New Room

1007 Words
Ternyata gudangnya tidak begitu kotor dan hanya ada beberapa barang yang tersimpan. Tempatnya juga cukup luas untuk dijadikan kamar. Jeff mungkin tidak ingin membiarkan gudang ini berdebu karena menurut Wayan majikannya itu memintanya untuk membersihkan gudang setiap hari minggu. Semalam Jeff menawarkan Sashi untuk menggunakan kamar tamu. Namun sepertinya tidak etis karena itu berarti mereka akan satu atap sementara Jeff sudah mempunyai pacar. Sashi sendiri akan merasa marah jika ia berada di posisi sang Pacar. Dalam hati Sashi bersyukur karena tidak memiliki sifat seperti Renata yang mau saja menjadi selingkuhan orang, apalagi selingkuhannya tersebut merupakan pacar temannya sendiri. “Kayaknya ga masalah kalo barang-barang ini disimpan di sini aja. Paling kita ke pinggirin semua dan nanti aku beli pembatas ukiran kayu buat nutupin. Kamu mau bantuin?” “Baik, Kak. Saya bantuin,” jawab Wayan sopan. Jeff mengatakan ia punya kasur ekstra untuk dipakai. Sashi hanya tinggal membeli dipannya saja, karena ia lebih suka tempat tidurnya tinggi. Jeff juga menghibakan meja kerja beserta kursinya dari kamar tamu untuk Sashi. Awalnya Sashi keberatan dan berkata akan membelinya sendiri. Namun Jeff menyuruh Sashi untuk mencari uang terlebih dahulu sampai terkumpul untuk membeli meja dan bisa mengembalikan barang-barang yang Jeff pinjamkan. Betapa pengertiannya! “By the way boleh nanya gaa? Jeff kerja di mana sih?” tanya Sashi penasaran. Pagi-pagi setelah sarapan tadi, Jeff pamit untuk pergi bekerja. “Pak Jeff lagi bikin cottage di daerah Ubud. Jadi hampir setiap hari pergi ke sana buat ngawasin.,” jawab Wayan sambil mengangkat sebuah kotak entah berisi apa ke sudut ruangan. Mulut Sashi membentuk huruf O. Ia jadi penasaran cottage seperti apa yang Jeff buat. Melihat dari rumahnya yang artistik, Sashi menebak mungkin Jeff seorang arsitek. "Dia arsitek, ya?" Wayan mengangguk. "Iya, beberapa restoran dan hotel di sekitar sini dikerjakan sama Pak Jeff dan beberapa temannya." "Hmm... dia orang mana sebenernya?" tanya Sashi sambil mendorong sebuah koper besar. "Australia. Katanya ayahnya asli sana, sementara ibunya orang Padang.Kadang mereka juga datang ke sini buat liburan sebulan sekali." Masih banyak yang ingin Sashi tanyakan, namun ia menahannya karena tidak ingin dianggap kepo. Jadi ia fokus membereskan gudang. Setelah semua barang berhasil di ke pinggirkan semua, ia pun menyapu gudang tersebut lalu mengepelnya. Satu hal yang Sashi syukuri dari gudang itu adalah sebuah jendela lebar yang menyuguhkan pemandangan laut. Ia berencana untuk meletakkan meja kerjanya di dekat jendela tersebut supaya bisa fokus bekerja. "Oya, kamu keberatan, ga, kalo kita angkat meja kerjanya ke sini sekarang? Kita angkat berdua," kata Sashi pada Wayan. "Boleh, Kak." "Yuk, ga enak kalo nungguin Pak Jeff, dia pasti capek banget pulang kerja nanti. Ntar aku traktir makan enak, deh." Mereka pun mengangkat meja berdua, lalu Sashi mengangkat kursinya seorang diri, sementara Wayan membawakan sprei bersih beserta sarung bantal dan guling. "Taruh di meja aja dulu. Aku pesen Gocar dulu deh supaya kita bisa langsung beli dipannya. Tadi alamatnya apa?" Wayan menyebutkan alamat penjual dipan. Sashi benar-benar menggunakan uangnya untuk keperluan kamar supaya nyaman untuk ditempati, karena ia yakin, tempat yang nyaman akan membuat moodnya bagus dan otomatis membawa hoki dalam pekerjaannya. *** Sepulangnya Jeff dari cottage, ia menurunkan beberapa barang dari bagasi mobil untuk diletakkan di gudang yang kini menjadi kamar Sashi. Ada lampu belajar, lukisan, gorden untuk jendela, wallpaper dan yang lainnya. Ketika membuka kamar tersebut, ternyata semua sudah rapi. Jeff menggelengkan kepala sambil tertawa kecil sewaktu melihat meja yang berat itu sudah terletak di sana. Ia pun meletakkan barang bawaannya. Lalu mengambil air minum dari kulkas di dapurnya untuk kembali ke kamar Sashi, hendak memasangkan wallpaper. Semua barang-barang itu ia ambil dari cottage miliknya. Butuh waktu hampir satu jam untuk memasang wallpaper itu hingga seluruh dindingnya tertutup. Dua kaleng soda pun sudah habis ia teguk. Kini Jeff duduk di kursi menghadap jendela, memandangi laut sambil memikirkan Alina. Entah kenapa akhir-akhir ini Alina seperti tidak nyaman ketika dihubungi olehnya. Jeff curiga kekasihnya itu tengah menyembunyikan sesuatu. Namun ia tidak ingin menebak-nebak dan harus bersabar hingga bulan depan ketika Alina datang ke rumahnya. Hubungannya dengan Alina sudah hampir dua tahun. Jeff mengenalnya karena ayah dari wanita tersebut pernah meminta Jeff untuk mengerjakan rumahnya di pinggir pantai Gerupuk, Lombok. Ia masih mengingat betapa cantik Alina ketika mereka merayakan penyelesaian rumahnya. Mereka berkenalan dan langsung saling menyukai karena keesokan harinya Jeff mengajak Alina makan siang yang langsung disetujui. Lamunan Jeff seketika buyar ketika ada suara orang mengobrol. Suara Sashi dan Wayan, juga dua orang pria yang mengangkat sebuah dipan. Sashi terperangah ketika membuka pintu dan mendapati Jeff ada di sana, sedang duduk dengan santainya. Ia lebih takjub lagi ketika melihat kamarnya kini lebih indah karena dipasangi wallpaper berwarna lilac. "Whoaaa.. kamu ngerjain ini semua?" tanya Sashi. Hanya ditinggal sebentar, kini kamarnya sudah berubah drastis. "Yap, kebetulan ada beberapa barang di tempat aku kerja yang bisa dibawa. Tapi ga banyak." "Tapi ini juga udah bagus banget! Makasih banyak, looh... oya, aku mau pasang dipan di sini, soalnya ga bisa tidur kalo kasurnya di bawah." "Oh ya, silakan masuk, Mas." Jeff membantu kedua pria itu mengangkat dipan. "Next, kalo perlu barang-barang kayak gini, ngomong dulu ke saya, siapa tahu saya bisa bantu. Gunain dulu uang kamu buat keperluan sehari-hari aja." Sashi mengangguk. "Aku beli yang paling murah, kok. Itupun pake nawar drastis. Hehee..." "Kalian udah makan?" "Kami tadi makan bebek betutu. Udah kenyang, tapi lupa ga bawain buat kamu." "No problem. Saya juga udah makan siang tadi di luar. Kalau gitu saya masuk ke rumah dulu. Kalau perlu apa-apa panggil aja." "Oke, sekali lagi makasih, ya." Sepeninggal Jeff, Sashi memerhatikan kedua pria yang sedang meletakkan dipannya. Setelah membayar kedua pria itu, Sashi pun memasangkan sprei dan senang ketika semuanya sudah lengkap dan hasilnya bagus. Ia bisa mulai bekerja besok, karena hari ini sudah lumayan lelah. "Udah sore, nih. Gapapa kalo kamu mau pulang sekarang. Ibu kamu pasti nungguin." "Baik, Kak." "Oya, ini buat kamu karena udah bantuin aku seharian, terus ini buat beli makanan untuk ibu dan adek-adek kamu. Beli yang enak, ya." Wayan tersenyum sambil menerima uang yang diberikan Sashi. "Terima kasih, Kak. Saya pamit pulang dulu." "Oke, hati-hati. Sampai ketemu besok!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD