Work

1014 Words
Semuanya sudah siap. Berbagai menu telah terhidang di atas meja. Sashi dan Wayan sudah makan terlebih dahulu dan Wayan memuji masakan Sashi sangat enak. Ia yakin, Jeff juga akan sangat menyukainya. Setelah perutnya kenyang dan dapur sudah dibersihkan, Sashi kembali ke kamarnya sendiri dan memulai mencari uang. Ia bingung harus mulai dari mana karena sudah tidak punya akses lagi. Satu-satunya yang bisa ia lakukan hanya trading. Untung saja ia masih memiliki sejumlah uang di dalam forex untuk ditradingkan, meskipun tidak begitu banyak, namun lumayan untuk dijadikan modal. Sashi tetap menggunakan email lama. Sebenarnya Sashi tidak begitu hoki dalam bermain Forex ataupun bitcoin, ia tidak bisa menggantungkan hidupnya pada trading. Jadi ia perlu mencari pekerjaan sampingan supaya tetap hidup dan tidak menyusahkan orang lain, terutama Jeff. Meskipun pria itu sangat baik, Sashi malah merasa semakin tidak enak jika terus-terusan merepotkan. Semua yang ia dapatkan sudah lebih dari cukup. Seketika ia teringat pada Robert, temannya yang tidak sengaja bertemu di supermarket kemarin. Dilihaat dari penampilannya, Robert sepertinya hidup enak di Bali. Temannya itu memang terkenal humble, kreatif dan mudah bergaul. Mungkin Sashi bisa meminta tolong padanya. Lagi pula, ia perlu memberitahu Robert tentang kematian palsunya sebelum terlambat. Jadi, Sashi pun membuka ponselnya dan mencari kontak Robert untuk mengirim pesan. [Hi, Robert. Ini Sashi . Lagi sibuk ga?"] Tidak sampai lima menit, Robert menghubungi Sashi lewat telepon. Sashi pun langsung mengangkatnya dalam deringan pertama. "Haloo," [Hey baby baby one more time... kenapa? Ada apaa? Jam segini gue lagi ga terlalu sibuk. Malah lagi rebahan.] "Wahh enak! Lo stay di mana sih, Rob?" [Gue di Kuta. Sini lo maen.] "Sebenernya, gue emang mau ngajak lo ketemuan. Ada hal penting yang mau gue ceritain." [Apa tuh?] "Entar aja gue cerita kalo kita ketemu. Kira-kira bisa kapan?" tanya Sashi sambil meluruskan kakinya di atas tempat tidur. [Boleh sekitar jam tiga sore. Nanti lo cari aja kafe Kemami, kita ketemuan di sana, oke?] "Sip, gue hubungin lo lagi besok. Thanks ya, Rob." [Anytime. Bye!] "Byee..." Telepon pun ditutup. Sashi mendapat firasat baik bahwa ia akan aman-aman saja selama berada di dekat Robert. Karena perasaannya sudah tidak gelisah lagi, Sashi mulai mencoba mengaktifkan forex dan melihat situasi mata uang di sana. Sashi memulainya dengan akun demo untuk melatih instinc-nya lagi. Yang mengajari ia bermain forex selama ini ialah Revo. Temannya Jio itu sudah mendapatkan banyak keuntungan dari Forex karena pintar membaca situasi keuangan. Pria itu pernah bilang, Jio tidak akan bisa memainkan forex karena orangnya tidak sabaran dan emosian, sementara bermain forex harus sabar. Setelah hampir dua jam berselancar di akun demo dan mendapat untung kecil-kecilan, pintu Sashi diketuk. Ia mengira Wayan akan pamit pulang. Ternyata Jeff sudah pulang dan sudah berganti baju dengan kaus gambar Woody Woodpecker, salah satu karakter kartun yang lucu. Sashi tertawa kecil melihatnya. "Kamu suka banget pake kaus gambar kartun gitu, ya?" Jeff hanya tersenyum. "Iya." "Sini masuk." Sashi menggeser salah satu kursi plastik untuk diduduki oleh Jeff. "Saya cuman mau bilang makasih karena udah masakin. Ternyata bener, masakan kamu enak," kata Jeff sambil menduduki kursi tersebut. "Ah biasa aja. Itu karena kamu jarang makan masakan rumah. Kata Wayan kamu cuman bikin makanan instan aja kalo lagi di rumah." "Mungkin gitu. Tapi beneran enak, kok. Itu masakan Padang, kan? Aku baru nyobain sekali, meskipun cabenya harus disingkirin dulu." "Ga suka pedes?" tanya Sashi merasa tidak enak. "Kurang suka. Tapi tadi beneran enak dan ga begitu pedes." "Oke, noted. Kalo misalkan kamu mau, aku bisa masakin tiap hari untuk kamu. Anggap aja itu bayaran aku selama tinggal di sini. Karena aku ga enak kalo cuman numpang aja tanpa ngelakuin sesuatu." "As I said, kamu ga perlu mikir-" "Aku hobi masak, asal kamu tahu aja," ujar Sashi memotong kalimat Jeff. "Aku juga masih pengangguran. Masak bisa jadi pengalihan buat aku, sama sekali ga ngerepotin, malah kita sama-sama diuntungin. Gimana?" Jeff mengagguk perlahan. "Oke. Saya akan kasih uang mingguan untuk kemu atur semua bahan-bahan masaknya. Tapi kamu dan Wayan juga harus makan masakan yang kamu buat untuk saya. Karena tanggung kalo harus masak untuk saya saja." "Oke, fine!" seru Sashi dengan senyumnya yang lebar. "Kalau gitu aku mau balik ke rumah dulu, setengah jam lagi ada meeting sama klien." "Oke, Jeff. Aku juga lagi ngerjain sesuatu di laptop." "Ya udah terusin. By the way ini, kunci cadangan dapur. Kalo tengah malem butuh makan atau minum langsung ke dapur aja, ga perlu sungkan," ujar Jeff sambil menyerahkan kunci disertai gantungan yang lucu. "Oh, makasiiih..." Jeff kembali mengangguk dan berlalu pergi. "Ya ampun, apa dia sama sekali ga takut kalo ternyata gue seorang pencuri atau psikopat?" gumam Sashi . Sebelum membuka kembali akun forex, tangan Sashi memencet logo i********: untuk kembali stalking. Rasa marah terhadap adik tirinya kembali setelah kemarin melihatnya memakai barang-barang Sashi . Kini setelah Sashi kembali melihat postinganya di story, darah kembali mendidih di kepalanya. Adiknya itu sedang memposting foto yang sedang memeluk bantal. Ia berada di kamar Sashi dan memakai baju tidurnya. Jadi sudah pasti, Dixie mengetahui kalau Sashi kecelakaan hingga bebas melakukan apa pun di rumah dan memakai semua barang-barangnya. Tidak ada rasa sedih sedikitpun atau empati terhadapnya. Hal tersebut sangat membuat Sashi marah sekaligus sedih. Ia bertanya-tanya apakah ayahnya juga berlaku demikian? Apakah beliau tetap sibuk bekerja meskipun tahu bahwa anaknya kecelakaan? Sayang sekali ayah dan ibu tirinya tidak memiliki akun media sosial sehingga Sashi tidak tahu kabar mereka. Entah bagaimana caranya untuk mengetahui hal tersebut. Berita mengenai kecelakaan pesawat itu pun sama sekali tidak ada kemajuan yang signifikan. Hanya ada empat jenazah yang ditemukan dari total ratusan. Juga potongan badan pesawat yang menandakan bahwa burung besi itu sangat hancur begitu mendarat di lautan. Dalam berita dijelaskan bahwa tim sar masih akan melanjutkan pencarian dalam seminggu ke depan. "Kak Sashi , aku pulang dulu ya," seru Wayan dari luar. Sashi buru-buru membuka pintu untuk melambaikan tangannya. "Oke, hati-hati, salam buat Ibu." "Oke, Kak." Sashi memerhatikan Wayan pergi hingga menghilang di belokan. Ia menyukai gadis itu yang manis dan sopan. Zaman sekarang jarang sekali anak seusianya yang mau bekerja menggantikan sang Ibu menjadi asisten rumah tangga di rumah orang. Untung saja ia mempunyai majikan seperti Jeff.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD