Emphaty

1021 Words
Noni memasukkan semua baju-baju dan barang lainnya ke dalam koper. Hidungnya memerah, sementara matanya masih sembab. Hatinya merasa sesak karena teman baiknya telah meninggal dengan cara yang sangat tragis. Ia ingat begitu pertama kali Sashi mengajak Noni untuk bergabung ke House of Skills. “Ayo dong, elu orang pertama yang gue ajakin loh… mau ya?" ajak Sashi saat itu yang senagja datang ke rumah Noni. “Tapi gue ga pede, Shas!” “Non, suara lo itu unik. Gue ga akan ngajak lo kalo gue ga suka sama karakter suara lo.” Sashi memang memulai segalanya dari nol. Ia tidak bisa menawarkan fee besar pada penyanyi-penyanyi yang sudah professional apalagi yang sudah mempunyai nama, jadi ia pun mencari partner yang memang mau menemaninya sedari awal. Kala itu Noni diberi pengarahan oleh Jio yang merangkap sebagai arranger composer. Jio juga yang banyak membantu olah vocal dan melatih Noni supaya suaranya lebih layak diperdengarkan. Sashi selalu memuji Noni dan menyuntikkan semangat supaya Noni lebih percaya diri. Siapa sangka, ia yang awalnya hobi menyanyi di kamar mandi atau maksimal karaokean bersama teman-temannya, kini dikenal oleh banyak warga Indonesia. Sashi sudah banyak berjasa dalam karir Noni saat ini, begitupun dengan Jio. Namun Noni sangat marah karena Jio dan Renata lah yang menyebabkan kematian Sashi. Sepertinya ia tidak siap untuk meneruskan karirnya di House of Skills jika sampai Jio dan Renata melanjutkan hubungan mereka. “Lo mau ikut tim mana, Non?” tanya Emil yang baru saja masuk ke kamarnya. Noni mendongak lemah. “Tim apaan?” “Tim balik ke Bandung pake pesawat atau balik pake bus.” “Siapa aja emang yang mau pake bus?” “Si Renata. Dia jadi parno gara-gara Sashi kecelakaan. Lo gimana?” “Biarin aja tu orang pulang pake bus sendirian. Kita pake pesawat,” jawab Noni ketus. “Si Jio juga kayaknya mau pake bus.” Noni menghela napas berat. “Hhhh… emang dasar, ya! Ga mikir apa kalo Sashi kecelakaan gara-gara mereka berdua! Ya udah biarin aja tuh dua orang balik pake bus. Dasar parnoan!” Emil tampak menjilat bibirnya dengan gugup. “Ehm… kalo gue ikut mereka gimana?” Noni mendelik. “Parnoan juga lo ya? Emangnya kalian gak tahu kalo resiko kecelakaan itu paling besar ya di jalan raya! Bukan di udara.” “Maksudnya biar di antara dua orang itu ga ngelakuin macem-macem kalo ada gue.” Noni mengangguk paham. “Ya juga sih… Liatin deh tuh mereka berdua. Meskipun Sashi udah ga ada, gue ga sudi liat mereka pacaran.” “Oke deh berarti besok gue, Jio sama Renata pake bus, terus elu, Wiggy sama Shaki pake pesawat.” “Si Wiggy mana? Udah balik lagi?” “Tadi dia chat gue, katanya malam ini dia nginep di hotel. Bagus deh daripada di sini entar tangannya gatel mulu mau mukulin si Jio.” Tadi pagi bibir Jio kembali robek karena dihajar oleh Wiggy. Saat ini Wiggy pasti merasa sedih sekaligus marah. Baru kali ini Noni melihat Wiggy semarah itu, karena selama ini pembawaan pria tersebut sangat tenang. Seandainya Noni bisa menghibur atau menenangkan Wiggy, namun sepertinya Wiggy tidak akan mempan dihibur. Lagi pula Noni tidak berani menatapnya. *** Jio baru saja mendapat telepon dari ayahnya Sashi. Hanya panggilan dari beliau lah yang Jio angkat di antara puluhan panggilan lainnya. Kini ayahnya Sashi sedang berada di Kalimantan dan akan segera pulang ke Bandung. Jio tahu bahwa selama ini Ayah Sashi tidak begitu dekat dengan anaknya. Mereka seringkali beradu argumen yang tidak pernah selesai dan mengakibatkan keduanya makin menjauh. Namun Jio bisa mendengar kesedihan di dalam suara ayahnya Sashi tadi. Banyak jeda panjang ketika beliau hendak menanyakan berbagai hal, seperti sedang menahan getaran suaranya. Bagaimanapun setiap orangtua pasti akan merasa sedih jika anaknya meninggal. Jio merasa amat bersalah karena tidak mengatakan jujur bahwa ia lah penyebab Sashi pulang ke Bandung sendirian lebih awal. Pintu diketuk ketika Jio sedang membaca chat terakhirnya dengan Sashi. "Siapa?" "Noni." Sebenarnya Jio malas berbicara dengan siapapun. Saat ini posisinya sedang tersudut, namun Noni bisa saja mendobrak pintu kamarnya jika ia tidak membukakan. Temannya itu memang dikenal pemarah dan bawel. Benar saja, begitu pintu dibuka, Noni sudah langsung nyerocos. "Lo mau balik pake bus atas dasar kemauan sendiri atau emang mau nemenin si Renata?" tanya Noni dalam satu helaan napas. "Kenapa emangnya?" "Penasaran aja gue alasannya. Lo ga mikir kalo Sashi meninggal gara-gara kalian berdua? Sekarang lo berdua masih mau aja pulang bareng kayak gitu sama sekali ga ada rasa empati?" "Terus gue harus biarin si Renata balik sendirian? Dia cewek, lo pikir dari sini ke Bandung itu deket? Di luar masalah Sashi meninggal gara-gara gue sama dia, gue juga sebagai cowok perlu tanggung jawab jagain. Misal lo yang mau balik pake bus juga gue juga ga akan biarin lo pulang sendirian!" "Emil juga pake bus. Dia bisa jagain Renata sendirian. Jadi mending lo pake pesawat bareng kita." "Kenapa lo jadi ngatur gue? Itu keputusan gue mau balik pake cara apa, di luar alasan lo soal empati gue ga mau diatur-atur," jawab Jio tidak kalah ketus. Jio mempunyai gengsi. Jika Noni bersikap seperti itu, Jio malah akan sengaja membuatnya semakin kesal. "Terserah. Gue mau minta cuti dulu sebulan dan kemungkinan kalo sampe lo sama Renata nerusin hubungan gelap kalian itu, mungkin gue juga bakalan keluar dari HoS." "Oke, gue ga akan mohon-mohon juga lo stay di HoS. Bebas terserah sama lo." "Gue cuman pesen, hargain almarhum Sashi. HoS itu dibikin sama dia, jangan sampe lo coreng sama perselingkuhan lo," ujar Noni dengan suara bergetar. Dia benar-benar tidak rela jika Renata yang menggantikan Sashi. Jio tertawa sinis. "Lo ngomong gitu seakan gue ini orang jahat. Heh, gue juga punya perasaan. Lo pikir gue ga sedih apa cewek gue meninggal? Orang yang udah ngedampingin gue selama empat tahun dan gimana gue ngerasa bersalah banget sekarang? Apa gue harus nangis-nangis, ngeluarin emosi gue yang paling buruk di hadapan lo semua biar kalian percaya? "Bagus kalo lo ngerasa gitu." Noni pun pergi meninggalkan kamar Jio. Ia melihat Renata sudah berdiri di luar kamar dan kemungkinan wanita itu mendengarkan semua perkataan Noni. Noni sendiri tidak peduli, malah ia senang jika memang benar Renata mendengar semuanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD