Suasana hati Alina terlihat lebih baik ketika mereka sampai di cottage. Alina mempunyai selera yang sama seperti ibunya Jeff yang lebih menyukai pemandangan hijau seperti bukit daripada laut. Warna hijau sendiri mempunyai arti healing dan membuat segar sepanjang mata memandang, sementara laut selalu membuatnya merasa kecil, setidaknya begitu menurut Alina.
Salah satu pegawai Jeff menyuguhkan dua kelapa yang Ia ambil langsung dari pohonnya. Jeff dan Alina menikmatinya di bawah payung tenda. Sementara Franky sedang merecoki salah satu koki yang sedang mendemokan beberapa menu kafe yang juga masih menyatu dengan cottage. Semua pekerja sudah mulai training sebelum cottage benar-benar dibuka. Jeff lumayan suka kinerja mereka yang diawasi langsung oleh Soni.
“Gila gilaaa, mantap!! Guys, cobain deh porterhouse buatan koki kita satu ini!” Franky membawa sepiring porterhouse, daging steak yang ada tulangnya.
Franky menyuapi Jeff dan Alina bergantian dan meminta pendapat mereka. “Gimana?”
“Enak,” kata Alina, diikuti oleh anggukan Jeff yang setuju.
“Iya kan? Luar biasa, tamu-tamu cottage lu pasti bakalan betah kalo makanannnya enak-enak gini. Tadi gue nyobain nasi goring westernnya hyga enak! Mantap, mantap!”
“Gue emang sengaja nyari koki yang udah professional sekaligus kepala chef, supaya tamu lebih betah. Fasilitas oke, pemandangan bagus dan perut mereka terpuaskan.”
Jeff juga tidak memasang harga tinggi untuk makanan-makanannya sehingga tamu tidak perlu keluar untuk mendapatkan makanan enak dan terjangkau. Ia juga menyediakan paket barbeque jika ada tamu yang ingin memanggang dagingnya sendiri di halaman belakang yang dilayout se-estetik mungkin.
“Fix gue bakalan sering rekomendasiin cottage ini sama temen dan rekan bisnis gue,” ujar Franky sbelum melahap kembali porterhousenya hingga habis. “Boleh g ague jadiin konten? Nggap aja gue endors, lo ga usah bayar.”
“Gue emang mau minta lo endorse cottage gue tanpa biaya,” kata Jeff.
“Wahh… b******k emang kawan kita satu ini. Tapi gapapa, yang penting selama gue di sini dapet fasilitas gratis.
Selain bisnis, Franky juga seorang youtuber. Subsribernya sudah ratusan ribu dan ia mempunyai salah satu konten ‘Prank ala franky’ yang sangat ditunggu-tunggu para subscribersnya. Jiwa jahilnya memang sudah tertanam ketika masih kecil. Bahkan saat masih kuliah, ia pernah pura-pura keracunan di rumahnya dan menghubungi Jeff untuk segera datang menolong. Jeff yang kala itu sedang bersama Soni di kampus, langsung kelabakan menuju rumah Franky. Sesampainya di sana, franky sudah tergeletak di lantai dengan mulut penuh busa. Soni sudah terlihat panic sambil berusaha menelepon ambulance, sementara Jeff melakukan CPR. NAmun ketika Jeff hendak melakukan napas buatan, Franky langsung menjerit, begitupun dengan Jeff dan Soni yang ikut menjerit.
Franky saat itu tertawa terbahak-bahak melihat kepanikan di wajah kedua temannya. Soni sendiri sangat marah karena harus meninggalkan kelas, juga harus meminta maaf kepada tim medis yang membawa ambulance ke rumah Franky.
“Son, lu udah nyobain porterhouse buatan koki kita?” Tanya franky berseru ketika Soni menghampiri mereka.
“Udah barusan nyobain. Enak! Wahh, bakalan makin mantap kalo dessertnya eclaire buatan temen lo itu, Jeff. Bawa diua ke sini deh gue mau kenalan, sekalian minta dia ajarin koki di sini buat bikin eclaire-nya.”
“Nanti pas nyokap dateng dia gue ajakin ke sini kok,” jawab Jeff.
“Cantik ga sih anaknya?” tanya Franky.
“Ya liat aja ntar sendiri.”
Sementara Alina sama sekali tidak tahu siapa yang sedang mereka bicarakan. Mengapa teman-temannya Jeff bisa mencicipi makanannya dan kenapa juga Jeff hendak mengajaknya ke sini ketika orang tuangnya datang.”
“Emang siapa yang bikinin dessert buat kamu?” tanya Alina penasaran.
“Itu si Sashi yang tinggal di rumah belakang. Dia kemaren sempet bikin dessert box gitu banyak. Terus aku bawain beberapa ke sini buat si Soni sama Frabky,” jawab Jeff santai, tidak ada maksud untuk menyembunyikannya.
“Kok bisa sih dia sampe bikini dessert box buat kamu. Bikin di dapur kamu?”
“Ya iya, Sayang. Dia bikin bareng Wayan. Karena dia udah nempatin rumah belakang tanpa bayar, jadi dia mau balas budi dengan sediain aku makanan. Cuman akhir-akhir ini aku udah minta dia ga perlu masak lagi, karena aku pun udah jarang di rumah. Dia juga pasti capek kerja dari sore sampe subuh.”
Alina memandangi Jeff skeptis sehingga suasana di sekitar mereka menjadi tidak enak. “Terus ngapain kamu mau bawa dia ke sini pas papa mama kamu dateng? Mau dikenalin?”
“Aku ga bawa dia doang, Yang. Bu Putu sama Wayan juga ikut. Maksudnya cuman buat ngerayain soft opening cottage ini dan biar mama ga kesepian aja kalo banyak orang dateng. Aku malah berharap kamu juga masih di sini.”
“Aku cuman ga nyangka aja kalo kamu udah sedeket itu sama Sashi. Tapi ya udah lah kalo emang ga ada apa-apa.”
Mendengar itu, Jeff hanya tertawa karena untuk pertama kalinya, Alina terlihat cemburu. Sementara Alina merasa kesal karena Jeff menganggapnya begitu. Sama sekali bukan sikap Alina yang insecure atau posesif terhadap pasangan. Selama ini ia tidak pernah merasa terganggu dengan siapapun, karena ia yakin Jeff tidak akan pernah berkhianat darinya. Namun entah mengapa, Alina merasa tidak suka ketika pertama kali melihat Sashi, sementara ia sudah sering melihat Jeff berinteraksi dengan banyak wanita yang lebih cantik.
Melihat prahara di antara Jeff dan Alina, Franky pun perlahan mundur teratur diikuti oleh Soni yang kembali untuk mengawasi para pegawai. Jeff yakin kedua temannya itu akan mengoloknya jika nanti Alina sudah pulang.
“kamu lagi ada masalah sama kerjaan kamu?” tanya Jeff.
“Nggak. Kenapa emangnya?”
“Ga ada. Tapi sejak dari bandara, kamu kelihatan lagi ga baik-baik aja. Kebanyakan diem ga kayak biasanya. Kalo ada apa-apa kan kamu biasanya cerita sama aku.”
“Ya karena aku ga cerita sama kamu, berarti lagi ga ada apa-apa. Kau ga usah alihin pembicaraan deh.”
“Pembicaraan mana? Soal Sashi? Ga ada yang akus embunyiin soal dia. Aku anggap Sashi kayak Wayan, udah kayak adik sendiri, ga lebih. Dia juga masak di dapur kalo ada Bu Putu doang, mereka yang lebih banyak interaksi. Emang kamu nyangkain aku ada apa-apa sama dia?”
Alina mendelik. Sementara jeff merasa tidak enak karena telah berbohong. Mungkin naluri Alina memang bagus, karena curiga Jeff dan Sashi pernah terlibat sesuatu. Jeff mengelak itu semua karena ia sendiri pun ingin meyakinkan diri bahwa ia tidak memiliki perasaan apa pun pada Sashi. Hal tersebut sangat tidak mungkin, karena Jeff tidak menyukai perempuan yang berprofesi sebagai wanita penghibur.