Datan baru saja pulang kuliah dan masuk ke dalam kamarnya. Baru saja ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang, terdengar suara isakan kecil dari kamar sebelah. "Kenapa lagi sih si watis?" gerutu Datan, tetapi tetap beranjak dan masuk ke dalam kamar Pretty. Terlihat Pretty tengah duduk di sisi ranjang dengan memegang foto Azka, Datan berjalan mendekati Pretty dan duduk di sampingnya membuat Pretty menengok dan segera menghapus air matanya sendiri. "Kapasitas air mata kamu banyak banget yah, atau mungkin tempatnya bocor makanya tumpah terus itu air mata. Apa perlu aku tambal?" pertanyaan Datan membuat Pretty mencibir. "Itu bibir kayak donals bebek, maju mulu."
"Ih Datan, nyebelin banget sih!" Pretty menimpuk Datan dengan bantal karena kesal.
"Mana?" Datan menengadahkan telapak tangannya.
"Apa?" Pretty mengernyitkan dahinya karena bingung.
"Daftar kenangan yang pernah kamu alamin sama Azka, biar aku ganti dengan yang lebih seru dan gokil," ucap Datan membuat Pretty menatap Datan dengan seksama. Datan merubah posisi duduknya menjadi lebih menghadap ke Pretty, ia mengambil kedua tangan Pretty ke dalam genggamannya. "apa kamu akan terus menerus begini, menikmati keterpurukan. Kamu masih sangat muda dan juga pintar, jangan hancurkan masa depanmu," ucap Datan sok dewasa.
"Kamu dewasa sebelum waktunya," cibir Pretty membuat Datan terkekeh.
"Lebih baikkan muka unyu, tetapi perkataan bijak dan dewasa. Daripada sebaliknya," sindir Datan.
"Kamu menyindir aku?" tanya Pretty.
"Nggak tuh, kamu ke sindir yah. Yah syukur deh," ucap Datan membuat Pretty merengut kesal.
"Nyebelin kamu!" ucap Pretty.
"Sepertinya kamu lebih cocok aku panggil Pipit daripada mbak Pretty. Soalnya kelakuan kamu itu di bawah umur kamu, alias bocah!" ucap Datan.
"Nyebelin banget sih kamu, Datan!" ucap Pretty memukul lengan Datan membuat Datan terkekeh.
"Hy Pipit," goda Datan seraya mengerlingkan sebelah matanya.
"Kamu pikir aku ini burung Pipit," celetuk Pretty.
"Iya memang, kamu pernah mendengar kisah dari burung Pipit gak?" tanya Datan membuat Pretty menggelengkan kepalanya. "Dengarkan aku, di suatu tempat yang cuacanya begitu panas hiduplah seekor burung Pipit. Dia terus mengumpat pada cuaca yang begitu panas dan tidak bersahabat. Hingga dia mendapat sebuah berita bahwa di sebelah utara cuacanya sangat sejuk. Lalu dia terbang mengepakkan sayapnya menuju utara. Dia berharap bisa damai disana dan hidup bahagia menikmati suasana yang sejuk. Dan benar, pelan pelan dia merasakan kesejukan udara, makin ke utara makin sejuk, dia semakin bersemangat mengepakkan sayapnya untuk terbang lebih ke utara lagi. Karena terbawa oleh nafsu, dia tak merasakan sayapnya yang mulai tertempel salju, semakin lama makin tebal, dan akhirnya dia jatuh ke tanah karena tubuhnya terbungkus salju. Sampai ke tanah, salju yang menempel di sayapnya justru bertambah tebal. Si burung Pipit tak mampu berbuat apa apa, menyangka bahwa riwayatnya telah tamat." Jelas Datan memberi jeda pada ucapannya, Pretty masih memperhatikan Datan dengan seksama. "Mendengar suara rintihan, seekor kerbau yang kebetulan lewat, menghampirinya. Namun si burung kecewa mengapa yang datang hanya seekor kerbau. Dia menghardik si kerbau agar menjauh dan mengatakan bahwa makhluk yang t***l tak akan mungkin mampu berbuat sesuatu untuk menolongnya. Si kerbau tidak banyak bicara, dia hanya berdiri di dekat si burung, kemudian kencing tepat di atas burung tersebut. Si burung pipit semakin marah dan memaki maki si kerbau. Lagi-lagi si kerbau tidak bicara, dia maju satu langkah lagi, dan mengeluarkan kotoran ke atas tubuh si burung. Seketika itu si burung tidak dapat bicara karena tertimbun kotoran kerbau. Si Burung mengira lagi bahwa ia akan mati karena tak bisa bernapas."
Pretty semakin serius mendengarkan cerita Datan. "Namun perlahan lahan, dia merasakan kehangatan, salju yang membeku pada bulunya pelan-pelan meleleh oleh hangatnya t**i kerbau, dia dapat bernapas lega dan melihat kembali langit yang cerah. Si burung pipit berteriak kegirangan, bernyanyi keras sepuas puasnya. Dia kembali terbang dengan ceria ke langit luas," ucap Datan menatap Pretty dengan seksama. "Apa kamu bisa mengambil garis besar dari kisah burung Pipit barusan?"
"Memangnya apa? dan apa hubungannya denganku?" tanya Pretty semakin bingung.
"Ck,, dosen yang bodoh," ucap Datan.
"APA???" pekik Pretty kesal.
"Dengarkan aku miss Pipit, kisah burung hampir sama denganmu. Kamu mengharapkan hubungan yang lebih bersama Azka, kalian terlalu bahagia dan tak memikirkan resikonya. Hingga tuhan mengambil Azka dan membuatmu jatuh tersungkur seperti burung Pipit itu. Kamu tidak mensyukuri apa yang sudah tuhan berikan padamu, kamu mulai merintih dan berputus asa. Dan kamu meremehkanku dan tak mempercayaiku yang ingin membantumu. Seperti burung Pipit yang meremehkan sang kerbau yang t***l. Kamu meremehkanku karena aku ini masih bocah kan, bahkan umurku masih 20 tahun. Kamu meremehkanku dalam hal ini."
"Walau cara kerbau itu menjijikan, karena memberikan t**i ke sang burung. Tetapi niatnya baik, seperti caraku juga yang tak seperti yang kamu harapkan. Jangan pernah menilai orang dari cangkangnya, walau dari luar dia terlihat absurd, terlihat kekanakan tetapi jangan sepelekan hatinya." ucapan Datan membuat Pretty melongo. Ia tak menyangka kalau Datan berpikir sedewasa ini, bagaimana mungkin pria remaja berusia 20 tahun bisa berpikiran luas seperti ini. Di dalam hati, Pretty merasa tersentuh dan kagum pada sosok Datan.
"Melangkah ke yang lebih baik boleh, tapi jangan diiringi nafsu. Kamu boleh melupakan masalalu kamu, tapi semuanya tidak bisa spontan. Semuanya butuh waktu, perlahan lahan masalalu itu akan menghilang dari pikiran kita dan biarkan itu menjadi kenangan dalam hidup kita. Jangan jadikan masalalu itu sebagai pacuan, karena semakin lama masalalu itu akan menjadi batu yang bisa membuat kita tersandung dan jatuh ke lubang yang lebih dalam lagi. Setiap kesulitan pasti ada jalan, hidup itu tak akan selamanya lurus. Adakalanya kita jatuh tersungkur ke bawah, dan ada kalanya kita berada di atas. Seperti kisah burung Pipit itu."
"Kamu-" ucapan Pretty tertahan menatap Datan yang berubah menjadi sosok dewasa baginya.
"Jangan terpuruk ketika kamu tengah berada dalam situasi terburuk. Tuhan memberikannya padamu, karena Dia ingin kamu lebih kuat dari sebelumnya." Datan mengusap kepala Pretty dengan lembut. "Pahamilah kisah burung Pipit itu," ucap Datan. "Sekarang biarkan aku membantumu, aku tulus ingin membantumu melewati semua rintangan dan keterpurukan ini. Aku harap kamu mau menerima pertolonganku," ucap Datan masih menggenggam tangan Pretty. Pretty semakin speechless melihat ke arah Datan.
"A-aku ingin istirahat." Pretty menarik tangannya kembali dan memalingkan wajahnya.
"Mau tidur atau mau mewek lagi?" tanya Datan kembali santai, tidak seserius tadi.
"Tidur!"
"Ya sudah tidur, kenapa masih liatin aku? Aku tau aku itu sangat tampan dan unyu," ucap Datan dengan percaya dirinya membuat Pretty memutar bola matanya jengah, tetapi di dalam hatinya dia tersenyum melihat Datan.
"Terus ngapain kamu masih di sini?" tanya Pretty.
"Ya nunggu kamu tidur, siapa tau kamu mewek lagi, dan mengganggu ketentraman dan kenyamanan hidupku di kamar yang awalnya nyaman dan tenang itu tanpa gangguan dari suara aneh." ucapan Datan membuat Pretty ingin terkekeh, kenapa Datan cepat sekali berubahnya. Sikapnya sungguh ajaib, tetapi Pretty semakin kagum padanya. Dia anak yang sangat absurd dan ajaib, tetapi dia bisa menempatkan kapan waktunya untuk serius dan santai. Dia juga bisa dengan cepat mendominasi suasana. Yang awalnya tegang dan serius bisa berubah menjadi santai dalam waktu yang bersamaan karena sikapnya.
"Kenapa menatapku seperti itu? Kamu mulai terpesona padaku yah," goda Datan menaik turunkan kedua alisnya membuat Pretty terkekeh.
"Pede kamu, sudah ah sana aku mau tidur," ucap Pretty mendorong pundak Datan.
"Yah aku akan keluar kalau mau sudah tidur," Prettypun malas membalasnya dan memilih merebahkan tubuhnya di atas ranjang dengan memunggungi Datan. Pretty mulai menutup matanya, hingga terasa sesuatu menyelimutinya hingga batas leher. "Jangan menangis lagi." ucapan Datan membuat Pretty tersentuh apalagi dengan usapan lembut di kepalanya.
Tak lama terdengar suara pintu tertutup dan Pretty membuka matanya menatap ke arah pintu. 'Dia masih muda tapi kenapa pemikirannya sangat dewasa. Di balik kekonyolannya, ternyata dia begitu bijak dalam berbicara' batin Pretty dan tersenyum kecil.
♣♣♣
Datan sudah berdandan dengan tampan, malam ini dia akan berkencan dengan seseorang. Dia sudah rapi dengan kaos di padu jas hitamnya. Ia bercermin merapihkan jambul khatulistiwanya dengan bersiul riang. Hingga ketukan pintu menghentikan aktivitasnya. Datan berjalan menuju pintu dan membuka pintu kamar, terlihat Pretty berdiri disana. "Kamu mau keluar?" tanya Pretty yang di angguki Datan. "A-aku mau mengatakan sesuatu padamu."
"Oke, masuklah." Datan berjalan memasuki kamar diikuti Pretty. Datan dengan santainya kembali menyisir rambutnya di depan cermin. "Katakanlah," ucap Datan.
"Aku sudah memikirkan tawaranmu dengan sangat matang," ucapan Pretty menghentikan kegiatan Datan. Ia berbalik ke arah Pretty dengan menaikkan sebelah alisnya. "Aku menerima tawaranmu, untuk melangkah perlahan melewati semua ini. Aku ingin bangkit dari keterpurukan ini, jadi tolong bantulah aku," ucap Pretty pasti membuat Datan tersenyum manis. Ia berjalan mendekati Pretty, menghapus jarak di antara mereka berdua membuat Pretty menengadahkan kepalanya menatap Datan.
"Kamu tau, kamu adalah burung Pipitku yang sangat manis." Datan mengecup kepala Pretty membuat Pretty melongo kaget.
Deg
"Baiklah, sekarang istirahatlah dan siapkan daftar kenangannya. Kita akan mulai besok. Malam ini aku ada acara dulu. Oke Pipitku sayang, muachh!" Datan kembali mengecup kening Pretty cukup lama dan beranjak pergi meninggalkan kamarnya dengan bersiul senang. Pretty yang masih mematung di tempatnya mengusap keningnya sendiri. Dadanya berdetak cepat, seperti genderang perang. Tubuhnya mendadak beku dan tak mampu bergerak. Apa yang Datan lakukan barusan mampu melumpuhkan seluruh saraf tubuhnya.
♣♣♣
"Datan, kamu kenapa?" pertanyaan itu menyadarkan Datan dari lamunannya.
"eh?"
"Datan sejak tadi aku bicara padamu, kamu tidak mendengarkanku?" tanya wanita yang saat ini tengah makan bersama dengan Datan.
"Kamu bertanya apa tadi?" tanya Datan, entah kenapa sejak tadi bayangan Pretty terus mengusik pikirannya. Membuat fokus Datan terbagi.
"Aku bertanya, bukankah kita sudah cukup lama berpacaran. Apa tidak ada keinginan kamu untuk mengenalkanku kepada kedua orangtuamu," ucap wanita cantik di depannya itu.
"Halida, bukan begitu. Aku hanya belum siap membawa wanita ke depan orangtuaku," jawab Datan tersenyum kecil. Halida adalah wanita yang Datan kencani dalam waktu 2 bulan ini. Dia menyukai Halida melebihi wanita wanita yang selama ini dia kencani. Halida adalah seorang mahasiswi di kampusnya yang mengambil kelas karyawan karena ia bekerja di sebuah kantor pembiayaan di Jakarta.
"Tetapi kenapa? Bukankah kamu ingin serius padaku?" pertanyaan itu keluar dari mulut Halida dengan tatapan penuh harapnya.
"Usiaku masih 20 tahun, Da. Aku belum memikirkan hal hal seperti itu, lebih baik kita jalani saja dulu." Dengan enggan Datan menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.
"Apa karena ada wanita lain?" pertanyaan itu menyentakkan Datan hingga membuatnya tersedak makanannya sendiri. Datan segera meneguk minuman di depannya.
"Kamu ngomong apa sih, jangan asal nuduh," ucap Datan kembali menikmati makanannya. "Aku orangnya tidak suka ribet, Da." Datan kini mulai serius menatap Halida yang ada di hadapannya. "Kalau kamu masih ingin berhubungan denganku, maka ikuti aturanku. Kalau tidak, silahkan tinggalkan aku."
"Kenapa kamu ngomong gitu? Kamu menyepelekan hubungan kita!" amuk Halida.
"Aku bukannya menyepelekan, tapi aku tidak suka di atur. Aku masih muda dan aku tidak mau di pusingkan oleh sebuah hubungan, jadi tolong hargai keputusanku ini." Final, ucapan Datan membuat Halida terdiam membisu. "Kita masih muda, jadi jalani saja dulu. Jodoh biarkan saja Tuhan yang menentukan.”
"Tapi kamu tidak selingkuh di belakangku kan, gossip yang mengatakan kalau kamu playboy itu tidak benar kan?" tanya Halida mencoba meyakinkan.
"Tidaklah, kamu percaya saja sama info hoax seperti itu," jawab Datan dengan santainya. Merekapun kembali santai dan membahas masalah lain yang lebih menarik.
Datan baru saja sampai di rumahnya setelah mengantar Halida pulang ke rumahnya. Datan berjalan menyusuri tangga yang gelap. Karena semua ruangan di sini lampunya di matikan, hanya beberapa lampu duduk yang redup dinyalakan. Ia hendak memasuki kamarnya, tetapi terhenti saat mendengar langkah seseorang. Datan menengok dan ternyata Pretty baru saja datang dengan memegang gelas berisi air minum. Bukan itu yang membuat Datan mematung, tetapi pakaian tidur Pretty yang begitu tipis dan membuat tubuh indahnya tercetak jelas.
"Kamu baru pulang?" pertanyaan itu menyadarkan Datan dari pikiran mesumnya. Datan berdehem sebentar seraya memalingkan wajahnya.
"Hmm." tanpa menengok lagi, Datan langsung memasuki kamarnya membuat Pretty bertanya-tanya. Ada apa dengan Datan.
Datan melempar jasnya asal, dan mengusap rambutnya ke belakang. "Ya Tuhan, sampai kapan dia akan menyiksa si ujang. Gue gak tahan kalau terus seperti ini, dia benar-benar akan membunuh gue secara perlahan."
"Ujang, loe mau gue kasih obat tidur. Biar gak bangun terus, gue masih muda dan polos. Jangan buat gue jadi Datan unyu yang c***l," keluhnya mengumpat dalam hati karena semakin merasa sesak di bagian bawahnya. "Astaga, gelenyar ini membunuhku...."
♣♣♣
Dor dor dor
"Bangun woyyyy!!!" mendengar teriakan itu membuat Pretty membuka matanya dan menguceknya pelan. Pretty beranjak menuju pintu kamar dan membukanya. Ia kaget melihat Datan berdiri di sana dengan pakaian olahraganya, dan jaket berwarna biru tuanya.
"Ada apa?" pertanyaan bodoh itu keluar dari bibir Pretty.
"Mau main congklak,, dasar bodoh! Aku berpakaian seperti ini, berarti mau ngajakin jogging mumpung weekend," ucap Datan.
"Tidak perlu mengataiku bodoh juga!" pekik Pretty tak rela.
"Memang kenyataannya kan, kalau aku bilang t***l terlalu ekstrem, nanti semua nilaiku E." ucapan Datan membuat Pretty mencibir.
"Sebentar." Pretty kembali menutup pintunya dan beranjak menuju kamar mandi.
Dan di sinilah sekarang, Pretty terus saja mengumpat kesal. Bagaimana tidak kesal, Datan mengajaknya untuk jogging. Tetapi kenyataannya jauh dari bayangan. Hanya Pretty yang berlari mengelilingi komplek, sedangkan Datan enak-enakan naik sepeda miliknya dan mengajak Pretty untuk balapan.
"Pipit lambat mirip siput!" teriakan Datan sambil mengayuh sepedanya.
"Ini curang, kamu enak naik sepeda!" teriak Pretty sambil memukul punggung Datan dengan handuknya. Datan yang memang mengayuhnya pelan malah tertawa melihat penderitaan Pretty yang mengejar sepedanya.
"Ayolah miss Pipit. Langkahkan kakimu lebar-lebar dan segera menyusulku," kekehnya melirik ke belakang.
Brug
Sial sekali, Datan yang menengok ke belakang tak melihat lobang di depannya, hingga dia dan sepedahnya mencium aspal jalanan. Pretty tertawa puas melihat Datan yang mengaduh dan mengusap lututnya yang terluka. "Kualat menjahili orang yang lebih tua," ucap Pretty tertawa puas melihat wajah merengut Datan.
"Sepertinya kakiku ini retak, bisa-bisa aku tidak bisa berjalan," keluh Datan.
Plak
"Adawww,,, sakit!" pekik Datan saat Pretty menyentil lukanya.
"Kamu belum mati saat lukanya aku sentil, berarti tidak parah," jawab Pretty enteng membuat Datan menggerutu kesal dan segera berdiri dengan mengangkat sepedanya yang tergeletak. Pretty melihat Datan berjalan pincang sambil menuntun sepedanya, membuatnya terkekeh karena lucu. "Makanya jangan suka menjahili dosen sendiri. kualat kan," kekeh Pretty membuat Datan mencibir kesal. "Sini biar aku yang bawa sepedanya." Pretty merebut sepeda dari tangan Datan dan menaikinya.
"Kamu ingin membalasku?" tuduh Datan.
"Tidak, ayo naik di belakang. Kita pulang, hari sudah mulai siang," ucap Pretty menepuk jok sepeda belakang.
"Tidak mau, gengsi dong cowok yang di bonceng," jawab Datan memalingkan wajahnya.
"Ya sudah, selamat berjalan kaki. Aku duluan yah." Pretty hendak menjalankan sepedanya tetapi segera di tahan Datan.
"Oke, aku naik!" Datanpun duduk di jok sepeda belakang dengan Pretty yang mengayuh sepedanya. Datan tersenyum sendiri, dia merasa menjadi sosok anak kecil yang di manja mamanya. Datan menatap punggung Pretty dan menyandarkan kepalanya di punggung Pretty. "Kepalaku pusing, biarkan seperti ini, sebelum aku pingsan." ucapnya dengan manja, bahkan memeluk perut Pretty membuat tubuh Pretty menegang dan gugup di perlakukan seperti itu oleh Datan.
♣♣♣
Datan tengah mengotak atik gitar kesayangannya hingga Pretty datang menghampirinya. "Datan!"
"Ya,"
"Ini." Datan menatap buku yang di serahkan oleh Pretty.
"Apa ini?" tanyanya.
"Itu adalah buku dearyku, semua kenanganku dengan Azka tertulis di sana," ucap Pretty.
"Aku pikir ini adalah kamus bahasa Inggris. Karena tebal banget ngalahin novel Stay With Me," ucapnya terkekeh.
"Kamu baca saja."
"Kepanjangan, malas!" tolak Datan.
"Katanya niat membantu," pekik Pretty.
"Kenapa gak di rangkum saja sih, astogehh malesih tau gak sih baca kisah beginian," Keluhnya.
"Ya sudah kalau gitu gak usah bantunya." Pretty beranjak pergi tetapi Datan segera menghadangnya.
"Pipit ngambekan ah, ya udah ya udah. Demi burung Pipitku yang manis, malam ini aku akan bergadang untuk membaca kisah cinta di buku itu," ucap Datan membuat Pretty tersenyum senang.
"Nih." Pretty menyerahkannya ke tangan Datan diiringi senyumannya.
"Astogehh,, gue bisa mabok baper nih malam baca beginian," keluhnya.
♣♣♣