereka orangnya suka maksa. Jangan sampe deh lo kayak si Bella." "Siapa Bella?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD