Dissapointed

1015 Words
Jio terbangun dengan wajah bersimbah keringat. Ia terbatuk-batuk hingga berusaha menggapai air putih yang berada di atas nakas. Jio baru saja mengalami mimpi buruk, seakan dirinya tengah berada di atas pesawat yang tiba-tiba mengalami turbulensi hebat. Mimpi itu seakan benar-benar nyata tiap detiknya. Kini Jio terduduk di pinggir tempat tidur setelah menghabiskan segelas penuh air putih.dengan napas masih terengah-engah. Hatinya merasa panas memikirkan Sashi harus mengalami yang seperti di mimpinya tadi. Pacarnya itu pasti ketakutan. Seketika air mata Jio pun jatuh. Merasa ingin menampar dirinya sendiri karena telah melakukan hal bodoh gara-gara dipengaruhi alkohol. Suara teriakan dan tangisan dari lantai bawah mengagetkan Jio. Ia langsung berdiri, bertanya-tanya mengapa Noni berteriak. Sesampainya di sana, Noni, Shaki dan Emil sedang berada di depan televisi. "Kenapa?" tanya Jio ketika melihat Noni menutupi wajahnya, sementara Shaki dan Emil juga terlihat sedang menangis. "Beberapa bagian pesawat udah ditemuin, termasuk tas Sashi tadi keliatan sama kita," jawab Shaki. Jio terduduk lemas di samping Noni. Sudah tidak bisa berharap lagi bahwa Sashi masih selamat. Pacarnya itu benar-benar telah tidak ada, pergi untuk selamanya. "Udah, yuk, jadwal pulang kita hari ini. Kita mesti siap-siap dan nunggu kepulangan Sashi di Bandung. Semoga jenazahnya cepet ditemuin," ucap Shaki. "Gue, Jio sama Renata pake bus.Sebaiknya kita pergi dari subuh aja, Ji." Jio mengangguk. "Masih jam dua malem. Mending kalian tidur aja supaya enakan nanti pulangnya. Jangan sampe sakit. Inget kerjaan kita udah nunggu banyak di Bandung. Sashi pasti ga mau kalo sampe kita abai sama kerjaan kita. Dia pasti mau House of Skills tetap keurus," kata Shaki. "Gue udah tidur," jawab Jio sambil merogoh saku celana untuk mengambil rokok. Ia sebenarnya jarang merokok, kecuali ketika pikirannya sedang kalut. Jio pun pergi ke pinggir kolam renang, duduk di kursi santai sambil merokok di situ. Beberapa hari lalu, di kursi santai yang sama, Sashi membawakan Jio tiga tusuk sate berisi sirloin, sosis dan paprika. Mereka saling menyuapi. Sashi juga mengatakan akan memborong Beard Papa's yang akan dibelinya di airport ketika pulang ke Bandung nanti dan minta Jio yang mentraktirnya. "Ji, besok kita jadi pulang pake bus, kan?" Jio tidak sadar bahwa Renata sudah berada di belakangnya. "Eh, iya. Emil juga ikut kita." Renata melemaskan pundaknya yang sedari tadi tegang. "Bagus deh.. aku beneran takut lihat berita dan ga mau naik pesawat dulu," kata Renata sambil duduk di sebelah Jio. Jio menggertakan rahangnya sedikit. "Kamu tidur aja, dua jam lagi aku bangunin. Lumayan bisa tidur bentar." "Aku ga bisa tidur. Beneran takut apalagi di kamar asing. Pengen cepet pulang, tidur di rumah." Jio mengangguk. "Tapi sekarang aku lagi pengen sendiri. Kamu sama anak-anak dulu, ya." Mendengar itu, Renata tampak tersinggung. "Kok jadi ngusir aku, siih?" "Aku bukan ngusir, tapi bener-bener pengen sendirian. Oke?" "Tapi aku ga berani di kamar sendirian. Aku males deket-deket mereka. Noni ngeliat aku kayak orang jahat, kayak kriminal." Jio menghela napas, mencoba sabar. "Gapapa, wajar dia begitu karena kita emang salah. Dia sahabatnya Sashi." "Dia masih mau ngobrol sama kamu, sama aku nggak." "Sorry tapi aku emang gabisa lagi bersikap kayak biasa sama lo, Ren. Jujur aja bahkan sekarang gue males liat muka lo. Bisa-bisanya lo khianatin Sashi kayak gitu. Lo berdua ga ada hati, sumpah!" Noni kembali meradang. Renata berdiri, merasa muak karena terus tersudutkan. "Kita ga sadar karena kemarin lagi sama-sama mabok! Gue juga sempet nolak Jio malam itu, tapi dianya aja yang udah ga bisa control." "Udah berapa lama kalian berhubungan?" tanya Noni penasaran. "Non, udah ga usah dibahas." Jio sudah tidak ada tenaga lagi untuk meladeni Noni. "Ga ngerti gue. Lo udah punya cewek sebaik, sepinter dan secantik Sashi, masih aja mau selingkuh sama temennya sendiri." "UDAH GA?! Gue ngaku gue salah, kok! Tapi orang yang sebenernya bikin Sashi kecelakaan kayak gini bukan gue, tapi Wiggy!! Seandainya dia ga bocor ga akan kejadian kayak gini." Jio melempar rokoknya dengan kesal, lalu kembali ke kamar atasnya. *** Sashi sudah menghabiskan waktu selama satu jam lebih untuk menginstall beberapa applikasi termasuk i********:. Ia membuat beberapa akun baru dengan email baru dan mulai memfollow semua teman dan keluarganya. Tidak ada postingan apa pun dari Jio setelah yang terakhir kemarin. Sementara Renata pagi tadi memposting sebuah info bahwa ia akan pulang ke Bandung menaiki bus. Anehnya, Noni memotret bandara di kala subuh dengan kata-kata yang mendoakan Sashi. Berarti kini teman-temannya terpencar. Sashi bisa membayangkan betapa marah Noni akibat hubungan Jio dan Renata apalagi menyebabkan Sashi kecelakaan. Ingin rasanya ia mengirim inbox untuk Noni dan mengatakan bahwa ia baik-baik saja. Suara sapu lidi membuat Sashi beranjak dari kursinya. Wayan sudah datang dan kini tengah menyingkirkan daun-daun kering dari pohon jambu yang berjatuhan. "Wayan, biasanya kamu beresin apa aja di sini?" tanya Shaly Sashi bersedekap di pinggir pintu. "Pagi, Kak. Saya tiap ke sini cuman bersihin halaman, cuci piring, pel lantai rumah Pak Jeff juga." "Kalo udah beres mau anter aku ke pasar atau supermarket gitu, ga? Aku mau masak di sini." "Boleh, Kak." "Pake Jeff suka makan apa?" "Sepertinya Pak Jeff nggak pilih-pilih. Tapi saya paling kalo nyiapin makan cuman roti bakar, burger, kentang goreng atau telur orak arik." Sashi menghela napas. "Jadi dia kebanyakan makan junk food selama ini. Ya udah, selama aku tinggal di sini,. aku akan kasih dia asupan makanan-makanan enak dan bergizi. By the way ketuk pintu kamar aku aja kalo kamu udah selesai kerjain semua, ya. Nanti kita pergi ke supermarket" "Baik, Kak." Sashi kembali mengambil ponsel di atas meja dan stalking beberapa akun lagi. Sayangnya ayah dan ibu tirinya tidak memiliki akun media sosial. Hanya adik tirinya saja yang ia tahu akunnya meskipun tidak pernah saling memfollow. Postingan dari adik tirinya yang bernama Dixie terakhir itu sekitar lima hari lalu. Ia sedang berada di sebuah kafe bersama teman-temannya dengan menu makanan Korea yang berada di meja. Kini tangan Sashi mengklik story milik Dixie. Sama sekali tidak ada postingan mengenai dirinya. Unggahan itu hanya memperlihatkan adik tirinya sedang hangout. Yang membuat Sashi kesal, Dixie mengenakan baju, celana ripped jeans dan juga tas milik Sashi. Tidak mungkin Dixie tidak tahu jika Sashi kecelakaan. Sungguh keterlaluan jika adik tirinya itu justru terlihat senang dan seenaknya memakai barang milik Sashi tanpa menggungah perasaan duka.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD