Gotcha!

1003 Words
Noni kebingungan memilih baju, padahal lemarinya dipenuhi baju berbagai model, bahkan masih banyak yang belum dipakai. Satu jam lagi ia harus sudah bersiap sementara dirinya baru selesai mengeringkan rambut, belum mencatoknya. Sedari tadi ia hanya mematung di depan lemari, bingung hendak memakai baju kasual atau formal. Akhirnya ia memilih untuk menghubungi Sashi. Temannya itu pasti mau memberi masukan. Noni melakukan videocall sambil memasang headset karena takut ada yang mendengar suara Sashi. Waktu sudah menunjukkan pukul satu siang, Sashi pasti sudah bangun. BEnar saja, pada deringan kedua, temannya itu langsung menerima panggilan. "Ya, Non." Sashi terlihat masih di atas tempat tidur dengan rambut sedikit acak-acakan. "Sash! Gue lagi dalam dilema berat.Bentar lagi kan gue mau jalan bareng si Wiggy, menurut lo gue bagusan pake baju modelan kayak gimana?" Semalam. Noni sudah memberitahu Sashi melalui chat perihal ajakan Wiggy yang mengajak Noni untuk makan siang di Amnivor. Mendengar itu, Sashi malah tertawa. "Ya ilah, Non, makan bareng Wiggy doang kok bingung. Anggap aja lo diajakin makan sama si Emil atau Shaki. "Kemaren sih waktu gue kulineran sama si Emil cuman pake kaus belel kesayangan gue sama celana kain kotak-kotak. Tapi masa gue pake kayak gitu juga sama si Wiggy, mana kami mau makan steak." "Di Amnivor, kan? Itu kan restoran yang kasual, ga usah formal-formal amat." "Hmm... oke deh. Terus menurut lo, gue harus makeup atau nggak? Apa gue harus pake blush on? Ya ampun, Sashiiii... gue bingung gilak! Gue pengen tampil cantik di hadapan dia, tapi nanti dikira nyari perhatian." "Ya kan emang lo mau nyari perhatian.Coba deh lo pake baju shabrina yang kita beli dulu itu di PVJ, yang warna krem. Nah, bawahannya lo pake aja rok cokelat motif plain yang dari H&M. Cocok tuh kayaknya. Lo juga bisa pake makeup yang natural looks. Pasti cantik!" "Oh iya juga, ya, gue sampe lupa pernah beli rok itu. Bentar gue cek dulu." noni membuka lemari. Butuh waktu hampir lima menit untuk menemukan baju yang dimaksud. Untungnya blouse dan rok tersebut sudah terlipat rapi, hingga Noni tidak perlu menyetrika. "Ketemu, Sash! Kayaknya emang bener cocokan pake ini, deh. Thanks yak!" "Anytime. Have fun, ya. Gue mau nyari makan dulu. Laper. Nanti kabar-kabarin gue gimana kencan pertama lo sama Wiggy, oke?" "Okey.... hahaha lagian gue ga yakin kalo dia ngajakin kencan, kali aja cuman ngajak makan biasa. Ya udah deh lo makan dulu, gue juga mau catok rambut. Bye!" Noni menutup telepon, lalu meraih catokan. Ia melakukannya dengan sangat cepat karena sudah ahli memegang alat yang satu itu. Setelah rambutnya sudah cantik, Noni pun mengenakan pakaian yang diipilihnya tadi. Tugas selanjutnya adalah makeup dan parfum. Ia kembali bingung, apakah harus memilih aroma yang sweet atau warm? Akhirnya Noni memillih aroma yang manis, namun tidak begitu menyengat. Semuanya telah siap. Noni berkaca untuk terakhi kalinya. Seler Sashi memang oke, Noni tampak cantik dan percaya diri. Dengan langkah riang, ia pun menuruni tangga. Namun di sana terdengar suara yang selama ini Noni benci. "Kalo aku lebih suka T-bone. Enak banget!" ujar Dixie, lalu matanya melihat Noni menuruni tangga. "Hai, Kak Noni. Udah siap? Aku mau ikut juga dong ke Amnivor!" *** Berbalik dengan keadaan tadi malam, siang ini suasana cottage tampak sepi. Hanya ada suara burung dan dedaunan yang diembus angin. Jeff bersama Alina, Franky dan Soni sedang duduk di bawah pohon seperti biasa. Sementara para bule masih tertidur dan beberapa sedang makan di kafe. Mereka sendiri sedang menikmati es kelapa dan sudah mengisi perut dengan nasi goreng buatan chef. "Sumpah, gue masih keingetan sama cewek semalem. Cantik banget!" ujar Franky sambil memandangi pohon dengan pandangan kosong." "Oh iya, mana cewek lo? Bukannya semalem bilang mau nyari cewek?" tanya Jeff. "Ga jadi. Keburu males gue, gara-gara ga bisa dapetin cewek itu. b******k emang si Robert!" "Kenapa emangnya?" Soni penasaran. "Si Robert bilang itu cewek kepunyaan bos besar, entah siapa. Padahal kan gue juga bisa bayr lebih malah." "Cantik banget, emangnya?" tanya Soni lagi. "Banget, Son. Liat mukanya pertama kali aja, gue udah suka. Dia bukan tipe-tipe bitchy yang gimana, tapi aura seksinya keliatan banget. Ah sulit diungkapkan dengan kata-kata." "Apa warna rambutnya?" Jeff tidak sadar bertanya begitu, namun ia sungguh penasaran karena mengira mungkin saja yang dimaksud oleh Franky adalah Sashi. Franky mengingat-ingat sebentar. "Rambutnya dua warna. Tapi warna dasarnya gelap, kalo ga salah abu atau biru gitu. ah pokoknya cakep!" Mendengar itu, Alina diam-diam memerhatikan ekspresi Jeff. Ia sudah curiga bahwa wanita yang menempari rumah belakang bukanlah seorang waiters, melainkan wanita penghibur. Tidak mungkin seorang waiters bisa membeli banyak barang branded. "Dia ada tahi lalatnya?" tanya Alina. Jeff langsung menoleh, tidak menyangka Alina mempertanyakan itu dan mencurigai Sashi. "NAH IYA!!! Dia punya tahi lalat di dagu, itu yang bikin dia tambah manis. By the way kok bisa nanya tahi lalat?" tanya Franky heran. Alina memandangi Jeff. "Kamu tahu kalo itu Sashi?" Jeff hanya terdiam dan mengedikkan sebelah bahunya. "Ga tau juga aku." "Terus kenapa kamu tadi nanyain warna rambut? Kamu pasti curiga juga kan kalo cewek itu bukan kerja sebagai waiters?" Franky yang mendengar itu langsung memajukan badan mendekati Jeff dan Alina. "Bentar bentar... lo ngomongin siapa sih? Bukan cewek yang gue sebut barusan, kan?" "Belum pasti," jawab Jeff. Lagian itu urusan dia, kita ga perlu ikut campur." "Emang yang dimaksud sama lo itu siapa?" tanya Franky lagi menggebu-gebu. "Bisa ga gue ketemu sama dia?" "Nggak... ntar dikira gue ngapain pake kenal-kenalin dia ke lo." "Emang dia di mana?" Alina menjawab. "Itu sih cewek yang nyewa rumah belakangnya Jeff." "Hah? Yang bikinin kita dessert boks itu? Bener?" "Iya," jawab Alina dengan nada kesal. "Kalo beneran cewek itu kerja kayak gitu, mending suruh dia cari kost deh, Yang. Ngapain juga kamu nampung-nampung. Kamu ga liat dia bisa belanja banyak barang mahal kayak gitu, berarti dia mampu dong nyewa kost atau bahkan rumah. Aku jadi curiga dia betah di situ, malah mau ngegaet kamu." Jeff tertawa. "Kan belum pasti juga, Yang. Nanti lah aku omongin sama dia." "Kalo kamu ga berani, biar aku aja yang ngomong." "Jeff, Jeff. Kapan lo balik ke rumah? Gue ikut, ya," ujar Franky memohon.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD