Sashi memutuskan hari ini untuk pergi jalan membeli bahan-bahan masakan. Ia kembali memakai hoodie dan kacamata, entah mengapa rasanya lebih aman begitu. Karena siapa tahu ada orang yang kenal dengannya sedang berlibur di Bali.
Karena Jeff mempunyai darah Minang, Sashi memutuskan untuk membuat dendeng batokok, sayur cah kangkung dengan telur puyuh, dan perkedel ajgung. Semoga Jeff menyukainya. Sedari kecil, Sashi sudah pandai memasak karena sering membantu ibunya di dapur. Wayan membantu Sashi mendorong troli berjalan menyusuri lorong demi lorong hingga troli tersebut penuh.
"Kayaknya udah dapet semua, deh. Kamu ada yang mau dibeli, ga? Ambil aja," kata Sashi menawari Wayan.
"Nggak, Kak. Ini saja sudah banyak, mending kita pulang aja."
"Oke, kita beli eskrim di depan aja, ya."
Wayan mengangguk.
Setelah semua belanjaannya dibayar, mereka pun membagi dua barang bawaan untuk diangkat. Keduanya lalu menghampiri counter eskrim. Sashi memesan rasa hazelnut sementara Wayan memilih raspberry. Mereka menikmatinya sambil duduk di kursi, juga sambil menunggu taksi online yang sudah Sashi pesan.
"Sashi !! Lo Sashi , kan?"
Mata Sashi menyipit dan ketakutan karena seseorang mengenalinya, padahal ia memakai tudung hoodie serta kacamata. Ternyata orang yang berada di hadapannya adalah Robert. Kakak kelas yang agak gemulai dengan tubuh berisi dan rambut keriting. Mereka di kampus dulu satu tim dalam pembuatan event dan sama-sama menyukai sinematografi.
"Hey, Kak Robert?! Wah masih sama aja kayak dulu. Apa kabar?"
"Baik. Lo lagi liburan di sini?"
"Ehmm... lagi stay sih beberapa bulan ke depan. Kak Robert ngapain?"
"Gue udah stay di sini dua empat tahunan. Tinggal di mana lo? Main doang ke kafe gue."
"Wah Kak Robert punya kafe? Boleh-boleh kapan-kapan aku main."
"Sini nomor w******p lo, kita kontakan."
Sashi pun memberikan nomor w******p-nya, sementara taksi online yang ia pesan sudah datang.
"Kak, sorry gue udah pesen taksi tadi. Jalan duluan, ya. Jangan lupa chat gue," kata Sashi sambil melambaikan tangan.
"Okii... hati-hati nanti gue telpon deh maleman."
Sashi dan Wayan pun memasuki taksi. Setelah duduk, Sashi harus mengingatkan diri untuk mengatakan pada Robert tentang issu meninggalnya, karena lambat laun, Robert bisa mendapat kabar tentang ini. Sashi yakin orang itu bisa dipercaya. Meskipun penampilan Robert begitu, tetapi Sashi mengenalnya dengan sangat baik.
Sesampainya di rumah, ia langsung membongkar belanjaan. Banyak stock masakan dan bahan camilan yang Sashi beli untuk disimpan di kulkasnya Jeff. "Kayaknya aku juga harus beli kulkas mini buat di kamar. Semoga bisa dapetin duit dari forex, deh."
"Kita mau masak sekarang, Kak?" tanya Wayan.
"Kamu capek, ga?"
"Nggak, kebetulan saya hobi masak juga. Mending dari sekarang supaya ketika Pak Jeff pulang, semuanya udah siap."
"Ahhh... oke deh. Aku mita tolong kamu potongin cabe ijo sama bawang bombay aja, ya. Dagingnya biar aku yang cuci dan goreng."Sashi menyerahkan cabe dan bawang kepada Wayan. Ia pun mulai memotong tipis daging sapi sirloin. Sebenarnya untuk dendeng batokok, dagingnya harus khusus untuk dendeng, namun Sashi lebih suka menggantinya dengan sirloin.
Ada dua masakan padang yang ia bisa masak dan sudah hapal di luar kepala, yaitu dendeng batokok dan balado merah isi macam-macam. Tapi Sashi lebih suka isiannya telur rebus, ayam dan terong. Next ia akan membuatkannya juga untuk Jeff.
Yang sangat ia benci dalam hal masak memasak adalah mengupas dan memotong sayuran atau daging. Karena akan menghabiskan waktu lama, sementara memasaknya tidak sampai sepuluh menit. Dan hal terburuk dari semua ini adalah mencuci peralatan masak. Sashi sangat membencinya. Mungkin ia akan membayar Wayan untuk melakukan itu.
"Kamu bisa masak apa aja?" tanya Sashi pada Wayan yang sedang memotong cabe ijo dengan gunting.
"Banyak. Bebek atau ayam betutu, seafood, karena dulu ibu kerja di restoran dan suka masak di rumah. Jadi saya kadnag suka bantu juga."
"Wah, kalau gitu nanti gantian kamu yang masak. Aku pengen nyobain. Ngomong-ngomong ibu kamu udah sembuh?"
"Udah mendingan. Dia katanya pengen cepet kembali kerja di sini, ga enak sama Pak Jeff. Tapi saya nyuruh mulai minggu depan aja supaya pulih bener badannya."
"Ah iya, suruh istirahat dan minum vitamin aja. Dia tahu ada saya di sini?"
Wayan mengangguk. "Saya cerita dan ibu penasaran pengen ketemu kakak. Katanya Kakak pasti cantik karena biasanya Pak Jeff suka skeptis sama orang asing. Ibu ga nyangka kalau Pak Jeff mau ngasihin gudangnya ke kakak untuk dipake sementara.
"Emang Pak Jeff galak ya sama orang?"
"Sebenernya dia baik, cuman dia bukan tipe yang sangat peduli sampe mau masukin orang asing ke rumahnya. Waktu ibu saya pertama kerja di sini aja, Pak Jeff selalu memicingkan mata dan perhatiin gerak gerik ibu. Katanya dia juga seleksi banget mau memperkerjakan orang di sini. Sekarang Pak Jeff sama ibu malah kelewat baik. Kemarin selama ibu sakit, dia yang biayain semua pengobatannya dan selalu nanya ibu butuh apa."
Sashi mengangguk perlahan. Lalu kenapa Jeff bisa mempercayai Sashi hanya dalam kurun waktu satu malam. Mungkin dia hanya kasihan melihat Sashi yang sebatang kara dan patah hati.
"Saya juga bilang kalo kakak cantik, jadi ibu ga heran lagi."
Sashi pun tertawa. "Aduh kamu ini.. aku kan jadi malu. Emangnya Pak Jeff suka cewek-cewek cantik?"
"Hmm... kayaknya iya, tapi dia juga pilih personality-nya juga. Pacarnya yang sekarang itu model, cantik banget. Namanya Alina. Mbak Alina juga baik, manis, suaranya lembut. Terus mantannya Pak Jeff sebelumnya juga baik banget dan cantik. Mungkin tipe-tipenya kayak gitu."
"Aku udah liat foto pacarnya yang ada di kamar tamu. Memang cantik banget, aku kalah jauh sama dia. Jadi aku nganggep kalo kebaikan Pak Jeff itu hanya karena pengen nolong aku aja. Mungkin aura aku memancarkan orang yang memang butuh pertolongan."
Wayan tertawa. "Tapi kakak beneran cantik. Meskipun ga pake makeup."
"Thank you," jawab Sashi. Ia pun fokus kembali memasak. Setelah selesai memotong daging, begitupun Wayan sudah memotong semua tugasnya, Sashi meyalakan api. Ia memasukan minyak goreng, setelah panas baru memasukkan cabe ijo dan bawang bombay hingga layu sedikit. Lalu disusul dengan daging, santan dan jeruk nipis. Setelah wangi, masakannya pun siap. Dendeng batokok memang simpel. Sashi bisa menambah dua kali makan jika lauknya adalah menu padang tersebut. Ibunya selalu menambahkan petai, Sashi juga suka, tapi saat ini sebaiknya dihindari karena takutnya Jeff tidak menyukai petai. Karena menurut Wayan, ia tidak pernah melihat majikannya itu memakan petai.