chapter 5

1666 Words
"Aria," panggil Asher dengan melihat Aria. Sudah lama ia tak melihat kakaknya dengan penampilannya yang kini semakin feminim. Aria hanya terdiam sesaat dengan melihat Asher, ia tak menyangka akan bertemu Asher di outlet tas dengan brand merk ternama. "Jika tak sibuk datanglah ke mansion," ucap Asher dengan Aria yang tak memberikan jawaban. Melihat tas bermerk dengan mendengarkan Asher, sudah lama ia tak melihat kakaknya dengan hidup terpisah. Tak lama Aria membawa tas miliknya dengan melihat Asher, meninggalkan adiknya yang kini berada di meja kasir. "Mansion? Waktuku sangat terbatas Asher, jadi kemungkinan tak ada waktu. Dan satu lagi, jika seandainya aku bisa menarik waktu. Aku tak akan hadir di keluargamu," ucap Aria dengan membawa tas miliknya dengan keluar dari outlet. Sesekali tengkuk wajah oval itu menoleh ke belakang, memakai kacamata dengan merk ternama hasil usaha dirinya sendiri. Menghargai keluarga Asher karena pernah menyekolahkan dirinya dari masa kecil, tatapan itu terlihat sedih dengan apa yang ia lontarkan. Hanya saja melihat Asher kekecewaannya kembali terlihat. "Maafkan aku Asher, kau memanggilku kakak. Walaupun kita tak sedarah. Ada rasa dimana kita bukan kakak dan adik, dipertemukan hanya karena garis takdir," ucap Aria dengan memasuki mobil mewahnya. Asher keluar dengan melihat kecepatan mobil kakaknya yang tak bisa ia jangkau, mendengar kakaknya yang mengucapkan kata-kata tersebut membuat Asher kecewa apalagi dalam waktu dekat adalah hari dirinya bersama Aria bertemu. Lengan dirinya terbanting dengan kesal, wajah amarah dengan beberapa orang lalu lalang melihat Asher yang sedang kesal di pinggir jalan. "Kenapa kau mengatakan ini," ketus Asher dengan suara kesalnya. "Apa kau pantas datang ke keluarga ini? Apalagi kau hanya anak yatim piatu dari panti asuhan, dengan enaknya hidup enak-enak di mansion dan bisa kenal dengan kami?" Ucap seorang pria dengan melihat Aria. Asher menahan ucapan itu dengan menahan tubuh Aria dari jangkauan para saudaranya. Franklin dengan rambut cokelatnya serta bola mata hijau dengan melihat sinis kepada Aria. Asher mendorong Franklin dengan pelan, tak membiarkan ucapan kasar datang kepada kakaknya Aria Scarlet, "Sudahlah hentikan, lagipula jika memang membenci Aria. Kalian juga membenciku, kami sama-sama dari panti asuhan lalu apa kami merugikan? Bahkan penghargaanku saja berjejer dan juga Aria yang selalu menjaga nama baik keluarga." Tak lama tubuh Asher tersungkur dengan lengan saudaranya yang kesal, "Jaga ucapanmu Asher. Kau pikir kau siapa? Datang di keluarga ini lalu kehidupan kalian enak, bahkan nama kalian masuk dalam beberapa program acara. Kau pikir kau terbaik Aria?" Ucap saudara Asher dengan putra angkat dari Tuan Parker. Suara sinisnya terdengar dengan beberapa staff yang melihat pertengkaran keempatnya. "Lebih baik kita pergi dari sini, bahkan jika ada yang melihat. Harus kalian tahu, kita yang akan selalu di lihat oleh Tuan Parker. Bukan kau dan Aria, ingat itu Asher," Franklin menatap sinis wajah Asher. Bersama Peter yang menarik tubuh Franklin dengan apa yang Franklin lakukan. Franklin menunjuk dadanya dengan melihat Asher. Dengan tangan memiring dengan ucapannya yang tak main-main. "Putra Keluarga Anceston adalah kita, bukan kalian," ucap bisikan Franklin dengan melihat ke arah Asher dan juga Aria. Asher menoleh dengan Aria yang menangis dengan perlakuan kakak-kakaknya. "Aria, apa kau tak apa-apa?" Tanya Asher dengan melihat Aria yang menangis. Tak lama tangan itu terkibas dengan Aria yang melihat Asher dengan kesal, "Singkirkan tanganmu. Untuk apa kau melindungiku, apa kau tak lihat mereka merendahkan kita? Walaupun aku anak angkat tetap saja aku memiliki harga diri, kau tak memiliki harga diri sehingga mau di lecehkan oleh mereka?" "Lalu jika kau di lecehkan kau marah-marah?" Ucap Asher dengan beranjak dari tubuhnya yang bersandar di dinding mansion. Pakaian putih dengan gambar beberapa bintang dan juga planetnya terlihat kotor dengan ia yang terperosok mengenai dinding mansion. Aria beranjak dengan membenarkan dress miliknya, rambut panjang ikal dengan bandana pita yang selalu ia kenakan. Dirinya berjalan dengan tak menampik ucapan Asher sedikitpun. "Jika kau bertahan di mansion ini silahkan menjadi anak Tuan Parker. Aku akan keluar dari mansion ini, apa kau tak lihat dengan status kakak yang selalu di bicarakan Tuan Parker, aku tak mau berlalu lama di ejek seperti itu," ketus Aria dengan menoleh, air matanya menangis dengan melanjutkan perjalanan melewati koridor dengan berlari. Menahan air matanya dengan Asher yang berdiri di koridor mansion. Wajah amarah itu terlihat dengan Asher yang menggigit bibir bawahnya, air mata itu terakhir kalinya ia melihat Aria berada di mansion. Ucapan Aria yang baru saja terdengar dari bibir tipisnya. Suara tangannya terdengar dengan memukul dashboard mobil, "Kenapa kau pergi tak ada izin dariku. Kau bicara jika kau kakakku, lalu sekarang dengan enaknya kau berbicara seperti ini." Asher dengan teriakannya. Tak lama suara mobil terdengar dengan sekantong papperbag dengan berisikan tas dengan brand merk ternama. Mobil yang di kendarai Asher pun melewati kota di pusat Wilayah Inggris. Tak semua apa yang menjadi milikku adalah milikmu Asher, seharusnya kau paham akan hal ini. Lagipula itu pilihanmu untuk tetap bertahan berada di ruang lingkup Keluarga Anceston dekat dengan Tuan Parker, pilihanku dengan jalanku. Keluar dari zona Keluarga Anceston dan berada dalam ruang lingkup seorang Parker, berusaha dengan usaha sendiri dengan melihat kembali suster ann. Wanita yang menolongku disaat berada di gereja, melihat banyak orang yang menghina kita, apa hatimu tak sadar Asher. Bahkan aku pun tak ingin dihina walaupun statusku tak jelas. Walaupun tak jelas, walaupun aku tak melihat kedua orangtuaku lagi. Walaupun statusmu anak yatim piatu atau bukan, hatiku simpatik melihatnya. Kau memiliki harga diri Asher, jangan pernah membiarkan dirimu terinjak. Tuhan selalu bersama kita. - Aria Scarlet. Tatapan itu menangis dengan menyetir mobil mewah menuju sebuah penginapan, menatap getir jalanan dengan ingatan dirinya bersama Asher. Pria bodoh yang selalu melindungi dirinya, bahkan dirinya membiarkan diri sendiri hidup di hina tak memperdulikan dirinya sendiri hanya karena Aria Scarlet. Untuk diriku yang saling bertemu di panti asuhan, waktu yang tak sengaja. Waktu yang mempertemukan kami berdua, dengan pilihanku pada hari itu. Hari terakhir dimana perdebatanku bersama Asher dengan keluar dari mansion. Peter keluar dari ruangan dengan setelan jas suit berwarna cokelat, menatap nanar wajah Asher dengan terdiam sesaat. "Ayah sedang menunggumu," ucap Peter dengan suara rendahnya. Peter dan Franklin jauh lebih memilih Asher karena Asher anak lelaki yang berada di Mansion Keluarga Anceston. Berbeda dengan Aria yang notabennya seorang anak perempuan, tak ingin kasih sayang terbagi adalah alasan utama dengan keberadaan Aria. Melihat beberapa acara dengan nama Aria membuat Peter melihat sinis. Franklin menoleh dengan sinis kembali, "Apa kau tak melihatnya? Bahkan baru saja di angkat sebagai anak lalu di manjakan. Hanya karena dia pintar? Bahkan kita pun pintar tapi kenapa Aria sangat dimanjakan." Peter mendengus kesal dengan omelan Franklin, "Dia pun sama ingin bahagia. Kenapa kau iri dengan Aria, itu urusan keluarga jika Aria ingin dibahagiakan. Mendapatkan kasih sayang orang tua tak ada salahnya untuk apa kita memperdebatkan akan hal ini. Kau tahu, bahkan Asher selalu berada di sisinya." Tatapan sinis dengan rona merah di wajah Franklin, tak menyukai kehadiran Aria dengan segala hal yang di manjakan, "Dia anak perempuan, jauh lebih baik dia keluar dari keluarga kita. Lagipula beberapa hadiah di kumpulkan dengan membuat nama keluarga menjadi baik lalu di bahagiakan, dia anak perempuan aku tak ingin nantinya di manfaatkan." Asher hanya terdiam dengan ucapan Peter, dirinya masih berdiri dengan memegang papperbag berisikan tas brand dengan merk ternama. Ingatan akan perbincangan Franklin dan juga Peter dengan alasan akan Aria. "Terimakasih," jawab Asher dengan berjalan lurus tak menoleh ke arah Peter. Walaupun satu keluarga, Peter bagaikan seorang musuh bagi Asher. Apalagi jika bukan cara Franklin dan Peter menyingkirkan Aria hanya karena Aria anak perempuan, hanya karena Aria dimanjakan. Padahal Aria dan Asher hanya berbeda jenis kelamin dengan sama-sama ingin kasih sayang. Begitupun dengan Franklin dan juga Peter. Tatapan Parker masih melihat foto keluarga dengan anak perempuan yang duduk di antara keluarga besar. Anak perempuan yang memilih keluar dari keluarga karena ingin mandiri, tak ingin berurusan dengan Parker. Parker memaklumi atas keinginan tersebut, menyekolahkan hingga seorang Aria Scarlet sukses adalah janjinya kepada pihak gereja. "Apa kau sudah menemui kakakmu, Asher," ucap Parker dengan menoleh ke arah Asher. Ia tak bisa berkata apa-apa ketika Asher menceritakan semuanya. Kejadian yang sebenarnya dengan alasan yang sebenarnya. Aria Scarlet yang mendapatkan perlakuan tidak baik oleh anak-anaknya. Parker merasa bersalah hanya saja ia baru mengetahui akan hal ini dari Asher setelah sekian lama. Ingin rasanya Parker memukuli dadanya sendiri karena sesak dengan cerita yang sebenarnya dari Asher. Sayangnya, Parker masih menunggu Aria kembali terlebih dengan Beletrix yang selalu menanyakan Aria Scarlet. Asher berjalan dengan mendekati Parker yang tak lain adalah ayahnya, ia sadar jika Asher adalah anak angkat. Tapi kenyataan Parker mengangkat Asher adalah sebagai putranya. "Sudah bertemu dengan Aria?" Tanya Parker dengan melihat getir wajah Asher. Asher menelan saliva dengan keringat yang terjatuh, menjawab ayahnya dengan berbohong saat ini, "Belum." Parker memaklumi dengan ucapan Asher, entah sampai kapan Aria akan kembali ke mansion setelah Parker menunggunya selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Permintaan istrinya yang menyukai seorang Aria Scarlet, ia menyukai Aria ketika pertama kali ia bertemu dengan Aria Scarlet. "Asher, berjanjilah pada ayah. Jika kau mendapatkan perilaku tak enak kau harus mengatakannya. Kau tahu Asher, ibumu menangis mendengar tentang Aria Scarlet. Mengetahui ia memilih keluar dari keluarga kita hanya karena alasan sederhana. Ia merasa merindukan keluarganya sendiri padahal ia di perlakukan tak baik di keluarga kita." Parker berjalan dengan membiarkan Asher berada di ruangan keluarga. Ruangan dengan berisikan piano dengan beberapa foto keluarga tak hanya di atas nakas, tak hanya di dinding-dinding ruangan. Suara tertawa keceriaan anak-anak dengan beberapa nyanyian dari Beletrix, sekarang berubah. Asher terdiam dengan melepaskan papperbag di genggamannya. Terjatuh di atas karpet berwarna hijau dengan corak beberapa gambar tanaman. Keringatnya menetes dengan ucapan ayahnya, Parker. Seandainya hari itu aku tahu adalah hari terakhir ia berada di mansion mungkin Asher akan selalu berada di dekat Aria Scarlet. Menahan seorang Aria untuk tak keluar dari mansion, merasakan kasih sayang yang sama dengan anak-anak lainnya. Bukan anak angkat yang selalu Aria dengungkan dengan selalu mengatakan hal bodoh padanya, ia ingat pertama kali ia bertemu Aria Scarlet di gereja St.Marry. bahkan Suster Ann dan Suster Jeane terlihat khawatir dengan Aria Scarlet. Asher berjalan mendekati foto anak perempuan disaat ia dan Aria masih kecil, sekarang. Berbeda, sama-sama berusia dewasa dengan Asher yang mengusap foto keluarga.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD