Biasanya jam segini Sashi tengah makan malam di kantor dengan teman-temannya, mengobrolkan berbagai hal, bertukar ide, merencanakan project atau bahkan meningkatkan kualitas konten mereka di YouTube. Kantor House of Skills merupakan 'home' bagi Sashi, melebihi rumahnya sendiri. Seluruh staff dan talent yang ada di sana sudah seperti keluarga. Mereka tidur dan makan sama-sama, saling menolong dari segi materi, tenaga maupun pikiran. Hidup Sashi selama berada di sana selalu menghasilkan positif vibes dan menjadi healing di kala suasana hatinya sedang buruk selama di rumah.
Kini Sashi hanya sendirian. Tidak ada suara apa pun kecuali debur ombak. Tapi memang ini yang ia butuhkan sekarang. Kepalanya perlu ketenangan. Ia butuh lari dari semua masalah karena merasa sudah lelah.Sempat terpikir untuk memberitahu Noni bahwa ia masih hidup, namun Sashi mengurungkan niat tersebut karena merasa bukan waktu yang tepat. Ia tidak ingin membuat gaduh dulu.
Malam ini Sashi berniat menghabiskan waktu dengan mendengarkan lagu-lagu favoritnya. Ia akan kembali membuka media sosial besok dan melihat kabar terbaru mengenai kecelakaan pesawat atau reaksi dari keluarga dan teman-temannya.
Pintu diketuk ketika Sashi sedang meregangkan otot-ototnya. Sudah pasti Jeff. Ternyata benar, pria itu membawakan sepiring kentang goreng yang ia goreng sendiri.
"Kamu udah makan malem?" tanyanya.
Sashi hanya tertawa melihat piring yang dipenuhi kentang tersebut. "Ya ampun, aku jarang dinner. Makan kentang goreng jam segini itu dosa buat aku."
"Wah sayang sekali. Padahal saya goreng banyak," kata Jeff. "Mungkin malam ini bisa jadi pengecualian. Kamu udah kerja keras ngangkat barang-barang berat, ngelayout kamar dan... you know, abis ngalamin kejadian yang lumayan berat. Anggap aja kentang ini sebagai self reward."
Akhirnya Sashi mengangguk setuju. "Oke, kalo gitu sekalian aja sama coca colanya. Ada?"
Sashi bertanya begitu karena ketika tadi ia datang sepulangnya dari membeli dipan, Jeff sedang duduk dengan dua kaleng soda yang kosong. Jadi sudah pasti pria itu mempunyai banyak stock.
"Ada di kulkas. Oh ya, sekalian mau kasih tahu. kalo nanti laper atau haus, ambil aja yang ada di kulkas. Pintu dapur ga saya kunci. Besok saya beli kunci cadangannya buat kamu," kata Jeff.
"Wahhh... kamu ga takut kalo aku macem-macem? Kita baru kenal sehari doang."
"Kamu sendiri yang rugi kalo ngehancurin kepercayaan saya."
Sashi tertawa karena Jeff terlihat serius. "Oke, makasih banyak, ya. Tapi malam ini kayaknya cukup makan kentang sama mau minta kola aja. Tadi soalnya aku sama Wayan udah makan banyak pas sore. Aku juga udah beli sebotol gede air mineral. Jadi aman. Kamu kunci aja pintu dapurnya. Ntar kemasukan maling."
"Oke, ya udah yok ambil aja sodanya di kulkas sekalian saya kunciin pintu."
Sashi pun mengikuti Jeff ke dapur. Di dalam kulkasnya memang terdapat beberapa jenis soda, yoghurt, s**u fullcream, juga banyak makanan beku yang tinggal dipanaskan. Jeff sepertinya menyediakan makanan yang praktis dan jarang memasak.
"Kamu bisa masak?" tanya Sashi tiba-tiba..
."Kalau goreng kentang, nugget, scrambled egg, sosis, saya bisa."
Di tengah tawanya, Shaly merespon. "Anak SD juga bisa kalo itu. Maksudnya masak yang pake improvisasi campurin bahan dan bumbu. Bisa?"
"Absolutely not."
"Yah, sudah kuduga. Gimana kalau nanti aku masakin kamu, anggap aja balas budi karena udah ijinin aku tinggal di sini."
"Oh, tidak perlu repot-repot. Saya bantu kamu tanpa pamrih."
"I'll do it for my pleasure," jawab Sashi. "Lagi pula aku lebih suka makan masakan sendiri. Selain lebih hemat, bisa lebih higienis juga. Dan rasanya tanggung kalo masak buat sendiri doang, jadi kamu bisa numpang makan sama aku. Gimana?"
"Oke then, kalo kamu emang mau. Saya jadi penasaran cicipin masakan kamu."
"Sip, besok aku belanja bahan-bahannya," ujar Sashi sambil membuka tutup kaleng kola dan meneguknya sedikit. "By the way, thanks ya sodanya. Selamat tidurr! Dikunci aja pintunya, aku juga mau tidur, kok."
"Okay, Sashi. Night!"
Sepiring kentang goreng rasanya tidak enak jika tidak disertai dengan coca cola. Sashi sudah terbiasa memakan burger atau kentang dengan minuman yang satu itu. Kadang ia suka mencelupkan kentangnya ke dalam eskrim. Yes, she's that clout! Ia tidak peduli jika teman-temannya mulai mengatainya aneh karena melakukan hal tersebut.
Sashi mengunci pintu kamar dan kembali menikmati malam dengan mendengarkan lagu-lagu yang bisa membuat suasana hatinya membaik. Besok ia akan mulai menginstall beberapa applikasi, lalu membuat akun baru untuk stalking media sosial teman-temannya.
Ia sadar bahwa dengan sikapnya yang seperti ini, ia juga telah menghancurkan House of Skills yang dibangunnya dengan kerja keras. Ia berharap Emil, selaku manager, dapat mengatasi pekerjaan di sana sebelum Sashi kembali.
"Kita harus punya rekening bersama untuk nabung sebagian profit kita. Kalo udah kekumpul, nanti bisa kita jadiin DP rumah." Sashi mengingat percakapannya dengan Jio kala itu, ketika HoS mulai menanjak sukses.
"Siapa yang pegang rekeningnya?" tanya Sashi.
"Kamu aja, aku sebagai ahli waris. Mulai bulan depan kita nabung. Supaya pas nikah nanti, kita udah punya rumah sama kendaraan."
Itu adalah percakapan dua tahun yang lalu. Kini mereka sudah memiliki kendaraan meskipun cicilannya belum selesai. Semua barang-barang untuk keperluan kerja di kantor House of Skills pun sebagian besar Sashi yang membeli. Antara Jio dan Sashi tidak ada perhitungan sama sekali. Mereka sudah seperti satu kesatuan. Apa pun yang Jio punya, itu juga milik Sashi, begitupun sebaliknya.
Kini tabungan bersama mereka telah raib, karena semua data milik Sashi begitupun ponsel telah hilang bersama pesawat yang jatuh ke dalam laut. Ia menebak pasti Jio akan mengurus semuanya, mengingat ia adalah hak waris dan uang hasil tabungan mereka berdua kemungkinan besar akan jatuh ke tangan Jio. Membayangkannya saja sudah membuat Sashi merengut seakan tidak rela.
Entah bagaimana caranya, Sashi harus bisa menghalangi Jio melakukan hal tersebut. Besok ia akan mencari tahu. Untuk sekarang ia hanya perlu menikmati kesendiriannya dulu. Memulai hidup baru di rumah orang asing mungkin tidak terdengar enak. Tetapi setidaknya, Sashi bisa menghindari drama perselingkuhan Jio dan membuang rasa malu dengan teman-temannya, terutama Wiggy.
Sashi sering membanggakan bahwa Jio adalah pacarnya yang terbaik, mereka akan menikah muda dan sukses bersama di usia muda. Wiggy sering mencibirnya karena melihat Sashi terlalu naif. Menurut sahabatnya itu, usia pacaran yang masih dua tahunan memang hanya akan mendapatkan yang manis-manis saja, namun setelah melewati empat tahun, perlahan semua akan terasa hambar. Wiggy sendiri mengaku bahwa ia tidak tertarik dengan pernikahan.
Sashi jadi berpikir, apakah Jio sudah merasa hubungan mereka sudah hambar?