Noni dan Emil sampai di kantor jam sembilan malam dalam keadaan perut kenyang dan puas. Mereka juga membawa banyak jajanan untuk teman lainnya. Ada bolu bakar, cireng salju yang tinggal digoreng, dan beberapa camilan lainnya. Namun ternyata di kantor sangat sepi,tidak ada siapapun termasuk di studio. Noni menghubungi Jio, dan temannya itu mengatakan bahwa mereka sedang pergi nonton di bioskop untuk melepas penat.
"Wah parah ga ngajak-ngajak. Mereka lagi nonton, katanya," kata Noni pada Emil.
"Ya udah, lagian kita juga dari tadi jalan-jalan ga ngajakin mereka. By the way, gue tidur duluan, ya. Capek. Tangan gue pegel nyetir seharian."
"Oke," jawab Noni. Sementara dia sendiri meletakkan barang bawaanya di kulkas dan sebagian ditaruh di meja makan.
Noni lupa menanyakan siapa saja yang ikut nonton bersama Jio. Ia membayangkan, mungkin saja Wiggy ikut bersama 'monyetnya' atau Renata terus-terusan menggandeng Jio. Ia pun menghela napas, mengingat banyak sekali orang menyebalkan di kantornya.
"Udah pulang?"
Noni terlonjak kaget mendengar suara Wiggy entah dari mana. Ternyata pria itu ada di bawah tangga, baru saja turun mengenakan piyama. Rupaya Wiggy sudah mulai menginap lagi di kantor, setelah beberapa hari ini datang hanya untuk pekerjaan demi menghindari Jio. Mereka masih perang dingin.
"Oh iya, baru aja balik. Lo ga ikut Jio nonton?"
Wiggy menggeleng. "Bawa apa?"
"Bawa camilan doang. Lo udah makan? Mau ini?" Noni menunjukkan bolu bakar rasa keju.
"Boleh." Wiggy pun duduk di meja makan, lalu mengambil sepotong bolu untuk dimakannya.
Noni tiba-tiba melihat ke sekeliling, mencari keberadaan Dixie. "Asisten lo mana?"
"Siapa?" tanya Wiggy balik.
"Si Dixie lah, siapa lagi. Kan dia mendeklarasikan dirinya sendiri sebagai asisten lo."
"Oh, ga tau. Tadi pas lagi meeting, dia tiba-tiba dapet telpon, katanya dari temennya di kampus. Ada yang urgent."
Noni hanya mengangguk dan duduk di hadapan Wiggy untuk menemaninya makan. Rasanya menyenangkan bisa bersantai di kantor tanpa ada Dixie dan suaranya yang super manja itu. Ia berharap semoga Dixie disibukkan dengan tugas kuliah sehingga membuat dirinya tidak sempat datang lagi ke kantor. Pikiran itu memang jahat, namun Noni berpendapat bahwa kehadiran Dixie memang tidak sepenting itu. Adik tiirinya Sashi sama sekali tidak berkontribusi apa pun dan sama sekali tidak ada bakat yang bisa dipakai oleh House of Skills. Noni sama seklai tidak keberatan kedatangan orang baru, namun setidaknya orang itu mempunyai karakter yang menyenangkan dan mempunya kinerja yang bagus seperti setiap orang di kantor tersebut.
Setelah menghabiskan tiga potong bolu bakar, Wiggy membuka tutup saji. Hanya ada beberapa masakan yang dibeli oleh Revo dan sudah terlihat tidak enak dipandang.
"Lo laper? Belum makan nasi, ya?" tanya Noni.
"Iya, tadi pas meeting cuman makan sedikit."
"Duh tahu gitu tadi gue beliin makan di luar. Mau GoFood aja?"
"Uhm.. gue tiba-tiba keingetan mie rebus buatan lo. Kalo ga keberatan, mau bikinin buat gue? UDah lama soalnya ga makan mie."
Tentu saja dengan senang hati noni mengangguk. Ia tidak menyangka bahwa Wiggy menyukai mie buatannya, karena selama ini pria itu jarang memuji atau menunjukkan apresiasi.
"Bentar gue cek dulu persediaan mie rebusnya."
Noni membuka buffet kitchen dan menemukan dua mie samyang. Ia pun membuka kulkas untuk mengambil pakcoy, wortel, telur, bakso dan beberapa lembar daging korea. "Wah, lengkap nih."
Ia pun mulai memakai apron dan menyalakan kompor. Sementara dirinya memotong wortel berbentuk korek, lalu mencuci sayurnya. Ia dan Sashi biasanya makan samyang dengan level kepedasan hingga sepuluh. Mereka sama-sama menyukai pedas dan selama ini perutnya tidak pernah bermasalah. Kadang setelah capek dengan beberapa pekerjaan, Sashi suka mengajak Noni untuk membuat samyang. Mereka berdua sangat pintar memasak, namun Sashi jarang berada di dapur karena lebih sibuk dengan pekerjaannya.
Jadi biasanya yang memasak hanya Noni dan Emil. Emil pandai memasak karena dia hobi makan. Namun pengetahuan memaskanya masih jauh di bawah Noni, apalagi Sashi.
"Gy, mau pedes banget, ga?"
"Oh nggak. Samyang kan itu? Kurangin deh pedesnya."
Noni tertawa karena Wiggy toleransinya rendah terhadap pedas. "kenapa sih orang bisa ga suka sama pedes?"
Wiggy menimpali. "Kenapa orang mau nyiksa lidahnya sendiri sampe kepedesan gitu?"
"Ya sama aja kayak yang lain, kenapa orang mau makan apre yang pahit atau mau makan jengkol padahal baunya minta ampun. Karena di balik itu semua ada kenikmatan ketika memakannya," jelas Noni sambil memecahkan telur dan memasukannya ke dalam panci.
"Gue ga suka semuanya," ujar Wiggy. "Aneh."
"It's oke, Gy. Tiap orang kan punya kesukaan masing-masing. Yang penting lo suka masakan gue."
Noni mengambil mangkuk di rak. Setelah mienya mengembang sempurna, ia pun menuangkan semuanya ke dalam mangkuk putih yang berukuran besar tersebut.
"Banyak banget. Gue emang laper tapi ga akan ngabisin segini juga," ujar Wiggy setelah Noni menaruh mangkuk mie di hadapannya.
"Cobain aja dulu. Emang keliatannya banyak, tapi kalo lu udah makan, bisa aja ngerasa masih kurang," kata Noni percaya diri.
Wiggy mulai menikmatinya sambil meniup-niup mie rebus yang masih mengepul itu. Ia mengangguk sambil memandangi Noni, pertanda ia menyukai samyang buatannya. Noni hanya di sana memperhatikan Wiggy. Jarang-jarang mereka duduk berduaan begitu dan itu membuat hatinya senang.
Ternyata benar, mie tadi terlihat sangat banyak, namun Wiggy tidak bisa berhenti memakannya hingga habis sampai kuah terakhir.
"Gimana?"
"Enak banget!" jawab Wiggy sebelum minum air putih.
"Syukur deh... by the way, gue mandi dulu ya, takut keburu malem banget."
"Oke. Oya, besok gue rencana mau makan di Amnivor. Mau ikut?"
"Amnivor? Meeting sama siapa?"
"Bukan meeting. Pengen makan aja di sana.
Kepala Noni seketika loading. Jarang-jarang Wiggy mengajaknya makan di luar. "Siapa aja yang ikut."
"Ya lo doang. Anggap aja sebagai ucapan terima kasih karena lo udah nyelametin gue malam ini dari kelaparan."
Noni tidak bsia lagi menutupi kesenangannya. "Astagaa.. itu kan ga seberapa. Tapi, beneran lo mau ngajakin gue makan di luar?" tanya Noni sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Serius lah. Kalo mau besok jam tiga stand by aja. Atau besok lo ada kerjaan?"
"Oh, nggak kayaknya. Oke besok berkabar lagi aja, ya."
Wiggy mengangguk. Noni pun langsung pergi ke kamarnya dengan langkah cepat. Ia tidak sabar untuk memberitahu Sashi bahwa baru saja Wiggy emngajaknya makan di luar. Bukankah itu seperti mengajak kencan?
Noni benar-benar tidak bisa berhenti tersenyum. Sesampainya di kamar, ia langsung membuka applikasi chat dan mengetikkan info itu dengan gerakan cepat.