Datan tengah menunggu di luar ruangan Leon, ia tidak memilih untuk pulang dan tetap berada di sana. Sedangkan Pretty sudah kembali pulang bersama kedua orangtuanya.
"LEONNNNNN!" jeritan itu menyadarkan Datan, ia segera beranjak dan melihat Leonna berlari dengan tangisannya yang sudah pecah. Di belakangnya, Verrel terlihat tengah berjalan. "Kunyuk,, gimana Leon?"
"Dia masih butuh istirahat, loe tenang yah Ona," ucap Datan.
"Gue ingin masuk!"
"Tidak bisa, papa Dhika melarang orang masuk ke ruang ICU. Biarkan Leon beristirahat," ucap Datan dengan penuh sayang mengusap kepala Leonna yang mengintip ke balik kaca ruangan ICU.
"Bagaimana keadaannya?"
"Dia masih belum siuman, kita berdoa saja untuk kesembuhannya," jawab Datan.
"Tapi kenapa bisa terjadi, apa yang terjadi dengan mereka? bukankah sebelum-sebelumnya Leon baik-baik saja, kenapa mereka jadi celaka?" tanya Leonna beruntun dengan tangisannya.
"De, tenanglah." Verrel merangkul pundak Leonna seraya mengusapnya memberinya kekuatan.
"Tapi Kak, Leon tidak baik-baik saja di dalam. Kalau Leon baik-baik saja, tidak mungkin papa menempatkan Leon di ruang ICU. Aku bisa merasakan sakitnya, Kak." isak Leonna menyandarkan kepalanya di d**a bidang Verrel.
"Tenanglah, De. Berdoalah semoga mereka berdua segera melewati masa kritisnya," ucap Verrel masih setia mengusap rambut Leonna dengan lembut.
Datan memilih kembali duduk dengan menangkup wajahnya dengan kedua tangannya. Kegelisahan bukan hanya dirasakan Leonna, tetapi juga dirinya. Datan begitu khawatir pada kondisi saudara sesusunya itu. Verrel menarik Leonna untuk duduk di kursi tunggu di hadapan Datan dengan masih membiarkan Leonna menyandarkan kepalanya di d**a Verrel. "Kamu pulang saja, Datan. Biar kami yang disini," ucap Verrel.
"Tidak Bang, gue akan tetap di sini," jawab Datan.
"Kamu tenang yah, De. Jangan nangis lagi." Verrel masih mengelus pundak Leonna dengan penuh kasih sayang.
♣♣♣
Datan baru kembali ke rumahnya pagi-pagi, terlihat semua keluarganya tengah menikmati sarapan mereka. " Bagaimana Leon?" Tanya Okta saat melihat kedatangan Datan.
"Belum ada perubahan," jawab Datan mengambil ayam goreng dan memakannya dengan lahap.
"Cuci tangan dulu, kamu jorok," celetuk Pretty bergidik.
"Gak apa-apalah, anggap saja vitamin," jawab Datan santai dan menikmati sarapannya.
"Astaga kamu tuh yah Little crocodile, jangan jorok!" tegur Chacha.
"Tidak apa-apa Mom, hanya bekas ngupil saja tadi," kekehnya membuat Okta melempar apel ke arahnya hingga mengenai kepala Datan membuatnya mengaduh kesakitan.
"Jorok kok di peliara, astogehh!" keluh Okta.
"Mirip banget kamu sama Bapaknya," celetuk Chacha.
"Aku tidak jorok Nela sayang," bela Okta.
"Alasan saja, di group yang paling jorok kan kamu," cibir Chacha. Datan hanya cuek saja dan terus menikmati ayam gorengnya.
"Itu kan hanya modus belakang, hanya untuk menghibur penghuni group," ucap Okta masih membela diri.
"Sama saja!"
"Kalian kapan akurnya sih?" tanya Datan membuat Chacha terdiam. "Udah ah, Datan masuk kamar mau mandi."
"Kamu gak makan nasi?" teriak Chacha.
"Nggak!"
♣♣♣
"Pipit,"
"Oh s**t!!" umpat Datan kembali menutup pintu saat melihat Pretty tengah memakai body loction dengan hanya memakai dalamannya saja.
"Datan, kenapa masuk gak ketuk pintu!” teriak Pretty kesal yang saat ini tengah jongkok menutupi tubuhnya.
"Siapa suruh gak di kunci!" ucap Datan.
"Apa susahnya ketuk pintu dulu!" Amuk Pretty membuka pintu kamar dengan kesal.
Bug
"Aduhhh!" Datan terus menghindar saat mendapatkan pukulan bantal dari Pretty. "Watis sakit!" pekik Datan menahan pukulan Pretty.
"Dasar bocah m***m, gak sopan!" amuk Pretty.
"Aku bukan bocah, astaga Pipit sakit!" pekik Datan menahan Pretty, tetapi Pretty malah mendorong tubuh Datan membuat tubuh Datan tersungkur ke lantai dan Pretty berada di atasnya.
Deg
Keduanya bertatapan dengan jarak yang sangat dekat, jantung Datan berdetak dengan sangat kencang.
"Astagfirulloh!!!" pekikan itu menyentakkan Datan dan Pretty.
Tak jauh dari mereka, Okta dan Chacha berdiri dengan tatapan kaget dan melongo. Pretty bergegas bangun tetapi kalungnya menyangkut di kaos Datan membuatnya kesulitan dan malah semakin dekat dengan Datan. Pretty menengadahkan kepalanya menatap wajah Datan yang masih menatapnya dengan seksama. Ia menelan salivanya sendiri saat aroma maskulin dari tubuh Datan mampu menusuk ke indera penciumannya dan sangat menyegarkan dan Pretty sangat menyukainya. Datan terus saja menatap wajah Pretty yang begitu dekat dengannya, Pretty masih berusaha melepaskan kalungnya yang menyangkut di pakaian Datan. Datan baru menyadari kalau Pretty sangat cantik, wajahnya yang kecil, di padu dengan kedua alisnya yang tidak di sulam ataupun di lukis, matanya yang belo dan bulat, membuat mata abunya terlihat bersinar indah di mata Datan. Hidungnya mancung dan ramping, bibirnya yang tipis dan sedikit tebal di bagian bawahnya.
Entah kenapa, pandangan Datan stuck di bibir Pretty yang sedikit terbuka. Warna pink yang natural membuat bibirnya sangat menggoda iman si ujang. Pretty segera beranjak saat berhasil melepaskan kalungnya. Dan dengan sangat malu karena masih di perhatikan oleh Chacha dan Okta, ia segera beranjak memasuki kamarnya meninggalkan Datan yang masih pada posisinya. "Sepertinya anak kita sedang jatuh cinta," kekeh Chacha.
"Gak yakin," jawab Okta dengan santai.
"Sama kayak kamu lho wajah terpesonanya Datan," ucap Chacha.
"Aku tidak terpesona padamu, Nela. Ayolah para reader stay with me tau siapa yang terpesona lebih dulu," ucap Okta dengan santai membuat Chacha mencubit pinggang Okta.
"Aki aki narsis," desis Chacha dan beranjak pergi diikuti Okta yang terkekeh.
Datan segera bangun dari posisinya dengan wajah yang linglung. "Ada apa dengan gue?" gumam Datan mengusap wajahnya.
Bip bip
"Yah Da?"
"....."
"Aku masih di rumah, oke aku jemput sekarang."
Datan mematikan telponnya dan segera beranjak memasuki kamarnya dan pergi menemui Halida.
♣♣♣
Pretty berdiri di balkon kamarnya, entah kenapa akhir-akhir ini dia terus kepikiran Datan. Datan berhasil mengalihkan pikirannya dari Azka, tetapi Pretty masih berusaha menampiknya. Baginya hanya Azkalah cintanya sampai kapanpun juga. Azka tak akan pernah tergantikan sampai kapanpun juga dari dalam hatinya. Pretty tau siapa Datan, dan ia tak ingin jatuh ke dalam rayuannya. Bocah itu sudah sangat merugikan Pretty akhir-akhir ini. Ia juga masih sedikit sebal dengan kejadian tadi siang, bahkan Datan tak meminta maaf padanya. Mungkin juga karena Pretty salah tak mengunci pintu. Tapi tetap saja Datan salah karena tak mengetuk pintu terlebih dulu dan main nyelonong masuk saja. Pretty harus membuat perhitungan pada Datan.
Tak berbeda jauh dengan Datan yang merenung menatap kosong langit-langit kamar. Entah kenapa sekarang dia merasa malas sekali berkencan dengan wanita, fokusnya selalu pada Pipitnya. "Racun apa yang sudah di sebarkan si watis padaku? Ini membuatku seakan kehilangan jati diriku.”.
Loe mencintainya, Kunyuk...
Ucapan Chella seketika memenuhi gendang telinganya. Membuat Datan terus memikirkannya. "Tidak, gue tidak mencintainya. Ini hanya perasaan kasihan dan suka sesaat," gumam Datan menyangkal setiap kata yang keluar dari benaknya. "Sepertinya aku harus datang ke pak ustad dan minta pencerahan sekalian di ruqiyah, biar setan watis dalam diri gue hilang seketika."
♣♣♣
Datan manunggu Pretty di luar ruangan Pretty dengan memainkan iphonenya. Beberapa mahasiswa yang melewatinya, tidak ada yang tak di goda Datan dengan gaya khasnya. "Hai manis, kamu mau pulang?"
"Iya Datan," jawab wanita yang berdiri di depan nya.
"Hati-hati di jalan kalau begitu, kalau ada apa-apa langsung saja menghubungiku. Dan hati-hati juga sama taxi oplas," goda Datan membuat wanita itu tersenyum masam karena menatap Pretty yang berdiri dengan bersidekap di ambang pintu.
"Duluan Miss," ucap wanita itu berlalu pergi membuat Datan mengernyitkan dahinya dan menengok ke arah Pretty yang menatapnya tajam.
"Selesai?" tanya Datan menatap Pretty yang mendengus kesal. Tanpa menjawab pertanyaan Datan, Prettypun beranjak meninggalkan Datan sendirian. Datan mengikuti Pretty dan menyeimbangkan langkah mereka, tetapi Pretty mempercepat langkahnya karena tidak mau berdampingan dengan Datan. Dan Datan tak mau kalah. Ia terus melebarkan langkahnya untuk menyeimbangi Pretty begitu juga Pretty yang semakin mempercepat langkahnya karena malas bedampingan dengan Datan. "Tungguin kek, Astogehh!" keluh Datan dan segera merangkul pundak Pretty dan menariknya untuk berjalan santai dan lebih menempel dengan tubuhnya.
"Apaan sih!" Pretty berusaha melepaskan rangkulan Datan tetapi sangat sulit.
"Sudah jangan banyak merajuk, malu sudah tua. Ayo pulang," Pretty melongo mendengar penuturan Datan yang sangat menyebalkan. "Aduh!"
Datan mengaduh kesakitan saat Pretty dengan sengaja menendang tulang keringnya, membuat tubuh Datan sedikit membungkuk dengan memegang kakinya yang sakit. "Isshhh Watis sialan," gerutu Datan kesal, menatap Pretty yang beranjak terlebih dulu.
Datan sampai di parkiran dengan merengut sebal, sedangkan Pretty berdiri di samping pintu dengan bersidekap. "Nyonya Datan sialan!" gerutu Datan tanpa sadar apa yang baru saja dia katakan. Datan membawa mobilnya meninggalkan area kampus sore itu, ia mencari tempat makan untuk mereka berdua. Hingga sampai di sebuah restaurant jepang.
"Kita makan disini," ajak Datan yang hanya di jawab anggukan oleh Pretty yang sejak tadi diam membisu. Mereka berdua turun dari mobil dan berjalan berdampingan memasuki restaurant. Datan bahkan menarik kursi untuk Pretty duduk dan iapun ikut duduk di depan Pretty. Tak ada yang mengeluarkan suara setelah mereka memesan makanan. Keduanya sibuk menatap keluar jendela dimana menyuguhkan pemandangan taman restaurant yang indah. Datan mengernyit saat melihat Pretty menghapus air matanya.
"Ada apa?" pertanyaan itu membuat Pretty menengok ke arah Datan.
"Ini adalah salah satu tempat makan yang sering aku datangi bersama Azka," gumamnya membuat Datan memutar bola matanya malas.
"Ck, dia punya apa sih sebenarnya. Padahal sudah di kubur, masih saja ngebayang-bayangin," gerutu Datan. "Aduh!" pekik Datan saat kakinya di tendang oleh kaki Pretty.
"Jangan asal ngomong!" desis Pretty melotot ke arah Datan yang menatapnya dengan santai tanpa gentar dan rasa takut.
"Ck, gini nih cita-cita yang tak tersalurkan. Terlalu frustasi karena gak jadi pemain bola," ucap Datan mengusap kakinya yang sakit. Pretty ingin menendang kembali, tetapi Datan berhasil menghindar, Datan membalas menendang kaki Pretty.
"Kamu apaan sih, sakit tau!" ucap Pretty kesal.
"Ya namanya juga hukum alam, air s**u jangan di balas dengan air putih, rasanya gak seimbang. Air s**u di balas dengan air s**u lagi. Seperti ini, tendang yah tendang lagi. Sampai mana kita kuat adu tendangan." Pretty memutar bola matanya mendengar penuturan Datan yang menurutnya sangat lebay. Tak lama pesanan merekapun datang, dan menyuguhkannya di depan mereka berdua.
"Sushi salmon?" gumam Pretty kembali berkaca-kaca hendak menangis. Tetapi sebelum air matanya jatuh membasahi pipi, Datan terlebih dulu menyuapkan satu potong sushi ke mulut Pretty membuat Pretty tersentak kaget.
"Makanan tuh bukan di tangisi, tapi di makan. Udah resiko nih ikan jadi santapan manusia, jadi gak perlu di tangisi lagi," ucap Datan asal dan menyuapkan makanannya. Pretty yang awalnya ingin menangis, malah jadi ingin tertawa mendengar penuturan Datan yang absurd tetapi lucu.
"Dasar bocah Aligator," gerutu Pretty tersenyum kecil dengan mengunyah makanannya.
"Nih cobain yang ini." Datan menyuapi Pretty makanan, dan tanpa ragu Pretty menerimanya. "Enak?" Pretty menganggukan kepalanya sebagai jawaban.
"Ini cobain." Pretty membalas menyuapi Datan. Mereka berdua terlihat seperti sepasang kekasih. Tak ada pembicaraan yang serius, hanya ada ejekan yang membuat keduanya terkekeh dan tersenyum, bahkan Pretty melupakan kenangannya bersama Azka, fokusnya hanya pada Datan. Entah apa yang di perbuat Datan hingga membuatnya seperti ini.
♣♣♣
Malam menjelang, tiba-tiba saja mobil Datan berhenti di pinggir sebuah taman kecil. "Ada apa?" tanya Pretty.
"Entahlah, sepertinya mogok. Ini mobil kenapa lagi," gerutu Datan dan segera menuruni mobil untuk memeriksa apa yang terjadi. Pretty menuruni mobil dan menghampiri Datan yang sibuk memeriksa kondisi mobilnya.
"Ada apa?" tanya Pretty.
"Kamu tunggu sebentar, aku akan perbaiki dulu mobilnya," ucap Datan beranjak menuju bagasi mobil mengambil alat otomotif yang biasa ia gunakan untuk memperbaiki mobilnya. Pretty berdiri dengan bersandar ke mobil Datan tepat di samping Datan, dengan tatapannya yang mengarah ke arah Datan yang sibuk membenarkan mobil. Pretty terus menatap wajah Datan dari pencahayaan lampu jalan yang minim ini. Ia sadar kalau wajah Datan di atas rata-rata, bahkan lebih tampan dari Azka. Azka menampilkan sosok yang dewasa dan bijaksana, sedangkan Datan?
Pretty tersenyum kecil menatap wajah Datan yang terlihat fokus pada kegiatannya, wajah Datan begitu imut dan khas. Wajahnya kecil, kedua alisnya tebal dan terpahat indah, kedua matanya yang kecil dan sipit. Hidungnya sangat mancung dan runcing, rahangnya tegas dan kokoh tetapi tak menghilangkan keimutan dalam wajahnya. Bibirnya yang merah seperti memakai lipsglos begitu kecil dan tipis. Perpaduan wajah yang sesuai, bahkan mungkin Datan akan terlihat sangat cantik kalau dia menyamar menjadi seorang wanita. Kulitnya yang kuning langsat, begitu bersih tanpa noda. Entah kenapa saat melihat keringat yang mengalir dari dahinya turun ke leher, membuat Pretty menelan salivanya sendiri, itu terlihat sangat seksi. Diam-diam Pretty mengagumi sosok tampan di hadapannya ini bak dewa yunani versi imutnya. Pretty tersenyum kecil saat sadar ia telah mengagumi sosok muridnya sendiri.
Bodoh!!
Pretty segera memalingkan wajahnya dan berjalan ke arah taman yang terdapat sungai dan jembatan yang indah. Pretty berdiri di tengah jembatan yang berbentuk busur itu. Di sungai itu terdapat perahu kecil. Pretty mengingat saat dirinya pergi ke daerah Purwakarta, dan menaiki perahu kayu. Mereka sangat bahagia saat itu karena baru saja jadian. Pretty hanya bisa tersenyum mengingatnya, pandangannya kini mengarah menatap langit malam yang gelap tanpa ada hiasan bintang. 'Apa saat ini kamu tengah memperhatikanku?'
"Ahh, akhirnya selesai juga. Gini kek dari tadi Blacky jangan ngambek-ngambek sama majikan, kenapa sih. Mobil keren kok mogok, kan kagak lucu," gumam Datan kembali membereskan peralatan otomotifnya. Datan celingak celinguk mencari keberadaan Pretty.
"Si watis kemana sih? Pergi kagak bilang-bilang" gumam Datan berjalan memasuki taman untuk mencari Pretty. Langkah Datan terhenti saat melihat Pretty tengah berdiri di jembatan dengan menatap ke aras langit gelap. Datan berjalan mendekati Pretty dan berdiri di belakangnya.
"Hei Pipit!" Datan mencolek pundak Pretty membuat Pretty tersadar dari lamunannya dan berbalik ke arah Datan yang berdiri tepat di belakangnya. Pretty masih berdiri dengan bersandar ke pegangan jembatan dengan menatap Datan. Keduanya saling bertatapan penuh makna, seakan ingin mencari sesuatu di dalam mata itu. Bahkan mereka melupakan situasi di sekitarnya, fokus mereka hanya satu titik di depannya. Di tengah keremangan malam, mata Pretty terlihat berbinar indah di mata Datan. Tanpa sadar, Datan melangkah menghapus jarak di antara keduanya. Tangan kanannya terangkat untuk membelai pipi Pretty. Pretty masih diam mematung di depannya dengan masih menatap mata Datan yang tenang tetapi begitu tajam. Perlahan Datan mendekatkan wajahnya ke wajah Pretty, hingga sesuatu yang kenyal dan basah itu menyentuh bibir Pretty. Pretty tak mengelak ataupun menolak, ia malah memejamkan matanya seakan mengijinkan apa yang ingin Datan lakukan. Tak ada pergerakan, bibir mereka masih menempel. Tangan Datan bergerak ke tengkuk Pretty, dan bibirnya mulai bergerak menyusuri manisnya bibir Pretty. Datan bahkan memejamkan matanya menikmati ciuman itu. Pretty membuka mulutnya seakan memberi ruang untuk Datan supaya lebih dalam lagi masuk ke dalam mulut Pretty dan mengabsen setiap jengkal gigi dan rongga mulut Pretty dengan lidahnya. Pretty tanpa sadar mencengkram kuat jaket yang Datan gunakan di bagian pinggangnya. Saat keduanya mulai kehabisan oksigen, Datan melepaskan pangutannya dengan masih menempelkan dahi mereka dengan mata yang masih terpejam. d**a mereka naik turun menghirup udara sebanyak-banyaknya. Perlahan, mata keduanya terbuka dan kembali saling menatap dengan jarak yang lebih dekat. Saat kesadaran menguasai mereka, Datan segera menjauhi Pretty dan berbalik memunggungi Pretty. Pretty juga memalingkan wajahnya ke arah lain. Kecanggungan menguasai mereka berdua, Datan bahkan berdehem untuk menormalkan detak jantung dan kecanggungan ini.
"Kita pulang," ucap Pretty beranjak pergi meninggalkan Datan.
"Astogeh apa yang barusan gue lakukan? Datan khilaf ya allah, astagfirulloh!" gumamnya mengusap wajahnya yang sekarang mungkin sudah merah karena malu sekaligus gugup.
Tiiittt titttt
Mendengar klakson mobil yang di tekan berkali-kali membuat Datan segera beranjak menuju mobilnya.
*♣♣♣