Hanya ada enam jenazah yang ditemukan oleh tim sar, dua di antaranya adalah balita perempuan dan laki-laki. Semua jenazah tersebut telah diantarkan ke rumah duka. Entah sampai kapan mereka akan mencari jenazah korban lainnya. Jio berharap Sashi juga diketemukan, supaya ia bisa mengunjunginya untuk meminta maaf.
Kini Jio sudah berada di dalam bus menuju Bandung. Sedari tadi hanya diam sehingga membuat Renata kesal. Sementara Emil duduk di belakang mereka sambil memutar konten-konten di YouTube channel House of Skills yang ia kerjakan bareng Sashi. Memang mereka berdua yang banyak menumpahkan ide untuk membuat konten supaya tidak monoton. Emil selalu suka jika sharing mengenai pekerjaan dengan Sashi, mereka selalu nyambung. Sashi juga sudah dianggap seperti adiknya sendiri. Meski House of Skills secara official milik Sashi dan Jio, namun Sashi selalu berusaha supaya semua staff seolah memiliki kantor tersebut. Ia akan meminta pendapat dan menghargai semua partnernya. Itulah salah satu alasan mengapa para talent maupun staff merasa betah selama berada di kantor yang merangkap sebagai rumah kedua mereka. Sama sekali tidak ada beban.
"Mil, rest area masih jauh ga sih? Gue udah mual banget.," kata Renata pada Emil yang tengah berkaca-kaca.
"Lah gue juga gak tahu. Baru pertama dari Bali ke Bandung pake bus gini," jawab Emil sekenanya. Padahal ia juga sangat kelaparan.
"jio udah bangun?"
"Udah nih."
Setelah akhirnya sampai di rest area, mereka makan ayam goreng, burger, kentang dan eskrim. Jio masih belum banyak bicara dan hanya makan sedikit, lalu kembali masuk ke bus terlebih dahulu.
"Maklum aja, namanya juga abis kehilangan pacar dan partner kerja," ujar Emil.
Renata hanya mengangkat sebelah bahunya berpura-pura tidak peduli.
Sementara di seberang pulau lainnya, Noni, Shaki dan Wiggy baru saja turun dari pesawat. Noni langsung membeli Beard Papa's satu lusin karena teringat Sashi yang ingin membelinya. Mereka langsung menuju kantor House of Skills, karena Revo sudah menunggu di sana.
Di atas pesawat tadi, Noni hanya memandang keluar jendela, sempat pucat membayangkan apa yang dirasakan Sashi ketika tahu bahwa pesawat yang ia tumpangi sedang tidak beres. Ia begitu emosional hingga ingin memeluk Sashi seandainya temannya itu masih hidup.
"Si Emil sama Jio udah nyampe mana? Coba lo hubungin," kata Shaki begitu mereka memasuki gocar yang sudah dipesan oleh Wiggy.
"Bentar gue hubungin Emil aja."
Telpon diangkat pada deringan ketiga. "Halo, Mil, lo udah nyampe mana?"
[Baru nyampe rest area Gempol, baru selesai makan nih. Kalian di mana?]
"Kita udah di Gocar menuju kantor."
|Wah tau gitu tadi gue mending ikut kalian. Menderita kali pake bus. Tepos p****t gue.|
"Udah dibilangin, kan, dari kemaren? Sekarang mamam aja. Ya udah hati-hati. Lo nanti langsung ke kantor, kan?"
[Iya kayaknya ke sana dulu. Ya udah, kita mau balik ke bus nih. Bye!]
Telepon pun terputus.
Gerimis turun ketika mobil yang mereka tumpangi berhenti di lampu merah, seolah mengiringi kesedihan mereka karena pulang tanpa Sashi. Mereka pergi ke Bali dengan penuh tawa, kini pulang dengan membawa duka.
Setengah jam kemudian, mobil pun sudah berbelok ke halaman Hous of Skills. Wiggy yang duduk di depan turun terlebih dahulu, disusul oleh Shaki dan Noni.
Biasanya kantor ramai oleh beberapa talent. Namun sepertinya Revo tidak menerima tamu terlebih dahulu supaya mereka bisa intens membicarakan tentang Sashi. Revo adalah tandemnya Jio dalam bermusik. Dia sudah menikah, mempunyai wajah yang tampan, kharismatik dan sangat lihai mengaransemen sebuah lagu.
Begitu Noni, Shaki dan WIggy memasuki kantor yang tidak dikunci, mereka kaget karena ternyata di sana bukan hanya ada Revo, melainkan seorang pria paruh baya yang sedang duduk di sofa. Beliau adalah ayahnya Sashi.
"Siang, Om," sapa Noni yang pernah bertemu dua kali dengan ayahnya Sashi ketika ia menginap di rumah temannya itu.
"Gy, Ki, kenalin ini ayahnya Sashi."
Wiggy dan Shaki pun langsung menyalami pria tersebut dan duduk di hadapannya dengan rasa segan. Meskipun sudah tua, ayahnya Shaly tampak necis dan mengintimidasi.
"Mana yang lain?" tanya papanya Sashi dengan suara serak.
"Yang lain naik bus, Om. Mereka takut mengalami kejadian kayak Shaly apalagi akhir-akhir ini musim hujan, pasti suka banyak turbulensi," jawab Wiggy.
"Kenapa Sashi tidak bareng sama kalian pulangnya?"
Semua tampak tegang, bingung untuk menjawab pertanyaan tersebut. Kebingungan tersebut sangat terpancar jelas sehingga ayahnya Sashi curiga. Jika saja Revo memberitahu bahwa di kantor ada ayahnya Sashi, mungkin mereka sudah menyiapkan jawaban.
"Kenapa?" tanyanya lagi. "Jujur saja, kenapa Sashi pulang terlebih dahulu?"
"Dia pulang karena marah sama Jio, Om. Berantem. Maaf kami ga bisa halangin Sashi pergi, karena kami sendiri ga nyangka kalau dia mau pulang ke Bandung langsung. Kami ngiranya hanya keluar sebentar."
Ayahnya Sashi tampak menghela napas sambil memejamkan mata. "Si Jio itu sekarang naik bus? Karena takut mempunyai nasib seperti anak saya, padahal dia yang membuatnya begitu?"
Belum sempat menjawab, ayahnya Sashi langsung berdiri sambil menggenggam kunci mobil. "Besok saya kembali lagi ke sini, dan tolong bilang sama Jio untuk tidak pergi kemana-mana. Kalau dia bukan pengecut, hadapi saya."
Semua yang berada di situ mengangguk. "Baik, Om."
Ayahnya Sashi pun pergi. Semua yang berada di situ pun menghela napas lega.
"Papanya ganteng tapi nakutin," kata Shaki tiba-tiba. "Lo kenapa ga kasih tahu kalo di sini ada ayahnya Sashi?"
"Dia baru aja dateng dan gue mana tahu itu ayahnya Sashi. Gue juga keburu ciut diinterogasi kayak tadi," jawab Revo.
Noni menyimpan box berisi Beard Papa's yang sedari tadi di peluknya. "Dia mau apain Jio nanti, ya? Apa Jio bisa dipenjara gara-gara ini?"
"Gatau juga gue. Paling kena interogasi aja. Kan dia buakn sengaja celakain Sashi. Sashi pergi atas kemauan sendiri. Namanya juga kecelakaan, bukan pembunuhan," jawab Shaki.
"Emang mereka ribut kenapa? Tumben banget ribut segitu parahnya? Mereka biasanya baikan lagi ga nyampe sehari," tanya Revo.
"Emang Jio ga cerita sama lo? Bukannya kalian sohib banget?" tanya Wiggy dengan tatapan yang dingin.
"Ga ada dia ngomong apa-apa sama gue. Emang kenapa, sih? Ribut apaan?"
Noni pun menjabarkan awal mula kejadian beberapa hari lalu. Dari mulai terdengar teriakan dari lantai dua, hingga Sashi pergi begitu saja dengan hanya membawa satu tas.
"Tuh barang dia yang lain masih ada dua koper, gue yang bawa," kata Noni.
Revo hanya tercengang, tidak bisa berkata apa pun, karena selama ini yang ia tahu, Jio selalu menyampaikan keinginannya untuk menikahi Sashi.