Mengerjakan aktivitas yang sama setiap hari memang sangat membosankan. Sashi merindukan pekerjaan yang dulu. Namun ia mesti bersabar karena ini sudah menjadi pilihannya. Padahal sedari dulu ia tidak mau terpaku dalam satu ruangan saja. Itu sebabnya Sashi menolak permintaan sang Ayah yang memintanya untuk kuliah dan bekerja kantoran atau menjadi dokter. Ia tidak mau seharian duduk atau berhadapan dengan pasien yang sedang sakit. Sashi mempunyai sifat tidak tegaan. Berhadapan dengan orang sakit setiap hari pasti sangat menguras energi.
Dan lihatlah sekarang, setiap malam ia hanya berkutat dengan adonan atau minuman yang ia buat sendiri, berinteraksi dengan orang yang itu itu saja, lalu pulang hanya untuk tidur dan makan. Tidak seperti ketika bekerja di House of Skills. Tempat kerja yang ia ciptakan seperti home bagi seluruh staff, berkreasi sebanyak mungkin hingga tidak ada kata bosan, karena setiap harinya mereka selalu melahirkan ide-ide cemerlang yang mengasyikan. Selain itu, Sashi juga kerap bertemu orang-orang baru, jam kerja yang fleksible dan yang paling penting, pekerjaan dia adalah basic of her passion.
Sashi tidak memungkiri bahwa ia juga hobi memasak Namun itu adalah hobi yang tidak ingin ia jadikan pekerjaan. Untuk sesaat Sashi bertanya pada diri sendiri, apakah ia menyesal karena mengambil keputusan untuk stay di Bali dan pura-pura meninggal?
Namun pertanyaan itu ia buang jauh-jauh tatkala ponselnya berdering. Ada notifikasi chat dari Noni.
[Sash, lo punya utang sama si Renata?]
Dahi Sashi otomatis mengernyit. Ia megingat-ingat, apakah pernah meminjam uang pada Renata? Selama mereka berteman, tentu saja Sashi pernah memakai uang Renata begitupun sebaliknya. Jika Sashi terlalu malas pergi mengambil uang cash, maka ia akan meminjam pada temannya, termasuk Renata. Namun kadang di antara mereka tidak ada perhitungan, apalagi jika nominal kecil.
Karena penasaran, akhirnya Sashi membalas chat Noni. [Utang yang mana, ya? Kayaknya gue lupa.]
Tidak sampai satu menit, Noni menjawab.
[Katanya waktu lo beli MacBook baru, ATM lo sempet ketelen, terus pake duit dia dulu 24jt. ]
Membaca itu, Sashi pun langsung tidak membuang waktu untuk menelepon Noni sambil membuka pintu keluar. Ia tiba-tiba membutuhkan udara segar.
"Halo, Non, kapan si Renata bilang gitu?"
"Tadi pagi. Gue ga langsung kasih tahu lo karena abis beres meeting ini. Beneran emangnya?"
"Ya nggak lah gilak! Gue emang pake duit dia karena ATM gue ketelen, tapi besoknya pas udah gue urus ke bank, langsung dibalikin ke rekening dia," jawab Sashi tidak terima.
"Wah sialan emang. Tadi dia nunjukin bukti transfer ke rekening lo. Terus dia bilang lagi butuh banget duit itu dan minta mulai bulan depan, setengah royalti lo ditransfer ke dia sampe utang lo lunas."
"Anjir, Non. Gimana cara gue buktiin kalo gue udah balikin duit itu?"
"Ya kali dia tau ga ada yang bisa dibuktiin karena lo udah ga ada. Tenang, nanti gue cari cara."
Sashi memegangi kepalanya sambil memejamkan mata. "Sumpah gue beneran ga nyangka dia bisa sejahat itu. Abis ngekhianatin gue bareng Jio, terus sekarang fitnah kalo gue punya utang?! Dia emang lagi sepi job sampe bohong soal duit gitu?"
"Ga tahu juga gue ga merhatiin jobnya dia. Ya meskipun ada job ga menutup kemungkinan kalo dia masih haus duit," ujar Noni tidak kalah kesal. "Fix banget gue makin benci sama dia."
'Pokoknya kita harus nyari alesan, jangan sampe sepeser pun duit gue jatoh ke tangan cewek sialan itu." Lalu Sashi teringat sesuatu. "Oya, si jio emang ga ada niat mau follow up rekening gue? Kan kita punya rekening bersama dan ahli warisnya atas nama dia."
"Beberapa hari lalu udah gue bahas sama dia. Karena masih dalam suasana berkabung, dia belum mau ngurus rekening itu. Dan gue minta sama dia, karena itu rekening kalian bersama, berarti harus dibagi dua. Arin tetep sebagai ahli waris lo, mengingat si Jio udah ngekhianatin lo. Dia sih oke oke aja."
"Bagus deh... tolong awasin mereka ya, Non. Gue percaya sama lo."
"Sip, tenang aja. Pokoknya semua gue yang urus. Kemaren gue emang sempet pengen resign dari kantor ini, tapi dipikir-pikir lagi, gue tetep harus ada di sini. Banyak orang jahat dan kita pelan-pelan harus tendnag mereka. Kita liatin aja dulu tabiatnya mau sampe mana."
"Iya please stay. Lo jangan pergi dulu. Gue pasti balik ke sana, liat aja mereka bakalan malu."
"By the way, waktu lo balikin yang 24jt itu, ditransfer ke rekening yang sama waktu dia transfer ke lo?"
"Kalo ga salah sih iya. Dia kan cuman punya satu rekening."
"Ya udah biar gue minta print korannya."
"Oke. Gimana acara makan lo sama si Wiggy?"
Noni berdecak. "Ga usah bahas itu dulu deh, males gue."
Sashi tertawa. "Loh kenapa? Ga jadi?"
"Adek tiri lo tiba-tiba aja pengen ikut. Sumpah ya, enek banget gue sama dia. Rasanya selama makan pengen cepet-cepet balik."
Tawa Sashi makin kencang. "Sabar sabar... semoga ada lain kali."
"NGGAK! Udah males banget gue. Seenggaknya tolak kek waktu si Dixie mau ikut. Dia tuh kayak kebo dicucuk idung, tau ga? Sebenernya dia niat ga sih mau ngajak gue dating?"
"Iya dong. Cuman kalo dia nolak si Dixie, nanti dia malu kalo nolak, karena ketahuan kalian mau jalan berdua aja. It's oke, ga usah kecewa. Yang penting, Wiggy jarang-jarang ngajakin lo makan di luar berdua."
"Hhh... iya sih. Ya udahlah gue mau makan dulu, tadi anak-anak di bawah lagi pada pesen makan, takutnya udah dateng. Nanti gue kabarin lagi, ya."
"Oke, selamat makan. Bye. Non."
"Bye."
Sashi sendiri belum makan setelah bangun tidur. Ia melihat ke arah rumah Jeff namun terlihat sepi. Sepertinya Bu Putu tidak datang akrena Jeff masih di cottage. Jadi Sashi memutuskan untuk mencari rumah makan di sekitar pinggir pantai. Ia tiba-tiba membayangkan ikan bakar dengan sambal matah atau rica-rica. Makanan enak adalah salah satu cara untuk memperbaiki mood. Entah kabar apa lagi yang akan diterimanya di kemudian hari. Sashi semakin yakin untuk terus bersembunyi, setidaknya sampai satu tahun. Ia ingin melihat kebusukan orang-orang yang berada di sekitarnya selama ini.
Setelah menemukan restoran, Sashi memilih kursi paling pojok dan duduk menghadap tembok. Ia masih tidak berani tampil terbuka di depan publik karena takut ada yang mengenalnya. Setiap bepergian, Sashi masih harus mengenakan masker dan hoodie. Sekali kelepasan dan tiba-tiba adaorang yang mengenali, ia pasti akan viral di di mana-mana.