Dramaqueen

1002 Words
Alih alih memperlihatkan kekesalan, Noni memutuskan untuk ikut permainan Renata atau siapapun yang hendak memanfaatkan kematian Sashi. Jika mereka bisa berakting sedemikian rupa, maka Noni juga bisa menjadi dramaqueen yang turut masuk ke dalam panggung sandiwara. Ia akan mengkat mereka terlebih dahulu sebelum benar-benar menghancurkannya. Noni menaiki tangga ketika orang-orang di meja makan sibuk mempersiapkan piring dan alat makan lainnya. Reco mentraktir nasi padang setelah invoice-nya cair dari hasil mengaransemen interlude dari sebuah lagu milik salah satu band papan atas. Noni sudah memesan rendang dan telur dadar dan sepertinya pesanannya sudah diantar. Ia menebar senyum begitupun pada Renata dan Dixie. "Wah kayaknya enak nih. Beli di rumah makan padang di depan komplek, kan?" tanya Noni pada Emil yang tadi memesannya. "Yo'i yang paling enak dan mahal. Mumpung ada yang mau traktir, iya ga?" "Good job!" seru Noni sambil memberikan dua jempol pada manager gendutnya itu. Sebenarnya Noni merindukan suasana begini. Makan bersama sambil membahas hal random dan mengundang banyak tawa. Namun sekarang semuanya tampak palsu.Ia duduk di antara Renata dan Jio. Tidak peduli jika dua sejoli itu ingin berdekatan. "Lagunya kapan rilis, Rev?" tanya Noni sambil membuka bungkus makanannya. "Sebulanan lagi, kok. Shooting sama photoshoot dulu." "Udah lama juga kita ga shooting bikin video klip ala ala buat konten." Shaky menimpali. "Baru aja gue bahas itu sama Emil semalem. Kita pergi ke alam terbuka yang di Ciwidey atau Lembang. Pokoknya yang ada banyak kabutnya gitu. Bikin MV yang niat banget, tinggal pilih deh lagunya yang sesuai tema. "Boleh tun" jawab Revo. "Gue mau bongkar lagu apa aja yang duah gue mastering di komputer yang cocok dibawain Noni." "Maksud gue, gimana kalo semua staff nyanti, sampe ke manager-menagernya. Buat seru-seruan doang, ngeliatin kalo staff House of Skills itu kompak." Noni tersenyum sinis, tidak tahan. "Kompak apaan..." "Pokoknya lagu tentang mimpi. Kita bisa cover lagu yang udah ada aja deh. Misal 'MENGEJAR MATAHARI'-nya Mas Ari Lasso." "Ya udah nanti gue urusin, berarti lo semua harus siap-siap aja take vokal," kata Revo. Semua mengangguk setuju dan mulai makan siang sambil membahas tentang tempat yang akan dijadikan lokasi shooting. KEtika selesai, Noni langsung menghadap Renata. "Ren, nanti gue minta print-an rekening koran lo, ya.," katanya. "Buat apaan?" "Buat liat kalo Sasi belum balikin duit yang dua puluh empat juta punya lo," jawab Noni membuat Renata tediam sebentar, begitupun semua orang di sekelilingnya yang mula memperhatikan pembicaraan mereka. "Lo ga percaya sama gue? Emang belum ditransfer kok buat apa gue bohong?" Renata terlihat marah. "Eh, bukan gitu. Semua kan harus clear, ga bisa asal ngomong tentang utang tanpa bukti yang jelas, meskipun kita temen deketnya Sashi. Uang dua puluh empat juta itu kan bukan jumlah yang sedikit." Renata mendelik. "Oke nanti gue liatin rekeningkorannya ke lo. Ribet amat, padahal gue minta hak gue. Gue masih ngehargainSashi , itu makanya baru bahas soal itu hari ini." "Aduuh... kalo misalkan omongan lo bener, keknya ga usah sewot gitu deh," ujar Noni sambil tertawa sinis. "Gue kalo ada id posisi lo, dan yakin gue bener, ga bakalan banyak omong." "Lo kan bisa minta baik-baik sama geu, bukan dengan cara di depan banyak orang kayak gini." "Lah, lo aja kemaren waktu ngasih info Sashi ada utang di depan banyak orang, iya kan? Udah deh, ga perlu ribut soal ini lagi. Mending secepatnya lo ke bank, liatin bukti kalo Sashi sama sekali belum transfer. Setelah itu semua beres. Gue bakalan lunasin saat itu juga utangnya Sashi ke lo, pake duit gue sendiri." Renata tidak menjawab lagi. Noni pun dengan cepat melap mulutnya dengan tisu dan meninggalkan meja makan. *** Suasana hati Alina tidak berubah sepulangnya dari cottage, hingga Jeff tidak melarang ketika kekasihnya itu ingin segera kembali ke Singapore. "Kamu pesenin tiket aku besok yang pagi, jangan sore karen akau takut hujan dan turbulance lagi," kata Alina begitu mereka turun dari mobil dan melangkah menuju rumah. Jeff mengangguk. "Oke. Aku mandi dulu, baru pesenin." Sepanjang perjalanan tadi, Alina juga kerap membicarakan Sashi, betapa ia ingin supaya Sashi tidak tinggal lagi di rumah belakang milik Jeff, sementara Jeff merasa heran mengapa Alina begitu amat posesif, padahal biasanya dia tampak lurus-lurus saja. Jeff juga memang tidak menyukai profesi Sashi, namun ia merasa tidak enak jika mengusirnya sekarang-sekarang. Jeff bisa merasakan bagaimana ribetnya pindahan. Apalagi ia sudah membantu Sashi memasang walpaper, meminjamkan kulkas mini dan furnitur lain. Tidak sopan jika ia langsung mengambilnya lagi. Setelah mandi pakai air hangat selama setengah jam, Jeff mengganti kaus bergambar Popeye sambil menghadap jendela lebar yang memperlihatkan rumah Sashi. Lalu tampaklah wanita itu yang baru saja pergi dari pantai. Jeff selalu menyukai menatap wajah Sashi karena seperti ada magnet yang membuatnya tidak bisa lepas. Itu aneh, karena seharusnya Jeff membenci Sashi. "Kamu udah mandinya?" "Oh iya iya... Aku pesenin pesawat kamu dlu. Mau yang pagi banget atau jam berapa?" "Sekitar jam delapan sampai sembilan gitu deh." Jeff membuka laptop dan langsung memesan pesawat untuk Alina. "Hape kamu mana?" Alina mengerjap. "Hah buat apa?" "Aku baru sadar kalo dari kemarin kamu jarang banget buka hape. Megang juga nggak." "Oh, aku sengaja ga aktifin karena aku pengen quality time sama kamu. Ga mau ada yang ganggu apalagi sama masalah kerjaan." Jeff mengangguk meski sebenarnya heran karena Alina termasuk orang yang perfectionis. Ia akan selalu stand by karena tidak mau terjadi apa-apa pada perintisan usahanya.Namun seperti biasa, Jeff tidak mau membahasnya lebih lanjut. "Si Bu Putu ga dateng, ya?" "Nggak lah, kan kitanya juga ga ada di rumah dari kemarin. Ada di rumah aja kerjaan dia cuman dikit, apalagi ga ada orang, apa yang mau dikerjain?" Alina mendekati jendela lebar. Ia melihat Sashi sedang menyiram tanaman "Kapan kamu mau nyuruh dia pindah?" "Jangan bahas itu lagi deh, aku pasti pikirin dulu, ga bisa sembarangan tiba-tiba nyuruh orang pindah." "Loh kok jadi marah?" "Soalnya dari tadi kamu bahas soal dia, kayak ga ada pembahasan lain. I want we are talking about us, not the other," ujar Jeff pada akhirnya... Alina hanya terdiam. "Sorry. Aku cuman kesel karena ada orang asing di rumah kita." Jeff mengembuskan napas, dan berlalu untuk menyeduh kopi di dapur.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD