Pretty yang tengah terlelap dalam tidurnya, merasa terganggu dengan sentuhan lembut di pipinya. Ia perlahan mengerjapkan matanya dan membuka matanya sedikit. "Selamat pagi, honey. Aku buatkan sarapan special untukmu."
"A-azka?" gumamnya seraya mengucek kedua matanya dan kembali menatap ke arah seseorang itu.
"Hey Pipit,, woyy!!!" Pretty tersentak saat melihat Datan di depannya. Dengan menghela nafas kecewa, Pretty berangsur bangun dan duduk bersandar ke kepala ranjang.
"Datan, ada apa?" tanya Pretty dengan suara yang serak khas orang bangun tidur.
"Aku sudah membaca semuanya semalaman dan memahami semuanya," ucap Datan menyimpan buku deary Pretty di atas nakas. "Aku ingin tanya, apa hubungan kalian tak bosan? Hampir setiap tanggal penuh dengan romantisme dan kealayan. Kalau aku jadi kamu sih, aku pasti akan sangat bosan menjalankan hubungan penuh drama seperti itu."
"Tetapi aku menyukainya," ucap Pretty.
"Yayaya, tapi bersihkan dulu wajahmu. Belek dimana-mana," Datan tanpa risih membersihkan kotoran di sekitar mata Pretty membuat Pretty semakin mematung kaku. "Sekarang ayo sarapan, ini kenangan pertama yang akan aku penuhi."
Datan menyodorkan piring yang ditutupi penutup makanan ke arah Pretty. "Bukankah Azkamu pernah menyiapkan sarapan pagi untukmu."
"Terima kasih," gumam Pretty dan menerima nampan itu.
"Sekarang bukalah," perintah Datan dan Prettypun menurutinya untuk membuka penutupnya. Pretty tersentak kaget melihat isinya. Isinya adalah nasi putih satu mangkuk kecil, telur ayam masih dalam cangkangnya, lalu sebungkus kecap, tiga buah sosis yang masih terbungkus rapi, dan dua helai sayuran.
"Ayamnya tertinggal di bawah," tambah Datan dengan cengirannya.
"Kamu tidak memintaku memakan ini semua kan?" tanya Pretty sangat bingung membuat Datan terkekeh karena lucu melihat ekspresi kaget Pretty.
"Miss Pipit, dengar yah. Aku tidak bisa memasak dan semalam di novelmu itu tertulis kalau Azka sering membuatkan nasi goreng berbentuk hati untukmu. Sebenarnya itu sangat alay menurutku, jadi aku bawa ini saja karena aku tidak bisa memasak," Jelas Datan panjang lebar.
"Lalu untuk apa kamu membawa ini semua kepadaku?" tanya Pretty tampak kesal.
"Untuk memintamu memasakkannya, sekalian tambah lagi nasinya untuk aku. Oke, ibu dosenku yang cantik." Senyuman Datan yang menyebalkan membuat Pretty mendengus kesal.
Dimana letak romantisnya coba, sama saja Pretty yang harus masak. "Sekarang keluarlah, aku akan ke kamar mandi dulu," usir Pretty.
"Oke, aku tunggu di meja makan." Datan beranjak meninggalkan Pretty sendirian.
Setengah jam sudah berlalu, kini Pretty tengah sibuk di dapur membuatkan nasi goreng. Entah kenapa Pretty mau saja menuruti keinginan Datan. "Ini di apain?" pertanyaan itu membuat Pretty menengok dan terlihat Datan tengah memainkan dua butir telor. Pretty menghentikan gerakan mengiris sayurannya.
"Itu nanti di campurkan langsung dengan nasi goreng, kalau mau membantu. Kamu kupasin sosisnya dan potong potong," ucap Pretty.
"Oke." Datan mengambil beberapa biji sosis, dan mulai mengupasnya dan mengirisnya dengan telaten.
Okta dan Chacha berdiri di ambang pintu tengah memperhatikan mereka berdua. "Senangnya melihat pemandangan itu," gumam Chacha.
"Syukurlah Pretty membawa dampak baik buat si Little crocodile. Dia jadi gak keluyuran di saat akhir pekan," ucap Okta.
"Kamu benar, kok aku berharap Pretty jadi menantu kita yah," kekeh Chacha.
"Mana mau Pretty sama brondong absurd seperti Datan," ucap Okta.
"Aku juga mau sama kamu, berarti Pretty juga akan suka sama putra kita."
"Jangan terlalu berharap, aku dan Little crocodile jauh lebih unyu aku." Ucapan Okta membuat Chacha mencibir kesal.
"Sekarang lebih baik kita ke rumah sakit, bukankah kita akan menjenguk Vino," ucap Chacha.
"Oke deh, ayo pergi. Biarkan mereka asyik bersama." Okta merengkuh pinggang Chacha dan berjalan menuju keluar rumah.
"Ini sudah selesai." Datan menyerahkan sosis hasil irisannya. Pretty terpekik melihat irisan Datan.
"Astaga Datan, kamu ngiris apaan sih kok di buat ancur gini!" pekik Pretty.
"Aku takut jariku teriris jadi aku potong asal saja yang penting terpotong," jawabnya enteng.
"Kamu itu benar benar yah," ucap Pretty geram.
Pretty mulai memasak nasi gorengnya, dengan Datan berdiri di belakangnya. "Tambahin cabe sedikit saja," ucap Datan.
"Ambilkan cabe halusnya di dalam toples," perintah Pretty.
"Yang mana?"
"Kamu buka dan cicipi saja, kalau pedas berarti itu cabe," celetuk Pretty.
"Nih." Datan menyodorkannya ke Pretty. Dan Pretty kembali mencampurkannya. "Wangi banget, pasti enak nih. Cacing di dalam perutku semakin berdemo, meminta segera menurunkan makanan." Ucapan Datan membuat Pretty terkekeh. Pretty tersentak saat tangan Datan terulur untuk mengambil kerupuk di samping wajan yang dia gunakan untuk memasak, membuat sebagian bahu Datan menempel dengan punggung Pretty. Pretty menengadahkan kepalanya menatap Datan yang cuek menikmati kerupuk. Mendadak jantungnya berdetak kencang, entah apa yang terjadi. Tetapi perilaku Datan membuatnya gugup dan jantungnya berdetak kencang.
"Sudah matang?" pertanyaan itu menyentakkan Pretty dan segera memalingkan wajahnya kembali menatap ke wajan.
"Aku akan menyiapkannya ke dalam piring," ucap Pretty.
"Oke, aku bawa kerupuknya." Datan mengambil toples kerupuk dan berjalan menuju meja makan.
Tak lama Pretty ikut bergabung dengan Datan dan duduk di depannya dengan membawa dua piring nasi goreng. "Wah mantap nih," ucapnya bersemangat membuat Pretty tersenyum melihatnya. "Eh tunggu!" Datan menahan Pretty yang hendak menyuapkan makananya.
"Ada apa?" tanyanya bingung.
"Kemarikan nasi goreng kamu," Datan mengambil piring nasi goreng Pretty dan dengan menggunakan dua sendok. Datan membentuk nasi goreng itu. Di tambahkan hiasan menggunakan kerupuk dan beberapa sayuran. "Selesai, silahkan makan." Pretty tersenyum melihat bentuk nasi gorengnya. Datan membentuk sebuah wajah, dengan menggunakan kerupuk sebagai rambutnya, dan beberapa sayuran dan dedaunan untuk masakan untuk menghias yang lain. Wajah itu terlihat tengah tersenyum lebar.
"So, keep smile," ucap Datan seraya menyuapkan nasi goreng ke dalam mulutnya. Pretty masih menatap Datan dengan penuh kekaguman. "Emmm, ini sangat enak. Gak kalah enak sama buatannya sang nenek lampir."
Pretty terkekeh melihat Datan, sejak kecil mereka memang kadang suka main bersama. Pretty tau ke absurdan Datan, tetapi baru sekarang Pretty menyadari sifat Datan yang sebenarnya. Datan sosok orang yang santai dan begitu bijak walau semuanya tertutup dengan keabsurdannya. "Kenapa? Apa kamu tidak lapar? Cepat makan nasi gorengnya."
"eh?" Pretty hanya tersenyum kecil dan kembali menatap nasi goreng berbentuk wajah di hadapannya itu. Iapun mulai menyuapkan nasi goreng ke dalam mulutnya.
"Siang ini kita jalan yah."
"Kemana?"
"Ada deh, tetapi sebelum itu bantu aku kasih makan dulu si Conel."
"Tidak, aku tidak mau. Nanti malah aku yang di lahapnya lagi." Pretty bergidik ngeri membayangkan dirinya akan jadi santapan seekor buaya muara.
"Ck, cemen. Si conel buaya vegetarian, dia tidak menyukai daging manusia," ucap Datan.
Selesai makan, mereka pergi menuju kandang conel. Pretty berdiri di belakang Datan dengan memegang kuat kaos yang di gunakan Datan. "Astaga Pipit, aku ke cekik kalau kamu mencengkram kaosku seperti itu," ucapnya
"Aku takut," cicitnya
Datan menarik tangan Pretty dan menggenggamnya dengan kuat. "Ada aku disini, tenanglah. Jangan remehkan kemampuan sang Little crocodile," ucapnya dengan bangga dan berjalan mengambil dua ekor ayam mati untuk Conel. "Conel, come here boy. Come to Papa."
"Aaaa!!" Pretty terpekik saat buaya itu keluar dari dalam air dengan tubuhnya yang berukuran besar. Panjangnya sekitar 3 meter, dan beratnya 120kg. "Datan aku takut," pekik Pretty yang semakin merengkuh lengan Datan.
Conel berjalan, tetapi bukan menghampiri Datan malah menghampiri Pretty. "Datan,, dia malah datang padaku!!!"
"Astaga si Conel kagak bisa lihat yang bening bening nih, faktor Buaya jones," ucap Datan. "heh Conel, ayam loe di sini!" Datan melempar ayam ke sisi Conel, tetapi buaya itu tak merespon dan terus berjalan mendekati Pretty.
"Datan!!!" pekik Pretty, tetapi Datan malah tertawa melihatnya. Conel memang buaya paling jahil yang pernah ada. Conel terus mendekati kaki Pretty membuatnya langsung melompat ke gendongan Datan dan itu membuat Datan membisu dan tak ada lagi tawanya.
"Aku takut," gumam Pretty memeluk leher Datan dengan sangat erat dan menyembunyikan wajahnya di lekukan leher Datan. Datan merasa merinding merasakan hembusan nafas Pretty di lehernya. Apalagi kedua kaki Pretty yang melingkar di pinggang Datan. Datan menelan salivanya sendiri saat tubuhnya dan tubuh Pretty menempel seintim ini.
'No ujang, no..!! jangan membuat majikanmu malu, jangan bangun sekarang ujang, jangan!!!'
Melihat kondisi seperti itu, Conelpun berbalik dan menyantap dua ekor ayam yang di lemparkan Datan seraya memasuki kolamnya kembali. Keduanya masih pada posisi masing-masing. Hingga Pretty merasakan sesuatu yang mengeras di bagian bawah, dia terjangkit dan segera turun dari gendongan Datan. Keduanya bertatapan dengan kegugupannya. Entah dorongan dari mana, Pretty menurunkan pandangannya ke bagian bawah tubuh Datan. Tetapi Datan segera beranjak pergi dengan kegugupan dan menahan malunya. Datan terus berjalan meninggalkan Pretty dengan kegugupannya, bahkan Datan sampai menabrak dinding karena kurang fokus, dan berkali-kali menabrak tong sampah dan kursi yang berada di teras belakang. Pretty masih mematung menatap kepergian Datan yang sudah berlalu pergi. Ia bukannya tidak paham akan hal itu, tetapi ini pertama kalinya dia merasakannya langsung sesuatu yang mengeras. Pretty memalingkan wajahnya saat Datan sudah menghilang di balik pintu, ia menengok ke arah buaya yang dengan santainya berendam tanpa memperdulikan sekitarnya. "Dasar buaya jahil," gerutu Pretty dan beranjak pergi dengan wajahnya yang masih terasa memanas.
♣♣♣
Sudah beberapa hari ini, Datan menghindari Pretty. Entah kenapa untuk bertatapan dengan Pretty membuatnya sangat malu. Bahkan saat pelajaran Pretty berlangsungpun, Datan memilih berdiam diri di UKS atau club music. Pretty juga sadar kalau Datan tengah menghindarinya. Chella masuk ke dalam UKS, dan melihat Datan tengah asyik memainkan game di handphonenya. "Heh Kunyuk!"
"Hmm,"
"Loe bolos terus, mau datap nilai E? UAS sebentar lagi," ucap Chella dengan berkacak pinggang.
"Gue gak perduli, toh cuma pelajaran bahasa Inggris. Yang lainnya gue selalu masuk," jawabnya dengan enteng sambil memainkan handphonenya.
"Sama saja, Bahasa Inggris juga berpengaruh. Bye the way ada masalah apa antara loe sama mbak Pretty? Kelihatannya kemarin-kemarin kalian terlihat dekat, kenapa sekarang jadi saling menghindar?" tanya Chella mengambil posisi duduk di atas brangkar tepat di samping Datan karena penasaran.
"Kepo lu!"
"Ayolah Kunyuk, lagian nggak ada si Ona yang akan melaporkannya ke bang Verrel," ucap Chella.
"Tidak ada hubungannya, toh loe sama si Ona sama-sama ember dan gak bisa di percaya." Ucapan Datan membuat Chella mencibir kesal. "Loe lihat si es balok?"
"Nggak, mungkin lagi latihan basket," ucap Chella.
"Bang Vino masih belum mengingat loe?" tanya Datan.
"Hmm, dia hanya menganggap gue sebagai sahabat Leon dan Leonna. Bahkan kalau gue sengaja mampir ke rumahnya dia tidak pernah mau menemui gue," jawabnya mendesah pelan.
"Sabarlah, semuanya butuh proses," jawab Datan masih fokus pada handphonenya.
"Datan."
"hmm,"
"Apa loe mulai jatuh cinta sama mbak Pretty?"
Mendengar ucapan Chella, Datan mendadak tersedak salivanya sendiri. "Loe ngomong apa sih, gue gak pernah jatuh cinta sama wanita manpun?" jawab Datan dengan tegas menepis tuduhan Chella.
"Cinta itu seperti hembusan angin. Tidak berwujud tetapi mampu kita rasakan, walaupun kita terus mengelak. Nyatanya hembusan itu sudah menyejukkan tubuh kita, lambat laut loe akan menyadarinya kalau loe mulai mencintai mbak Pretty," ucap Chella panjang lebar.
"Sotoy loe, Lonja! Gue bisa pastikan kalau gue tidak mencintainya dan tidak akan pernah mencintainya. Ini hanya perasaan suka seperti biasanya, seperti perasaan gue ke Halida, semakin lama berhubungan juga malah membuat gue bosan dan memudar perasaan sukanya. Dan gue yakin perasaan gue ke Pretty juga tak lebih dari rasa suka yang semakin lama akan semakin memudar," ucap Datan penuh percaya diri.
"Loe yakin? Bagaimana kalau gue menyimpulkan kalau loe jatuh cinta sama mbak Pretty bukan hanya sekedar suka."
"Dan gue akan buktikan kalau pemikiran loe itu salah besar!" Datan membalas tatapan tajam Chella.
"Bagaimana kalau kita taruhan lagi!"
"Taruhan apa?" tanya Chella bingung.
"Gue akan mendekati Pretty dan menjadikannya sebagai kekasih gue. Kalau selama pacaran gue mulai bosen dengannya berarti gue yang menang, tetapi kalau pemikiran loe benar, loe yang menang. Dan loe bebas meminta apa saja sebagai bayarannya. Bagaimana?" ucap Datan.
"Loe gila!!! wanita di jadikan ajang taruhan, gue kagak mau," ucap Chella.
"Ini hanya untuk membuktikan ucapan siapa yang benar," ucap Datan.
"Tapi gue gak mau membuat mbak Pretty terluka kalau tau dia dijadikan bahan taruhan," ucap Chella.
"Dia tidak akan tau, makanya ini harus menjadi rahasia kita berdua. Gue juga penasaran, pemikiran siapa yang benar. Bagaimana?" tanya Datan menaik turunkan alisnya.
"Oke, tapi gue gak mau tanggung jawab kalau ada apa-apa."
"Oke!" jawab Datan dengan pasti. "Dan gue pastikan, pemikiran gue yang benar."
"Kalau loe mau nembak mbak Pretty, lalu bagaimana dengan Halida?"
"Dia urusan gue, lagian selama ini juga kan dia udah gue selingkuhi berkali-kali. Jadi semuanya akan aman-aman saja," ucap Datan dengan santai dan kembali memainkan handphonenya.
"Apa kata loe deh, playboy Kunyuk. Yang pasti gue gak mau ikut terseret kalau semuanya terbongkar."
"Oke, dan satu lagi jangan sampai si Ona tau. Dia akan keceplosan berbicara ke abang Verrel, dan lama-lama abang bakalan ceramahin gue, loe tau kan kalau abang sudah ceramah. Gue harus menurutinya, kalau nggak Daddy yang turun tangan. Astaga, males banget kalau denger omelan dari sang aligator," ucap Datan panjang lebar membuat Chella terkikik.
"Yayayaya siap deh," kekeh Chella.
♣♣♣
Sore itu Pretty baru sampai ke rumah kediaman Okta, dua hari ini Pretty menginap di rumah Mamanya. Ia berjalan menaiki undakan tangga dan menuju ke kamarnya. Saat hendak menekan knop pintu, pintu kamar sebelah terbuka dan memperlihatkan Datan yang hanya memakai celana panjangnya tanpa memakai kaosnya hingga memperlihatkan d**a telanjangnya. Otot-otot dalam tubuhnya mulai terbentuk walau belum terlihat sixpack.
"Baru pulang?" pertanyaan itu menyadarkan Pretty dari keterpakuannya melihat Datan yang setengah telanjang. Datan terlihat menguap beberapa kali, dia terlihat baru bangun tidur.
"Iya," cicit Pretty.
"Baiklah, Dad sedang pergi ke Bandung dan Mom sedang ke rumah sakit. Kalau butuh apa-apa panggil saja aku," ucap Datan berjalan melewati Pretty menuruni tangga. Pretty pun segera memasuki kamarnya dan bergegas ke kamar mandi untuk berendam dengan campuran aroma terapi. Pipinya masih terlihat merona karena melihat Datan yang setengah telanjang.
Pretty tengah memainkan busa di dalam bathup, dan mengusapnya beberapa kali ke bagian tangannya yang berada dalam rendaman. Pretty menyandarkan kepalanya dan memejamkan matanya untuk merasakan perenggangan pada otot tubuhnya. Tetapi seketika bayangan Datan yang setengah telanjang tadi mengusik pikirannya membuat Pretty segera membuka matanya dan menatap sekeliling. Ada apa dengan dirinya, kenapa bisa membayangkan hal yang tak seharusnya di bayangkan. Ia membasuh kepala dan wajahnya dengan air agar bayangan Datan segera hilang.
30 menit sudah berlalu, Pretty sudah memakai pakaian santainya dan berjalan menuju balkon kamar sambil membaca sebuah novel. Ia menangkap sosok yang sejak tadi menghantui pikirannya. Di bawah sana, tepatnya di kandang buaya. Datan yang masih bertelanjang d**a tengah memberi makan buaya kesayangannya. Pretty memperhatikan Datan dari balkon kamarnya, Datan terlihat imut dan tampan. Tidak mungkin ada wanita yang menolaknya, apalagi sikap konyolnya yang menghibur adalah nilai plus pada dirinya. Tanpa sadar, sudut bibir Pretty tertarik ke atas.
♣♣♣
Malam ini mereka harus menikmati makan malam hanya berdua, karena kedua orangtuanya sedang sibuk di luar. Pembantu rumah tangga keluarha Mahya sudah menyiapkan makan malam untuk mereka berdua. Datan maupun Pretty tak ada yang membuka suaranya, mereka sibuk dengan pikiran masing-masing. "Besok aku akan mengajakmu ke tempat pemancingan, seperti yang pernah Azka lakukan." Ucapan Datan membuat Pretty menengadahkan kepalanya untuk menatap Datan.
"Oke," jawab Pretty
Drrrrt Drrrttt
"Hallo,"
"....."
"APA????? Sekarang dimana Leon?"
"....."
"Aku kesana sekarang, Mom."
Datan terlihat gelisah. Setelah menutup telpon, ia langsung berlari menuju kamarnya membuat Pretty mengikutinya. Di dalam kamar, Datan menyambar jaket kulit hitamnya dan juga kunci mobilnya. "Ada apa, Datan?" Tanya Pretty yang ikut khawatir.
"Leon dan kekasihnya kecelakaan, aku akan ke rumah sakit sekarang." ucap Datan.
"A-aku ikut."
"Ini sudah malam, kamu lebih baik istirahat saja," ucap Datan.
"Tidak, aku ikut denganmu."
"Baiklah." Datan mengambil jaket biru miliknya dan menyerahkannya ke Pretty. "Pakai itu biar tidak kedinginan." Pretty mengangguk paham dan mengikuti Datan meninggalkan tempat itu.
Sesampainya di rumah sakit, Datan berlari diikuti Pretty menuju UGD. Di luar ruangan terlihat Chacha, Okta, Elza, Chella, Vino, Farel dan Claudya. "Bagaimana Leon, Dad?" tanya Datan.
"Mama Lita, papa Dhika dan om Angga sedang memeriksanya," ucap Okta.
"Ona, dimana Ona?" tanya Datan. Ia memang begitu menyayangi Leonna, Adrian dan Leon layaknya saudara kandung sendiri. Walau hanya saudara sesusu. Dan ia mampu merasakan sakitnya saat saudaranya mengalami hal-hal yang tidak diinginkan. Datan tau akan bagaimana reaksi Leonna saat tau kembarannya mengalamu kecelakaan. Pretty mampu melihat kegelisahan dan kekhawatiran Datan. Satu lagi yang dapat Pretty ketahui tentang seorang Datan. Dia begitu menyayangi sahabatnya, hingga terlihat jelas raut wajah gelisah dan rasa takutnya.
"Za, apa Jack sudah memberi kabar?" tanya Farel.
"Belum, kasusnya masih di selidiki," jawab Elza.
Hingga tak lama Thalita keluar dengan tangisannya yang pecah. "Ada apa Lita?" tanya Chacha menyambut Thalita.
"Leon kritis," tangis Lita di pelukan Chacha.
Datan yang mendengarnya merasa ikut hancur dan terluka, ia sangat mengkhawatirkan kondisi Leon.
Tak lama Daniel dan Serli datang menghampiri mereka. "Bagaimana?"
"Leonna? Apa dia sudah tau?" tanya Thalita.
"Belum, aku akan menghubungi Verrel," ucap Daniel berlalu pergi. Hingga Dhika dan Angga keluar dari UGD.
"Bagaimana?" tanya Farel
"Jantung Leon mengalami kebocoran, dan harus segera melakukan tranplantasi jantung," keluh Dhika.
"Dan Azzura?" tanya Datan.
"Dia juga sama kritisnya, dia kehilangan banyak darah," Jawab Angga.
Dhika dan Thalita terlihat merenung sedih. Bagaimana mereka akan menemukan donor jantung yang cocok dalam waktu sesingkat ini untuk Leon.
♣♣♣